Da’wah Ikhwan memiliki berbagai karakteristik yang berbeda dengan gerakan-gerakan da’wah lain pada zamannya. Diantara karakteristik da’wahnya itu adalah:

  1. Menjauhi titik-titik khilafiyah
  2. Menjauhi dominasi tokoh dan pembesar
  3. Menjauhi fanatisme partai-partai dan golongan-golongan
  4. Memperhatikan masalah takwin (pembentukan kepribadian) dan tadarruj (bertahap) dalam langkahnya.
  5. Mengutamakan amaliyah yang produktif di atas seruan-seruan dan propaganda kosong
  6. Sangat menaruh perhatian pada pemuda
  7. Cepat berkembang di pedesaan dan perkotaan.[1]

Berikut ini uraiannya satu persatu.

Pertama, menjauhi titik-titik khilafiyah البعـد عن مواطـن الخلا ف

Ikhwan berkeyakinan bahwa khilafiyah dalam hal-hal yang furu’ adalah sesuatu yang pasti terjadi, karena asas-asas Islam yang terdiri dari ayat-ayat , hadits-hadits, dan amal-amal aplikatif mungkin saja difahami dan ditafsirkan secara berbeda-beda oleh akal pikiran manusia.

Bukanlah termasuk aib dan cela jika kita berbeda pendapat. Namun aib dan cela adalah ta’ashshub (fanatik) dengan suatu pendapat dan membatasi ruang lingkup berpikir manusia. Memahami khilafiyah dengan cara seperti inilah yang akan bisa menghimpun hati yang bercerai berai kepada satu fikrah. Cukuplah manusia itu berhimpun atas sesuatu yang menjadikan seorang muslim itu muslim.

Kedua, menjauhi dominasi tokoh dan pembesar البـعـد عـن هيمـنـة الكبـراء و  الأعـيـا ن  

Ikhwan senantiasa menjauhi dominasi tokoh dan pembesar, karena Ikhwan  senantiasa berpaling dari da’wah yang berorientasi pada pencapaian  tujuan dan ambisi pribadi, untuk menuju kepada bentuk da’wah yang lurus, yang mengabaikan pamrih harta dan pamrih kepentingan pribadi maupun golongan.  Hal ini agar warna da’wah yang putih bersih ini tidak tercampur oleh warna lain yang berasal dari warna-warna yang digembar-gemborkan oleh para pembesar, dan agar jangan sampai ada satu-pun diantara para tokoh maupun pembesar yang dapat memanfaatkan maupun mengarahkan ikhwan kepada tujuan selain yang dikehendakinya serta memalingkan dari tujuan Ikhwan yang lurus dan suci.

Ketiga, menjauhi fanatisme partai-partai dan golongan-golongan البـعـد عـن ا لهـيـئـات و الأحزاب

Da’wah Islam bersifat umum dan untuk semua manusia. Da’wah bertujuan untuk menyatukan, bukan memecah-belah. Tidak mungkin da’wah ini akan mencapai tujuannya yang suci kecuali oleh orang yang bersih dari segala warna yang melingkupinya, sehingga jadilah ia ikhlas karena Allah semata.

Pada awalnya ini tentu sulit diterima oleh jiwa-jiwa yang ambisius, yang ingin meraih kedudukan dan harta melalui golongan dan jama’ahnya. Oleh karena itu Ikhwan lebih mengutamakan untuk menjauhi semuanya dan lebih dahulu bersabar atas segala kekurangan demi mempertahankan unsur-unsur yang shalih, sampai saatnya manusia akan tersadar dan memahami sebagian hakekat yang tersembunyi. Sehingga pada akhirnya manusia akan kembali kepada khittah utama hati mereka dengan keyakinan yang penuh.

Pada saat yang sama, jika perangkat da’wah sudah semakin kuat, tiang penyangganya semakin kokoh sehingga mampu mengarahkan dan bukan diarahkan; mampu mempengaruhi bukan dipengaruhi, maka kita persilahkan para tokoh, pembesar, golongan, dan organisasi untuk bergabung bersama kami dalam meniti jalan dan beraktivitas. Tetapi mereka harus mau meninggalkan kebanggaan-kebanggaan kosong yang tidak bermakna, bersatu di bawah panji Al Qur’an yang agung, bernaung di bawah naungan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang teduh, dan berjalan di atas jalan manhaj Islam yang lurus.

Keempat, memperhatikan masalah takwin (pembentukan kepribadian) dan tadarruj (bertahap) dalam langkahnya. الـتـد رج في الخـطـوات

Yang dimaksud dengan tadarruj (bertahap) dalam tarbiyah takwiniyah (pembentukan kepribadian) dan kejelasan langkah Ikhwanul Muslimin adalah karena Ikhwan meyakini bahwa setiap da’wah harus melalui 3 fase:

  1. Fase Ta’rif (pengenalan), yaitu fase penyampaian, pengenalan dan penyebaran fikroh, sehingga da’wah bisa sampai kepada khalayak dari segala tingkatan dan segmen sosial.
  2. Fase Takwin (pembentukan), yaitu fase seleksi terhadap para aktivis yang sudah terekrut, untuk kemudian dilakukan koordinasi dan mobilisasi tahap awal untuk berinteraksi dengan obyek da’wah.
  3. Fase Tanfidz (mobilisasi), yaitu fase mobilisasi yang sebenarnya menuju produktivitas kerja da’wah yang optimal.

Kadang-kadang ketiga fase ini berjalan secara bersamaan, melihat kepada pentingnya kesatuan da’wah dan saling keterkaitan antara ketiga fase tersebut. Sering kita jumpai seorang da’i berda’wah (fase ta’rif), pada saat yang sama ia juga seorang murabbi yang menseleksi binaannya (fase takwin), dan  juga melakukan amal (fase tanfidz) sekaligus. Namun tak bisa dipungkiri bahwa hasil akhir yang sempurna tidak mungkin dirasakan kecuali setelah tersebarnya fikrah, banyaknya aktivis, dan terbentuknya soliditas takwiniyah.

Guna melaksanakan ketiga fase tersebut perlulah dibuat berbagai program penyebaran fikrah (untuk ta’rif), program-program pembinaan yang komprehensif (untuk fase takwin) dan latihan-latihan amal yang syamil (untuk fase tanfidz), sesuai dengan ketersediaan aktivis yang sanggup menjalaninya dan kesempatan yang terbuka bagi masing-masing aktivis.

Khusus untuk  meniti  fase kedua (fase takwin), ada 3 bentuk kegiatan:

  1. Al Kataib (pembentukan kelompok-kelompok), yakni memperkuat shaf (barisan) dengan cara ta’aruf, mempertautkan jiwa dan ruh sesama anggota, mengantisipasi perbedaan adat dan tradisi, serta terus menerus menjaga hubungan baik para anggota dengan Allah Ta’ala serta senantiasa memohon pertolongan dariNya. Inilah “Ma’had Tarbiyah Ruhiyah” bagi Ikhwan.
  2. Membentuk regu kepanduan dan klub-klub olah-raga. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat shaf dengan peningkatan taraf kesehatan anggota Ikhwan, melatih ketaatan mereka, menjaga moralitas dan sportifitas mereka baik dalam olah-raga maupun di luar itu, serta menyiapkan mereka menjadi jundi yang shalih serta kuat sebagaimana yang diwajibkan Islam atas setiap muslim. Ini adalah “Ma’had Tarbiyah Jismiyah” bagi Ikhwan.
  3. Pemberian materi ta’lim di Katibah. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat shaf dengan meningkatkan intelektualitas Ikhwan melalui studi yang komprehensif terhadap segala sesuatu yang semestinya diketahui oleh seorang muslim, baik urusan agamanya maupun dunianya. Ini merupakan “Ma’had Tarbiyah ‘Ilmiyah” bagi Ikhwan.

Ini semua (dan ditambah dengan aktivitas-aktivitas lain yang melatih Ikhwan untuk melaksanakan segala kewajiban yang menanti mereka sebagai sebuah jama’ah), adalah untuk mempersiapkan dirinya menjadi qiyadah (pemimpin) bagi ummat atau bahkan menjadi “guru” bagi seluruh alam (ustadziyatul ‘alam).

Imam Asy Syahid memperingatkan pentingnya menjaga diri dari isti’jal (sikap terburu-buru), agar tak terjatuh pada kegagalan dan kerusakan bangunan da’wah.

Dalam arahannya kepada para Ikhwan dalam Mu’tamar kelima ini, Imam Asy Syahid memberikan sebuah pernyataan yang layak untuk dibaca dan diresapi. Beliau berkata:

“Dengarkanlah sambutanku dari atas mimbar mu’tamar kalian yang besar ini. Sesungguhnya, khittah perjalanan kalian telah tergambar langkah-langkahnya dan telah jelas batas-batasnya. Saya tidak ingin melanggar batas-batas yang telah saya yakini ini, karena ia merupakan jalan yang paling tepat untuk sampai pada tujuan. Memang, mungkin jalan itu terlalu panjang, namun ketahuilah bahwa tidak ada alternatif yang lain (untuk sampai tujuan) kecuali dengannya. Sesungguhnya, kejantanan itu akan teruji dengan kesabaran, ketabahan, kesungguhan dan kontinuitas amal. Barangsiapa menginginkan memetik buah sebelum matangnya, atau memetik bunga sebelum merekahnya, maka saya tidak mendukungnya sedikitpun. Lebih baik dia hengkang dari jaringan da’wah ini dan bergabung dengan yang lainnya. Namun, bagi mereka yang bersabar bersama kami sampai benih itu tumbuh, sampai pohon itu berbuah dan sampai  tiba waktunya buah itu untuk dipetik, sungguh pahalanya hanya ada di sisi Allah. Allah tidak akan sekali-kali melenyapkan pahala orang-orang yang berbuat ihsan, bisa jadi berwujud sebuah kemenangan dan kemuliaan atau anugrah mati syahid dan kebahagiaan abadi di akhirat.”

Selanjutnya di akhir bagian ini Imam Syahid tatkala menjawab pertanyaan “Kapan saatnya fase tanfidz?” beliau berkata: “Sesungguhnya, medan perkataan berbeda dengan medan khayalan. Medan amal juga berbeda dengan medan perkataan. Medan jihad berbeda dengan medan amal. Medan jihad yang haq berbeda secara kontradiktif dengan medan jihad yang bathil.

Sangatlah mudah bagi sebagian besar manusia untuk berkhayal. Namun, tidak semua khayalan yang terbersit dalam benak bisa terungkapkan oleh kata-kata yang keluar dari lisan. Banyak orang yang bisa berkata, tetapi sedikit di antara ucapan-ucapan mereka itu yang tercermin dalam perbuatan. Banyak juga di antara yang sedikit ini bisa beramal, namun sedikit sekali yang mampu mengemban amanah jihad yang begitu berat dan amal yang berkesinambungan.”

Kelima, mengutamakan amaliyah yang produktif إيـثار النـاحـيـة العـمـيـة

Hal ini tertanam dalam jiwa Ikhwan karena alasan-alasan berikut :

  • Ajaran Islam sendiri secara jelas adalah sebuah ajaran yang mementingkan amal daripada sekedar ucapan . Sekaligus Islam mengkhawatirkan kotoran riya’ yang dapat menodai, merusak kemudian membinasakan amal seseorang. Akan halnya mengenai keseimbangan antara kekhawatiran tentang riya’ di satu sisi dengan perlunya menda’wahkan dan memerintahkan amal shaleh di sisi yang lain, adalah perkara yang amat pelik, sedikit saja dari manusia yang dapat melakukannya.
  • Ikhwan senantiasa berusaha untuk secara wajar menjauh dari propaganda-propaganda kosong dan para propagandisnya yang mengoceh tanpa kerja nyata. Dampak negatif dari ulah para propagandis ini adalah berupa kesesatan dan kerusakan yang telah terjadi di tubuh ummat Islam saat ini.
  • Ikhwan khawatir jika propaganda dan seruan kosong melahirkan permusuhan yang mendalam atau persahabatan yang terlalu kental dengan satu dan lain pihak, justru hanya akan menghambat dan membahayakan jalan da’wah untuk sampai kepada semua orang sebagaimana yang dicita-citakan oleh Ikhwan.

Ikhwan hendaknya sanggup melakukan kerja-kerja besar tanpa gembar-gembor dan membanggakan diri. Hendaknya para aktivis Ikhwan membuktikan komitmen mereka terlebih dahulu dengan kerja nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, tanpa terlebih dahulu mengharapkan pujian dan pengakuan dari mereka.

Ini semua hendaknya terus dijalankan, sampai kepada suatu saat di mana masyarakat mulai benar-benar  merasakan  manfaat hasil kerja Ikhwan dan mulai bertanya-tanya siapa yang telah melakukannya. Pada saat inilah Ikhwan baru tampil untuk menjelaskan jati dirinya yang sebenarnya, dengan tujuan menyebarkan fikrah dan manhajnya yang utuh, yang bersumber dari sumber-sumber rujukan Islam yang shahih, seraya mengajak masyarakat bergabung dengannya dalam menegakkan cita-cita Islam yang mulia. Pada saat inilah Ikhwan perlu tampil untuk menjelaskan tentang karya besarnya, bukan untuk membangga-banggakan diri, tetapi untuk menjelaskan kepada manusia tentang tujuan, perangkat, pola pikir, dan manhaj amal Ikhwan dan cita-citanya yang mulia.

Seraya itu, penting diwaspadai oleh setiap kader Ikhwan bahwa tatkala da’wah Ikhwan telah bergema di permukaan dan masyarakat sudah menyambut serta mengharapkannya, maka pada saat itulah Ikhwan harus tetap menyadari bahwa sesungguhnya keutamaan dan kemenangan hanyalah milik Allah, dan Allah-lah yang Maha Terpuji.

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

 “Mereka merasa telah memberi ni`mat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: ‘Janganlah kamu merasa telah memberi ni`mat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan ni`mat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.’” (QS Al-Hujuraat 17)

Keenam, sangat menaruh perhatian pada pemuda إ قبـال الشـبـاب عـلى الدعـوة

Di samping sangat menaruh perhatian kepada para pemuda, da’wah Ikhwan juga terbukti paling berhasil di kalangan mereka. Ini disebabkan oleh karena bagi setiap manusia fase kehidupan sebagai pemuda merupakan fase yang paling kondusif dan subur bagi persemaian da’wah dari segala tingkatan dan  segmen sosial, baik pekerja, maupun kalangan menengah, baik berpendidikan tinggi maupun berpendidikan sederhana. Ini merupakan karunia dari Allah yang patut disyukuri seraya ini menunjukkan sunnatullah kauniyah, sebagaimana dalam sejarah kita menemukan kisah enam orang pemuda Kahfi, kisah pemuda Musa ‘alaihis salam, kisah pemuda Ghulam dan sejumlah kisah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia yang terdiri  dari kaum muda.

Dengan daya geraknya yang penuh semangat, para pemuda Ikhwan hendaknya meluaskan da’wah sambil meningkatkan taqwa, menajamkan fikrah dan menghaluskan hati dan jiwanya dalam tempaan pembinaan yang syamil, hingga menjadi jundi yang kuat, tangguh, sabar dan istiqomah.

Ketujuh, cepat berkembang di pedesaan dan perkotaan سرعـة الانـتـشـار في القـرى و المـد ن   

Asy Syahid menampilkan pada poin ini keberhasilan pembinaan hubungan yang unik antara elemen pusat (maktab ‘am) dan syu’bah-syu’bah di daerah, juga antara organisasi inti dan wajihah-wajihah yang didirikan kemudian oleh para anggota Ikhwan di seluruh pelosok negeri Mesir saat itu; dan keberhasilan yang luar biasa yang dirasakan dalam bentuk pengakuan masyarakat akan manfaat lembaga-lembaga dan kader-kader Ikhwan di seluruh negeri.

Menurut beliau, keberhasilan ini merupakan buah dari hubungan ukhawiy antara sesama Ikhwan, baik yang menjadi anggota maktab ‘am, maupun yang berada pada ujung tombak da’wah Ikhwan di setiap pelosok negeri. Dalam hal ini Asy Syahid berkata:

“Selain itu hubungan antara kantor pusat dengan cabang-cabang dan organisasi-organisasi di bawahnya bukanlah hubungan atasan-bawahan, bukan pula hubungan administratif antara pekerja dan pengawas semata, tetapi ia adalah ikatan yang lebih dari itu. Di sini berlaku ikatan ruhani sebagai pondasinya lalu ikatan kekeluargaan, di mana terjadi saling kunjung di antara mereka. Para da’i ikhwan saling mengunjungi antar sesamanya dan berinteraksi secara kental sehingga saling mengetahui apa-apa yang mendesak mereka butuhkan, baik urusan pribadi, keluarga maupun urusan selain itu. Fenomena seperti ini, setahu saya belum pernah ada di dalam organisasi manapun. Hal demikian itu merupakan anugrah Allah, diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.”

Hubungan kekeluargaan seperti ini tidak pernah dialami oleh organisasi manapun pada masa kapanpun selain oleh organisasi maupun kumpulan yang mengacu kepada keteladanan masyarakat para sahabat di zaman Muhajirin dan Anshar di Madinah.

Hal lain yang disoroti Asy Syahid dalam poin ini adalah tumbuhnya semangat inisiatif dan kreatifitas yang sehat yang sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat karena segala amal sosial yang dilakukan Ikhwan.

Juga pada masalah kemandirian ekonomi, telah menyebabkan Ikhwan tidak pernah tergantung pada siapapun dan organisasi manapun, karena para Ikhwan dididik untuk mampu menanggung sendiri biaya kebutuhan da’wah, dengan dilandasi semangat berjihad dengan harta dan jiwa.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah, 9: 111).

Catatan Kaki:

[1] Risalah Pergerakan jilid I hal 276-277

Advertisements

One thought on “Karakteristik Jama’ah Ikhwan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s