Terbunuhnya Umar bin Khaththab

Khalifah Umar bin Khaththab wafat pada pagi hari Ahad awal bulan Muharram tahun 24 H (644 M). Kematiannya berawal dari peristiwa penikaman oleh Abu Lu’lu’ah Fairuz saat ia memimpin kaum muslimin melaksanakan shalat shubuh.

Beberapa saat setelah Umar menghadap kiblat tiba-tiba terdengar ia berkata, “Seekor anjing telah menikamku.”  Ia ambruk bersimbah darah. Abu Lu’lu’ah  telah menikam Umar. Ia berdiri di barisan pertama, tepat di belakang Umar. Ia segera kabur dari masjid sambil menikam siapa saja yang menghalangi jalannya, hingga tujuh orang dari tiga belas orang lelaki meninggal dunia.

Umar menarik Abdurrahman bin Auf untuk mengimami shalat, sementara orang-orang berhamburan meraih Umar. Suasana di dalam masjid dipenuhi kepanikan.

Abdurrahman bin Auf mengimami shalat dengan cepat. Setelah shalat selesai, Umar bertanya kepada Abdullah bin Abbas, “Wahai Putra Abbas, siapakah yang membunuhku?”

“Budak Mughirah,” jawab Ibnu Abbas.

“Apakah dia al-Shun’  (Abu Lu’lu’ah Fairuz)?” tanya Umar.

“Ya,” jawab Ibnu Abbas.

“Padahal aku telah memerintahkan kebaikan kepadanya. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan pembunuhku orang Islam,” kata Umar.

Abdullah bin Abbas membopong Umar ke rumahnya. Para jama’ah lain juga ikut serta. Salah seorang lalu menegukkan segelas air anggur, Umar meminumnya, tapi air anggur itu keluar dari luka yang menganga di perutnya. Seorang lainnya menegukkan susu, Umar pun meminumnya, tapi air susu itu keluar dari luka perutnya.

Napas Umar mulai terputus-putus. Umar kembali berkata kepada Abdullah bin Abbas, “Aku ingin, ketika meninggalkan dunia ini, aku berada dalam kondisi rezeki apa adanya. Tidak ada kewajiban yang harus kubayar dan hak yang harus kuambil. Sungguh persahabatanku dengan Rasulullah suci murni.”

Umar berkata, “Seandainya aku memiliki emas sepenuh bumi ini, sungguh akan kupergunakan untuk menebus diriku dari malapetaka kiamat. Adapun perkara kekhalifahan, aku serahkan pada permusyawaratan Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash.”

Umar kemudian memanggil putranya, Abdullah , dan berkata, “Wahai Abdullah, periksalah berapa jumlah utangku semua.”

Setelah dihitung, ternyata utang Umar sekitar 86 ribu. Maka Umar berkata, “Jika harta keluarga Umar cukup untuk menutupi utang-utang tersebut, bayarlah dengan harta mereka! Tapi bila tidak cukup, tolong minta sisanya kepada Bani Adiy. Bila masih tidak cukup juga, tolong minta kepada kaum Quraisy!”

Umar lalu berkata kepada anaknya, Abdullah, “Abdullah, pergilah ke hadapan Ummul Mukminin Aisyah. Katakanlah kepadanya: Umar menyampaikan salam kepadamu, dan jangan bilang Amirul Mu’minin, karena sesungguhnya aku bukan lagi pemimpin orang beriman. Katakanlahkepadanya: Umar meminta izin untuk dikebumikan dengan dua orang sahabat utamanya (Rasulullah dan Abu Bakar).”

Abdullah segera menghadap Aisyah. Di rumahnya, Abdullah melihat Aisyah tengah duduk sambil menangis. Abdullah pun berkata, “Umar menitipkan salam untukmu. Ia juga meminta izin untuk dikebumikan bersama dua sahabat tercintanya.”

“Aku juga menginginkannya. Sebuah kebahagiaan bagi umat Islam untuk menguburkan jasad Umar di samping haribaan Rasulullah dan Abu Bakar,” jawab Aisyah.

Abdullah lalu kembali menghadap Umar. Umar kemudian meminta orang-orang  membaringkan jasadnya di pelukan anaknya, Abdullah. Umar lalu bertanya, “Apa yang engkau bawa?”

“Sesuatu yang engkau harapkan, wahai Amirul Mu’minin. Engkau diizinkan untuk dikebumikan di samping Rasulullah dan Abu Bakar,” kata Abdullah.

“Alhamdulillah. Sesungguhnya tidak ada sesuatu lain yang lebih penting dari hal itu,” kata Umar.

Umar lalu berwasiat tentang pengganti kedudukannya sebagai Amirul Mu’minin, “Jika aku meninggalkan kalian, sesungguhnya aku telah meninggalkan orang yang lebih baik daripadaku untuk menjadi pemimpinmu. Jika aku menggantikan kedudukan ini, sesungguhnya penggantiku adalah orang yang lebih baik dari diriku. Sesungguhnya jika Abu Ubaidah bin Al-Jarrah masih hidup, aku akan menunjuknya sebagai penggantiku. Jika nanti Allah bertanya, aku akan menjawab, ‘Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah berkata, ‘Abu Ubaidah adalah orang yang paling terpercaya dalam umat ini.’ Dan andai saja Salim, sahaya Abu Hudzaifah masih hidup, maka aku akan menunjuknya sebagai penggantiku. Jika Allah bertanya kepadaku, aku akan menjawab, ‘Aku telah mendengar nabi-Mu bersabda: sesungguhnya Salim sangat mencintai Allah dengan sejatinya cinta.”

Umar lalu berkata, “Aku telah mengumpulkan wasiatku untuk kalian, tentang orang yang akan memerintah semua urusan dan perkara kalian. Aku berharap kalian menunaikannya dengan baik—saat itu Umar menunjuk Ali—hendaklah kalian mengikuti mereka, yaitu orang-orang yang ketika Rasulullah wafat, beliau merasa ridha atas mereka. Mereka adalah Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan Thalhah. Mereka adalah para ahli kebajikan.”

Umar berkata kepada Abdurrahman bin Auf, “Tolonglah panggilkan Ali, Utsman, Zubair, Sa’ad, dan tunggulah saudara kalian Thalhah. Jika Thalhah tidak juga datang, hendaklah kalian selesaikan perkara ini. Aku berpesan kepadamu, wahai Ali, jika engkau menjadi pemangku urusan umat ini, hendaknya tidak membawa Bani Hasyim dalam urusan manusia. Aku berpesan kepadamu, wahai Utsman, jika engkau menjadi pemangku urusan umat ini, hendaknya tidak membawa Bani Abu Muaith dalam urusan manusia.Aku berpesan kepadamu, wahai Sa’ad, jika engkau menjadi pemangku urusan umat ini, hendaknya tidak membawa kerabat-kerabatmu dalam urusan manusia. Hendaklah kalian semua menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya, hendaklah kalian bermusyawarah.”

Pagi terus beranjak. Sementara darah terus mengucur dari lambung Khalifah. Bibirnya bergerak-gerak, melafalkan zikir dengan lirih. Matahari mulai terbit.  Sementara nafas Khalifah perlahan-lahan terhenti.

Khalifah menghembuskan nafas terakhir. Tangis kesedihan pun tumpah. Kabar duka tiba ke seluruh penjuru negeri-negeri taklukan. Semua rakyat berkabung. Mereka semua kehilangan pemimpin yang demikian mereka cintai dan agungkan.

One thought on “Terbunuhnya Umar bin Khaththab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s