Posted in Fiqih

Adzan dan Iqamat

  1. Adzan artinya pemberitahuan tentang telah datang waktu shalat, dan lafadhnya adalah:

Allahu Akbar (4 kali), Asyhadu an La Ilaha Illallah (2 kali), Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2 kali), Hayya ‘alas shalah (2 kali), Hayya ‘alal falah (2 kali), Allahu Akbar (2 kali), La Ilaha Illallah (1 kali).

sedang iqamat dengan menambahkan kalimat: Qad qamatis shalah (2 kali) setelah kalimat: Hayya ‘alal falah.

  1. Adzan dan iqamat hukumnya sunnah muakkadah untuk melaksanakan shalat fardhu, bagi munfarid maupun berjamaah, menurut jumhurul ulama. Hukum keduanya wajib di masjid menurut Imam Malik dan fardhu kifayah menurut Imam Ahmad.
  2. Disunnahkan bagi yang mendengar adzan untuk mengucapkan seperti yang diucapkan oleh muadzdzin kecuali dalam bacaan: Hayya ‘Alas Shalah dan Hayya ‘alal falah yang dijawab dengan La Haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil adzim, kemudian bershalawat atas Nabi sesudah adzan dan mengucapkan:

 اللهمَّ ربَّ هذهِ الدعوةِ التامَّةِ والصلاةِ القائمةِ آتِ مُحمّداً الوسيلة والفضيلة، وابعثه مقاماً محموداً الذي وعدته

“Ya Allah Pemiliki panggilan yang sempurna ini, dan shalat yang tegak. Berikan kepada Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, berikan kepadanya tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan.” (HR. Al Bukhari)

  1. Disunnahkan berdoa di antara adzan dan iqamat. Di antara doa ma’tsur dalam hal ini adalah yang diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi waqqash dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda: “Barangsiapa yang membaca do’a ini ketika mendengar mu’adzzin:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا غَفر الله له ذُنوبه

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah yang tiada sekutu bagiNya, dan seseungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusaNya, aku rela Allah sebagai Tuhan, dan Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku”. Maka diampuni dosanya. (HR. Muslim)

  1. Disunnahkan ada jarak antara adzan dan iqamat untuk memberi kesempatan orang hadir ke masjid. Diperbolehkan juga iqamat selain orang yang adzan. Disunnahkan bagi yang mendengar qamat untuk mengucuapkan seperti yang dikatakan oleh orang yang qamat. Sebagaimana disunnahkan pula berdiri ketika orang yang qamat mengucapkan  قد قامت الصلاة
  2. Diajarkan bagi orang yang mengqadha shalat untuk adzan dan iqamat. Dan jika shalat yang ditinggalkan itu banyak maka adzan untuk shalat pertama dan qamat untuk setiap shalat.
  3. Diperbolehkan berbicara, dll antara qamat dan shalat, dan tidak mengulang iqamat meskipun penghalang itu panjang. Hal ini ditetapkan dalam As Sunnah seperti dalam riwayat dari Anas,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَعَرَضَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَحَبَسَهُ بَعْدَ مَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ

“Ketika iqamah telah dikumandangkan, Nabi dihampiri oleh seorang laki-laki hingga menghalanginya dari menunaikan shalat.” (HR. Bukhari No.607)

Wanita tidak disunnahkan adzan dan iqamat. Tetapi tidak apa-apa jika melakukannya. Aisyah ra pernah melakukannya seperti yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi.

One thought on “Adzan dan Iqamat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s