Menjadikan Syaithan Sebagai Musuh

Allah Ta’ala  telah menciptakan berbagai makhluk dari asal kejadian yang berbeda-beda. Dia menciptakan manusia berasal dari tanah,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (QS. Al-Hijr, 15: 26)

Menciptakan jin berasal dari api,

وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ

“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al-Hijr, 15: 27)

Menciptakan malaikat berasal dari cahaya; sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin dari nyala api, sedang Adam (manusia) diciptakan dari tanah sebagaimana diceritakan kepadamu (oleh firman Allah).” (HR. Muslim)

*****

Selain berbeda-beda asal kejadian, makhluk-makhluk ini pun diciptakan berbeda-beda jenisnya; ada makhluk kasar yang kasat mata yaitu manusia, dan ada pula makhluk halus yang tidak kasat mata yaitu jin dan malaikat. Mereka berbeda-beda pula sifatnya; manusia dijadikan sebagai makhluk mukhayyarun (memiliki potensi memilih), sehingga bisa tergolong menjadi muslim (tunduk/berserah diri) atau menjadi kafir (ingkar dan menentang).

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dia-lah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. At-Taghabun, 64:2)

Begitupula jin,

وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا

“…dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. Jin, 72: 11)

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا

“…dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus.” (QS. Jin, 72: 14)

Sedangkan malaikat dijadikan sepenuhnya taat kepada Allah Ta’ala. Hal ini diisyaratkan oleh firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim, 66:6).

Hizbus Syaithan (Golongan/Kelompok Setan)

Kita begitu familier dengan kata ‘Syaithan’ atau ‘Setan’, juga ‘Iblis’. Siapakah mereka? Makhluk apakah mereka itu?

Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata: “Syaithan—jamaknya syayathin—adalah setiap yang keterlaluan, baik dari golongan manusia, jin atau binatang. Adapun yang lazim dimaksudkan dalam agama ialah yang keterlaluan dari alam jin.”[1]

Syaikh Ahmad Muthafa Al-Maraghi rahimahullah menjelaskan makna kata syaithan sebagai berikut: “As-Syaithan berarti segala sesuatu yang bersikap kepala batu dan membangkang—baik manusia atau jin—sebagaimana telah difirmankan Allah,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

‘dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.’ (QS. Al-An’am, 6: 112).”[2]

Apa yang diungkapkan oleh Syaikh Sayyid Sabiq dan Syaikh Ahmad Muthafa Al-Maraghi di atas, senada dengan apa yang disampaikan Ibnu Katsir, rahimahumullah: “Syaithan adalah setiap makhluk yang menentang dan menlanggar tuntunan para Nabi.”[3]

Adapun Iblis adalah nenek moyang seluruh syaithan. Lebih lanjut Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah menjelaskan, “Iblis yakni nenek moyang seluruh syaithan itu akan tetap hidup sampai hari kiamat. Ia sendiri dahulu memang pernah meminta kepada Allah Ta’ala agar tidak dimatikan sampai hari kiamat dan permintaannya itu dikabulkan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’anul Karim:

قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

‘Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)’. (QS. Shad, 38: 80 – 81)

Iblis juga memiliki keturunan, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’anul Karim,

أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

‘…Patutkah kamu mengambil dia (Iblis) dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.’ (QS. Al-Kahfi, 18: 50).”[4]

Jadi, hizb (golongan/kelompok) as-syaithan (setan) atau hizbus syaithan adalah golongan/kelompok setan yang dipimpin oleh Iblis.

Deklarasi Perang dan Permusuhan

Dia—Iblis la’natullah ‘alaih—sesungguhnya telah mengumumkan perang dan permusuhan terhadap manusia—anak cucu Adam,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’raf, 7: 16-17)

Maka, sudah sepantasnya kita selalu bersikap waspada dan bersiap siaga menghadapi tipu daya golongan/kelompok syaithan ini, serta menjadikannya sebagai musuh sejati dalam kehidupan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir, 35: 6)

Ingatlah, serangan yang dilancarkan oleh hizbus syaithan ini bisa datang kapan saja dari berbagai penjuru. Perhatikanlah sekali lagi kalimat: “…saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka….” (QS. Al-A’raf, 7: 16-17).

‘Serangan’ dari arah depan maknanya menurut Ibnu Abbas adalah menanamkan keraguan tentang akhirat; atau menurut Qatadah maknanya adalah menyampaikan informasi bahwa tidak mungkin akan ada kebangkitan, surga dan neraka.

‘Serangan’ dari arah belakang maknanya menurut Ibnu Abbas adalah merangsang kepada cinta dunia; atau menurut Qatadah maknanya adalah memperhias dunia dan mendorong manusia (agar cenderung, red.) ke sana.

‘Serangan’ dari arah sebelah kanan maknanya menurut Ibnu Abbas adalah meragukan perintah agama; atau menurut Qatadah maknanya adalah memperlambat untuk melakukan kebaikan.

‘Serangan’ dari arah sebelah kiri maknanya menurut Ibnu Abbas dan Qatadah adalah merangsang berbuat dosa atau maksiat.[5]

Ciri-ciri Hizbus Syaithan (‘Alaamatu Hizbisy-Syaithaan)

Diantara bentuk kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap hizbus syaithan—golongan/kelompok syaithan ini—adalah mengetahui ciri-ciri mereka:

Ciri-ciri mereka ada dua: Pertama, istahwadza ‘alaihimusy-syaithaan; mereka dikuasai dan dirasuki oleh syaithan. Mereka telah merasa asyik dan rela tunduk terperdaya kepada syaithan; secara fikriyan (pemikiran/pemahaman), maknawiyan (mental), nazhariyyan (teori/konsep), ‘amaliyyan (aktivitas), dan minhajan (sistem/metode/cara/pedoman).

Kondisi ciri yang pertama kemudian memunculkan ciri yang Kedua, yaitu ansaahum dzikrallah; mereka lupa dan tidak ingat kepada Allah Ta’ala; tidak memahami kemuliaan dan kedudukan-Nya yang agung. Tidak tahu, tidak mau tahu, serta melupakan shibghatallah (celupan—agama Allah Ta’ala).

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.” (QS. Al-Mujaadilah, 58: 19)

Pengikut hizbusy syaithan memusuhi dan menjauhkan diri dari agama Allah Ta’ala, lalu menjadikan selain Allah Ta’ala sebagai panutan,

إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

“Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf, 7: 30)

Perlawanan terhadap mereka harus kita lakukan dengan cara mengokohkan diri dalam agama Allah Ta’ala,

صِبْغَةَ اللَّهِ ۖ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً ۖ وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ

“Shibghah Allah, dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah Kami menyembah.” (QS. Al-Baqarah, 2: 138)

Shibghah Allah maknanya adalah celupan Allah yang berarti iman kepada Allah yang tidak disertai dengan kemusyrikan. Diriwayatkan pula dari Adh-Dhahhak dari Ibnu ‘Abbas, bahwa shibghatallah yaitu: “Agama Allah”. Hal senada diriwayatkan dari Mujahid, Abul ‘Aliyah, ‘Ikrimah, Ibrahim, al-Hasan al-Bashri, Qatadah, ‘Abdullah bin Katsir, ‘Athiyah al-‘Aufi, Rabi’ bin Anas, as-Suddi, dan lain-lain.

Strategi Perang Hizbus Syaithan

Hizbus Syaithan memiliki strategi/langkah-langkah mematikan agar memenangkan pertempuran melawan manusia. Celakanya, strategi/langkah-langkah syaithan ini kebanyakan bersifat halus dan tidak disadari oleh manusia. Apa sajakah itu?

Pertama, waswasah (bisikan).

Syaithan memang biasa menyelinap lalu membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia secara samar dan rahasia, baik itu dari kalangan jin maupun manusia. Oleh karena itu Allah Ta’ala mengingatkan manusia agar selalu waspada terhadap godaan syaitan, karena dia selalu menyertai gerak-gerik manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ قَالُوا وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَإِيَّايَ إِلَّا أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Tidak seorang pun di antara kalian kecuali bersamanya ada qarinnya dari Jin”. Para sahabat bertanya: ”Engkau juga, ya Rasulullah?” Jawab Rasulullah, “Termasuk saya, tetapi Allah telah menolong saya di atasnya, maka saya selamat. Sehingga ia tidak menyuruhku kecuali kepada yang baik”. (HR Muslim).

Saat menjelaskan Al-Qur’an surah An-Naas, Syaikh Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa “al-waswas” atau “al-waswasah”, maksudnya: apa yang terlintas dalam hati berupa fikiran, sangkaan, khayalan, yang tidak ada kebenarannya. Sedangkan “Al-khannaas” ialah yang memperdayakan, mengganggu, yang pergi dan datang ketika seseorang berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, dia adalah syetan.

Al-Mu’tamir Ibnu Sulaiman telah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa pernah diceritakan kepadanya, sesungguhnya syaitan yang banyak menggoda itu selalu meniup hati anak Adam manakala ia sedang bersedih hati dan juga manakala sedang senang hati. Tetapi apabila manusia sedang ingat kepada Allah, maka syaitan bersembunyi ketakutan.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, al-waswas, bahwa makna yang dimaksud ialah syaitan yang membisikkan godaannya; namun apabila yang digodanya taat kepada Allah, maka syaitan bersembunyi. Ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala,

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَاناً فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ حَتَّى إِذَا جَآءَنَا قَالَ يالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ وَلَن يَنفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذ ظَّلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِى الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ

“Barang siapa yang berpaling dari mengingat Allah (Petunjuk Allah) Yang Maha Pemurah (yaitu Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” ( Qs. Az Zukhruf : 36)

Di era digital saat ini media waswasah dari hizbus syaithan semakin variatif dan modern; buku, koran, majalah, film, website, media sosial, dan lain-lain; semuanya dapat membisikkan pikiran dan dorongan jahat kepada jiwa. Waspadalah terhadap segala bentuk bisikan. Renungkanlah kisah bapak dan ibu kita, Adam dan Hawa, serta akibat yang terjadi kepada mereka disebabkan menuruti waswasah dari Iblis.[6]

Kedua, membuat lupa (insaa-un).

Sebelumnya telah dikemukakan bahwa ciri pengikut hizbusy syaithan adalah melupakan Allah Ta’ala,

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.” (QS. Al-Mujaadilah, 58: 19)

Syaithan berupaya menguasai anak-anak Adam dengan cara memalingkannya dari akhirat dan melupakan peringatan-peringatan serta ancaman-ancaman yang datang kepada mereka. Mereka tenggelam dalam buaian hidup di dunia; memperturutkan hawa nafsu, bersenang-senang dan bergembira dengan tidak memperdulikan mana yang halal dan mana haram, mana yang hak dan mana yang batil.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ ۚ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۖ وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ فَلَنْ يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا

“Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi, 18: 57)

Manakala keingkaran mereka terus bertambah dan semakin lupa kepada Allah Ta’ala, maka dibiarkan oleh-Nya mereka semakin jauh dari petunjuk; Allah Ta’ala mendatangkan kebaikan, menambah rezeki, menyehatkan jasmani mereka, menjaga keamanan diri mereka dan membukakan pintu-pintu kesenangan, sehingga mereka semakin lupa dan bertambah sombong serta takabur, tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala, bahkan nikmat itu mereka jadikan sebagai alat untuk menambah kekuasaan dan kekasaran mereka.

Petunjuk agama yang datang kepada mereka hanyalah menjadi bahan mainan dan senda gurau. Mereka benar-benar telah ingkar kepada petunjuk Allah Ta’ala.

الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَٰذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

“(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.” Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami.”  (QS. Al-A’raf, 7: 51)

Selain itu, mereka pun menjadikan hamba-hamba Allah Ta’ala yang beriman sebagai buah ejekan dan bahan tertawaan. Hal ini semakin membuat mereka jauh dan lupa kepada Allah Ta’ala,

فَاتَّخَذْتُمُوهُمْ سِخْرِيًّا حَتَّىٰ أَنْسَوْكُمْ ذِكْرِي وَكُنْتُمْ مِنْهُمْ تَضْحَكُونَ

“…lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu mentertawakan mereka.” (QS.  23: 110)

Berikutnya, saat mereka telah bergembira dan bersenang hati dengan nikmat yang telah diberikan Allah Ta’ala dan beranggapan bahwa yang mereka peroleh itu benar-benar merupakan hak mereka, maka Allah Ta’ala  menimpakan azab kepada mereka dengan tiba-tiba, sehingga mereka berduka cita dan putus asa dari rahmat-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

Apabila kamu melihat Allah memberikan kepada seseorang hamba kenikmatan dunia yang disukainya atas perbuatan maksiatnya, maka itu adalah suatu permulaan azab yang diberikan secara berangsur-angsur (istidraj)., Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am, 6: 44). (HR. Ahmad).

Di akhirat, mereka yang lupa kepada Allah Ta’ala akan dilupakan dan disiksa dengan siksaan yang keras,

قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَىٰ

“Allah berfirman: ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan’”. (QS. Thaha, 20: 126)

وَقِيلَ الْيَوْمَ نَنْسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

“Dan dikatakan (kepada mereka): ‘Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini, dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong’”. (QS. Al-Jatsiyah, 45: 34)

فَذُوقُوا بِمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا إِنَّا نَسِينَاكُمْ ۖ وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Maka rasakanlah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan. (QS. AS-Sajdah, 32: 14)

Ketiga, memanjangkan angan-angan kosong (tamanniyyun).

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ

“…dan syaitan itu mengatakan: ‘Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka…’” (QS. An-Nisa: 118 – 119)

Syaithan telah bersumpah kepada dirinya sendiri untuk menggoda dan mengganggu sejumlah manusia. Ia akan berusaha memperdayakan pikiran manusia dengan khayalan-khayalan dan angan-angan kosong, sehingga mereka memandang baik perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah Ta’ala, serta menanamkan di dalam hati dan pikirannya bahwa kesenangan hidup di dunia adalah kesenangan yang pasti tercapai sedang kesenangan dan kebahagiaan di akhirat adalah kesenangan yang diragukan adanya.

Syaithan mendukung manusia untuk berjudi seraya menanamkan angan-angan bahwa kelak mereka akan menjadi kaya tanpa harus kerja keras. Syaithan juga mendorong manusia untuk mendatangi dukun atau kuburan keramat seraya menanamkan  angan-angan bahwa itu adalah jalan pintas terbaik yang cepat mendatangkan hasil.

Berhati-hatilah terhadap lagu-lagu, film, sinetron, cerpen, novel, atau puisi yang berisi angan-angan yang menyesatkan; menanamkan pikiran-pikiran tentang gambaran tuhan, kehidupan manusia, alam ghaib, dan alam semesta hanya berdasarkan asumsi atau perkiraan yang dibuat-buat tanpa pijakan dari kitabullah dan sunnah rasul-Nya.

Jangan sampai kita terkena penyakit kaum Bani Israil yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an,

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. (QS. Al-Baqarah, 2: 78)

Makna amaniyya dalam ayat ini adalah kebohongan (tentang agama/keyakinan, red.) yakni yang mereka dengar dari para pemimpin mereka lalu mereka terima dan percayai.[7]

Keempat, memperindah dosa (tazyiin)

Hizbus Syaithan menghias, memperindah, dan menampilkan kemaksiatan, kebatilan, dosa, serta kejahatan sebagai perkara lumrah, sah, legal, berbudaya, maju, dan modern.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (QS. Al-Hijr, 15: 39)

Mereka yang terpedaya akan merugi di akhirat kelak,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi, 18: 103-104)

Contoh: kita menyaksikan orang-orang yang begitu bangga  membolehkan aborsi, homoseksual, dan lesbianisme, menganggap ‘kumpul kebo’ sebagai hal lumrah dan modern, membuka hijab dan mempertontonkan aurat dianggap sebagai kemajuan, dan lain sebagainya.

Kelima, janji-janji palsu (wa’dun)

Iblis dan syaithan selalu melakukan kampanye dan propaganda dengan janji-janji indah tapi palsu.

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

“Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (QS. An-Nisa, 4: 120)

Orang-orang yang mengikuti hizbus syaithan, ketika di akhirat nanti akan menagih janji kepada syaithan, akan tetapi ia memungkirinya.

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS. Ibrahim, 14: 22)

Kelak di akhirat tokoh-tokoh dan pemimpin-pemimpin hizbus syaithan berlepas diri dari para pengikutnya; padahal dalam rangka mendapatkan dukungan saat di dunia, mereka sampai menyatakan siap menanggung dosa siapa saja yang siap jadi pengikutnya.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ وَمَا هُمْ بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُمْ مِنْ شَيْءٍ ۖ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman: ‘Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu’, padahal mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup), memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta. (QS. Al-Ankabut, 29: 12)

Keenam, tipu daya (kaidun).

Tipu daya yang dilancarkan oleh golongan syaithan banyak sekali. Dalam al-Qur’an Allah Ta’ala menyebutkan jenis-jenis tipu daya yang mereka lakukan, diantaranya adalah:

  1. Mereka merancang berbagai bentuk makar permusuhan dan peperangan kepada mu’minin (lihat: QS. An-Nisa, 4:76), namun Allah Ta’ala akan melemahkan tipu daya mereka itu (lihat: QS. Al-Anfal, 8: 18)
  2. Mereka melakukan pembunuhan kepada orang-orang beriman guna melemahkan kebenaran, meskipun hal itu sebenarnya tidak akan pernah bisa mencapai tujuan busuk mereka (lihat: contoh kasus penindasan Fir’aun, QS. Al-Mu’min, 40:25)
  3. Mereka memfitnah para da’i dan orang-orang beriman dengan tuduhan yang menghinakan disertai siasat yang licik (lihat: contoh kasus tuduhan kepada Nabi Yusuf, QS. Yusuf, 12:52)

Mereka terus menerus melakukan tipu daya, akan tetapi sedahsyat apa pun tipu daya mereka, hakikatnya tidak akan pernah bisa mengatasi tipu daya Allah Ta’ala,

إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا وَأَكِيدُ كَيْدًا

“Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya. (QS. At-Thariq, 86: 15 – 16)

Ketujuh, menghalangi jalan Allah (shaddun)

Iblis, syaithan, dan para pengikutnya selalu berusaha menghalang-halangi manusia dari jalan Allah Ta’ala. Mereka mencoba memalingkannya dari petunjuk yang benar dengan beragam cara; diantaranya adalah dengan mengadakan acara hura-hura agar manusia tidak bisa mendengar dengan baik ayat-ayat Al-Qur’an,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka’”. (QS. Fushilat, 41:26).

Mereka tidak segan mengeluarkan dana berapapun untuk menghalangi jalan Allah Ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,” (QS. Al-Anfal, 8:36).

Cara lain yang mereka gunakan untuk menghalangi jalan Allah Ta’ala adalah dengan melakukan semantic game (permainan bahasa); orang-orang yang komitmen terhadap Islam mereka sebut sebagai fundamentalis, radikal, ekstrim kanan, dan stereotype (julukan jelek) lainnya. Hal ini telah terjadi di sepanjang sejarah kehidupan, manakala as-shira’u bainal haq wal bathil—pertempuran antara al-haq dan al-bathil—berlangsung. Nabi Nuh ‘alaihis salam disebut oleh para pemuka kaumnya sebagai orang sesat/menyimpang (QS. Al-A’raf, 7: 60), Nabi Huud ‘alaihis salam dihina kaumnya, ia dicela sebagai orang safih bahkan pendusta (QS. Al-A’raf, 7: 66), Nabi Luth ‘alaihis salam dihina dengan uangkapan ‘sok suci’ (QS. Al-A’raf, 7: 82), dan lain-lain.

Kedelapan, menimbulkan permusuhan (‘adaawatun)

Syaithan selalu berusaha merusak urusan agama dan dunia umat manusia. Diantara cara yang dilakukannya adalah menimbulkan permusuhan di antara mereka. Inilah yang tidak akan pernah berhenti dilakukan meskipun tujuan utamanya tidak tercapai.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

Dari Jabir ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya syaithan telah putus asa untuk disembah oleh para penyembah. Namun ia terus menggalakan permusuhan di antara mereka.(HR. Tirmidzi)

Sarana yang digunakan oleh syaithan untuk menggalakan permusuhan  adalah:

  1. Menumbuhkan berbagai perselisihan.

Oleh karena itu, guna menjaga diri dari perselisihan, Allah Ta’ala menganjurkan agar manusia menjaga lisannya dari perkataan yang buruk.

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.’” (QS. Al-Isra, 17: 53)

Berkenaan dengan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala memerintahkan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menyeru hamba-hamba Allah Ta’ala yang beriman supaya berkata dalam pembicaraan dan perbincangan mereka dengan ucapan yang paling baik dan perkataan yang paling bagus.

Jika mereka tidak melakukan hal ini syaithan akan menghasut di antara mereka, lalu mengantarkan ucapan (yang kurang baik) menjadi perbuatan, dan terjadilah kerusakan, permusuhan dan pertikaian. Sesungguhnya syaithan itu musuh bagi Adam dan keturunannya sejak dia menolak untuk sujud kepada Adam. Maka permusuhannya sangatlah nampak dan jelas.

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) melarang seseorang mengarahkan besi kepada saudaranya muslim, sesungguhnya syaithan berkesempatan memberi hasutan pada tangannya, artinya bisa jadi akan melukai saudaranya muslim dengannya.”[8]

Renungkanlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

وَمَا تَوَادَّ رَجُلاَنِ فِي اللهِ ، فَتَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا إِلاَّ بِحَدَثٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا ، وَالْمُحْدِثُ شَرٌّ ، وَالْمُحْدِثُ شَرٌّ ، وَالْمُحْدِثُ شَرٌّ

“Tidaklah ada dua orang yang saling mencintai karena Allah lalu berpisah (berselisih) di antara keduanya kecuali dikarenakan suatu ucapan yang diada-adakan salah satu diantara keduanya. Pengada-ada itu jelek, pengada-ada itu jelek, pengada-ada itu jelek.” (HR Ahmad, dikatakan Ibnu Muflih, sanadnya jayyid)

  1. Kemaksiatan-kemaksiatan

Bentuk kemaksiatan yang secara tegas disebutkan sebagai sarana syaithan untuk menimbulkan permusuhan adalah meminum khamar dan berjudi,

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah, 5: 91)

Khamar itu merusak akal. Sedangkan akal itulah yang berfungsi mengendalikan kehendak, kecerdasan, serta kemampuan membedakan antara baik dan buruk.  Begitu pula judi, ia mengandung unsur negatif yaitu menghabiskan harta dan menanamkan rasa iri dan dengki. Kedua- duanya mengandung perusakan mental. Dari dua hal inilah biasanya keonaran dan perkelahian terjadi.

Target Hizbus Syaithan

Kedelapan strategi dan langkah hizbusy syaithan itu dilakukan dalam rangka:

Pertama, penyesatan (tadhlil).

Mereka menghendaki kebenaran menjadi tersamarkan (ghumuudul-haq), atau bercampur baur dengan kebatilan (labsul-haq bil-bathil), sehingga bergelimpanganlah korban-korban penyesatan (dhohiyyatut-tadhlil).

مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَلَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا

“Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (QS. An-Nisa, 4: 143)

Kedua, intimidasi/menakut-nakuti manusia (takhwif).

Dengan strategi dan langkah-langkah mereka, akan bermunculanlah orang-orang yang kehilangan keberaniannya (‘adamus syaja’ah); mereka menyembunyikan kebenaran (kitmanul haq) karena takut terhadap resiko perjuangan. Maka bergelimpanganlah korban-korban intimidasi (dhohiyyatut-takhwif). Padahal Allah Ta’ala menghendaki hamba-hamba-Nya mampu berdiri tegar di hadapan kebatilan.

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali Imran, 3: 175).

Dengan kata lain, adanya tadhlil (penyesatan) dan takhwif (intimidasi) akan memunculkan

pribadi yang tidak lurus (syakhshiyyah ghoiri rasyiidah), yaitu pribadi yang suka berkhianat dan tidak bertanggung jawab (al-khiyaanah), seperti Bani Israil yang enggan berjihad sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an (lihat: QS. Al-Maidah, 5:24); pribadi beku yang tidak mau melakukan perubahan (al-jumuud), dan pribadi pengecut (al-jubnu), yang takut terhadap resiko perjuangan.

*****

Dari uraian di atas tergambarlah betapa pentingnya manusia mewaspadai syaithan. Oleh karena tanamkanlah kesadaran dalam diri bahwa syaithan itu adalah musuh yang nyata. Wallahul musta’an

Catatan Kaki:

[1] Aqidah Islam, hal. 219

[2] Tafsir Al-Maraghi, Jilid I, hal. 88 – 89

[3] Ibnu Katsir, I/14-15

[4] Aqidah Islam, hal. 219

[5] Lihat: Ibnu Katsier III/381-382

[6] Baca dan tadabburilah QS. Al-A’raf, 7: 19 – 22 dan  QS. Thahaa, 20:117 – 121

[7] Lihat: Tafsir Jalalain.

[8] Lihat: Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Isra, 17: 53