Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan paling mulia dibanding dengan makhluk-makhluk Allah Ta’ala lainnya. Hal ini ditegaskan oleh firman-Nya,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka didaratan dan dilautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan  yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.” (QS Al Isra:70.)

Akan tetapi kesempurnaan dan kemuliaannya ini dapat tercabut manakala mereka tidak mampu menjaga dan  memeliharanya dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)

Maka,  agar kesempurnaan dan kemuliaannya itu dapat tetap terjaga, manusia harus bersungguh-sungguh mengikuti petunjuk Allah Ta’ala dalam kehidupan yang dijalaninya; merawat keimanan, akhlak, sikap, akal, dan amalnya sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Dengan kata lain, agar kesempurnaan dan kemuliaan itu terjaga, mereka harus berupaya membentuk dirinya menjadi manusia yang berkepribadian Islami.

Untuk itu, setiap kita harus terus berupaya membina seluruh aspek kepribadiaan kita yang meliputi:

Pertama, aspek ruhiyah atau ma’nawiyah; yaitu kejiwaan, ruhani, esensi, semangat, dan moral yang menghujam dalam nafsiah (diri) manusia.

Mengenai pembinaan aspek ruhiyah dan ma’nawiyah  ini,  Allah Ta’ala berfirman,

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

 “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh sangat beruntung orang yang mensucikannya dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya,”(QS. Asy Syams:7-8).

Jika kita abai terhadap upaya penyucian jiwa—misalnya lemah dalam beribadah dan lemah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an—lama kelamaan hati kita pasti akan mengeras; ruhiyah dan ma’nawiyah kita akan melemah, sehingga syaithan akan sangat mudah menggusur kita ke arah kebinasaan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memperingatkan kita dengan firman-Nya,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah datang waktunya untuk orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka berdzikir kepada Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kapada mereka dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan alkitab, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik “ (QS.Al-Hadid:16).

Aspek-aspek yang sangat  terkait dengan dengan ruhiyah dan ma’nawiyah seorang manusia adalah:

  • Aqidah.

Ruhiyah dan ma’nawiyah yang sehat dan bugar akan melahirkan aqidah (keyakinan) yang lurus dan kokoh. Sebaliknya ruhiyah dan ma’nawiyah yang lemah bisa menyebabkan aqidah seorang manusia terpuruk. Padahal aqidah adalah suatu keyakinan yang akan mewarnai sikap dan tingkah laku seseorang. Oleh sebab itu jika ingin aqidahnya terbangun dengan baik,  maka ruhiyah dan ma’nawiyah-nya harus dikokohkan.

  • Akhlak.

Akhlak adalah bukti tingkah laku dari nilai yang diyakini oleh seseorang. Oleh karena itu akhlak merupakan bagian penting dari keimanan dan menjadi salah satu tolok ukur  kesempurnaan iman seseorang. Terawatnya ruhiyah akan membuahkan akhlak yang baik. Allah Ta’ala  dalam beberapa ayat Al-Qur’an senantiasa menggandengkan antara iman dengan amal shalih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun ketika ditanya tentang siapakah yang paling baik imannya, ternyata jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “ahsanuhum khuluqan”,  yang paling baik akhlaknya.

Hadits lengkapnya sebagai berikut,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshar mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik? Beliau bersabda, Yang paling baik akhlaknya.’ Ia kembali bertanya, ‘Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?. Beliau bersabda, Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas. (HR. Ibnu Majah no. 4259)

Bahkan tujuan diutusnya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam oleh Allah Ta’ala adalah  untuk menyempurnakan akhlak manusia sehingga menjadi akhlak yang islami.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Baihaqi)

Tolok ukur dan patokan baik tidaknya akhlak adalah al-qur’an. Itulah sebabnya akhlak keseharian  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah merupakan cerminan dari Al-Qur’an. Aisyah ketika ditanya tentang bagaimana akhlak Rasulullah shallallâhu `alaihi wa sallam,  jawaban beliau adalah,

كَانَ خُلُقُهُ القُرْآن

 “Akhlak Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam-  adalah al-Qur’an.

  • Tingkah laku, yaitu cerminan dari akhlak yang melekat pada diri seseorang. Contoh: orang yang tawadhu’ akan terlihat tingkah lakunya; bagaimana ia berbicara, berjalan, diam, dan lain-lain.

Kedua, aspek fikriyah atau ‘aqliyah.

Seorang muslim hendaknya selalu membina fikriyah-nya, sehingga memiliki kejernihan fikrah (pemahaman/gagasan/pemikiran) dan kekuatan akal yang dapat memunculkan  amal dan kreatifitas yang bermanfaat untuk diri dan orang lain.

Fikrah yang dimaksud meliputi:

  • Wawasan keislaman yang memperkokoh keyakinan dan daya manfaat bagi diri dan orang lain.
  • Pola pikir islami yang bersumber dari  kebenaran yang turun dari Allah Ta’ala. Islam sangat menghargai kerja pikir umatnya, maka di dalam al-Qur’an pun sering kita jumpai ayat-ayat yang menganjurkan untuk berpikir, “afala ta’qiluun, afala tatafakkaruun, la’allakum ta’qiluun, la’allakum tadzakkaruun,”. Tujuannya tidak lain adalah untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah Ta’ala, bukan sebaliknnya, berpikir liar yang memunculkan keraguan.
  • Tsabat (tetap dan kokoh) dalam berislam.

Sungguh kehidupan ini tidak bisa lepas dari ujian, rintangan dan tantangan. Ujian tersebut tidak akan berakhir sebelum nafas manusia berakhir. Oleh sebab itulah untuk menghadapinya perlu tsabat dalam berpegang pada syariat Allah Ta’ala.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (QS. Al-Hijr: 99).

Di surat Ali Imran ayat 102 Allah Ta’ala menjelaskan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang orang yang beriman bertakwalah kamu sebenar-benar taqwa. Dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Begitu pentingnya tsabat dijalan Allah, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan do’a kepada ummatnya agar Allah Ta’ala mengokohkan diri-diri mereka di dalam agama-Nya.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا قَالَ نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

Dari Anas dia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa membaca do’a: YA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIKA (wahai Dzat yang membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu). Kemudian aku pun bertanya, Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang Anda bawa. Lalu apakah Anda masih khawatir kepada kami? beliau menjawab: Ya, karena sesungguhnya hati manusia berada di antara dua genggaman tangan Allah yang Dia bolak-balikkan menurut yang dikehendaki-Nya.’” (HR. At Tirmidzi No.2066)

Ketiga, aspek ‘amaliyah atau harakiyah.

Diantara sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sisi amaliahnya. Amaliah harakiyah yang merubah kehidupan seorang mu’min menjadi lebih baik. Hal ini penting sebab amaliyah adalah satu diantara tiga tuntutan keimanan dan keislaman seseorang. Tiga tuntutan tersebut adalah: al-iqror bil- lisan (ikrar dengan lisan), at-tashdiq bil-qalbi (meyakini dengan hati), dan  al-amal bil jawarih (beramal dengan seluruh anggota badan).

Jadi tidak cukup seseorang menyatakan beriman tanpa mewujudkan apa yang diyakininya dalam bentuk amal yang nyata.

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Maka katakanlah: ‘Beramallah kamu niscaya Allah dan Rasulnya serta orang-orang beriman akan melihat amalanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberititakanNya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan “(QS at-Taubah 105).

Umat Islam dituntut oleh Allah Ta’ala  untuk menunaikan sejumlah amal, baik yang bersifat individual maupun kolektif. Kewajiban individual  akan lebih khusyu’ dan lebih baik pelaksanaannya jika ditunjang dengan sisitem yang kondusif. Shalat, puasa, zakat dan haji misalnya akan lebih baik dan lebih khusyu’ jika dilaksanakan ditengah suasana yang aman, tentram, dan kondusif. Apalagi kewajiban yang bersifat sistemik seperti da’wah, amar ma’ruf nahi mungkar, jihad, dan lain sebagainya; mutlak memerlukan  ketersediaan perangkat sistem yang memungkinkan terlaksananya amal tersebut.

Pentingnya amaliah harakiyah dalam kehidupan seorang mu’min laksana air. Semakin banyak air bergerak dan mengalir semakin jernih dan semakin sehat air tersebut.  Demikian juga seorang muslim, semakin banyak amal baiknya, akan semakin banyak daya untuk membersihkan dirinya, sebab amalan yang baik bisa menjadi penghapus dosa.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam, sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuaan yang buruk (dosa), itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (QS. Huud: 114)

Sedikitnya ada tiga alasan kenapa seorang manusia harus beramal islami:

  1. Kewajiban diri pribadi.

Sebagai hamba Allah tentunya seorang manusia harus menyadari bahwa dirinya diciptakan bukan untuk hal yang sia-sia. Baik jin maupun manusia, telah Allah Ta’ala ciptakan untuk tujuan yang amat mulia yaitu untuk beribadah, menghambakan diri  kepada-Nya.

Sedangkan amalan adalah refleksi dari penghambaan diri kepada Allah Ta’ala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Disamping itu pertanggung jawaban didepan mahkamah Allah nanti bersifat undividu. Setiap individu akan merasakan balasan amalan diri pribadinya.

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى (٣٩) وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى (٤٠) ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الأوْفَى (٤١)

“Dan bahwasannya manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasannya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna” (QS. An-Najm:39-41).

  1. Kewajiban terhadap keluarga.

Keluarga adalah adalah lapisan kedua dalam pembentukan umat. Ia sangat menentukan baik dan buruknya kondisi sebuah ummat. Oleh sebab itulah seseorang dituntut  untuk beramal karena ia memiliki kewajiban untuk  membentuk keluarga yang islami.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim :6)

Setiap muslim seharusnya mampu membentuk keluarga yang berkhidmad untuk Islam, seluruh anggota keluarga terlibat dalam amal islami diseluruh bidang kehidupan.

  1. Kewajiban terhadap da’wah.

Beramal harakiyah bagi seorang muslim adalah keniscayaan karena ia memiliki kewajiban untuk berdakwah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. At-Taubah:71)

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.(QS. Ali Imran: 104)

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?(QS. Fushilat: 33)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s