Ikhwan dan Revolusi (penggunaan kekuatan) الإخوان و القوة و الثورة

Kekuatan merupakan syi’ar Islam dalam perundangan dan syari’atnya. Al Qur’an menegaskan :

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan  musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu  tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal, 8:60)

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, “Mukmin yang kuat lebih baik dari mukmin yang lemah”

Setelah menegaskan kedudukan kekuatan dalam manhaj Ikhwan, Imam As-Syahid juga menguraikan bahwa dalam pemahaman Ikhwan , kekuatan Islam itu ada 3 jenis yang sekaligus merupakan peringkat : (1) Kekuatan aqidah dan iman (quwwatul iiman), (2) Kekuatan kesatuan dan ukhuwah (quwwatul ukhuwah) , serta (3) Kekuatan fisik dan senjata (quwwatul jism wa silah). Sebuah jama’ah tidak dapat dikatakan kuat sebelum memiliki cakupan seluruh kekuatan tersebut. Jika sebuah jama’ah menggunakan kekuatan fisik dan senjata sementara kekuatan aqidah dan ukhuwahnya lemah dan berantakan, maka niscaya jama’ah seperti itu akan mengalami kehancuran.

Meskipun Ikhwan memandang penggunaan kekuatan (fisik) sebagai bagian dari syari’at Islam, namun Ikhwan tidak menggunakannya setiap saat. Dalam hal penggunaan kekuatan fisik (revolusi), ikhwan menganggapnya sebagai senjata terakhir, setelah berbagai langkah lainnya diusahakan dan setelah persiapannya matang. Berikut ini petikannya,

“Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin akan menunjukkan kekuatan  ketika cara lain tidak lagi mampu berbuat banyak dan ketika yakin bahwa mereka telah menyempurnakan iman dan kesatuan barisannya. Dengan demikian, tatkala menggunakan kekuatan ini mereka dalam keadaan terhormat. Pertama, mereka melontarkan peringatan, lalu (kedua) menunggu beberapa waktu, baru setelah itu (ketiga) mereka terjun dengan penuh percaya diri. Saat itu mereka siap menanggung resiko apapun dengan lapang dada sebagai konsekuensinya.” [1]

Maka tidak mengherankan bilamana Imam Al-Banna tatkala menguraikan di dalam rukun ‘amal mengenai ishlahun-nafs beliau menegaskan bahwa hal pertama di dalam “perbaikan diri” yang perlu diperhatikan adalah agar al-akh menjadi orang yang kuat fisiknya.[2]

Ketika membicarakan tsaurah (revolusi), maka Imam Al-Banna berkata:

“Adapun mengenai revolusi, Ikhwan tidak memikirkan, mengandalkan apalagi meyakini manfaatnya. Meskipun demikian, mereka memperingatkan dengan lantang kepada pemerintah Mesir bahwa jika keadaan negara berlarut-larut seperti ini sementara pemerintah tidak melakukan usaha perbaikan dengan segera, maka hal itu akan memancing munculnya pergolakan yang itu bukan dari manhaj Ikhwan. Dia terjadi lebih karena tekanan dan tuntutan kondisi, serta tidak berfungsinya perangkat perbaikan. Berbagai problem yang muncul sepanjang waktu dengan kadar yang makin tak menentu itu sesungguhnya merupakan peringatan. Maka, segeralah bertindak wahai para penyelamat.” [3]

Ikhwan dan pemerintahan  الإخوان المسلمون و الحكم

Islam yang telah diyakini oleh Ikhwan telah menjadikan pemerintahan sebagai salah satu  pilar bangunannya. Tentang ini Khalifah ketiga Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata : “Sesungguhnya,  Allah mencegah dengan kekuasaan apa yang  Al Qur’an tak dapat mencegahnya.”[4] Dapat diartikan bahwa ketika masih ada (dan selalu akan ada) manusia-manusia yang tak mau beriman dan menjalankan syari’at Rabbani dengan rela, maka untuk mencegah kerusakan masyarakat akibat amal mereka yang fasik (karena kekafiran mereka), maka harus ada sebuah kekuasaan yang mengatur dan mencegah kerusakan dengan aturan syari’at lewat kekuasaan. Inilah “pemerintahan”  atau “authority”.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadikan pemerintahan sebagai salah satu dari ikatan Islam. Dalam pembahasan Syari’at Islam, masalah kekuasaan pemerintahan ini dibahas pada bagian ushul, bukan furu’.  Islam adalah hukum dan sekaligus penerapannya, Islam adalah perundang-undangan dan pengajaran, dan Islam juga  adalah undang-undang dan peradilan, satu sama lain tak dapat dipisahkan.

Selanjutnya Asy Syahid mengingatkan bahwa jika ada mujaddid Islam  yang mengetahui / memahami masalah ini tetapi hanya puas melakukan “kajian-kajian”, membiarkan pemerintah memberlakukan hukum yang tidak diridhai oleh Allah, dan mendorong rakyatnya untuk melanggar perintah-perintah-Nya, maka itu ibaratnya mereka berseru di satu lembah, sedangkan ummat berada di lembah lain. Dan oleh karena itu, maka diamnya para pembaharu Islam dari tuntutan diberlakukannya hukum Islam  adalah dosa besar yang tidak terampuni kecuali dengan mengambil alih pemerintahan dari tangan mereka yang tidak mau menegakkannya.

Walaupun demikian, perlu diingatkan di sini bahwa Ikhwan tidak tergesa-gesa dalam mengambil alih pemerintahan. Harus ada upaya-upaya bertahap untuk melakukannya, dan salah satu upaya terpenting adalah mencari di tengah-tengah ummat orang-orang yang sanggup memikul beban penegakan Syari’at Islam, dan jika tidak menemukannya, maka harus dipersiapkan, sambil tetap menegaskan bahwa masalah ini (masalah pemerintahan), tetaplah menjadi bagian dari manhaj Ikhwan.

“Oleh karena itu, Ikhwanul Muslimin tidak menuntut tegaknya pemerintahan untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya. Jika Ikhwan mendapati di tengah ummat orang yang siap memikul beban, melaksanakan amanat, dan berhukum kepada sistem Qur’an,  mereka siap menjadi tentara, pembela dan penolongnya.  Namun, jika ternyata tidak mendapatkannya, maka tetaplah pemerintahan itu menjadi bagian dari manhaj Ikhwan. Mereka akan terus bekerja dalam rangka membersihkannya dari tangan-tangan penguasa yang tidak mau melaksanakan hukum Allah.

Dari itu,  Ikhwan berfikir lebih dalam dan lebih  jernih dari sekedar bagaimana menjadi pemimpin, sementara ummat masih berada dalam kondisi yang tak menentu. Harus ada tenggang waktu di mana prinsip-prinsip Ikhwan tersebar dan memasyarakat. Kemudian masyarakat harus belajar bagaimana mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan kelompok.” [5]

Ikhwan dan Konstitusi (kasus Mesir) الإخوان المسلمون و الدستور المصرى

Dalam membicarakan masalah ini, Imam As-Syahid membedakan istilah dustur dan qanun. Dustur adalah aturan pemerintahan yang bersifat global yang mengatur batas-batas kekuasaan, kewajiban-kewajiban penguasa, dan tata hubungannya dengan rakyat. Sedangkan qonun adalah peraturan yang mengatur hubungan antara individu yang satu dengan yang lain, yang melindungi hak-hak moral maupun material, dan yang mengontrol apa-apa yang mereka kerjakan dalam pelaksanaan undang-undang.[6]

Dalam hal ini ada dua hal  yang perlu diperhatikan: Pertama, teks yang dipakai untuk menuangkan prinsip-prinsip yang dipakai oleh UUD. Kedua, praktek penerapan, yaitu yang merupakan interpretasi terhadap teks.

Mencermati perbedaan dan persamaan yang ada antara masa, situasi dan tempat di mana Asy Syahid menulis buku ini dibanding dengan masa, situasi dan tempat di mana kita berada sekarang, maka dapatlah dibuat uraian sebagai berikut:

Pertama, dalam hal teks yang dipakai oleh konstitusi Mesir, Imam Asy Syahid menganggap bahwa sebagian dari teks yang digunakan oleh Konstitusi Mesir adalah rancu dan membingungkan, serta mengandung interpretasi subyektif.

Kedua, dalam hal praktek penerapan teks UUD, menurut Asy Syahid, banyak diantara teks UUD Mesir saat itu telah nyata menimbulkan mudharat bagi rakyat, sebagaimana yang dicontohkan beliau adalah uu pemilu Mesir.

Ikhwan dan Undang-undang / Qonun

Asy Syahid mengatakan: “Sesungguhnya Islam tidak diturunkan dalam keadaan tanpa undang-undang. Sebaliknya, ia telah menjelaskan banyak hal tentang asas-asas perundangan dan perincian hukum, baik perdata maupun pidana, baik hukum perdagangan maupun  maupun hukum kenegaraan.[7] Khalifah Abubakar Ash Shiddiq ra berkata: ‘Jika tali kekangku hilang, niscaya akan kutemukan dalam Kitabullah.’ Ungkapan ini artinya bahwa kelengkapan syari’at Islam adalah sedemikian rupa sehingga ia (Syari’at Islam) tidak membutuhkan sistem lain yang bukan berasal darinya untuk melengkapi kehidupan manusia. Masalah ini telah dibahas tuntas dalam ushul isyrin rukun faham prinsip pertama.

Suatu hal yang aneh jika undang-undang yang berlaku atas ummat Islam bukan berasal dari Syari’at Islam, tetapi digantikan dengan undang-undang dari sistem lain. Misalnya penerapan undang-undang perdagangan dan moneter harus mengambil sistem sekuler berdasarkan konsep ribawi, sementara sistem ekonomi Islam dan bank syari’ahnya harus dipinggirkan atau hanya dijadikan “tempelan” sistem seperti sekarang di Indonesia. Padahal sementara itu, masih ada penerapan zakat, pelaksanaan haji dan lain-lain dalam mu’amalah sesama ummat yang justru “terpaksa” menggunakan sistem perbankan ribawi sebagai sarana pendukungnya.

Perhatikanlah peringatan Allah surat Al Maidah ayat 49-50.

Atas fenomena ini, Imam Asy Syahid menegaskan bahwa pada kenyataannya bangsa Mesir saat itu belumlah merdeka, karena meskipun fisiknya merdeka, namun bangsa Mesir belum mempunyai kemerdekaan dalam menentukan hukum yang ingin diterapkannya atas dirinya, yaitu Islam, sebagai konsekuensi menjadi Muslim. Sedangkan kemerdekaan beragama adalah sebuah kemerdekaan yang paling suci dan paling inti. Pada titik ini, tidak ada bedanya dengan rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim.

Ikhwan berjuang untuk mengubah penerapan syari’at basyariah menjadi Syari’at rabbaniyah Islam yang abadi. Di samping Ikhwan juga tak mau terlibat dalam urusan perdebatan berkepanjangan dengan harakah-harakah lain tanpa langkah-langkah nyata yang jelas menuju pencapaian tujuan.

Ikhwan dan Qaumiyah (nasionalisme, kesukuan, kedaerahan, ras), Pan Arabisme dan Pan Islamisme.

Pada 3 hal dalam poin ini, pembahasan terasa sangat khas situasi dan kondisi sesaat di Mesir zaman itu. Meskipun sampai saat inipun mungkin masih relevan bagi Mesir, namun hanya beberapa poinlah yang perlu kita bahas dalam relevansinya bagi kita.

Berikut beberapa petikan dari pendapat Asy Syahid tentang ketiga hal di atas (qoumiyah, Pan Arabisme, dan Pan Islamisme) yang relevan untuk dikemukakan:

(1) Setiap orang harus bekerja dan mempersembahkan apa saja yang mungkin untuk kesejahteraan masyarakat di mana ia berada dengan mendahulukan yang terdekat, kemudian yang  dekat (masih ada hubungan famili) baru kemudian tetangga. Sampai-sampai seseorang tidak boleh memberikan zakat kepada mustahik yang jaraknya melebihi jarak untuk meng-qashar shalat, kecuali darurat.

(2) Sejalan dengan itu, maka seorang Ikhwan adalah seorang yang paling nasionalis dalam hal berjuang untuk kemaslahatan bangsanya (yang muslim) sebagaimana Allah telah mewajibkan atas mereka.

(3) Dalam hal kecintaan kepada tanah air, bahkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengalaminya, meskipun beliau telah berhasil menegakkan da’wah di Madinah (masih rindu Mekkah). Namun cinta ini hendaknya tidak sampai menghalangi seseorang untuk hijrah manakala tanah airnya bukan lagi tempat yang baik baginya untuk hidup dan berda’wah, sebagaimana telah dicontohkan langsung oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga dipetik dari teladan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa setelah fathu Makkah, beliau tetap pulang ke Madinah karena di sanalah da’wah tegak sebagai sebuah bangunan yang utuh (pemerintahan).

(4) Dalam membicarakan Pan Arabisme, perlu kita catat di sini bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ingatlah, sesungguhnya “Arab” itu bahasa. Ingatlah bahwa “Arab” itu bahasa. ” (HR Ibnu Katsir, dari Mu’adz bin Jabal).

Dalam hal ukhuwah dan wihdatul ummah, Islam sangat berhajat padanya. Oleh karena itu bahasa persatuan Muslimin hendaknya adalah bahasa Arab, dan setiap Muslim yang berbahasa Arab, jadilah dia disebut “orang Arab”. Sebagaimana yang kita ketahui beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan dari etnis Arab (semit), tetapi bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka tak pernah dibedakan dengan sahabat lain, sehingga jadilah mereka Arab.

Ikhwan dan penegakan Khilafah Islamiyah

“Ikhwan berkeyakinan bahwa khilafah adalah lambang kesatuan Islam dan bentuk formal dari ikatan antar bangsa muslim. Ini merupakan identitas Islam yang mana kaum muslimin wajib memikirkan dan menaruh perhatian dalam merealisasikannya. Khilafah adalah tempat rujukan bagi pemberlakuan hukum Islam. Oleh karena itu, para sahabat lebih mendahulukan mengurus masalah kekhilafahan daripada mengurus jenazah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika beliau wafat), sampai mereka menyelesaikan tugas tersebut (memilih khalifah) dan menyelesaikannya dengan mantap.”[8]

Dalam upaya penegakan khilafah, Ikhwan meyakini wajibnya pentahapan langkah yang jelas dan penjabaran sasaran-sasaran antara yang bermanfaat, yang pada intinya dapat digambarkan dalam 3 tahap besar :

  • Konsolidasi di antara bangsa-bangsa muslim sedunia, baik menyangkut masalah politik, ekonomi, sosial, pertahanan keamanan dan peradaban Islam secara utuh
  • Membentuk persekutuan dan koalisi formal dalam berbagai urusan keummatan, dan kemudian mengadakan mu’tamar internasional yang akan membahas masalah-masalah ummat Islam seluruh dunia secara bersama-sama.
  • Mendirikan Persekutuan Muslimin sedunia (semacam PBB khusus untuk Muslimin), agar ada kesatuan Islam dan kemudian memilih Imam bersama (khalifah).

Konklusi Sikap-sikap di Atas dalam Manhaj Pensikapan

  • Ikhwan bersatu dalam naungan fikrah dan manhaj Islam, ia bersatu karena Islam dan ia bergerak dan beramal bersama Islam, dan iapun bertujuan menegakkan Islam.  Seruan apapun yang bermanfaat untuk menegakkan seruan Islam, akan dapat diterima, dan seruan apapun yang hanya akan merugikan seruan kepada Islam, harus ditolak dan dibuang jauh-jauh. Hal ini berlaku baik dalam tataran pribadi / individu maupun jama’ah
  • Kesatuan tersebut hanya dapat dicapai dalam jalan panjang penuh perjuangan, baik dalam skala individu, keluarga, masyarakat, negara, dan khilafah. Jalan panjang itu bukan sesuatu yang “gratis”, tetapi harus diusahakan. Usahanya-pun harus bersama (‘amal jama’iy).
  • Salah satu pilar penting persatuan ummat dalam tataran apapun, membutuhkan ukhuwah (sikap persaudaraan dan saling membela), dan dalam mewujudkan ukhuwah itupun harus sesuai dengan niat penegakan Islam, dan oleh karena itu mustahil para pejuang penegak kebenaran dapat “berukhuwah” dengan para pembela kebatilan, meskipun mempunyai hubungan darah dan nasab. Sebaliknya setajam apapun perbedaan antara satu muslim dengan muslim lainnya, tetapi kalau berbicara dalam satu kesepakatan “nahnu muslimun”, maka segala perbedaan tersebut tak akan membuat/ menyebabkan perpisahan/ perpecahan.
  • Perlu dicatat bahwa tidak adanya konsep ukhuwah dengan non muslim bukan berarti tidak boleh bermua’malat, bahkan harus tetap berinteraksi agar kelak dapat menda’wahi.
  • Guna memastikan muslimin dapat melaksanakan ibadahnya, harus ada sebuah otoritas yang dibangun di atas landasan Syari’at Islam. Tanpa otoritas tak mungkin hak muslim dapat dipenuhi secara utuh. Oleh karena itu usaha menegakkan otoritas tersebut wajib dilakukan sebagaimana wajibnya pemenuhan hak muslim tersebut.
  • Tadarruj merupakan tuntutan fitrah. Tanpa tadarruj yang terjadi adalah isti’jal. Setiap isti’jal akan membawa bencana.
  • Tadarruj membutuhkan perencanaan yang matang, setiap program tanpa perencanaan adalah program yang mandul dan miskin hasil. Tanpa program yang matang, mustahil dicapai tujuan apapun.

Wallahu a’lam bishshowwab.

Catatan Kaki:

[1] Risalah Pergerakan jilid 1, hal 298

[2] Risalah Pergerakan jilid 2 hal 187

[3] Risalah Pergerakan jilid 1 hal 298-299

[4] Risalah Pergerakan jilid 1 hal 299

[5] Risalah Pergerakan jilid 1 hal 300

[6] Risalah Pergerakan jilid 1 hal  301

[7] Risalah Pergerakan jilid 1 hal 304

[8] Risalah Pergerakan jilid 1 hal 311

One thought on “Sikap Ikhwan terhadap berbagai Isu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s