Jadilah Da’i yang Berwawasan Luas

Dengan semakin berkembangnya zaman dan kehidupan, maka seorang da’i dituntut untuk memliki wawasan yang luas. Sehingga menjadi suatu hal yang urgen bagi seorang da’i untuk mengenal lingkungan sekitarnya secara utuh, baik itu tentang sosial kemasyarakatannya, masalah ekonomi, masalah budaya termasuk pula masalah politik. Seorang da’i yang memiliki wawasan yang luas, maka dia yang akan banyak memberikan pengaruh kepada masyarakat. Ketika seorang da’i diminta untuk memimpin sebuah masyarakat, maka masyarakat itu akan berharap agar sosok  dai tersebut memiliki  wawasan yang luas baik yang sifatnya regional mau pun global.

Dengan mengetahui dunia luar, akan memudahkan bagi seorang da’i untuk mengetahui peluang yang ada di wilayah lain. Sehingga dapat memberikan manfaat bukan hanya bagi wilayah lokal yang ia diami tapi juga wilayah luar lainnya. Hal inilah yang pernah dipraktekkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara melihat negeri lain yang lebih maju dimana di dalamnya ditemukan kenyamanan dan kedamaian, yakni negeri Raja Najasyi di Habsyah. Tentunya pilihan nabi ini juga didasari atas arahan dari Allah Ta’ala. Sedangkan tugas kita para da’i adalah mengerahkan segala upaya untuk mengetahui perkembangan zaman dan kondisi dunia luar. Karena sudah tidak diragukan lagi bahwa setiap wilayah diatas muka bumi ini memiliki keistimewaan. Seperti Lingkungan di padang sahara, tentu beda dengan lingkungan perkampungan penduduk. Dan lingkungan penduduk modern tentu beda dengan  lingkungan yang erat kultur budayanya, lingkungan industri tentu beda dengan lingkungan perdagangan dan perkebunan.

Da’i pada saat ini hidup di wilayah Islam yang membentang luas, tidak lepas dari permasalahan yang cukup kronis, di saat bersamaan ada penentang-penentang Islam yang melarang umat Islam untuk menjalankan aktivitasnya. Kondisi seperti ini hanya bisa teratasi apabila umat bersatu padu saling bahu-membahu. Oleh karenanya dibutuhkan bagi seorang da’i yang berwawasan luas; memahami permasalahan umat Islam dan ancaman-ancaman terhadapnya.

Da’i saat ini juga tengah hidup di dunia yang terbagi-bagi kedalam negara-negara. Diantara negara itu ada yang menjadi negara super power, yang kemudian membidik negara-negara lemah. Termasuk yang menjadi bidikannya adalah dunia Islam. Oleh karena itu kita ditantang untuk memiliki pengetahuan dan informasi tentang pertarung, mana saja negara-negara yang memberikan dampak buruk sehingga kita dapat membendung pengaruhnya.

Saat ini kita sebagai da’i hidup di dunia yang keras bergesekan antar ideologi dan arus pemikiran. Dimana sekarang ini perubahan ideologi sangat cepat terjadi. Sedangkan dunia Islam berada di antara timur dan barat. Cepat atau lambat seorang da’i akan dihadapkan dengan peperangan ideologi. Maka tidak ada alasan lagi bagi para da’i di tengah canggihnya zaman untuk mengalah dengan pemahaman ideologi seperti ini.

Da’i saat ini juga hidup di tengah banyaknya perkembangan teknologi informasi. Diantaranya ada yang membawa manfaat dan ada yang tidak. Ada yang menopang perjuangan dakwah dan ada yang sebaliknya. Da’i yang sukses adalah da’i yang pandai memfilter dan memilah mana yang memberikan manfaat bagi perjuangan dakwahnya dan mana yang tidak.

Tidak ada alasan bagi seorang da’i untuk kemudian berpangku tangan, karena hal itu sama saja memperolok Allah dengan tidak bekerja dan berjuang untuk memperjuangkan syari’at-Nya. Dan pertolongan itu tidak akan datang ketika kita belum mengenal alam ciptaan-Nya ini secara utuh. Tak mengenal darat dan lautnya, sungai dan gunungnya, tanah dan airnya, dan panas dan dinginnya.

Da’i saat ini juga hidup di tengah beragam kelompok, diantara mereka ada yang memiliki kedekatan pemahaman, dan ada pula yang antipati. Oleh karena itu seorang da’i dituntut untuk memahami latar belakang masing-masing kelompok dengan memahaminya secara ilmiah, sehingga para da’i bisa mengukur hingga batasan mana pengaruh kelompok itu masih bisa diterima dan kapan harus distop, dan mengetahui apa saja target dari kelompok itu, baik sejarah berdiri dan bagaimana perkembangnya.

Disarikan dari kitab “Qawaidu Ad-Da’wah ila Allah” karya Dr. Hamam Abdurrahim Sa’id, cetakan Darul Wafa’, Manshurah, Mesir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s