Rukun shalat juga disebut dengan fara’idhush shalat adalah amal perbuatan yang dilakukan selama dalam shalat, jika salah satunya ditinggalkan maka batal shalatnya. Rukun shalat itu mencakup:

Pertama, niat, yaitu berniat melaksanakan shalat yang dimaksud. Niat adanya di hati. Oleh sebab itu tidak disyaratkan melafalkannya, dan tidak ada teks niat yang diajarkan oleh Rasulullah saw

Kedua, takbiratul Ihram; yaitu takbir tanda masuk amaliah shalat. Lafalnya: “Allahu Akbar”. Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

“Kunci pembuka shalat adalah bersuci, mulainya adalah takbir dan selesainya dengan bersalam”. (HR Al Khamsah, kecuali An Nasa’i dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Al Hakim).

Ketiga, berdiri; bagi orang yang mampu berdiri dalam shalat fardhu. Sabda Nabi:

صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

”Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, jika tidak mampu maka dengan berbaring.” (HR. Al Bukhari).

Sedangkan untuk shalat sunnah maka diperbolehkan dengan duduk meskipun mampu berdiri; hanya nilai shalat duduk itu setengah shalat berdiri. (HR Al Bukhari dan Muslim)

Keempat, membaca surah Al Fatihah setiap rakaat fardhu maupun sunnah. Sabda Nabi:

« لا صَلاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرأ بِفَاتِحَةِ الكِتاب »

“Tidak sah shalat orang yang tidak membaca Al Fatihah.” (HR Al Jama’ah)

Membaca surah Al Fatihah hukumnya wajib bagi imam atau munfarid (shalat sendirian) menurut kesepakatan Ulama. Sedang ma’mum, hukum membaca Al Fatihah adalah wajib menurut madzhab Syafi’i, makruh menurut madzhab Hanafi, karena firman Allah, “Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al A’raf: 204)

Sedangkan menurut madzhab Maliki dan Hanbali, maka ma’mum wajib membaca Al Fatihah dalam shalat sirriyah (tidak bersuara) dan mendengarkan bacaan imam dalam shalat jahriyah. Makmum sebaiknya membacanya saat imam diam (antara dua bacaan).

Kelima, ruku’; yaitu membungkukkan badan sehingga tangan mampu menyentuh lutut, dengan thuma’ninah. Sabda Nabi:

« ثم اركَعْ حتى تَطْمَئِنَّ رَاكِعاً ». متفق عليه.

“Lalu ruku’lah sehingga kamu tenang ruku’.”  (Muttafaq alaih)

Keenam, bangun ruku’ dan berdiri tegak. Sabda Nabi:

« ثم ارفَع حتى تَعْتَدل قائماً » متفق عليه.

“Kemudian bangunlah sehingga kamu berdiri tegak.” (Muttafaq alaih)

Ketujuh, dua kali sujud setiap rakaatnya dengan thuma’ninah.

« ثمّ اسجُد حتى تَطْمَئِنّ ساجدا ً»، متفق عليه

“Lalu sujudlah sehingga benar-benar sujud dengan thuma’ninah.” (Muttafaq alaih)

Kesempurnaan sujud dengan tujuh anggota badan yaitu: wajah, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki.

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ

Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: [1] Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), [2,3] telapak tangan kanan dan kiri, [4,5] lutut kanan dan kiri, dan [6,7] ujung kaki kanan dan kiri. ” (HR Abu Daud dan At Tirmidzi)

Kedelapan, duduk akhir dan membaca tasyahhud, yang lafalnya:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

“Segala ucapan penghormatan hanyalah milik Allah, begitu juga segala shalat dan amal shalih. Semoga kesejahteraan tercurah kepadamu, wahai Nabi, begitu juga rahmat Allah dengan segenap karunia-Nya. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari no. 6265 dan Muslim no. 402).

Bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah tasyahhud, menurut madzhab Syafi’i. Minimal berbunyi:

اللهم صلِّ على محمد

Dan yang sempurna adalah:

( اللهم صل على محمد وعلى آل محمدٍ ، كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم ، وبارك على محمد وعلى آل محمد ، كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم ، في العالمين ، إنك حميدُ مجيد )

Hukumnya sunnah menurut madzhab Hanafi, dan tidak termasuk dalam rukun shalat.

Kesembilan, salam, seperti dalam hadits Nabi,

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

“Kunci pembuka shalat adalah bersuci, mulainya adalah takbir dan selesainya dengan bersalam”. (HR Al Khamsah, kecuali An Nasa’i dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Al Hakim).

Yang termasuk dalam rukun di sini adalah salam yang pertama. Inilah pendapat ulama Syafi’iyah, Malikiyah dan mayoritas ‘ulama.

Kesepuluh, tartib, berurutan sesuai yang disebutkan di atas.

One thought on “Rukun Shalat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s