Al-Jihad

Jihad adalah pengerahan seluruh potensi dalam upaya menegakkan ajaran Islam. Menurut Hasan Al Banna: “Yang saya maksud dengan jihad adalah kewajiban yang berlangsung hingga hari kiamat”. Ukuran jihad yang paling minimal menurut Abdul Halil Mahmud adalah ingkar dengan hati dan yang paling maksimal adalah berperang di jalan Allah. Jihad bisa dilakukan dengan lisan, tulisan, tangan, harta, ilmu, perjuangan politik serta mengatakan kebenaran kepada penguasa yang tiran, karena itu dakwah tidak bisa hidup kecuali dengan jihad dan menurut Sa’id Hawwa: “Jihad dalam berbagai bentuknya itu merupakan satu-satunya jalan untuk melestarikan Islam, menjamin pelaksanaannya serta meninggikan kalimatullah.”

Dengan memahami jihad seperti ini, maka jihad merupakan kewajiban bagi setiap muslim sesuai dengan potensi yang dimilikinya masing-masing, karena itu Allah Ta’ala akan memberikan imbalan pahala yang besar untuk mereka yang berjihad dan mengancam dengan ancaman yang sangat mengerikan bagi mereka yang tidak mau berjihad.

Akhirnya bisa kita simpulkan bahwa ikhlas, amal dan jihad merupakan rangkaian yang sangat terkait dalam dakwah. Ikhlas merupakan motivasi dalam beramal agar amal tetap bernilai di sisi Allah; dan segala bentuk amal yang shaleh harus kita orientasikan dalam rangka jihad menegakkan nilai-nilai ajaran Islam di muka bumi ini.

At-Tadhhiyyah

At-Tadhhiyyah atau pengorbanan merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam perjuangan apapun. Perjuangan di jalan yang bathil memerlukan pengorbanan, karenanya mereka yang berjuang di jalan yang bathil juga menunjukkan pengorbanan yang besar. Apalagi perjuangan di jalan yang haq. Bahkan sekedar untuk menyenangkan diri melalui hobinya, dengan rela seseorang mau berkorban dengan segala potensi yang dimilikinya.

Kalau mereka yang berjuang di jalan yang bathil atau sekedar hobi saja mau berkorban, mengapa kita yang berjuang di jalan yang haq tidak mau? Padahal Allah Ta’ala akan memberikan imbalan yang sangat besar bagi mereka yang berkorban dengan penuh keikhlasan di jalan-Nya. Oleh karena itu, Hasan Al Banna menyatakan: Pengorbanan yang dimaksudkan adalah mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan dan semua potensi untuk mencapai tujuan”. Setiap pengorbanan dalam memperjuangkan ideologi ini tidak ada yang sia-sia, bahkan mendapat pahala yang besar di sisi Allah Swt”. Inilah yang dimaksud dengan slogan: “Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami yang tertinggi”.

Sejarah telah menunjukkan kepada kita betapa generasi terdahulu yang berjuang di jalan Allah telah menunjukkan pengorbanan yang tiada terkira, mulai dari pengorbanan waktu dan dana hingga pengorbanan nyawa sekalipun.

At-Tha’ah

At tha’ah atau ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya dan pemimpin di antara kita merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam menjalani kehidupan sebagai muslim serta mengemban amanah perjuangan menegakkan nilai-nilai yang harus dilaksanakan secara berjamaah. Hasan Al-Banna menyatakan: “Yang saya kehendaki dengan taat adalah menjalankan perintah dan merealisasikannya secepat mungkin, baik dalam keadaan senang maupun susah, saat bersemangat maupun malas, bahkan terhadap hal-hal yang disukai atau dibenci”.

Ketaatan ini amat diperlukan mengingat ada tiga tahap dakwah yang harus dilalui. Pertama, ta’rif yang sifatnya hanya penyebaran fikrah Islami kepada masyarakat luas. Kedua, takwin, yakni tahap untuk memilih kader yang layak dan memikul tanggung jawab dakwah. Pada tahap inilah sangat diperlukan adanya ketaatan pada perintah karena sebelumnya para aktifis dakwah telah memahami dan mempercayai bagaimana dakwah itu. Ketiga, tanfidz, yakni pelaksanaan yang merupakan fase jihad tanpa mengenal kompromi, bekerja secara terus menerus dan siap mengarungi berbagai ujian dan cobaan. Dalam kondisi seperti inilah sangat diperlukan ketaatan jundiyah (prajurit) kepada qiyadah (pimpinan). Meskipun demikian, ketaatan ini akan terwujud dengan baik manakala kondisi jamaah sudah baik dengan kepemimpinan yang memenuhi syarat dan mekanisme syura yang sudah berjalan sebagaimana kesepakatan dalam jamaah.

Ats-Tsabat

Ats-Tsabat atau pendirian yang teguh dalam memegang prinsip-prinsip perjuangan dakwah yang akan ditempuh merupakan sesuatu yang sangat mendasar. Lalu, apa yang dimaksud dengan ats tsabat ini. Hasan Al Banna menyatakan: “Anggota Ikhwan harus senantiasa bergerak dan berjihad untuk mencapai tujuan, meskipun tujuan tersebut masih jauh dan membutuhkan waktu bertahun-tahun sampai ia sendiri dijemput ajalnya. Dengan demikian, ia sudah memenangkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu menang atau mati syahid pada akhir hayatnya”.

Keteguhan dapat diaplikasikan dalam bentuk teguh mempertahankan nilai-nilai kebenaran, teguh dalam memikul beban risalah dakwah, teguh dalam keimanan, teguh dalam meningkatkan kekuatan dan kemampuan, dan teguh dalam berjuang di medan perang.

Ada sejumlah alasan mengapa keteguhan dalam dakwah sangat diperlukan. Pertama, dakwah ini merupakan tugas yang sangat suci dan mulia, hal ini karena dakwah pada hakikatnya adalah melanjutkan tugas para rasul, dengan menyadari hal ini, mengapa kita harus ragu untuk berada di jalan dakwah, sementara para rasul terus menjalankan tugas dakwah hingga kematian mereka.

Kedua, dakwah merupakan beban yang berat sehingga dari waktu ke waktu, tugas dakwah itu bukan semakin ringan, hal ini karena ada tuntutan dari dakwah itu sendiri, yakni wilayah dakwah yang harus semakin luas , sehingga dengan penyebaran wilayah dakwah yang semakin luas itu beban-bebannya semakin banyak menuntut pengorbanan yang semakin besar baik dari segi waktu, tenaga maupun biaya, bahkan dengan persiapan ilmu pengetahuan yang semakin banyak pula. Tuntutan dakwah yang lain adalah keharusan meluaskan bidang garap dakwah dalam berbagai bidang seperti dakwah di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik, penyiaran melalui media, dll. Hal ini tentu sangat memerlukan keteguhan sikap di dalam mengemban dakwah.

Ketiga, besarnya tantangan dan kendala dakwah dari orang-orang yang tidak suka terhadap keberhasilan proses dakwah, mereka seringkali berusaha semaksimal mungkin untuk menghambat laju keberhasilan meskipun dengan melakukan hal-hal yang biadab sekalipun.

Keempat, tidak semua pesan-pesan atau misi dakwah bisa diwujudkan dalam waktu yang singkat, melainkan diperlukan proses waktu yang panjang, bahkan bisa dipastikan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk penunaian tugas-tugas dakwah tidak sependek usia yang kita miliki.

Dari uraian ini, semakin kita sadari bahwa untuk mengemban tugas-tugas dakwah yang sedemikian berat harus didukung dengan kualitas kader yang handal. Karena itu, kita yang telah menyatakan diri untuk komit di jalan dakwah harus terus meningkatkan kualitas diri kita masing-masing.

Tajarrud

Secara harfiyyah, tajarrud artinya kemurnian. Hasan Al-Banna menyebutkan: “Yang saya maksud dengan tajarrud adalah hendaknya engkau memurnikan pola pikirmu dari berbagai prinsip nilai lain dan individu, karena fikrah Islam inilah yang paling menyeluruh dan paling tinggi”.

Dari maksud Al-Banna di atas, nampak sekali bahwa dakwah yang dilakukan oleh Ikhwan merupakan dakwah dengan pemahaman yang bersih tentang Islam, karenanya amat baik untuk dijadikan sarana perjuangan Islam. Kebersihan ini juga bisa diukur manakala seseorang memiliki loyalitas terhadap muslim yang berjuang di jalan Islam.

Kemurnian merupakan pilar penting dalam jamaah dakwah, tanpa kemurnian berarti tidak akan ada jamaah dakwah yang sesungguhnya, apalagi dakwah tidak mungkin dilakukan manakala taktik dan strateginya bercampur dengan hal-hal yang tidak Islami, karena dakwah memang tidak dibenarkan menggunakan segala cara yang tidak sesuai dengan Islam.

Para da’i merupakan kelompok manusia yang paling mulia. DR. Abdul Halim Mahmud dalam bukunya Manhaj Tarbiyyah ‘Inda Ikhwanul Muslimin merinci klasifikasi manusia.

  1. Muslim perjuang di jalan Allah yang bekerja untuk Islam dan berjuang di jalannya. Perjuangan orang semacam ini harus dibantu, didukung dan ditolong.
  2. Muslim yang berpangku tangan, tidak berjihad di jalan Allah dan tidak berdakwah. Orang yang demikian harus diberi nasihat, pelajaran dan diminta untuk bekerja. Jika memberi respon yang positif, dia termasuk kelompok da’i. Sebaliknya, jika ia menolak, fokuskanlah perhatiannya pada kebenaran.
  3. Muslim yang berdosa karena ketiadaan kebenaran, jika ketiadaannya itu disebabkan alasan yang dapat diterima, maka maklumilah, jika tidak serulah, nasihatilah dan fokuskanlah perhatiannya pada kebenaran.
  4. Kafir dzimmi yang berjanji, haknya harus dipenuhi karena jaminannya, jika ia mengingkari janji, dia harus dihukum seperti orang yang memusuhi Islam dan diperlakukan seperti mereka.
  5. Orang yang bersikap antara kafir dan Islam. Jika dia menonjolkan keislamannya dengan menyembunyikan kekafirannya, maka dia munafik dan diperlakukan sebagaimana orang munafik. Jika ia menonjolkan kekafirannya, maka dia diperlakukan seperti orang kafir.
  6. Orang yang memusuhi Islam dan kaum muslimin, orang seperti ini wajib diperangi oleh kaum muslimin.

Kemurnian ini menjadi sesuatu yang mendasar dalam dakwah, bila tidak, bisa jadi kaum muslimin mencampuradukkan antara Islam dengan konsep-konsep kekufuran, bahkan tanpa disadari dia telah keluar dari jalan Islam.

Ukhuwwah

Dakwah merupakan tugas berat yang harus dipikul bersama dengan kerjasama yang baik diantara para aktivisnya. Untuk itu diperlukan adanya ukhuwah diantara sesamanya. Hasan Al-Banna menyatakan: “Yang saya maksud dengan persaudaraan adalah kondisi hati dan jiwa yang diikat dengan ikatan aqidah. Aqidah merupakan ikatan yang paling kuat dan paling mahal.Persaudaraan merupakan buah dari keimanan dan perpecahan merupakan buah dari kekufuran. Kekuatan pertama dalam persaudaraan adalah persatuan dan tidak ada persatuan tanpa cinta. Derajat cinta yang paling rendah adalah bersihnya hati dan cinta yang paling tinggi adalah mengutamakan pihak lain”.

Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyebutkan bahwa mukmin itu bersaudara, ini berarti keimanan itu harus dibuktikan dalam bentuk persaudaraan sesama mukmin, dan bila persaudaraan itu tidak nampak, itu menunjukkan keimanan yang lemah. Bila persaudaraan telah ditunjukkan, maka salah satu yang nampak adalah adanya saling tolong menolong, bahkan tidak hanya menolong orang-orang yang dizalimi, tapi juga menolong orang yang berbuat zalim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ, هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا, فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا؟ قَالَ: تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ.

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi. Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, jelas kami faham menolong orang yang dizalimi, tapi bagaimana kami harus menolong orang yang berbuat zalim? Beliau bersabda: “Pegang tangannya (hentikan ia agar tidak berbuat zalim). (HR. Bukhari)

Karena begitu penting kedudukan ukhuwah dalam perjuangan, maka yang pertama dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sampai di Madinah dalam perjalanan hijrah adalah melakukan apa yang disebut dengan al mu’akhoh (mempersaudarakan) antara orang-orang Muhajirin dari Makkah dengan orang-orang Anshar dari Madinah. Bahkan setelah itu persaudaraan ini harus terus diperkokoh agar tidak terjadi penurunan, karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa perlu memiliki sarana untuk memperkokoh ukhuwah itu, dan sarana itu adalah masjid. Itu sebabnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya mendirikan masjid, bangunan yang pertama kali didirikan di Madinah setelah hijrah..

Tsiqah

Saling percaya mempercayai antar para aktivis dakwah merupakan sesuatu yang sangat penting, apalagi antara orang yang dipimpin dengan pemimpinnya sehingga orang yang dipimpin tidak terlalu curiga dan banyak tanya kepada pemimpinnya. Hasan Al Banna menyatakan: “Yang saya maksud dengan tsiqah adalah kepercayaan dan ketentraman seorang bawahan kepada atasannya dalam hal tanggung jawab dan rasa cinta, penghargaan, kehormatan dan ketaatan”.

Dalam jamaah dakwah, pemimpin merupakan bagian yang sangat penting, Dia seperti ayah dalam ikatan hati, guru dalam kaitan ilmu, syaikh dalam pendidikan rohani dan pimpinan dalam bidang politik dan kebijakan umum, disinilah letak pentingnya pemimpin, demikian menurut Sa’id Hawwa.

Oleh karena itu, seorang ikhwan sejati harus bertanya kepada dirinya sendiri guna mengetahui sejauhmana kepercayaannya kepada pemimpin. Pertanyaan itu meliputi:

  1. Apakah dia sudah mengenal pemimpinnya dan mempelajari kondisi kehidupannya?
  2. Apakah dia merasa tentram dengan kompetensi dan keikhlasan pemimpinnya?
  3. Apakah dia memiliki kesiapan untuk menjalankan berbagai perintah –tentu yang bukan maksiat–yang berasal dari pemimpin secara pasti, tidak dibantah, tidak diragukan, tidak dikurangi serta tidak bertele-tele?
  4. Apakah dia memiliki kesiapan untuk mengaku salah dan membenarkan pemimpinnya jika terjadi kontradiksi antara perintah pemimpinnya dengan sesuatu yang telah dipelajarinya mengenai masalah-masalah ijtihadiyah yang tidak terdapat nash syari’ahnya.
  5. Apakah dia sudah siap untuk menempatkan berbagai situasi kehidupan di bawah pengaturan dakwah?. Apakah dia memiliki jiwa kepemimpinan dalam memandang secara cermat antara kepentingan pribadi yang khusus dengan kepentingan dakwah yang umum?

Begitulah pendapat Hasan Al Banna tentang tsiqah. Kalau beliau memasukkan tsiqah ini ke dalam rukun bai’ah, itu menunjukkan betapa pentingnya dalam kehidupan berjamaah. Abdul Halim Mahmud menyatakan: “Meskipun seorang pemimpin telah memiliki sifat kepemimpinan yang unggul serta perintah atau keputusannya sangat bagus, sangat bermanfaat bagi pekerjaan, dan sangat cocok dengan kemampuan individu, keputusan itu tidak akan bernilai jika tidak ada kepercayaan pada diri individu yang menerima dan menjalankan keputusan tersebut”.

(Bersambung ke Bagian Ketiga)

One thought on “Penjelasan Risalah Ta’alim (Bag. 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s