Posted in Keakhwatan

Peran dan Tanggung Jawab Muslimah

Lintasan Kisah Muslimah di Sepanjang Sejarah

Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hanya kaum laki-laki muslim saja yang berlomba-lomba beramal shalih; kaum wanita pun tidak ketinggalan turut berlomba-lomba beramal shalih dan mengambil peran dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka menyadari persamaan haknya dalam peribadahan dan memperoleh pahala dari Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An-Nisa, 4: 124)

Dalam sirah kita akan menemukan banyak sekali profil muslimah pada masa nabi yang berperan aktif dalam amal shalih. Ada Khadijah yang telah berkorban dengan jiwa dan hartanya di jalan dakwah; ‘Aisyah yang banyak belajar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mampu mengajarkan ilmunya kepada kaum wanita maupun pria. Adapula sosok-sosok lain yang tercatat dalam sejarah Islam.

Asma Sang Juru Bicara Para Muslimah

Adalah Asma binti Yazid Al-Anshariyah yang menjadi juru bicara kaum muslimah pada masa nabi untuk menyampaikan aspirasi kaum wanita yang begitu bersemangat  ingin memperoleh keutamaan pahala dan tidak ingin ketinggalan oleh kaum laki-laki dalam beramal. Imam Baihaqi menyebutkan kisah Asma’ dalam Syu’abul Iman, diantaranya disebutkan bahwa  ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللَّهَ بَعَثَكَ إِلَى الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ، فَآمَنَّا بِكَ وَبِالْهُدَى الَّذِي بَعَثَكَ اللَّهُ بِهِ، وَإِنَّا مَعْشَرُ النِّسَاءِ مَقْصُورَاتٌ، قَوَاعِدُ بُيُوتِكُمْ، وَمَقْضَى شَهَوَاتِكُمْ، وَحَامِلاتُ أَوْلادِكُمْ، وَإِنَّكُمْ مَعْشَرَ الرِّجَالِ فُضِّلْتُمْ عَلَيْنَا بِالْجُمُعَةِ، وَالْجَمَاعَاتِ، وَعِيَادَةِ الْمَرْضَى، وَشُهُودِ الْجَنَائِزِ، وَالْحَجِّ بَعْدَ الْحَجِّ، وَأَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْكُمْ إِذَا أَخْرَجَ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا وَمُرَابِطًا، حَفِظْنَا لَكُمْ أَمْوَالَكُمْ، وَغَزَلْنَا أَثْوَابَكُمْ، وَرَبَّيْنَا لَكُمْ أَوْلادَكُمْ، فَمَا نُشَارِكُكُمْ فِي الأَجْرِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَصْحَابِهِ بِوَجْهِهِ كُلِّهِ ، ثُمَّ قَالَ: ” َسَمِعْتُمْ مَقَالَةَ امْرَأَةٍ قَطُّ أَحْسَنَ فِي مَسْأَلَتِهَا عَنْ أَمْرِ دِينِهَا مِنْ هَذِهِ؟ ” قَالُوا: وَاللَّهِ مَا ظَنَنَّا أَنَّ امْرَأَةً تَهْتَدِي إِلَى مِثْلِ هَذَا، فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهَا فَقَالَ: “انْصَرِفِي أَيَّتُهَا الْمَرْأَةُ، وَأَعْلِمِي مَنْ خَلْفَكِ مِنَ النِّسَاءِ أَنَّ حُسْنَ تَبَعُّلِ إِحْدَاكُنَّ لِزَوْجِهَا، وَطَلَبِهَا مَرْضَاتِهِ، وَاتِّبَاعِهَا مُوَافَقَتَهُ، تَعْدِلُ ذَلِكَ كُلَّهُ” . فَأَدْبَرَتِ الْمَرْأَةُ وَهِيَ تُهَلِّلُ وَتُكَبِّرُ اسْتِبْشَارًا

“Sesungguhnya Allah telah mengutusmu kepada kaum laki-laki dan wanita, kami semua beriman kepadamu dan kepada petunjuk yang Allah mengutusmu dengannya. Sesungguhnya ruang gerak kami kaum wanita terbatas oleh bangunan rumah-rumah kalian; kami menjadi tempat kalian melepaskan syahwat; dan mengandung anak-anak kalian. Sedangkan kalian kaum laki-laki memiliki kelebihan atas kami karena shalat jum’at, shalat berjama’ah, mengunjungi orang sakit, mengantar jenazah, melaksanakan haji berkali-kali, dan yang lebih afdhal dari itu adalah jihad di jalan Allah; dan laki-laki di antara kalian apabila pergi berhaji, umrah, atau berjaga di medan perang, sungguh kamilah yang menjaga harta-harta kalian, menjahit pakaian kalian, mengasuh anak-anak kalian. Lalu apakah kami berserikat dengan kalian dalam pahala, wahai Rasulullah?” Mendengar pertanyaan tersebut  Rasulullah kemudian berpaling menghadapkan wajahnya ke sekeliling sahabatnya, lalu bertanya: “Pernahkah kalian mendengar perkataan wanita tentang masalahnya dan agamanya yang lebih baik dari pertanyaan ini?” Para sahabat menjawab, “Demi Allah, kami tidak menyangka kaum wanita akan mengajukan hal seperti ini.” Lalu nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling kepada wanita itu dan bersabda, “Pergilah wahai wanita, dan beritahukanlah kepada wanita-wanita di belakangmu, sesungguhnya mematuhi suami dengan sebaik-baiknya bagi seseorang dari kalian, serta mencari keridhoannya dan mengikuti persetujuannya, setara (pahalanya) dengan seluruh apa yang kamu sebutkan (tentang amal-amal kaum lelaki).” Wanita itu kemudian berpaling (dari hadapan Rasulullah) seraya bertahlil dan bertakbir dengan gembira.”

Wanita-wanita yang Sabar dan Tabah

Suatu saat Fatimah tidak makan berhari-hari karena tidak ada makanan, sehingga suaminya, Ali bin Abi Thalib melihat mukanya pucat; Ali bertanya kepadanya, “Mengapa engkau ini, wahai Fatimah, kok kelihatan pucat?” Fatimah menjawab, “Aku sudah tiga hari belum makan, karena tidak ada makanan di rumah. Ali berkata, Mengapa engkau tidak bilang kepadaku? Dia menjawab, “Ayahku, Rasulullah, menasehatiku di malam pengantin, jika Ali membawa makanan, maka makanlah. Bila tidak, maka kamu jangan meminta.”

Ada pula wanita yang diuji dengan penyakit, sehingga dia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta untuk didoakan. Atha’ bin Abi Rabah bercerita bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata kepadaku, Maukah aku tunjukkan kepadamu wanita surga? Aku menjawab, Ya. . Dia melanjutkan, “Ini wanita hitam yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadu, ‘Saya terserang epilepsi dan auratku terbuka, maka doakanlah saya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Jika kamu sabar, itu lebih baik, kamu dapat surga. Atau, kalau kamu mau, saya berdoa kepada Allah agar kamu sembuh. Wanita itu berkata, Kalau begitu saya sabar, hanya saja auratku suka tersingkap. Doakan supaya tidak tersingkap auratku.Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakannya.

Wanita-wanita di Medan Jihad

Diantara sosok muslimah yang terkenal karena keterlibatannya dalam jihad adalah Nasibah binti Ka’ab yang dikenal dengan nama Ummu Imarah. Dia becerita, “Pada Perang Uhud, sambil membawa air aku keluar agak siang dan melihat para mujahidin, sampai aku menemukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara, aku melihat pasukan Islam kocar-kacir. Maka, aku mendekati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil ikut berperang membentengi beliau dengan pedang dan terkadang aku memanah. Aku pun terluka, tapi manakala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terpojok dan Ibnu Qamiah ingin membunuhnya, aku membentengi beliau bersama Mush’ab bin Umair. Aku berusaha memukul dia dengan pedangku, tapi dia memakai pelindung besi dan dia dapat memukul pundakku sampai terluka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita, Setiap kali aku melihat kanan kiriku, kudapati Ummu Imarah membentengiku pada Perang Uhud. Begitu tangguhnya Ummu Imarah.

Ada juga Khansa yang merelakan empat anaknya mati syahid. Ia berkata, Alhamdulillah yang telah menjadikan anak-anakku mati syahid.

Ketika Utsman bin Affan mengerahkan pasukan untuk melawan manuver-manuver Romawi, komandan diserahkan kepada Hubaib bin Maslamah. Istri Hubaib turut serta dalam pasukan yang akan berangkat perang. Sebelum perang dimulai, Hubaib memeriksa kesiapan pasukan. Tiba-tiba istrinya bertanya, Dimana aku menjumpaimu ketika perang sedang berkecamuk?
Hubaib menjawab, Di kemah komandan Romawi atau di surga.
Ketika perang sedang berkecamuk, Hubaib berperang dengan penuh keberanian sampai mendapatkan kemenangan. Segera dia menuju ke kemah komandan Romawi menunggui istrinya. Yang menakjubkan, saat Hubaib sampai ke tenda itu, dia mendapatkan istrinya sudah mendahuluinya.

Seuntai Rambut di Jalan Allah

Pada masa Dinasti Abbasiyah dipimipin oleh Harun Ar-Rasyid, ada seorang muslimah disandera oleh tentara Romawi. Maka, seorang ulama bernama Al-Manshur bin Ammar mendorong umat Islam untuk berjihad di dekat istana Harun al-Rasyid dan dia pun menyaksikan ceramahnya. Tiba–tiba ada kiriman bungkusan disertai dengan surat. Surat itu lalu dibuka dan dibaca oleh ulama tadi dan ternyata berasal dari seorang muslimah yang isinya: Aku mendengar tentara Romawi melecehkan wanita muslimah dan engkau mendorong umat Islam untuk berjihad, maka aku persembahkan yang paling berharga dalam diriku. Yaitu, seuntai rambutku yang aku kirimkan dalam bungkusan itu. Dan, aku memohon agar rambut itu dijadikan tali penarik kuda di jalan Allah agar aku dapat nantinya dilihat Allah dan mendapatkan rahmatnya. Maka, ulama itu menangis dan seluruh hadirin ikut menangis. Harun Ar-Rasyid kemudian memutuskan mengirim pasukan untuk membebaskan wanita muslimah yang disandera itu.

Kisah Istri Shaleh bin Yahya

Istri Shaleh bin Yahya saat ditinggal suaminya ia hidup bersama dua anaknya. Ia mendidik anak-anaknya dengan ibadah dan qiyamul lail (shalat malam). Ketika anak-anaknya semakin besar, dia berkata, “Anak-anakku, mulai malam ini tidak boleh satu malam pun yang terlewat di rumah ini tanpa ada yang shalat qiyamul lail.

Apa maksud ibu?tanya mereka. Sang Ibu menjawab, Begini, kita bagi malam menjadi tiga dan kita masing-masing mendapat bagian sepertiga. Kalian berdua, dua pertiga, dan aku sepertiga yang terakhir. Ketika waktu sudah mendekati subuh, saya akan bangunkan kalian.”

Kebiasan ini berlanjut sampai ibu mereka meninggal. Dan amalan itu tetap dilanjutkan oleh dua anak itu karena mereka sudah merasakan nikmatnya qiyamul lail.

*****

Begitulah para wanita pada masa lalu. Mereka lebih banyak berpikir untuk akhiratnya dan tidak terdominasi oleh pikiran-pikiran tentang dunia; rumah tinggal, makanan, minuman, kendaraan, dan lain-lain. Dari kisah mereka kita pun dapat memahami begitu besarnya peran dan tanggungjawab wanita pada masa salafus shalih, mereka tidak pernah berhenti memberikan kontribusi dengan apa yang mereka memiliki.

Hal ini hendaknya menyadarkan muslimah masa kini tentang peran dan tangguh jawabnya di berbagai aspek kehidupannya; baik dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, dan negaranya.

Empat Peran dan Tanggung Jawab Muslimah

Pertama, peran dan tanggung jawab sebagai ‘abidatun lillahi ta’ala (menghambakan diri kepada Allah Ta’ala).

Menghambakan diri kepada Allah Ta’ala merupakan ciri dari wanita yang shalihah. Keshalihan inilah yang menjadi asas utama kebahagiaan yang hakiki. Tanpa kehadiran wanita shalihah, pembentukan keluarga islami akan sangat sulit diwujudkan.

Bagaimanakah sifat-sifat wanita yang menghambakan diri kepada Allah Ta’ala itu?

  • Taat kepada Allah Ta’ala dan Rasul serta patuh kepada perintah-Nya. Sanggup menjaga kesucian dirinya walaupun di tempat-tempat yang sunyi dari pandangan orang lain, juga sering berdzikir kepada Allah Ta’ala serta takut kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An-Nisa’, 4: 34)

  • Bersyukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada suaminya, karena ia meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menakdirkannya, sementara takdir Allah Ta’ala tidak pernah mencelakan dirinya.
  • Taat kepada suaminya serta memahami hak dan kewajiban terhadap suaminya. Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجَهَا

“Kalau boleh aku menyuruh seseorang supaya sujud kepada orang yang lain niscaya aku menyuruh wanita supaya sujud kepada suaminya”. (HR. Thabrani)

  • Senantiasa menunjukkan himmah (semangat) yang tinggi, lemah lembut tidak suka memaki, mengucapkan sumpah serapah, mengumpat-keji, berbantah bantahan dan lain-lain dari sikap dan prilaku yang negatife dan tidak terpuji. Ia selalu menunjukkan sikap yang jernih dan lapang dada serta segala hal yang dapat menyebabkan suaminya senang saat berada di rumah seperti disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خَيْرُ النِّسَاءِ تَسُرُّكَ إِذَا أَبْصَرْتَ، وَتُطِيعُكَ إِذَا أَمَرْتَ، وَتَحْفَظُ غَيْبَكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكِ

“Sebaik-baik wanita ialah perempuan yang apabila engkau memandangnya ia menyukakan hati dan mentaati apabila engkau memerintah, dan apabila engkau tidak ada ia menjaga harta engkau dan memelihara dirinya.”

  • Berpengetahuan, berakhlak mulia, tahu melayani suami serta mengasihi dan mendidik anak-anak ke jalan hidup yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala serta mentauladani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua, peran dan tanggung jawab dalam ra’iyyatun li abna-iha (mendidik /menjaga anak-anaknya).

Allah Ta’ala berfirman,

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa, 4: 9)

Ayat ini hendaknya menumbuhkan kesadaran para orangtua akan mas’uliyah (tanggung jawab) mereka dalam memperhatikan anak keturunannya. Hendaknya mereka takut dan khawatir jika meninggalkan keturunan yang lemah; baik lemah finansial maupun lemah akal dan pendidikannya. Sadarilah, lemahnya pendidikan harus lebih lebih diwaspadai daripada lemahnya harta atau finansial.

Tanggung jawab pendidikan adalah tanggung jawab bersama suami-istri; namun tidak dapat dipungkiri bahwa peran dan tanggung jawab wanita dalam hal ini porsinya cukup besar. Karena dialah yang memiliki porsi lebih besar dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Renungkanlah hadits berikut ini,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

 “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” (HR. Bukhari No. 844)

Maka, diantara peran dan tanggungjawab seorang muslimah adalah memberikan pendirikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Masa yang penting dalam pendidikan kepada mereka adalah apa yang disebut golden-age, masa di mana anak sangat mudah menyerap segala informasi, belajar tentang segala sesuatu. Dan ibu adalah orang yang terdekat dengan anak, yang lebih sering berinteraksi dengan anak. Wahai muslimah, teruslah tempa diri  agar menjadi sumber ilmu dan pendidik pertama bagi anak-anak, yang mampu menanamkan fondasi awal dan utama bagi generasi yang akan menjadi pemimpin masa depan.

Ketika anak mulai memasuki dunia sekolah, tugas ibu tak lantas menjadi tergantikan oleh sekolah. Bahkan sang ibu dituntut untuk dapat mengimbangi apa yang diajarkan di sekolah.

Peran yang demikian strategis ini, menuntut wanita muslimah untuk membekali dirinya dengan ilmu yang memadai. Maka, mereka harus terus bergerak meningkatkan kualitas dirinya. Karena untuk mencetak generasi yang berkualitas, dibutuhkan pendidik yang berkualitas pula. Hal itu berarti, seorang wanitia tidak boleh berhenti belajar. Teladanilah para shahabiyah yang bahkan meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diberikan kesempatan di hari tertentu khusus untuk mengajari mereka. Perhatikan hadits berikut ini,

جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ الرِّجَالُ بِحَدِيثِكَ فَاجْعَلْ لَنَا مِنْ نَفْسِكَ يَوْمًا نَأْتِيكَ فِيهِ تُعَلِّمُنَا مِمَّا عَلَّمَكَ اللَّهُ فَقَالَ اجْتَمِعْنَ فِي يَوْمِ كَذَا وَكَذَا فِي مَكَانِ كَذَا وَكَذَا فَاجْتَمَعْنَ فَأَتَاهُنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَّمَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَهُ اللَّهُ

“Seorang wanita menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan uneg-unegnya, ‘Wahai Rasulullah, orang laki-laki sudah biasa datang kepadamu dan menimba hadits, maka tolong berilah kami jatah harimu sehingga kami bisa menemuimu dan anda dapat mengajarkan kepada kami ilmu yang telah Allah ajarkan kepada anda.’ Rasul mengiyakan dengan bersabda: ‘Boleh, berkumpullah kalian pada hari ini dan ini, di tempat si fulan dan fulan, ‘ maka para wanita pun berkumpul dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari mereka ilmu yang telah Allah ajarkan kepada beliau…’” (HR. Bukhari No. 6766)

Dengan begitu akan bermunculan kembali Aisyah-Aisyah yang mempunyai pemahaman yang luas dan mendalam tentang agamanya

Wahai muslimah, didik putra-putrimu agar mengenal Allah Ta’ala dan taat pada-Nya, agar gemar membaca dan menghapal kalam-Nya. Ajarkan mereka agar mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneladani beliau. Bekali mereka dengan akhlak imani, mencintai sesama, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda. Jadilah kalian Khansa-Khansa baru yang siap mencetak para syuhada.

Ketiga, peran dan tanggung jawab sebagai waziratun li zaujiha (pendamping suaminya).

Allah Ta’ala memberikan perumpamaan yang indah tentang ikatan suami-istri,

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ

“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu”. (QS. Al-Baqarah, 2:187)

Dalam kehidupan sehari-hari fungsi pakaian setidaknya ada tiga, yaitu: menutup aurat, melindungi diri dari panas dan dingin, serta sebagai perhiasan. Begitupula kehidupan rumah tangga seorang muslim dan muslimah; mereka hendaknya saling menutupi kekurangan masing-masing, saling melindungi dan memberi manfaat, serta saling membantu dalam memancarkan kebaikan di tengah-tengah masyarakat.

Ayat ini menyampaikan pesan bahwa suami-istri hendaknya saling melengkapi. Seorang laki-laki biasanya lebih cenderung menggunakan akalnya di dalam mengatur urusan keluarga. Adapun seorang wanita biasanya lebih cenderung menggunakan perasaannya di dalam mengatur semua permasalahannya, termasuk mengatur urusan rumah tangga. Dua kecenderungan ini harus dipadukan sehingga mewujudkan keseimbangan yang akan membawa kepada kebahagiaan.

Keempat, peran dan tanggung jawab sebagai ukhtan li mujtama’iha (saudara bagi masyarakatnya).

Muslimah hendaknya turut berkontribusi dalam melakukan perbaikan dan pembangunan di tengah-tengah masyarakatnya, terutama dalam rangka mencetak individu yang baik yang kelak menjadi anggota masyarakat yang baik.

Perbaikan masyarakat ada dua macam:

  1. Perbaikan yang Zhahir (Nampak). Yaitu perbaikan yang dilakukan di tempat-tempat terbuka, seperti: masjid, pasar, tempat kerja, dan sejenisnya. Jenis perbaikan seperti porsinya lebih besar dilakukan oleh kaum laki-laki, karena merekalah yang lebih banyak beraktivitas di luar rumah.
  2. Perbaikan di Balik Tabir.Yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Urusan ini biasanya diperankan oleh kaum wanita, karena merekalah yang menjadi pengatur urusan-urusan internal rumah tangga, sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 33)

Bagaimanakah cara yang seharusnya dilakukan oleh wanita muslimah dalam berkontribusi dalam perbaikan masyarakat? Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan, diantaranya:

  1. Menjaga keshalihan, sebagaimana telah dibahas di awal.
  2. Fasih di dalam berbicara, yakni mampu mengungkapkan perasaan, ide, dan gagasan dengan penuh hikmah (berdasarkan ilmu dan kebijaksanaan).
  3. Mampu mendidik anak-anaknya dengan baik. Dengan begitu ia telah berkontribusi dalam memperbaiki masyarakat.
  4. Giat dalam berdakwah di lingkungan luar yang memungkinkan baginya.

*****

Guna mewujudkan peran dan tanggung jawabnya tersebut secara seimbang, hendaknya wanita muslimah mampu melakukan tarbiyah dzatiyah secara berkesinambungan; yakni menyiapkan dan memanfaatkan sarana pembinaan diri sehingga dirinya terbentuk menjadi muslimah yang berkepribadian islami di seluruh sisinya; ilmiah, iman, akhlak, sosial, dan lain sebagainya.

Hal di atas dapat terwujud jika mereka mampu melakukan tandzimul auqat (menata waktu) dan adaul insyithatil mushalati ila itqanil ‘amal (melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang terwujudnya amal yang sempurna); diantaranya adalah: muhasabah, taubat, mencari ilmu dan memperluas wawasan, komitmen dengan amalan harian, memperbaiki akhlak, melibatkan diri dalam aktivitas dakwah, mujahadah (bersungguh-sungguh), dan selalu berdo’a.

Wallahu A’lam….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s