Posted in Aqidah

Al-Mustaqbal li Hadzad Din

Masa Depan di Tangan Islam

Di hadapan kita terpampang beragam fenomena problematika umat yang cukup berat: mayoritas umat—di berbagai negeri Islam—kini berada dalam keadaan lemah; baik dalam aspek aqidah, pendidikan, tsaqafah, dakwah, soliditas, maupun akhlak. Belum lagi problematika akibat penjajahan di masa lalu yang masih terasa dampaknya hingga saat ini dimana negeri-negeri muslim tercerai-berai; pengaruh dan penjajahan bangsa asing dalam aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya mencengkram demikian kuat. Umat kini mengalami kemunduran peradaban, terjangkiti pola pikir yang keliru, dan kejiwaan mereka pun lemah.

Di sisi lain, kekuatan internasional yang memusuhi Islam memiliki keunggulan perencanaan, pengorganisasian, dan sarana-sarana yang sangat memadai. Ringkasnya, kondisi umat hari ini bagaikan buih sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يُوْشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُم الأُمَمُ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا” اَوَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: “بَلْ اِنَّكُمْ يَوْمَئِذٍكَثِيْرُوْنَ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَيْلِ، وَقَدْ نَزَلَ بِكُمُ الْوَهْنُ” قِيْلَ: وَمَا الْوَهْنُ يَارَسُوْلَ اللّهِ ؟ قَالَ: “حُبُّ الدُنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkok.” Para sahabat bertanya: “Apakah saat itu jumlah kami sedikit ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti buih air bah dan kalian ditimpa penyakit wahn.” Mereka bertanya lagi: “Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Terlalu cinta dunia dan takut kepada mati” (HR. Abu Daud).

Meskipun demikian—sebagai seorang muslim—kita harus tetap memiliki optimisme bahwa masa depan adalah milik Islam. Hal ini dilandasi keyakinan pada kekuatan ajaran Islam itu sendiri dan nubuwat yang disampaikan oleh Allah dan rasul-Nya melalui Al-Qur’an dan sunnah.

Pertama, al-Islamu minhajul hayah. Islam adalah pedoman hidup yang diturunkan oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu Dia tidak mungkin akan membiarkan agama-Nya terhina. Allah Ta’ala adalah pemilik dan pemelihara agama ini yang telah menegaskan melalui firman-Nya,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran, 3: 19).

Dalam ayat yang lain Dia berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran, 3: 85).

Oleh karena itu, Islam akan dimenangkan di atas berbagai ajaran yang telah menyimpang dari manhaj-Nya,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

”Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS. Al-Fath, 48: 28).

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

”Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS. At-Taubah, 9: 33)

Kedua, al-Islamu dinul fitrah. Islam adalah agama yang musayaratul fithrah (selaras dengan fitrah, sifat, watak dasar, karakter, dan naluri manusia). Karenanya manusia di sepanjang sejarah tidak akan pernah bisa lari dari seruan fitrahnya. Bila ia menjauh dari seruan fitrah tersebut, jiwanya pasti akan meronta-ronta. Kegelisahan demi kegelisahan akan terus mencekam dalam jiwanya.

Ajaran Islam melakukan  penjagaan (muhafadzatan), pemeliharaan, (ri’ayatan), pengembangan (tanmiyatan), dan pengarahan (taujihan) terhadap fitrah manusia agar tetap murni; cenderung kepada kebenaran dan kepatuhan kepada Allah Ta’ala,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum, 30: 30)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلا أُحَدِّثُكُمْ بِمَا حَدَّثَنِي اللَّهُ فِي الْكِتَابِ ، أَنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ وَبَنِيهِ حُنَفَاءَ مُسْلِمِينَ ، وَأَعْطَاهُمُ الْمَالَ حَلالا لا حَرَامَ فِيهِ ، فَجَعَلُوا مِمَّا أَعْطَاهُمُ اللَّهُ حَلالا وَحَرَامًا

“Apakah kamu suka aku menceritakan kepadamu apa yang telah diceritakan Allah kepadaku dalam Kitab-Nya? Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam dan anak cucunya cenderung kepada kebenaran dan patuh kepada Allah. Allah memberi mereka harta yang halal tidak yang haram. Lalu mereka menjadikan harta yang diberikan kepada mereka itu menjadi halal dan haram.” (H.R. Iyad bin Himar)

Oleh karena itu, ajaran Islam akan senantiasa dibutuhkan oleh seluruh umat manusia; di masa lalu, di masa kini, dan di masa yang akan datang. Mereka yang benci dan berupaya menghancurkan agama ini pasti akan menuai kegagalan.

Allah Ta’ala berfriman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan” (QS. Al-Anfal, 8: 36).

Ketiga, al-Islamu dinul Insaniyah. Islam adalah agama yang sesuai dengan kemanusiaan. Ajaran Islam yang menyentuh aspek aqidah, akhlak, sikap, perasaan, pendidikan, kemasyarakatan, politik, ekonomi, dan hukum pasti sejalan dengan eksistensi manusia yang terdiri dari akal, ruh, dan jasad.

Saat ini materialisme telah menghancurkan kehidupan masyarakat, sehingga kehidupan sosial semakin memburuk, rasa kemanusian semakin rapuh dan sikap saling percaya kepada sesama semakin luntur. Dekadensi moral dan keretakan keluarga semakin menggejala.  Tidak ada obat penawar bagi kehancuran ini kecuali kembali kepada dinul Islam dalam seluruh aspeknya.

Karakter insaniyah begitu nyata dalam dinul Islam; sebagai contoh, di dalam Islam setiap perilaku yang yang tidak manusiawi pasti akan dilawan; Tidak ada dalam Islam pembedaan antar sesama muslim hanya karena perbedaan kulit atau ras. Pun tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, semua muslim adalah sama sederajat seperti barisan gigi sisir. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Hanya kualitas ketaqwaan yang membedakan di antara mereka. Artinya siapa yang paling tinggi derajat ketakwaannya, dialah yang paling tinggi derajat kemanusiaanya di sisi Allah.

Dalam beribadah pun Islam melarang cara-cara beribadah yang tidak manusiawi.  Hal ini tergambar dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ – رضى الله عنه – يَقُولُ جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ . قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّى أُصَلِّى اللَّيْلَ أَبَدًا . وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ . وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَدًا . فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّى لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ ، لَكِنِّى أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى »  رواه البخاري

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ada tiga orang yang mendatangi rumah-rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka tatkala diberitahu, mereka merasa seakan-akan tidak berarti (sangat sedikit). Mereka berkata: ‘Di mana posisi kami dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya baik yang lalu maupun yang akan datang.’ Salah satu mereka berkata: ‘Saya akan qiyamul lail selama-lamanya.’ Yang lain berkata: ‘Aku akan puasa selamanya.’ Dan yang lain berkata: ‘Aku akan menghindari wanita, aku tidak akan pernah menikah.’ Lalu datanglah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam seraya bersabda: ‘Kaliankah yang bicara ini dan itu, demi Allah, sungguh aku yang paling takut dan yang paling takwa kepada Allah. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku sholat, aku tidur, dan aku juga menikah. Barang siapa yang benci terhadap sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.’” (HR. Al-Bukhari).

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh yang manusiawi dalam beribadah. Dengan kata lain, seperti yang dikatakan Imam An Nawawi: al iqtishaad fil ibadah,  artinya tidak terlalu menyepelekan dan tidak terlalu menyiksa diri di luar batas kemanusiaannya (lihat: Riyadhush shaalihiin, Imam An-Nawawi, Darul Warraq 1996, hal. 7).

Umat manusia tidak akan pernah bisa menemukan kemanusiaanya selama tidak kembali kepada Islam. Tanpa Islam, mereka benar-benar akan hidup dalam kebingungan. Pada zaman jahiliah –sebelum datangnya Islam- kaum wanita didzalimi. Mereka tidak mendapatkan hak-hak kemanusiaannya sama sekali. Tidak sedikit anak-anak wanita yang dikubur hidup-hidup. Jauh sebelum itu, di Romawi pada abad ke VI masehi manusia sungguh terpuruk dalam kebinatangan. Tontonan yang paling menyenangkan pada waktu itu adalah pertarungan yang berdarah-darah dan bahkan tidak sedikit yang harus kehilangan nyawa. Para gladiator diadu dengan sesama mereka, atau mereka dipaksa harus bertarung melawan binatang buas seperti singa atau yang lainnya. Suatu pertarungan yang menunjukkan tingkat kekejaman manusia terhadap kemanusiaannya sendiri.

Keempat, al-Islamu dinut tawazzun (Islam agama yang menegakkan keseimbangan)

Di dalam Islam manusia menemukan dirinya benar-benar diperlakukan secara seimbang:

  1.  Seimbang antara fisik dan ruhani.

Tidak seperti agama lain yang cenderung menghilangkan keseimbangan ini. Sebagian agama cenderung meletakkan manusia sebagai mahluk ruhani saja, sehingga ia dilarang memenuhi kebutuhannya fisiknya, seperti tidak boleh menikah dan lain sebagainya. Sebagian yang lain cenderung menyikapi manusia sebagai mahluk fisik saja, sehingga ia diajarkan menyembah materi, bukan menyembah Allah yang ghaib. Tuhan mereka divisualisasaikan menjadi patung. Hidup mereka bergelimang materi tanpa ada unsur ruhaninya sama sekali.

Islam tidak demikian. Islam meletakkan manusia sebagai mahluk fisik dan ruhani sekaligus. Tidak ada dalam Islam hak-hak kemanusiaan yang digerogoti. Semuanya, baik fisik maupun ruhani dipenuhi secara seimbang. Perhatikan kembali hadits Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan sebelumnya,

أَمَا وَاللَّهِ إِنِّى لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ ، لَكِنِّى أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى

“Demi Allah, sungguh aku yang paling takut dan yang paling takwa kepada Allah. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku sholat, aku tidur, dan aku juga menikah. Barang siapa yang benci terhadap sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Al-Bukhari).

Dalam kesempatan lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ قَالَهَا ثَلَاثًا

“Celakalah mutanath thi’uun (beliau mengucapkan ini tiga kali).” (HR. Muslim no 2670).

Al-Mutanathi’un artinya orang-orang yang berlebih-lebihan dalam beribadah.

Imam Bukhari berkata: “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna; telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Hisyam, ia berkata: Telah mengkhabarkan kepadaku ayahku, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ، قَالَ: مَنْ هَذِهِ؟ قَالَتْ: فُلَانَةُ تَذْكُرُ مِنْ صَلَاتِهَا، قَالَ: مَهْ عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا، وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ ”

“Bahwasannya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menemuinya yang waktu itu di sebelahnya ada seorang wanita. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah ini ?”. Aisyah berkata, “Fulanah”. Lalu ia (Aisyah) menyebutkan tentang shalatnya (yang banyak dan lama). Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Ah, wajib bagimu beramal sesuai sesuai dengan kemampuanmu. Demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan. Agama yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dirutinkan oleh pelakunya.” (HR. Al-Bukhari no. 43).

  1. Seimbang antara dunia dan akhirat.

Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan bukan hanya untuk di dunia saja, melainkan juga untuk di akhirat. Bahkan tujuan hidup manusia yang hakiki adalah akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash, 88: 77).

Jadi, dunia hanyalah sarana kehidupan. Sedangkan kehidupan hakiki yang seharusnya dicapai adalah akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS. Al-Ankabuut, 29: 64).

Konsep keseimbangan ini tentu sangat berbeda dengan konsep materialisme yang hanya memperhatikan kebutuhan materi manusia, bahkan menjadikannya seperti komoditi yang diperjual belikan, atau seperti mesin yang dipaksa harus bekerja siang dan malam tanpa ada kesempatan untuk beribadah dan berdzikir. Hal ini pasti akan mengeringkan ruhani. Akibatnya manusia akan menderita, tidak hanya di dunia melainkan juga di kahirat. Perhatikan firman Allah Ta’ala berikut,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha, 20: 124).

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala menggambarkan kesalahpahaman orang-orang kafir yang hanya sibuk membangun dunia,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

 “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS. Al-A’la, 87: 16-17).

Kelima, adanya bisyaraat (kabar gembira)

Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا ۖ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Musa berkata kepada kaumnya, ‘Minta tolonglah kalian kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al A’raf, 7: 128).

Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Maksudnya adalah Islam dan umatnya. Hal ini pasti terjadi cepat atau lambat, sebab Allah Ta’ala tidak pernah mengingkari janji.

Allah ta’ala juga berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka (para khalifah) berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS. Nur, 24: 55)

Berkenaan dengan ayat ini, Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata:

“Ayat ini merupakan janji Allah Ta’ala bagi orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih berupa pemberian khilafah bagi mereka di muka bumi sebagaimana yang telah diberikan kepada orang-orang sebelum mereka dari umat-umat sebelumnya. Janji ini mencakup seluruh umat. Ada yang berkata: ‘Ayat ini khusus untuk para shahabat.’ Namun hal itu tidak benar, karena beriman dan beramal shalih tidaklah terkhusus untuk mereka. Bahkan hal tersebut mungkin terjadi pada siapa saja dari kalangan umat ini. Maka barangsiapa yang mengamalkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya maka sungguh dia telah menaati Allah dan Rasul-Nya.” [1]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak sekali menyampaikan bisyarat kemenangan umat ini. Ada yang telah terjadi, dan ada yang belum terjadi. Diantara bisyarat yang belum terjadi adalah:

Kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah

عَنْ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

Dari Hudzaifah, Rasulullah bersabda, “Di tengah-tengah kalian ada Kenabian dan akan berlangsung sekehendak Allah. Lalu Allah akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah berdasar manhaj kenabian dan berlangsung sekendak-Nya. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada Kerajaan yang lalim yang berlangsung sekehendak Allah. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada Kerajaan yang Otoriter berlangsung sekendak Allah. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada Khilafah berdasar manhaj kenabian”. Kemudian beliau (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) diam. (Musnad Ahmad, No. 18406)

Kemenangan umat Islam atas Yahudi

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتُقَاتِلُنَّ الْيَهُودَ فَلَتَقْتُلُنَّهُمْ حَتَّى يَقُولَ الْحَجَرُ يَا مُسْلِمُ هَذَا يَهُودِيٌّ فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ

Dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Kamu semua akan membunuh orang-orang Yahudi. Maka kamu semua akan membunuh mereka sehingga batu akan berkata: Wahai para muslimin! Di sini ada orang Yahudi, datanglah kemari dan bunuhlah dia.” (HR. Muslim)

Bertahannya Kelompok Islam

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزَالُ عِصَابَةٌ مِنْ أُمَّتِى يُقَاتِلُونَ عَلَى أَمْرِ اللَّهِ قَاهِرِينَ لِعَدُوِّهِمْ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ

“Akan senantiasa ada sekelompok kecil dari ummatku yang berperang di atas perintah Allah, mereka berjaya atas musuh mereka, orang-orang yang menentang mereka tidak akan bisa membahayakan mereka sampai hari kiamat dan mereka tetap teguh dalam kondisi seperti itu” (HR. Muslim)

Mengomentari hadits-hadits tentang hal ini, Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

وَيَحْتَمِلُ أَنَّ هَذِهِ الطَّائِفَةَ مُفَرَّقَةً بَيْنَ أَنْوَاعِ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْهُمْ شُجْعَانٌ مُقَاتِلُونَ وَمِنْهُمْ فُقَهَاءُ وَمِنْهُمْ مُحَدِّثُونَ وَمِنْهُمْ زُهَّادٌ وَآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَناَهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَمِنْهُمْ أَهْلُ أَنْوَاعٍ أُخْرَى مِنَ الْخَيْرِ وَلاَ يَلْزَمُ أَنْ يَكُونُوا مُجْتَمِعِيْنَ، بَلْ قَدْ يَكُونُونَ مُتَفَرَّقِيْنَ فِي أَقْطَارِ اْلأَرْضِ

“Kelompok ini kemungkinan adalah kelompok yang tersebar di antara kaum muminin. Di antara mereka adalah para pemberani yang berperang (di jalan Allah), fuqahaa’, ahli hadits, orang-orang yang zuhud, orang yang menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan para pelaku kebaikan yang lainnya. Tidaklah mengharuskan mereka berkumpul pada tempat yang sama, bahkan mungkin mereka tersebar di berbagai penjuru negeri” (Syarh Shahih Muslim, 13/67 – Maktabah Syamilah).

Datangnya Pembaharu Setiap Abad

Dalam sebuah hadits shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun” (HR. Abu Dawud).

Turunnya Al-Masih

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu anhuma, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ عَليهِ السَّلام فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ: تَعَالَ صَلِّ لَنَا فَيَقُوْلُ: لاَ، إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ، تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ اْلأُمَّةَ.

“Senantiasa ada segolongan dari ummatku yang berperang demi membela kebenaran sampai hari Kiamat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka kemudian turun Nabi ‘Isa bin Maryam alaihis salam, kemudian pemimpin golongan yang berperang tersebut berkata kepada Nabi ‘Isa: ‘Kemarilah, shalatlah mengimami kami.’ Kemudian Nabi ‘Isa menjawab: ‘Tidak, sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai penghormatan bagi umat ini.’” (HR. Muslim, no. 156,  no. 247)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ عَليهِ السَّلام حَكَمًا عَدْلاً، فَيَكْسِرَ الصَّلِيْبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيْرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيْضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ.

“Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam alaihis salam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti/pajak), dan akan melimpah ruah harta benda, hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” (HR. Al-Bukhari)

Para ahli hadits menyebutkan bahwa hadits-hadits tentang masalah turunnya Al-Masih ini mencapai batas mutawatir. Sebanyak 40 hadits, yang terdiri dari hadits shahih dan hasan—tidak ada yang dhaif—telah disebutkan oleh Allamah Maulana Anwar al-Kasymiri dalam bukunya At-Tashriihu bimaa tawaatara fii nuzuulil masiih.

Datangnya Al-Mahdi

Dalam hadits yang sangat banyak disebutkan tentang akan datangnya seorang penguasa yang berpegang teguh dengan ajaran Islam. Ia datang setelah masa-masa kebobrokan dan kerusakan. Ia menegakkan agama Allah di muka bumi ini, dan memenuhinya dengan keadilan, sebagaimana dunia ini pernah penuh dengan kebobrokan dan kerusakan.

Mengenai hal ini cukuplah kita menyimak hadits berikut,

أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلاَفٍ مِنَ النَّاسِ وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا يَرْضَى عَنْهُ سَاكِنُ السَّمَاءِ وَسَاكِنُ الْأَرْضِ يَقْسِمُ الْمَالَ صِحَاحًا

“Aku berikan kabar gembira kepada kalian dengan kedatangan Al-Mahdi yang muncul di tengah-tengah  umatku di saat terjadinya perselisihan di antara manusia dan berbagai kegoncangan. Maka dia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kebijaksanaan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kejahatan dan kezaliman. Seluruh penduduk langit dan bumi menyenanginya. Dia membagi harta kepada manusia dengan merata.(HR. Ahmad)

Penutup

Apa yang disebutkan di atas menjadi bukti bahwa Islam adalah agama masa depan. Meskipun demikian, bukan berarti kita mencukupkan diri dengan diam tidak beramal dan menunggu-nunggu keajaiban dari langit. Teladanilah perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya; mereka meyakini janji-janji kemenangan dari Allah Ta’ala seraya terus beramal dan berjuang dengan penuh kesungguhan.

Wallahu a’lam.  

[1] Fathul Qadir, 4/47

 

One thought on “Al-Mustaqbal li Hadzad Din

  1. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh risalah tarbawiyah ada akun sosial media nya gak?

    Pada tanggal Sel, 23 Okt 2018 13.28, Risalah Tarbawiyah menulis:

    > Tarbawiyah posted: “Masa Depan di Tangan Islam Di hadapan kita terpampang > beragam fenomena problematika umat yang cukup berat: mayoritas umat—di > berbagai negeri Islam—kini berada dalam keadaan lemah; baik dalam aspek > aqidah, pendidikan, tsaqafah, dakwah, soliditas, maupun a” >

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s