Al-Ikhwanul Muslimun di Bawah Panji Al-Qur’an

Dakwah Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM) pertama kali hadir di saat banyak terjadi tragedi kemanusiaan, kegelapan zaman, keprihatinan di seluruh aspek kehidupan umat. Ia kemudian hadir dengan karakter yang unik: tenang namun lebih bergemuruh dari tiupan angin topan; rendah hati, namun lebih tegar dari gunung yang tinggi; terbatas, namun jangkauannya lebih luas dari belahan bumi; tidak memiliki perilaku menipu dan gemerlap yang penuh dusta. Ia hadir dengan keagungan kebenaran, keindahan wahyu, dan pemeliharaan Allah. Bersih dari berbagai kerakusan nafsu dan kepentingan pribadi.

Di Bawah Naungan Dakwah yang Pertama

Dakwah IM hadir sebagaimana kehadiran dakwah pertama yang dibawa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bangkit berjuang karena terpanggil oleh perintah Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (٣

“Wahai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu.” (Al-Mudatsir: 1-3)

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Al-Hijr: 94)

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab- kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk’”. (Al-A’raf: 158)

Dimana Posisi Kita Terhadap Ajaran-ajaran Islam?

Dakwah IM menyeru manusia agar kembali kepada Islam. Mengingatkan mereka bahwa Allah telah mengutus  Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai imam (pemimpin) yang telah menggariskan aturan, menjelaskan hukum-hukum, membawa kitab yang menjelaskan halal dan haram, membimbing menuju kebaikan dan kebahagiaan.

Dakwah IM mengingatkan manusia bahwa mereka saat ini telah menyimpang dari pimpinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; karena mereka kini telah menjadikan aturan-aturan buatan manusia sebagai pijakan setiap urusannya; padahal aturan-aturan itu tidak ada hubungannya dengan Islam; tidak digali dari sumber nilai Islam; dan tidak disandarkan kepadanya.

Dakwah IM mengingatkan manusia pada zaman ini bahwa UU urusan dalam negeri dan luar negeri, peradilan, pertahanan keamanan dan militer, sistem ekonomi, sistem pendidikan, UU perkawinan, dan sistem perilaku personal serta mentalitas para pejabat dan rakyat secara umum juga berbagai fenomena kehidupannya telah sangat jauh dari nilai-nilai Islam.

Apa Lagi yang Masih Tersisa?

Kondisi memprihatinkan:

  • Masjid-masjid megah, tapi hanya diisi oleh orang-orang lemah dan renta, yang shalatnya tanpa ruh dan kekhusyukan kecuali sedikit saja yang mendapat hidayah.
  • Hari-hari puasa jadi tempat bermalas-malasan, memanjakan makan-minum di malam harinya, dan sedikit sekali yang memperoleh pembaruan ruh iman dan penyucian hati.
  • Penampilan menipu seperti pakain, kopiah, tasbih, janggut, sorban, dan kata-kata agamis; apakah sebatas itu hakikat Islam yang dikehendaki Allah?

Gelombang Taklid kepada Barat

IM mengingatkan umat terhadap gelombang peradaban Barat yang bersatu menghadapi arus Islam. Sebenarnya Islam tidak menolak untuk memetik kemanfaatan dan hikmah darimana pun datangnya, namun ia menolak tegas jika harus menyerupakan segala sesuatunya dengan hal yang di luar Islam; melemparkan aqidah, kaidah-kaidah hukum, pemikiran Islam, untuk kemudian membeo di belakang masyarakat yang terperdaya oleh dunia dan terperangkap tipu daya syaithan.

Realitanya peradaban materi itu itu tidak berhasil mendatangkan kebahagiaan yang hakiki, rasa aman, ketenangan, dan kedamaian.

Urgensi Keberadaan Kita

Realita umat yang disadari IM adalah: terjadinya gelombang materialisme, yaitu kebangkitan materi  dan peradaban hedonis yang berakibat pada degradasi moral bangsa-bangsa Islam; menjauhkannya dari kepemimpinan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hidayah Al-Qur’an serta menghalangi  penduduk bumi dari bimbingannya. Hal ini tidak boleh dihadapi dengan berdiam diri. Kita harus menghadapinya dan siap bertempur, hingga seluruh dunia menyuarakan dakwah atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menanamkan keyakinan kepada semua bangsa terhadap nilai-nilai Islam.

Dalam tataran Praktis

IM menghendaki tegaknya nilai-nilai Islam:

  • Menegakkan sistem perundangan dalam negeri (lihat: QS. 5: 49)
  • Menegakkan sistem perundangan yang mengatur hubungan negara dengan berbagai bangsa di dunia (lihat: QS. 2: 143)
  • Menegakkan hukum peradilan yang berpijak pada Al-Qur’an (lihat: QS. 4: 65)
  • Menegakkan sistem perundangan pertahanan dan keamanan serta militer (lihat: QS. 9: 41)
  • Menegakkan sistem ekonomi yang mandiri untuk mengatur kekayaan alam dan harta benda (lihat: QS. 4: 5)
  • Menegakkan sistem pendidikan dan pengajaran dalam rangka memberantas kebodohan (lihat: QS. 96: 1)
  • Menegakkan undang-undang keluarga dan kerumahtanggaan untuk menciptakan suasana kondusif bagi pendidikan anak di rumah (lihat: QS. 66: 6)
  • Menegakkan sistem perundang-undangan yang mengatur perilaku individu untuk mewujudkan keberhasilan hidup (lihat: 91: 9)
  • Menegakkan iklim positif secara umum untuk melindungi setiap pribadi, masyarakat, pejabat atau rakyat (lihat: QS. 28: 77)

Dengan tegaknya semua itu IM menginginkan terwujudnya:

  • Pribadi muslim
  • Rumah Tangga Muslim
  • Masyarakat Muslim
  • Pemerintah Muslim
  • Negara yang mengayomi negeri-negeri Islam; menghimpun keanekaragaman kaum muslimin, menyiapkan kejayaan masa depan, mengembalikan buminya yang hilang, dan berjuang mendapatkan kembali tanah air yang terampas. Ia memanggul panji jihad dan bendera dakwah ila-Llah hingga seluruh dunia damai di bawah naungan Islam.

Bekal Kami

Bekal IM untuk mewujudkan cita-cita menegakkan nilai-nilai Islam adalah iman (keyakinan):

  • Iman kepada pertolongan dan dukungan Allah.

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal.” (Ali Imran: 160)

  • Iman kepada panglimanya (Rasulullah SAW) beserta ketulusan hati dan kepemimpinannya.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..” (Al-Ahzab: 21)

  • Iman kepada manhaj dengan keistimewaan dan keunggulannya.

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (١٥) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (١٦

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menjelaskan, dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus.” (Al-Maidah: 15-16)

  • Iman kepada persaudaraan dengan hak dan kewajiban serta kesuciannya.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (Al-Hujurat: 10)

  • Iman kepada balasan akhirat

مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (At-Taubah: 120)

  • Iman kepada keberadaan diri mereka, yakni sebagai jama’ah yang dipilih oleh takdir untuk berperan menyelamatkan alam.

Iman adalah Bekal Utama Kami

IM meyakini bahwa dakwah mereka tidak akan memperoleh kemenangan kecuali dengan jihad, tadhiyah (kesungguhan), dan badzli (pengorbanan jiwa dan raga). Mereka mempersembahkan  jiwa dan raga dan berjihad dengan sebenarnya, menyambut seruan Ar-Rahman,

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: “jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24)

Setelah semua itu, mereka yakin dengan pertolongan Allah,

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ

“Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. (yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Al-Hajj: 40-41)

Antara Khayalan dan Kenyataan

Orang-orang menganggap keyakinan IM ini sebagai khayalan, bagaimana mungkin iman dan semangat jihad dapat mengalahkan kekuatan raksasa yang memiliki aneka ragam senjata? Hal itu dapat dimaklumi, karena mereka telah putus asa akan nasib dirinya dan putus asa akan terjalinnya hubungan dengan Yang Mahakuat dan Maha Menentukan.

Kenyataanya, sejarah mencatat , para pendahulu telah berhasil membebaskan berbagai wilayah bumi dan telah dikukuhkan kedudukannya di muka bumi, padahal mereka tidak besar bilangan personel dan tidak melimpah bekal persiapan materinya, tetapi mereka beriman dan bersungguh-sungguh dan berjihad.

Dengan kekuatan iman dan jihad, dakwah menyebar ke seluruh penjuru bumi. Romawi dan Persia dapat ditundukkan. Maka bekal iman dan jihad itulah yang harus dipersiapkan.

Seandainya Kita Memiliki Pemerintahan

Seandainya IM memiliki pemerintahan yang sebenarnya, mereka dapat menuntut manusia untuk menegakkan dunia atas nama Islam. IM akan mempersilahkan berbagai bangsa untuk melakukan studi dan observasi; melakukan dialog yang argumentatif dan pengiriman duta-duta terbaiknya secara berkala, dan cara-cara lainnya. Pemerintahan ini menjadi wilayah titik sentral di tengah berbagai bangsa, baik secara politik, moralitas, maupun aktivitas sosial.

Adalah sangat mengherankan sebuah faham seperti komunisme, fasisme, dan nazi memiliki negara yang melindunginya, mendakwahkan ajarannya, menegakkan prinsip-prinsipnya, dan menggiring masyarakat menuju kesana. Namun sebaliknya kita tidak mendapatkan tegaknya suatu pemerintahan Islam yang bekerja untuk menegakkan kewajiban dakwah kepada Islam, menghimpun berbagai sisi positif yang ada di seluruh aliran ideologi dan membuang sisi negatifnya.

Karakter Fikrah Kami

Kita bukan partai politik, meskipun politik sebagai salah satu bagian ajaran Islam; Kita bukan yayasan sosial dan perbaikan, meskipun kerja sosial dan perbaikan adalah bagian dari tujuan kita; Kita bukan klub olah raga, meskipun olah raga dan olah rohani menjadi salah satu perangkat terpenting. Kita bukan  bukan kelompok-kelompok yang diciptakan untuk tujuan parsial dan terbatas yang kadang-kadang hanya dihias slogan dan sebutan-sebutan yang muluk-muluk.

Kita adalah pemikiran dan aqidah, hukum dan sistem, yang tidak dibatasi oleh tema, tidak diikat oleh jenis suku bangsa, dan tidak berdiri dengan batas geografis. Perjalanan kita tidak akan berhenti sehingga Allah SWT mewariskan bumi ini dengan segala isinya kepada kita. Karena ia adalah sistem milik Rabbul ‘Alamin dan ajaran rasul-Nya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s