Allah Ta’ala berfirman,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab, 33: 40)

Imam At-Thabari rahimahullah saat menafsirkan ayat ini berkata: “Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bukanlah ayah dari salah seorang lelaki diantara kalian (Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, yaitu anak angkat Nabi) melainkan beliau adalah Nabi terakhir, maka tiada lagi Nabi setelah beliau sampai Hari Kiamat dan adalah ALLAH Ta’ala terhadap segala perbuatan dan perkataan kalian Maha Mengetahui.”[1] 

Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Ayat ini mengandung tiga hukum Fiqh: Pertama, saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Zainab (mantan istri Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu) orang-orang munafik berkata: ‘Dia (Muhammad) menikahi mantan istri anaknya sendiri’, maka ayat ini turun untuk menjawab hal tersebut. Kedua, bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi terakhir, tiada nabi sesudahnya yang membawa syariat baru. Ketiga, syariat beliau menyempurnakan syariat sebelumnya sebagaimana sabdanya: ‘Aku diutus untuk menyempurnakan  akhlak yang mulia’, atau sabdanya yang lain: ‘Perumpamaanku dengan nabi sebelumku seperti perumpamaan seorang yang membuat bangunan yang amat indah, tinggal sebuah lubang batu bata yang belum dipasang, maka akulah batu bata tersebut dan akulah nabi yang terakhir.”[2]

Berkata Sayyid Quthb rahimahullah dalam tafsirnya: “Setelah menjelaskan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah ayah dari Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, sehingga halal bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab radhiyallahu ‘anha, ayat ini juga menggariskan tentang pemenuhan hukum syariat yang masih tersisa yang harus diketahui dan disampaikan kepada ummat manusia, sebagai realisasi dari penutup risalah langit untuk di bumi ini, tidak boleh ada pengurangan dan tidak boleh ada perubahan, semuanya harus disampaikan.”[3]

Lebih lanjut Sayyid Quthb menambahkan saat menafsirkan akhir ayat tersebut—dan adalah Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu: “Sungguh Dia-lah yang paling mengetahui apa yang paling baik dan paling tepat bagi para hamba-Nya, maka Dia memfardhukan kepada Nabi-Nya apa yang seharusnya dan memilihkan bagi beliau apa yang terbaik… Dia menetapkan hukum-Nya ini sesuai dengan pengetahuan-Nya yang meliputi segala sesuatu dan ilmu-Nya tentang mana yang terbaik tentang hukum, aturan dan undang-undang serta sesuai dengan kasih-sayang-Nya kepada semua hamba-Nya yang beriman.”

Demikianlah telah menjadi ijma’ (konsensus) diantara para ulama bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi terakhir. Tidak ada lagi nabi setelah beliau, kecuali para pembohong yang mengaku-ngaku menjadi nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menginformasikan tentang hal ini dengan sabdanya,

وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Sesungguhnya akan datang pada umatku tiga puluh pembohong, semuanya mengaku sebagai nabi, padahal akulah penutup para nabi (khaatamun nabiyyin), tak ada lagi nabi setelahku.” (HR. Abu Daud)

Maka, jika ada orang yang datang setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan ada nabi, maka perkataan tersebut adalah batil dan pelakunya harus bertobat kepada Allah Ta’ala.

*****

Mengakui Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi terakhir mengandung unsur-unsur yang harus diimani sebagai berikut,

Pertama, mengakui Muhammmad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nasikhur risalah (penghapus risalah sebelumnya).

Maksudnya adalah bahwa risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi satu-satunya risalah yang wajib dianut dan diamalkan sampai akhir zaman. Adapun risalah para nabi sebelumnya, terutama berkenaan syariat-syariat tertentu, telah terhapus oleh syariat Islam dan tidak berlaku lagi.

Risalah sebelumnya adalah semua kitab dan hukum yang pernah diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada para nabi ‘alaihimus salam dan dikabarkan oleh-Nya di dalam al-Qur’an maupun di dalam as-Sunnah yang shahih yaitu,

  1. Shuhuf (lembaran) yang diturunkan kepada Ibrahim ‘alaihis salam (Lihat: QS. 87: 14-19, 53: 36-42).
  2. Shuhuf yang diturunkan kepada Musa ‘alaihis salam (Lihat: QS. 87: 14-19, 53: 36-42).
  3. Taurat yang diturunkan kepada Musa ‘alaihis salam (Lihat: QS. 2: 53, 3: 3, 5: 44, 6: 91).
  4. Zabur yang diturunkan kepada Daud ‘alaihis salam (Lihat: QS. 4: 164, 18: 55, 21: 105).
  5. Injil yang diturunkan kepada Isa ‘alaihis salam (Lihat: QS. 3: 3, 5: 46).

Semua kitab-kitab tersebut hukumnya telah di-nasakh (dihapuskan) oleh al-Qur’an, kecuali beberapa hukum dan kisahnya dan semua yang belum di-nasakh tersebut disebutkan secara jelas dalam al-Qur’an ataupun al-hadits.

Telah diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau sangat marah ketika melihat Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu memegang lembaran yang di dalamnya terdapat beberapa potongan ayat Taurat, beliau berkata,

أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ ؟ أَلَمِ آتِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً ؟ لَوْ كَانَ مُوسَى أَخِي حَيًّا مَا وَسِعَهُ إلاَّ اتِّبَاعِي .

“Apakah engkau masih ragu wahai Ibnul Khatthab? Bukankah aku telah membawa agama yang putih bersih? Sekiranya saudaraku Musa (‘alaihis salam) hidup sekarang ini maka tidak ada keluasan baginya kecuali mengikuti (syariat)ku.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi dan lainnya).

Kedua, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mushaddiqan lil anbiya (membenarkan para nabi).

Maksudnya adalah membenarkan bahwa Allah Ta’ala telah mengutus nabi dan rasul kepada umat-umat dahulu, dan Allah Ta’ala telah menurunkan wahyu kepada mereka, seperti Taurat, Injil dan sebagainya. Allah Ta’ala berfirman,

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالإِنْجِيلَ

“Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.” (QS. Ali Imran, 3 : 3)

Al Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pentazkiyah (yang merekomendasi) kitab-kitab sebelumnya, apa saja berita yang dibenarkan Al-Qur’an maka berita itu diterima dan apa saja berita yang ditolaknya, maka berita itu tertolak. Ia menjadi barometer untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang ada di tangan ahlul kitab saat ini.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…” (QS. Al-Maidah, 5: 48)

Al-Qur’an menolak sebagian berita yang ada di kitab-kitab terdahulu karena kitab-kitab tersebut telah tercampuri oleh perkataan-perkataa manusia.

يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ

“…..Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya semula, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu, (Muhammad) akan selalu melihat kekhianatan dari mereka, kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat)……..”. (QS. Al Maidah, 5: 13)

Ketiga, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah mukammilur risalah (penyempurna risalah sebelumnya)

Bahwa Islam adalah agama terakhir, maka nabinya pun adalah nabi penutup, sehingga kitabnya yaitu Al-Qur’an ini diturunkan oleh Allah Ta’ala untuk menyempurnakan semua risalah sebelumnya, karena semua risalah sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut telah mengalami perubahan dan penyimpangan dari masa ke masa yang dilakukan oleh generasi setelahnya, berbagai penyimpangan itu diantaranya:

  1. Mengubah arti dari lafazh (kata-kata) yang ada (Lihat: QS. 3: 75, 181, 182; 4: 160,161; 5: 64).
  2. Mengubah atau menambah baik kata, kisah maupun hukum (Lihat: QS. 2: 79; 3: 79,80; 5: 116-117).
  3. Menyembunyikan dan menghilangkan berita-berita tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kebenaran lainnya (QS. 2: 89, 90, 109, 146; 3: 71-72; 61: 6).

Berkenaan dengan kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penyempurna risalah para nabi sebelumnya, tergambar dalam hadits berikut ini,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلاَ وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perumpamaanku dengan perumpamaan para nabi sebelumku adalah seumpama seseorang yang membangun sebuah rumah; di mana ia menjadikan rumah itu indah dan sempurna. Namun terdapat satu sisi dari rumah tersebut yang belum disempurnakan (batu batanya). Sehingga hal ini menjadikan manusia menjadi heran dan bertanya-tanya, mengapa sisi ini tidak disempurnakan? Dan akulah batu bata terakhir itu (yang menyempurnakan bangunannya), dan aku adalah penutup para nabi.” (HR. Bukhari)

Keempat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus membawa risalah kepada kaafatan linnas (seluruh umat manusia) hingga akhir zaman. Bukan hanya untuk suku bangsa tertentu saja sebagaimana risalah para nabi sebelumnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba, 34 : 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

“Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelum-ku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya…” (HR. Bukhari)

Hal ini mengandung dua pelajaran bagi kita, yaitu:

  1. Mengetahui hikmah Allah Ta’ala dalam penetapan hukum bagi setiap umat, sehingga Dia selalu menetapkan hukum yang sesuai bagi setiap umat.
  2. Oleh sebab itu maka hal ini meyakinkan kita bahwa Islam merupakan syari’at yang paling sempurna, paling lengkap dan paling baik karena merupakan penutup dan penyempurna dari risalah semua nabi dan Rasul.

Kelima, risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam).

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya, 21 : 107)

Kehadiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa kemanfaatan bagi seluruh umat manusia. Risalah dan syariat yang dibawanya menjadi jalan bagi manusia untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ

“Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (oleh Allah)” (HR. Al Bukhari)[4]

Risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disampaikan dengan hikmah dan pelajaran yang indah; diiringi kebaikan dan keadilan, kemudahan dan kelembutan. Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl, 16: 125)

Diriwayatkan dalam sebuah hadits,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ

“Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam: ‘Agama bagaimanakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Beliau menjawab: “Agama yang lurus lagi toleran.” (HR. Ahmad no. 2017)[5]

Dan dari jalur Aisyah dengan lafal,

إِنِّي أُرْسِلْتُ بِحَنِيفِيَّةٍ سَمْحَةٍ

“Sesungguhnya aku diutus dengan agama yang lurus lagi toleran.” (HR. Ahmad no. 24855)[6]

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا ، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا

“Mudahkan dan jangan dipersulit, berikan kabar gembira dan jangan dibuat lari”. (HR. Bukhari)

Selain itu, risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut rahmatan lil ‘alamin karena membawa dampak kebaikan bagi umat manusia. Risalahnya dapat mengubah sebuah peradaban yang terbelakang, buta aksara dan kejam menjadi pemimpin dan penguasa peradaban dunia serta memenuhinya dengan ketinggian ilmu pengetahuan dan akhlak yang belum dapat ditandingi oleh peradaban modern saat ini sekalipun. Diantara hasil karya besar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi alam semesta adalah sebagai berikut,

  1. Memusnahkan segala jenis syirik baik yang besar maupun yang kecil dan menggantinya dengan keimanan yang total kepada Allah Ta’ala.
  2. Memusnahkan segala adat tradisi jahiliyyah yang menyimpang, seperti membuka aurat, ber-khalwat dengan lawan jenis, campur baur lelaki dan wanita (ikhtilath), dan sebagainya dan menggantinya dengan akhlak yang mulia dan tuntunan moral yang luhur.
  3. Menegakkan sebuah sistem kehidupan yang seluruhnya berdiri diatas tauhid, baik ekonomi, politik, sosial, kemasyarakatan, seni, olahraga, dan lain lain.
  4. Melakukan sebuah revolusi total terhadap hati sanubari, pemikiran, peraturan hidup ummat manusia.
  5. Mempersatukan semua ras, semua suku, semua golongan manusia dibawah sebuah sistem yang berlandaskan tauhid, berhukumkan al-Qur’an dan as-Sunnah dan bertujuankan kebaikan dunia dan akhirat

 

Wallahu A’lam…

Catatan Kaki:

[1] Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Imam At-Thabari, XX/278

[2] Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Imam Al-Qurthubi, I/4484

[3] Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb, VI/89

[4] Bukhari memuatnya dalam Al ‘Ilal Al Kabir, hal. 369, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/596. Hadits ini di-shahih-kan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 490, juga dalam Shahih Al Jami’, 2345.

[5] Bukhari memuatnya dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 287, dan Abd bin Humaid no. 569. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata: Hadits ini shahih li-ghairih

[6] Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata: Hadits ini kuat dan sanadnya hasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s