Futuhat Islamiyah di Zaman Umar (Bag. 4)

Pertempuran Besar Qadisiyah

Pasukan Persia, di bawah pimpinan Argababz Rustam, bergerak dari  ibu kota Ctesiphon (Mada’in) menyeberangi sungai Tigris, melintasi daratan hijau Jazirah, menuju ke arah pertahanan pasukan Islam di lembah Qadisiyah.

Dua pasukan telah berhadap-hadapan. Pasukan Islam berjumlah 8.000 orang, pasukan Persia 60.000 orang. Bala bantuan pasukan Islam dari Suriah rupanya belum datang.  Sebelum  peperangan dimulai, Sa’ad bin Abi Waqash memimpin pasukannya menunaikan shalat dhuhur dan memberikan khutbah yang membakar semangat pasukan.

Bunyi terompet perang terdengar nyaring dari pihak Persia. Pasukan Islam menyambutnya dengan kumandang takbir yang menggelegar. Kedua pasukan bergerak merangsek maju. Pertempuran pun pecah dan berkemcamuk dengan dahsyat, dan berlangsung empat hari lamanya. Siang hari, kedua pasukan ini bertempur. Saat menjelang petang, keduanya sepakat menghentikannya, untuk kemudian dilanjutkan lagi esok hari berikutnya, kecuali pad hari ketiga, pertempuran berlangsung siang-malam. Dalam kondisi berkecamuknya peperangan, bala bantuan pasukan Islam dari Suriah datang. Mereka segera bergabung dengan pasukan Islam.

Meskipun bisa mematahkan serangan pihak Persia, pasukan Islam kesulitan untuk meruntuhkan pertahanan bagian depan Persia yang dibentengi pasukan gajah. Saat itu, Al-Qa’qa’, salah seorang utusan yang datang dari Suriah, yang juga sejawat Khalid bin Walid dalam pengaturan strategi perang, melaju dengan kudanya bersama ‘Ashim hingga berada di depan gajah-gajah Persia. Qa’qa melemparkan tombak ke arah mata salah satu gajah Persia berwarna putih, sementara ‘Ashim melemparkan tombaknya  ke mata gajah lainnya. Gajah-gajah Persia pun mengamuk dan mengacaukan formasi tempur pasukan Persia. Saat itulah pasukan Islam serentak menyerbu dari berbagai sayap penjuru.

Pertempuran berkecamuk hingga keesokan harinya. Pasukan Islam kini benar-benar menguasai jalannya pertempuran hingga mampu menggempur panglima Rustam dan berhasil menawan dua panglima sayap kanan dan kiri pasukan Persia, Fairuzan dan Hormuzan. Pasukan Persia semakin kacau balau, sementara panglima besar Persia Rustam memilih kabur dengan menggunakan beberapa ekor keledai pengangkut barang. Beberapa pasukan Islam mengejarnya, hingga akhirnya Hilal bin Al-Qamah berhasil menjatuhkannya sampai tulang belakangnya patah. Hilal pun segera menghantam dan menghabisi Rustam hingga tewas, kemudia berteriak: “Rustam telah mati, panglima besar Persia ini kini telah gugur!”

Semangat pasukan Islam semakin bergelora, sementara semangat pasukan Persia semakin memudar. Kekuatan mereka seketika itu juga runtuh. Beberapa pasukan Persia yang tersisa berusaha melarikan diri dengan menyeberang sungai Eufhrat, sebagian menyeberang dengan melewati bendungan yang dahulu dibangun Hormuzan. Mereka berdesak-desakkan di atas bendungan besar itu hingga bendungan itu runtuh karena tak kuat menahan beban. Pasukan yang tengah menyeberang itu pun berjatuhan dan tenggelam terseret arus deras sungai Eufrat.

Pertempuran Qadisiyah berakhir dengan kemenangan pasukan Islam. Di Madinah, Khalifah Umar menunggu kabar dengan gelisah. Maka ia meutuskan untuk berangkat hingga sampai di luar kota Madinah dengan berjalan kaki. Di tengah perjalanan, Umar bertemu dengan penunggang kuda. Ia adalah utusan panglima Sa’ad bin Abi Waqash dari Qadisiyah untuk mengabarkan kemenangan pasukan Islam di Qadisiyah kepada Khalifah Umar di Madinah. Umar bertanya kepada orang itu, apa yang terjadi di sana, dan orang itu menjawab bahwa pihak Islam menang atas Persia di lembah Qadisiyah. Utusan itu tidak mengetahui bahwa orang di depannya adalah Khalifah Umar. Mendengar jawaban yang menggembirakan , Umar segera berbalik ke Madinah bersama utusan itu. Umar kembali dengan berjalan kaki, sementara utusan itu tetap menunggang kuda.

Setiba di Madinah, penduduk menyambut dan menyalami Umar. Utusan itu terheran-heran, dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika orang yang bersamanya itu adalah Khalifah Umar bin Khattab. Ia pun segera turun dari kudanya, lalu menyalami Umar dan menciumnya dengan penuh hormat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s