Zhahir (makna yang lebih kuat) dari beberapa nash (teks) Al-Quran menunjukkan bahwa Adam ‘alaihis salam adalah manusia pertama tanpa dapat dibantah seperti terkandung dalam penjelasan berikut ini,

Pertama, penisbatan manusia yang diberikan selalu kepada Adam ‘alaihis salam di mana ada beberapa ayat Al-Quran yang berbunyi:  يَا بَنِي آدَمَ (Hai anak keturunan Adam).[1] Sedangkan tentang Adam ‘alaihis salam sendiri Allah Ta’ala berfirman kepada malaikat:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah’”. (QS. Shad, 38: 71).

Ini adalah pemberitaan tentang penciptaan makhluk baru di bumi, seperti juga firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’” (QS. Al-Baqarah, 2: 30).

Makhluk baru yang diciptakan dari tanah ini adalah awal mula kemunculan manusia dan ia tidak dapat dinisbatkan kecuali kepada Adam ‘alaihis salam. Sedangkan keturunannya diciptakan melalui proses pernikahan antara laki-laki dan perempuan seperti firman-Nya:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. (QS. As-Sajadah, 32: 7-8).

Kedua, dalam hadits tentang syafaat yang terkenal terdapat juga penjelasan bahwa Adam ‘alaihis salam adalah bapak manusia dan bukan orang lain. Disebutkan dalam Shahihain (dua kitab hadits shahih – Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) bahwa ketika kesulitan dan keadaan berat menimpa manusia yang bediri di Mahsyar, sebagian orang berkata kepada sebagaian lain agar mendatangi Adam ‘alaihis salam, lalu mereka mendatanginya kemudian berkata:

يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُو الْبَشَرِ خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيْكَ مِنْ رُوْحِهِ وَأَمَرَ الْمَلَائِكَةَ فَسَجَدُوْا لَكَ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ…

“Hai Adam, engkau adalah bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan Tangan-Nya, meniupkan kepadamu langsung ruh ciptaan-Nya, dan memerintahkan malaikat untuk sujud kepadamu lalu merekapun sujud; mintalah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu…”[2]

Dari penjelasan di atas tidaklah benar pendapat yang dikemukakan oleh beberapa penulis bahwa telah ada sebelumnya adam-adam lain atau spesies manusia sebelum Adam ‘alaihis salam.

Diantara yang berpendapat demikian adalah Ustadz ‘Afif Thabarah dalam bukunya Ma’al Anbiya Fil Quranil Karim (Bersama Para Nabi dalam Al-Quran) dalam salah satu pembahasan yang berjudul “Adam Bukanlah yang Pertama Kali Tinggal di Bumi”.[3]

Demikian pula yang disebutkan oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab An-Najjar dalam bukunya Qashash Al-Anbiya. Al-Fakhr Ar-Razi dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Al-Imam Muhammad bin Ali Al-Baqir yang mengatakan: “Telah berlalu sebelum Adam ‘alaihis salam, bapak kita, seribu adam lain atau lebih.” Kemudian Al-Fakhr Ar-Razi menanggapi dengan komentar yang mengesankan beliau membolehkannya: “Aku berpendapat bahwa perkataan ini (adanya manusia sebelum Adam ‘alaihis salam) tidak bertentangan dengan keyakinan akan adanya permulaan alam semesta. Bagaimanapun, silsilah manusia harus berakhir kepada manusia pertama, yang juga adalah seorang manusia. Adapun bahwa manusia pertama itu adalah bapak kita Adam ‘alaihis salam, tidak dapat kita tetapkan kecuali melalui dalil sam’i (Al-Quran & Hadits).”[4]

Namun sekali lagi, semua pendapat di atas hanyalah klaim yang bertentangan dengan dalil. Menurut Ustadz Al-Bahi Al-Khuli pendapat seperti itu adalah ijtihad yang penuh ketergelinciran di mana ia mengakibatkan seseorang men-ta’wil-kan[5] ayat-ayat Al-Quran tanpa alasan yang kuat. Dalam kajian ilmiah, ia merupakan madzhab orang-orang yang meninggalkan sesuatu yang meyakinkan (al-yaqin) lalu mengambil dugaan-dugaan (zhan), dan dalam tinjauan agama, ia adalah madzhab mereka yang tidak melepaskan agama dan kehormatannya dari hal-hal yang syubhat.[6]

Diantara adab kita terhadap Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya kita berhenti atau mencukupkan diri dengan nash-nash keduanya karena nash-nash tersebut tegas dan jelas, kemudian kita menyerahkan apa-apa yang tidak dijelaskan Allah swt dan Rasul-Nya kepada ilmu Allah Ta’ala.

Khalifah dan Khilafah

Al-Quran menyebut Adam, bapak manusia, dengan ungkapan khalifah:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah, 2: 30).

Apa makna khalifah di sini? Tampaknya dari pertanyaan malaikat kita melihat bahwa ada jenis makhluk sebelumnya yang hidup di bumi berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Mereka adalah kelompok-kelompok jin seperti yang disebutkan oleh hadits riwayat Al-Hakim dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu  bahwa beliau berkata:

كَانَ فِيْهَا – أَيِ فِي الأَرْضِ – قَبْلَ أَنْ يُخْلَقَ – أيْ آدَمَ  – بِأَلْفَيْ عَامٍ الْجِنُّ بَنُو الجَانِّ، فَأَفْسَدُوا فِي الأَرْضِ وَسَفَكُوْا الدِّمَاءَ، فَلَمَّا أَفْسَدُوا فِي الأَرْضِ بَعَثَ اللهُ عَلَيْهِمْ جُنُوْداً مِنَ الْمَلاَئِكَةِ فَضَرَبُوهُمْ حَتَّى أَلْجَأُوْهُمْ بِجَزَائِرِ الْبُحُورِ.

“Dua ribu tahun sebelum Adam diciptakan, bumi ini telah dihuni oleh jin anak keturunan Jaan, mereka berbuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah. Ketika mereka telah berbuat kerusakan, Allah mengutus tentara dari malaikat yang memukul mereka hingga menyingkirkan mereka ke pulau-pulau di lautan.[7]

Pertanyaan malaikat: “Apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?” semata-mata ingin mengetahui tentang hikmah penciptaan khalifah berdasarkan pengalaman mereka sebelumnya dengan bangsa jin yang telah berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Atau mungkin pula malaikat memprediksi kerusakan yang akan terjadi berdasarkan ilham dan fitrah mereka yang bersih.

Lalu Allah Ta’ala menjawab dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Maksudnya: Aku mengetahui maslahat yang lebih besar dengan penciptaan khalifah ini dibandingkan kerusakan yang kalian sebutkan. Karena Aku akan menjadikan di antara mereka para Nabi, para Rasul, shiddiqun, syuhada, shalihun, ahli ibadah, orang-orang Zuhud, para wali, orang-orang yang dekat dengan-Ku (muqarrabun), ulama yang beramal, orang-orang yang khusyu’ dan orang-orang yang mengikuti para rasul alahimus salam.

Dapat juga diartikan bahwa khalifah adalah salah satu diantara khulafa (banyak khalifah/pengganti).

ثُمَّ جَعَلْنَاكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ مِنْ بَعْدِهِمْ لِنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

“Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.” (QS. Yunus, 10: 14).

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan Dia lah yang menjadikan kamu para pengganti yang berkuasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-An’am, 6: 165)

هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِلَّا مَقْتًا وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلَّا خَسَارًا

Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. (QS. Fathir, 35: 39).

Imam At-Thabarabi meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri bahwa yang dimaksud khalifah adalah keturunan Adam ‘alaihis salam yang menggantikan bapak mereka, juga setiap generasi yang menggantikan generasi sebelumnya.

Ada pula yang mengartikan khalifah dengan khalifatullah (pemegang mandat dari Allah) dalam arti yang melaksanakan hukum-hukum Allah Ta’ala di muka bumi, melaksanakan pesan-pesan Allah Ta’ala dan menjaga hukum-hukum-Nya.  Diantara ayat yang bermakna seperti ini adalah ayat tentang Nabi Dawud ‘alaihis salam,

يَا دَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi.” (QS. Shad, 38: 26).

Sebagian ulama mengecam pendapat yang mengatakan bahwa manusia adalah khalifatullah. Inti alasannya adalah bahwa khalifah adalah pengganti atau wakil bagi pihak yang tidak mampu, tidak hadir atau mangkat. Hal ini tidak laik dinisbatkan kepada Allah Ta’ala yang selalu bersama hamba mengawasi mereka,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid, 57: 4)

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا

Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. (QS. Al-Mujadilah, 58: 7).

Mungkin juga mereka mengambil kisah yang disebutkan oleh Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah-nya bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu melarang sahabat yang memanggilnya khalifah Allah, beliau mengatakan: “Aku adalah khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[8]

Sebenarnya keberatan ini tidak perlu terjadi karena makna yang mereka jelaskan dari ungkapan khalifatullah cukup jauh dari pemikiran seorang muslim. Tetapi makna yang hadir dalam benak seorang muslim dari kalimat khalifatullah adalah manusia sebagai khalifah Allah Ta’ala dalam menyebarkan aqidah tauhid, rambu kebaikan dan keadilan di muka bumi ini.

Abus-Su’ud mengatakan dalam tafsirnya: “Yang dimaksudkan dengan khilafah dari sisi Allah Ta’ala adalah dalam melaksanakan hukum-hukum-Nya, menerapkan perintah-perintahNya pada manusia pengelolaan makhluk lainnya. Dan khilafah hanya diberikan kepada penghuni bumi.[9] Fakhrurrazi dan An Nasafi menyebutkan senada dengannya. [10]

Hanya saja Al Khazin melakukan tarjih: “Dan yang benar adalah bahwa ia dinamankan khalifah karena menjadi kahlifah Allah di muka bumi untuk menegakkan ketentuan dan menerapkan keputusan-Nya.[11]

Selanjutnya, bahwa manusia itu tidak diciptakan tanpa tujuan atau main-main:

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Maka Maha Tinggi Allah, raja yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia. QS. Al Mukminun: 116

Hanya saja ia berperan untuk menjadi khalifah di muka bumi, menegakkan kebenaran dan keadilan, menebar kebaikan, kemaslahatan dan ketaqwaan di sana, mengumandangkan kalimat Allah Ta’ala dengan menegakkan sunnah kauniyah dan syar’iyyah di sana.

Firman Allah Ta’ala,

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Al An’am: 165)

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”  (QS. Al Mulk: 1-2)

Maka hendaklah manusia memikul perannya dengan sungguh-sungguh dan bersemangat, dan merasakan adanya pertanggungjawaban dan bahaya di baliknya.

Bersambung:

  1. Penghormatan dan Pemuliaan Adam ‘alaihis salam
  2. Pelajaran dari Kisah Adam ‘alaihis salam

Catatan Kaki:

[1] Ada 5 ayat Al-Quran yang mengandung ungkapan “Ya Bani Adam”: empat ayat di surat Al-Araf (surat ke-7) yaitu ayat 26, 27, 31 dan 35, dan satu ayat di surat Yasin (surat ke-36) ayat 60. (Penerjemah).

[2] Shahih Bukhari: Kitab At-Tauhid, Bab Firman-Nya “Allah berbicara kepada Musa” hadits No 6962; Shahih Muslim: Kitab Al-Iman, Bab Kedudukan Terendah Penghuni Surga, hadits No 287. Teks di atas adalah lafazh Muslim.

[3] Hal 45, cetakan ke-empat.

[4] Tafsir Ar-Razi: V/267, cetakan kedua – 1324 H ketika menafsirkan ayat-ayat di surat Al-Fajr.

[5] Ta’wil dalam hal ini maksudnya: beralih dari makna yang lebih kuat (misalnya makna hakiki) ke makna yang lebih lemah (misalnya makna kiasan). Ta’wil baru dibenarkan jika ia didukung oleh dalil yang kuat. (Penerjemah).

[6] Kitab: Adam alaihis salam, hlm 124, cetakan ke-3 – 1394 H.

[7] Tafsir At-Thabari I/157 cetakan ke-3, th 1398 H.

[8] Mukaddimah Ibnu Khaldun, hlm 191, cetakan IV, thn 1398 H.

[9] المرجع السابق، ص: 81

[10] انظر: في ذلك كتب التفسير لهؤلاء العلماء عند تفسير أية الخلافة في سورة البقرة .

[11]             تفسير الخازن ، ج 1/ ص: 40 .

Advertisements

4 thoughts on “Apakah Adam ‘alaihis salam Manusia Pertama?

  1. Legenda penciptaan Adam di ambil dari Legendary penciptaan Promotheus dari Agama Kuno Yunani, di pinjam oleh Agama Yahudi, kemudian di teruskan kepada Kristen dan Islam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s