(Risalah Udzma, Wadzifatul Khilafah, dan Muhimmatud Da’wah)

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Risalah Udzma

Tadzikirah yang ingin saya sampaikan adalah mengingatkan saya dan kita semua, pertama, bahwa kita sebagai manusia mempunyai risalah udzma (misi agung), yang diberikan oleh Allah SWT seperti dinyatakan oleh-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat: 56)

Misi agung kita adalah ibadah kepada Allah SWT. Mengapa disebut misi agung? Karena sebetulnya kita ini dibandingkan dengan ciptaan-ciptaan Allah yang lain sangat kecil sekali, bahkan Rasulullah SAW bersabda,

مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلاَةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلاَةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ.

“Perumpamaan langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang dilemparkan di padang sahara yang luas, dan keunggulan ‘Arsy atas Kursi seperti keunggulan padang sahara yang luas itu atas cincin tersebut.”[1]

Bahkan didukung oleh para ilmuwan modern yang pernah saya baca dalam kitab terjemahannya Al-Insanu Dzalikal Majhul, digambarkan bahwa posisi bumi kita di semesta raya ini bagaikan sebutir pasir. Dan kita manusia, makhluk yang 5 milyar ini menempel di sebutir pasir itu, artinya kecil. Mungkin sepersekian milyar mikron kecilnya dibandingkan semesta raya.

Saya ingin menggambarkan betapa riasalah ubudiyah  pada Allah SWT itu sebagai misi agung. Makhluk yang menempel di sebutir pasir itu diberi posisi, diberi misi agung ibadah, dan posisinya otomatis sebagai ‘abid (hamba). Dalam terminologi manusia, hamba itu adalah mereka yang dicabut integritas pribadinya, keinginannya, dan hak-hak sosialnya. Tapi terminologi Allah lain. Hamba yang disebut ‘hamba’ oleh Allah justru makhluk mulia. Bahkan makhluk termulia pun, yaitu Rasulullah SAW disebut sebagai hamba. Seperti dalam surat Israa’ ayat 1,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kekuasaan) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Banyak sekali dalam ayat lain disebutkan, termasuk dalam surat Maryam umpanya tentang Zakaria,

ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا

“(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria.” (Q.S. Maryam: 1)

Jadi posisi penghambaan kepada Allah SWT adalah posisi yang sangat agung. Karena kita mahkluk, jasad remik, yang ‘nempel di pasir’, boleh berhubungan langsung dengan Allah.

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu…” (Q.S. Al-Mu’min: 60)

Boleh berhubungan dengan Yang maha Pencipta dan Maha Agung, padahal kita maha kecil maha hina, dan maha kerdil. Kita dipersilahkan untuk meminta apa pun. Dan Allah SWT selalu melayani saja. Padahal Dia sudah demikian ‘sibuk’.

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

“Setiap waktu Dia dalam kesibukan “ (Q.S. Ar-Rahman: 29)

Setiap hari Allah sibuk tapi tidak pernah lelah. Tidak pernah capek, tidak pernah mengantuk. Kita mahkluk hina ini dilayani terus. Bermilyar makhluk termasuk binatang, dilayaninya semua. Dilayani terus, dibantu, ditolong, difasilitasi, terus seperti itu…ini letak keagungan yang pertama.

Letak keagungan yang kedua, adalah—kita makhluk kecil ini—digabung oleh Allah SWT dalam konstelasi masuk semesta raya dalam irama yang satu: irama pengabdian, irama tasbih wa tahmid. Dalam posisi kita sebagai hamba, Allah SWT mengharapkan kita tetap eksis bergabung dengan junudullah. Pekerjaannya hanya satu: pengabdian dalam bentuk tasbih wa tahmid,

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, (Q.S. Al-Isra: 44).

Semuanya penghuni langit dan bumi bertasbih, dan kita pun sebagai hamba dituntut begitu.

وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“..tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Al-Isra; 44)

Kalian tidak faham tasbihnya rumput yang bergoyang, pohon bambu yang berderik karena ditiup angin, batu,  hewan, dan binatang ternak, semuanya bertasbih. Kita diharapkan untuk mempertahankan eksistensi kita dalam irama alunan tasbih dan tahmid semesta raya. Meskipun kita punya potensi faalhamaha fujuroha wa taqwaha…punya potensi untuk disersi dari barisan junudullah fi samawati wal ardh, tapi kita dituntut untuk bertahan. Sanggup bertahan dalam konstelasi semesta raya yang selalu beribadah kepada Allah SWT.

Kita sebagai gerakan dakwah sudah barang tentu menjadi yang paling dituntut untuk menjaga eksistensi—diri kita masing-masing, pribadi, dan jama’ah kita—dalam garis ‘ubudiyah kepada Allah SWT. Ini yang harus—termasuk saya—mewaspadai pada diri kita baik secara fardhi maupun jama’i jangan sampai kita terpesong dari garis risalah ‘ubudiyah, risalah udzma ini.

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata.

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Rasulullah SAW membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda,”Ini adalah jalan Allah,” kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda,”Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,” kemudian beliau membaca.

إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya.” (Q.S. Al An’am:153).

Jadi di kiri kanan shiroti mustaqima ini—ada posko, ada  penjaga yang aktif mengajak melakukan penyimpangan, atau mungkin sekedar untuk mampir.

Dalam surat Al-Ankabut ayat 12 disebutkan,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ وَمَا هُمْ بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, ‘Ikutilah jalan kami, dan Kami akan memikul dosa-dosamu,’ padahal mereka sedikit pun tidak (sanggup) memikul dosa-dosa mereka sendiri. Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.”

Kalau kita katakan, “Itu jalan salah, itu jalan berbahaya, nanti ada siksaan, pokoknya jalan batil, mereka menjawab: walnahmil khathayakum…biar kami yang menanggung dosa kalian…Kenapa berani begitu? Karena memang pada dasarnya mereka tidak pernah beriman kepada akhirat, kepada azab makanya berani saja, karena tidak beriman tidak punya keyakinan kepada azab, terhadap hari kiamat, terhadap hari perhitungan maka mereka siap menanggung kesalahan siapa pun yang mau mengikuti…kata Allah: wa ma hum bihamilina min khatayahum min syai wa innahum lakadzibun…mereka tidak akan sanggup memikul beban dosa mereka sendiri, apalagi yang diajak… innahum lakadzibun, sesungguhnya mereka berdusta…

Jadi subul ini banyak.

وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Jangan sekali-kali mengikutinya. Kalau ittiba’us subul..fatafarraqa…akan tercerai berai dari jalan yang lurus. Jadi, menjaga eksistensi kita berjalan di jalan yang lurus sebagai da’i, tanggung jawabnya berlipat ganda dibanding yang tidak menyatakan diri sebagai da’i, tidak sebagai jama’ah dakwah…tanggung jawabnya lebih besar..makanya dalam situasi apa pun—tindakan, kata-kata, ucapan, langkah-langkah, apakah institusional, prosedural, struktural,  dan komunikasi apa pun—harus dikalkulasi masih dalam konteks ibadah atau tidak? Kalau sudah tidak dalam konteks ibadah, naudzubillahi min dzalik…walaupun mungkin kalkulasi materil duniawi sebuah sukses.

وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“…mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Q.S. Al-Kahfi: 104)

Padahal itu hanya ilusi saja merasa berbuat baik. Semuanya tidak ada….la dunya wa la akhirah karena kata Allah,

فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“…lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Q.S. Al-Furqan: 23).

Semua pekerjaan yang terkontaminasi oleh subul tadi walaupun nampak sukses secara duniawi, kata Allah ‘bagaikan debu yang berterbangan’ yang tidak mempunyai bobot dan tidak bernilai sama sekali.

Bahkan, naudzubillahi min dzalik, jika terjerumus kepada kezaliman, Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, menyebutnya sebagai orang pailit.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ – رواه مسلم

“Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu? Para sahabat menjawab, ‘Orang yang muflis (bangkrut) diantara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang yang muflis (bankrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan shalat, menjalankan puasa dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa) dengan mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, Turmudzi & Ahmad)

Rasulullah mengatakan,  al-muflisu min ummatii ya’tii yaumal qiyaamati bi shalatin wa shiyamin wa zakaatin….. mungkin juga wa jihadin wa dakwatin dan wa..wa..wa seterusnya…. tapi karena kezaliman …faqod dzolama hadza…faqad safaka hadza…seterusnya perbuatan-perbuatan yang rusak itu, katanya nanti naudzubillahi min dzalik, oleh Allah dosa-dosa yang madzlum nya itu akan diberikan dibebankan kepadanya…kalo dosanya sudah habis nanti kebajikan dia diberikan kepada yang madzlum…sampai tidak punya apa-apa..kemudian dilemparkan ke neraka.

Jadi tadzkirah kepada saya dan kepada semuanya….jangan sampai jadi Ketua Majelis Syuro muflis..jadi Gubernur muflis..jadi menteri muflis…jadi bupati, jadi walikota muflis, akibat terpental dari garis ‘ubudiyah tadi. Ini materi dasar yang harus dari waktu ke waktu kita perdalam. Kita resapi, hayati dan selalu menjadi kalkulasi kehidupan. Semua kita tidak ada yang ma’sum (terbebas dari kesalahan). Tapi jangan sampai membuat kesalahan yang membuat kita terpental dari posisi ‘ubudiyah tadi.

Ikhwan dan akhwat rahimakumullah…itu tadzkirah saya yang pertama, harus ingat kepada risalah udzma kita, bahwa kita dalam posisi ibadah…menghadapi pemilu, menghadapi pilkada, pileg, apa pun…termasuk aktivitas kerja struktural, atau di rumah tangga…hitungannya itu jangan sampai kita keluar dari garis ibadah itu. Jangan sampai menjadi makhluk yang desersi dari kumpulan makhluk semesta raya yang semuanya bertasbih bertahmid kepada Allah SWT.

Wadhifatul Khilafah

Ikhwan dan akhwat fillah, yang kedua, betapa pun kita memiliki posisi sebagai hamba, namun Allah SWT telah menjadikan kita fungsionaris; punya wadzifah,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku telah menjadikan seorang khalifah di bumi…” (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Jadi kita adalah fungsionaris, punya jabatan sebagai khalifah, dan jabatan khalifah itu melekat secara individual, orang per orang siapa pun mereka. Jadi setiap orang itu hamba Allah tapi fungsional; punya wadzifah…ada yang menyebutnya sebagai risalah wadzifiyah, artinya misi sebagai petugas. Kita punya tugas al-imarah wal ‘imarah, memenej kehidupan ini dan membangun peradaban kehidupan manusia. Bedanya ada ‘hamzah’ dan ‘ain’ saja. Yang satu sebagai manajer, sebagai direktur, mengatur, menata, merencanakan, yang satu lagi ‘imarah membangun peradaban.

Secara individu kita punya misi itu, makanya dalam hadits disebutkan,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya, seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya, seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya, seorang istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari )

Setiap kalian adalah sebagai raa’i, penangung jawab atau pemimpin, dan akan dituntut pertanggungjawaban, minimal memimpin diri sendiri, seterusnya memimpin keluarga, sampai memimpin negara dan memimpin khilafah. Jadi, salah satu tadzkirah saya yaitu…bukan istilah khalifahnya tapi substansinya yang paling penting, dimanapun posisi kita harus memerankan dua tugas tadi imarah wal ‘imarah.

Sudah barang tentu tugas khalifah ini tugas yang berat, baik skala individu, pribadi, rumah tangga, umat, jama’ah, negara, apalagi dunia. Itu tugas berat. Karenanya Allah SWT membekali banyak hal kepada kita, sampai-sampai Allah SWT mengatakan dalam surat Luqman  ayat 20,

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang di bumi untuk (kepentingan)mu…”

Tiadakkah kalian perhatikan bahwa Allah telah mempersiapkan untuk dimanfaatkan oleh kalian, digunakan untuk didayagunakan segala isi langit dan bumi…apa itu untuk bikin kita repot? Tidak, justru agar kalian sejahtera, damai, aman, dan makmur; maka lanjutan ayatnya,

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“…dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin…” (Q.S. Luqman: 20)

Agar melalui membangun peradaban dengan basis keimanan itu hidup manusia menjadi nikmat. Jadi sejahtera, aman dan damai.

Muhimmatud Da’wah

Yang ketiga, kita  diperintahkan oleh Allah,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk .” (Q.S. An-Nahl: 125)

Kita diperintahkan untuk berdakwah mengajak orang lain ke jalan Allah SWT. Jadi kita jangan bersikap individualis ingin masuk surga sendirian. Harus bareng-bareng ngajak yang lain juga.

Tugas kita sebagai da’i posisinya sangat mulia. Dalam surat Fushilat digambarkan oleh Allah SWT,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

 Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’” (Q.S. Fushilat: 33)

Yang terbaik ucapannya, sikapnya,  argumentasinya… wa man ahsanu qoulan min man da’a ilallah… Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah; tapi bukan hanya ucapan, buktikan juga dalam amal saleh. Maka kita sebagai da’i bukan hanya mengajak tapi juga—sering saya katakan—ujung tombak dakwah kita adalah ihsan kita, kebajikan kita.

Kenapa kita harus terus-menerus beramal saleh? Terus berbuat ihsan? Karena, pertama, kita sudah banyak menerima ihsan dari Allah.

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“…dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu..” (Q.S. Al-Qashash: 77)

Berbuat bajiklah sebagaimana Allah sudah banyak berbuat kebajikan; melalui orang tua kita, melalui mertua, istri, melalui anak, melalui suami, melalui tetangga, melalui sesama, dan seterusnya.

Kalau kita tidak memproduksi kebajikan lebih banyak lagi, dan hanya mau menkonsumsi kebajikan-kebajikan yang diberikan oleh orang lain,  nanti jama’ah kita akan tekor kebajikan, defisit kebajikan. Kalau defisit kebajikan, hati kita menjadi gersang, qaswatul qulub; saling memfitnah, saling menjegal, menghibah, konflik, sikut-sikutan dan seterusnya. Itu masyarakat yang tekor kebajikan. Kita harus menjadi masyarakat yang surplus kebajikan, sehingga bisa melaksanakan rahmatan lil ‘alamin, faqidus syai la yu’thi…

Muhimmah (tugas) dakwah adalah  muhimmah mulia,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Dan harus berani tampil eksis sebagai muslim, di-declere, saya muslim saya da’i . Sudah barang tentu untuk menjadi da’i yang seperti itu, kita harus istiqamah.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Ketika sudah mendeklere sebagai hamba Allah, bahwa kita hanya berTuhan Allah SWT,

ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Lalu beristiqamah, maka Allah SWT akan menggerakkan junudullah yang lain, bahkan dipilih yang mulia yaitu para malaikat…

تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ

“…maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka…”. Kerja malaikat itu apa?

Menghembuskan optimisme ke dalam diri kita. Menghembuskan keberanian.

أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا

Jangan takut, jangan sedih, optimis terus. Dibangunkan optimismenya.

وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Diberikan optimisme, berita gembira yang melampaui batas-batas kehidupan dunia. Optimisme sampai ke akhirat, bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Dan malaikat juga selain menghembuskan semangat ma’iyyatullah (kebersamaan dengan Allah), juga menginformasikan bahwa kita adalah bagian dari junudullah,

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhiratdi dunia malaikat membangkitkan semangat, membantu, dan menolong.

وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Fath: 7). Bisa  jadi yang membantu kita itu angin, hujan, pasir, air, dan binatang. Kalau sudah sesama junudullah tuh akur.

Jadi, dalam tadzkirah ini saya ulangi garis besarnya ada tiga: Pertama, ingat selalu kepada risalah udzma yaitu risalah ubudiyah.

Kedua, ingat selalu kepada wadhifatul khilafah, yang berperan secara individu dan jama’i, melakukan imarah, memenej dan menata kehidupan ini,  serta melakukan ‘imarah , membangun peradaban kemanusiaan dengan semakin meningkatkan ilmu pengetahuan, sains teknologi, dan seterusnya; sehingga terbangun peradaban yang bisa dinikmati kehidupan.

Ketiga, ingat selalu muhimmatud da’wah (tugas dakwah) yang luar biasa diistimewakan oleh Allah; Ia janjikan kenikmatan yang bukan hanya kenikmatan di dunia, tapi melampauinya sampai di akhirat; dan itu diinformasikan oleh Allah SWT melalui para malaikat yang menghembuskan pada diri kita,

أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا

Jangan kalian takut dan jangan bersedih…Mudah-mudahan di akhir hayat nanti, kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dipanggil oleh Allah SWT dengan panggilan,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (٢٨) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (٢٩) وَادْخُلِي جَنَّتِي (٣٠

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (Q.S. Al-Fajr: 27-30)

(Tadzkirah ini disampaikan KH. Hilmi Aminuddin di Lembang pada 22 Juli 2015. Ditranskrip, diringkas dan diedit oleh M. Indra Kurniawan)

 

Catatan Kaki:

[1] HR. Muhammad bin Abi Syaibah dalam Kitaabul ‘Arsy, dari Sahabat Abu Dzarr al-Ghifari Radhiyallahu anhu . Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (I/223 no. 109)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s