Dalam kisah Adam ‘alaihis salam terdapat beberapa pelajaran yang patut direnungkan dan dijadikan cermin, kami ungkapkan di antaranya:

Pertama, manusia hendaknya selalu memperhatikan perintah dan larangan Allah Ta’ala, serta mewaspadai berbagai hambatan dari Iblis dan para pengikutnya.

Allah Ta’ala memerintahkan kepada Adam ‘alaihis salam untuk tinggal di surga bersama istrinya sebagaimana disebutkan ayat berikut,

وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا

“Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai….”

Kemudian menegaskan larangan-Nya,

وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

“…dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al A’raf: 19)

Bahkan Allah Ta’ala memberikan peringatan kepada Adam ‘alaihis salam tentang adanya hambatan-hambatan yang akan menghalanginya, yaitu permusuhan Iblis. Allah Ta’ala berfirman,

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰ

Maka Kami berfirman: Hai Adam,sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. (QS. Thaaha: 117)

Melalui kisah ini, kita diingatkan bahwa Iblis adalah hambatan pertama bagi manusia sejak mereka menerima tugas. Juga diingatkan bahwa Iblis telah menetapkan dirinya selama hidupnya untuk hal itu. Sejak diusir dari surga karena menolak perintah bersujud kepada Adam ‘alaihis salam, Iblistelah minta untuk ditangguhkan urusannya sampai hari kiamat.dan permintaan itu dikabulkan,

قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ

“Iblis menjawab: ‘Beri tangguhlah saya[1] sampai waktu mereka dibangkitkan’. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.’” (QS. Al A’raf: 14-15)

Ia ditangguhkan bukan untuk diam atau tidur, tetapi untuk mengintai manusia dan menggodanya kemana pun mereka menuju.

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Iblis menjawab: ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” [2]. (QS. Shaad: 82 – 83)

Permusuhan ini terjadi di manapun manusia berada. Iblis akan datang kapan dan di manapun arahnya.

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab: Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS. Al A’raf: 16 – 17)

Dan ingatlah, Iblis memliki banyak pembantu dari bangsa manusia.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)[3]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. Al An’am: 112)

Akan tetapi mereka tidak akan berdaya di hadapan orang yang berpegang teguh kepada agama Allah.

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS. An Nahl: 99 – 100).

Kedua, manusia hendaknya mengambil sikap yang tepat ketika mereka terjerumus ke dalam kemaksiatan atau perbuatan-perbuatan yang salah, yaitu sikap segera bertaubat dan mengakui kesalahannya.

Adam ‘alaihis salam melakukan kesalahan di hadapan Rabbnya, akan tetapi dengan cepat kembali dan meminta ampun kepada Rabbnya yang Maha Perkasa,

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Keduanya berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS. Al A’raf: 23)

Sedangkan iblis menambah kedurhakaan besarnya itu dengan meneruskan perbuatan salah dan mendebat Allah Yang Maha Perkasa, serta menolak perintah-Nya.

أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا

“Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?” (QS. Al Isra: 61)

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“(Iblis menjawab): Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS.Al A’raf: 12)

Ini jelas kufur. Karena itulah Allah Ta’ala mengusirnya dari surga dan dijauhkan dari rahmat-Nya.

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ

 “Allah berfirman: Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina. (Al-A’raf: 13)

Allah Ta’ala tetapkan laknat kepadanya dan para pengikutnya.

وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ

Dan Sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang Telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” (QS. Al Hijr: 43 – 44)

Demikianlah kaidah bagi setiap orang yang menolak hukum syar’iy –apalagi yang telah diketahui secara aksiomatik dari agama- dan tidak menganggap wajib terhadap perintah yang telah Allah Ta’ala turunkan, maka ia telah mengikuti jalan yang pernah dirintis oleh iblis.

Adapun orang yang mengalami kelemahan sesaat dalam menjalankan tugas dari Allah Ta’ala karena kelemahan dan kelalaian, kemudian ia segera menyadarinya seperti Adam ‘alaihis salam, maka Allah ta’ala akan memberikan ampunan dan rahmat-Nya,

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan, dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Furqan: 70)

Terdapat sebuah hadits yang maknanya shahih (benar), namun didhaifkan (dilemahkan) oleh para ulama pakar hadits,

لاَ كَبِيْرَةَ مَعَ الاِسْتِغْفَارِ وَ لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الإِصْرَارِ

Tidak ada dosa besar jika dihapus dengan istighfar (meminta ampun pada Allah) dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus.” (HR. Ad Dailamiy, Ath Thabrani)

Sesungguhnya perintah Allah Ta’ala harus dijaga, dilindungi, dan diterima dengan penuh penyerahan, penghormatan dari seluruh manusia.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa: 65)

Dan siapapun yang melakukan seperti apa yang dilakukan oleh iblis: menolak perintah Tuhannya, atau mengungkapkan pandangannya yang berbeda dengan perintah Allah Ta’ala, atau memutuskan bukan dengan yang telah Allah Ta’ala putuskan. Maka ia berhak mendapatkan hukum yang pernah dijatuhkan kepada iblis.

Allah Ta’ala telah melarang kita mengikuti dan mentaati syaitan, dan menyebut hal itu sebagai bentuk ibadah kepada syaitan. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ وَأَنِ اعْبُدُونِي ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا ۖ أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, maka apakah kamu tidak memikirkan? (QS. Yasin: 60 – 62)

Ketiga, manusia hendaknya menyadari bahwa mereka senantiasa dinaungi dengan pertolongan Allah Ta’ala, dijaga dengan lindungan dan kasih sayang-Nya jika berada dalam perintah-Nya, berjalan di atas ajaran-Nya. Ketika itulah diberikan anugerah Allah dalam bentuk barakah dan rahmat.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf: 96)

Sedangkan ketika mereka jauh dari kitabullah dan wahyu-Nya, maka akan tercabutlah selendang taqwa dan keamanan, sementara mereka telah menempatkan diri pada penyebab kesempitan dan kecelakaan.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَىٰ

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman: ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan’”. (QS. Thaaha: 124 – 126)

Renungkanlah apa yang terjadi kepada Adam ‘alaihis salam. Awalnya, ia bersama istrinya berada dalam keindahan surga, berpakaian lengkap, bersenang-senang karena terpenuhi semua kebutuhannya tanpa susah payah,

إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَىٰ وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَىٰ

Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya (QS. Thaha: 118 – 119)

Namun, ketika keduanya makan buah, melanggar perintah Allah Ta’ala, terbukalah auratnya, dan telanjang tanpa pakaian.

فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ ۖ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: ‘Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: ‘Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?’” (QS. Al-A’raf: 22)

Inilah kaidah Al-Qur’an yang mengungkapkan hal ini dengan tegas.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian [4] kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (QS. An-Nahl: 112)

Keempat, bahwa Adam alaihis salam sejak awal mula diciptakan telah disiapkan untuk menjadi penghuni bumi. Adapun keberadaannya di surga saat itu adalah untuk waktu sementara, berbekal diri untuk dirinya dan anak cucunya dengan bimbingan yang diperlukan sebagai khalifah setelah itu. Kesimpulan ini dapat diambil dari firman Allah Ta’ala,

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (QS. Al-Baqarah: 30).

Turunnya Adam alaihis salam adalah untuk menegakkan risalah di muka bumi. Ia turun tidak dengan kehinaan dan pengusiran, akan tetapi turun dengan disertai rahmat dan pertolongan Allah Ta’ala. Sebab sangat mungkin jika surga itu memang mejadi tempat menetapnya maka Allah Ta’ala akan menghukumnya dengan hukuman lain selain dikeluarkan darinya, seperti celaan, cibiran, atau keluar sementara dari surga, dll.

Seseorang pernah bertanya kepada Al Hasan Al Bashriy: “Adam itu diciptakan untuk berada di langit atau di bumi? Jawab Hasan: “Ia diciptakan untuk berada di bumi.” Orang itu bertanya lagi: “Bagaimana pendapatmu jika Adam berpegang teguh dengan perintah Allah dan tidak makan buah itu? Jawab Hasan: “Pasti dia makan buah itu, karena ia memang diciptakan untuk menghuni bumi.[5]

Hadits yang berisi dialog antara Adam dan Musa alaihimas salam menguatkan makna ini, seperti yang terdapat dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “حَاجَّ مُوسَى آدَمَ، فَقَالَ لَهُ: أَنْتَ الَّذِي أَخْرَجْتَ النَّاسَ مِنَ الْجَنَّةِ بِذَنْبِكَ وَأَشْقَيْتَهُمْ؟ قَالَ آدَمُ: يَا مُوسَى، أَنْتَ الَّذِي اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِرِسَالَاتِهِ وَبِكَلَامِهِ، أَتَلُومُنِي عَلَى أَمْرٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي -أَوْ: قَدَّرَهُ اللَّهُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي -” قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “فحج آدم موسى”.

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Musa mendebat Adam, ia mengatakan kepadanya, ‘Engkaulah yang menyebabkan manusia dikeluarkan dari surga karena dosamu sehingga engkau membuat mereka sengsara.’ Adam menjawab, ‘Hai Musa, engkau adalah orang yang dipilih oleh Allah untuk membawa risalah-Nya dan berbicara langsung denganmu, apakah engkau mencelaku karena suatu perkara yang telah ditetapkan oleh Allah atas diriku sebelum Dia menciptakan aku? Atau sesuatuyang telah ditakdirkan oleh-Nya atas diriku sebelum Dia menciptakan aku?’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka Adam dapat mengalahkan debat Musa.”

Ibnu Katsir berkata: “Barang siapa yang mendustakan hadits ini, maka ia tergolong pembangkang. Hadits ini adalah hadits mutawatir dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, orang yang berada dalam puncak keadilan, hafalan dan ketelitian. Kemudian diriwayatkan pula dari para sahabat lainnya.

Kemdian ketika Adam ‘alaihis salam lupa makan buah yang ia dilarang mendekatinya, ternyata ia menyesali kesalahannya serta segera meminta ampunan Allah Ta’ala, lalu Dia memberinya ampunan dan rahmat-Nya seketika itu pula. Semua bekas kesalahan telah bersih total dengan taubat ini.

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat[6] dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 37)

Maka Adam tidak turun ke muka bumi kecuali dengan lembaran bersih tidak ada bekas dosa dan salah. Maka tidak ada dosa warisan yang dibebankan di leher manusia sejak kelahirannya seperti yang difahami oleh ajaran gereja. Tidak ada juga penebusan dosa dimana Isa ibn Maryam disalib untuk menebus dosa manusia karena kesalahan Adam ‘alaihis salam.

Kesalahan Adam ‘alaihis salam adalah kesalahan pribadi yang telah selesai dengan taubat, kemudian Allah Ta’ala memilihnya menjadi nabi. Kesalahan Adam ‘alaihis salam menjadi bekal pengalaman yang menguatkan manusia dalam pertarungan di sepanjang zaman.

ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَىٰ

Kemudian Tuhannya memilihnya,[7]maka dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. (QS. Thaaha: 122)

Tidak ada lagi kesalahan setelah bertaubat dan terpilih. Tidak ada dosa warisan yang diterima anak cucunya. Setiap orang menghadapi hidup ini dengan bersih tanpa dosa yang ia warisi dari Adam ‘alaihis salam. Tidak ada sama sekali dosa yang membebani punggungnya. Firman Allah Ta’ala,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

 “Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” [8] (QS. Al-An’am: 164)

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

 “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al-Muddatstsir: 38)

Manusia tidak akan dihisab kecuali terhadap apa yang telah ia perbuat sendiri, dan tidak ada urusan dengan perbuatan dosa orang lain.

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).” (QS.An Najm: 39 – 40)

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ ۖ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

Dan tiap-tiap manusia itu telah kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya, dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah Kitab yang dijumpainya terbuka, ‘Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu’”. (QS. Al Isra: 13 – 14).

 

Catatan Kaki:

[1] Maksudnya: janganlah saya dan anak cucu saya dimatikan sampai hari kiamat sehingga saya berkesempatan menggoda Adam dan anak cucunya.

[2] yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang Telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah s.w.t.

[3] maksudnya syaitan-syaitan jenis jin dan manusia berupaya menipu manusia agar tidak beriman kepada nabi.

[4] Maksudnya: kelaparan dan ketakutan itu meliputi mereka seperti halnya Pakaian meliputi tubuh mereka.

[5] سير أعلام النبلاء ، ج 4 / ص: 581

[6] tentang beberapa kalimat (ajaran-ajaran) dari Tuhan yang diterima oleh Adam sebahagian ahli tafsir mengartikannya dengan kata-kata untuk bertaubat.

[7] Maksudnya: Allah memilih nabi Adam a.s. untuk menjadi orang yang dekat kepada-Nya.

[8] Maksudnya: masing-masing orang memikul dosanya sendiri-sendiri.

Advertisements

4 thoughts on “Pelajaran dari Kisah Adam ‘Alaihissalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s