Posted in Fiqih Dakwah

Penjelasan Risalah Ta’alim (Bag. 1)

Risalah Ta’alim merupakan risalah terpenting yang ditulis Hasan Al-Banna pada tahun 1938, yang dimaksudkan untuk menyatukan pemahaman aktivis dakwah perihal Islam, sehingga mereka memiliki pemahaman yang satu padu tentang Islam.

Inti dari risalah ini adalah 10 arkanul bai’ah yang harus dipenuhi anggota Ikhwanul Muslimin beserta 38 kewajiban bagi yang telah meyakini arkanul bai’ah tersebut.

Arkanul Bai’ah

Al-Fahmu

Hasan Al-Banna meletakkan rukun al-fahmu sebagai rukun yang pertama karena kadar urgensinya dan karena terbukti bahwa rukun-rukun yang lain tergantung kepada rukun pertama ini. Cacat dan kesalahan macam apa pun dalam rukun bai’at yang satu ini akan berakibat pada rukun-rukun yang lain.

Hasan Al-Banna berkata: “Yang saya maksud dengan fahm (pemahaman) adalah engkau yakin bahwa fikrah kita adalah “fikrah islamiyah yang bersih/jernih/murni”. Hendaknya engkau memahami Islam sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas al-ushul al-‘isyrin (dua puluh prinsip)[1] yang sangat ringkas ini:

  1. Islam adalah sistem yang menyeluruh, yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dari umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.
  2. Al-Our’an yang mulia dan Sunah Rasul yang suci adalah tempat kembali setiap muslim untuk memahami hukum-hukum Islam. Ia harus memahami Al-Qur’an sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tanpa takalluf(memaksakan diri) dan ta’assuf (serampangan). Selanjutnya ia memahami Sunah yang suci melalui rijalul hadits (perawi hadits) yang terpercaya.
  3. Iman yang tulus, ibadah yang benar, dan mujahadah (kesungguhan dalam beribadah) adalah cahaya dan kenikmatan yang ditanamkan Allah di hati hamba-Nya yang Dia kehendaki. Sedangkan ilham, lintasan perasaan, ketersingkapan (rahasia alam), dan mimpi, ia bukanlah bagian dari dalil hukum-hukum syariat. Ia bisa juga dianggap dalil dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan teks-teksnya.
  4. Jimat, mantera, guna-guna, ramalan, perdukunan, penyingkapan perkara ghaib, dan semisalnya, adalah kemunkaran yang harus diperangi, kecuali mantera dari ayat Qur’an atau ada riwayat dari Rasulullah saw.
  5. Pendapat imam atau wakilnya tentang sesuatu yang tidak ada teks hukumnya, tentang sesuatu yang mengandung ragam interpretasi, dan tentang sesuatu yang membawa kemaslahatan umum, bisa diamalkan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah umum syariat. Ia mungkin berubah seiring dengan perubahan situasi, kondisi, dan tradisi setempat. Yang prinsip, ibadah itu diamalkan dengan kepasrahan total tanpa mempertimbangkan makna. Sedangkan dalam urusan selain ibadah (adat-istiadat), maka harus mempertimbangkan maksud dan tujuannya.
  6. Setiap orang boleh diambil atau ditolak kata-katanya, kecuali Al-Ma’shum (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap yang datang dari kalangan salaf dan sesuai dengan Kitab dan Sunah, kita terima. Jika tidak sesuai dengannya, maka Kitabullah dan Sunnah RasulNya lebih utama untuk diikuti. Namun demikian, kita tidak boleh melontarkan kepada orang-orang -oleh sebab sesuatu yang diperselisihkan dengannya- kata-kata caci maki dan celaan. Kita serahkan saja kepada niat mereka, dan mereka telah berlalu dengan amal-amalnya.
  7. Setiap muslim yang belum mencapai kemampuan telaah terhadap dalil-dalil hukum furu’ (cabang), hendaklah mengikuti pemimpin agama. Meskipun demikian, alangkah baiknya jika -bersamaan dengan sikap mengikutnya ini- ia berusaha semampu yang ia lakukan untuk mempelajari dalil-dalilnya. Hendaknya ia menerima setiap masukan yang disertai dengan dalil selama ia percaya dengan kapasitas orang yang memberi masukan itu. Dan hendaknya ia menyempurnakan kekurangannya dalam hal ilmu pengetahuan Jika ia termasuk orang pandai, hingga mencapai derajat pentelaah.
  8. Khilaf dalam masalah fiqih furu’ (cabang) hendaknya tidak menjadi faktor pemecah belah dalam agama, tidak menyebabkan permusuhan dan tidak juga kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu, tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kepada kebenaran. Semua itu tanpa melahirkan sikap egois dan fanatik.
  9. Setiap masalah yang amal tidak dibangun di atasnya -sehingga menimbulkan perbincangan yang tidak perlu- adalah kegiatan yang dilarang secara syar’i. Misalnya memperbincangkan berbagai hukum tentang masalah yang tidak benar-benar terjadi, atau memperbincangkan makna ayat-ayat Al-Qur’an yang kandungan maknanya tidak dipahami oleh akal pikiran, atau memperbincangkan perihal perbandingan keutamaan dan perselisihan yang terjadi di antara para sahabat (padahal masing-masing dari mereka memiliki keutamaannya sebagai sahabat Nabi dan pahala niatnya) Dengan ta’wil (menafsiri baik perilaku para sahabat) kita terlepas dari persoalan.
  10. Ma’rifah kepada Allah dengan sikap tauhid dan penyucian (dzat)-Nya adalah setinggi-tinggi tingkatan aqidah Islam. Sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits shahih tentangnya, serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhubungan dengannya, kita cukup mengimaninya sebagaimana adanya tanpa ta’wil dan ta’thil, serta tidak memperuncing perbedaan yang terjadi di antara para ulama. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada, sebagaimana Rasulullah saw. dan para sahabatnya mencukupkan diri dengannya. “Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.”‘ (Ali lmran: 7)
  11. Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan cara yang sebaik-baiknya, yang tidak justru menimbulkan bid’ah lain yang lebih parah.
  12. Perbedaan pendapat dalam masalah bid’ah (idhafiyah), bid’ah (tarkiyah), dan iltizamterhadap ibadah mutlaqah (yang tidak diterapkan, baik cara maupun waktunya) adalah perbedaan dalam. masalah fiqih. Setiap orang mempunyai pendapat sendiri. Namun tidaklah mengapa jika. dilakukan penelitian untuk mendapatkan hakekatnya dengan dalil dan bukti-bukti.
  13. Cinta kepada orang-orang yang shalih, memberikan penghormatan kepadanya, dan memuji karena perilaku baiknya adalah bagian dari taqarrub kepada Allah swt. Sedangkan para wali adalah mereka yang disebut dalam firman-Nya, “Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka itu bertaqwa.” Karamah pada mereka itu benar terjadi jika memenuhi syarat-syarat syar’inya. itu semua dengan suatu keyakinan bahwa mereka -semoga Allah meridhai mereka- tidak memiliki madharat dan manfaat bagi dirinya, baik ketika masih hidup maupun setelah mati, apalagi bagi orang lain.
  14. Ziarah kubur -kubur siapa pun- adalah sunah yang disyariatkan dengan cara-cara yang diajarkan Rasulullah saw. Akan tetapi, meminta pertolongan kepada penghuni kubur siapa pun mereka, berdoa kepadanya, memohon pemenuhan hajat (baik dari jarak dekat maupun dari kejauhan), bernadzar untuknya, membangun kuburnya, menutupinya dengan satir, memberikan penerangan, mengusapnya (untuk mendapatkan barakah), bersumpah dengan selain Allah dan segala sesuatu yang serupa dengannya adalah bid’ah besar yang wajib diperangi. juga janganlah mencari ta’wil (baca: pembenaran) terhadap berbagai perilaku itu, demi menutup pintu fitnah yang lebih parah lagi.
  15. Doa, apabila diiringi tawasul kepada Allah dengan salah satu makhluk-Nya adalah perselisihan furu’menyangkut tata cara berdoa, bukan termasuk masalah aqidah.
  16. Istilah ‘ (keliru) yang sudah mentradisi)tidak mengubah hakekat hukum syar’inya. Akan tetapi, ia harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan syariat itu, dan kita berpedoman dengannya. Di samping itu, kita harus berhati-hati terhadap berbagai istilah yang menipu), yang sering digunakan dalam pembahasan masalah dunia dan agama. lbrah itu ada pada esensi di balik suatu nama, bukan pada nama itu sendiri.
  17. Aqidah adalah pondasi aktivitas; aktivitas hati lebih penting daripada aktivitas fisik Namun, usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun kadar tuntutan masing-masingnya berbeda.
  18. Islam itu membebaskan akal pikiran, menghimbaunya untuk melakukan telaah terhadap alam, mengangkat derajat ilmu dan ulamanya sekaligus, dan menyambut hadirnya segala sesuatu yang melahirkan maslahat dan manfaat. “Hikmah adalah barang yang hilang milik orang yang beriman (mukmin). Barangsiapa mendapatkannya, ia adalah orang yang paling berhak atasnya. “
  19. Pandangan syar’i dan pandangan logika memiliki wilayahnya masing-masing yang tidak dapat saling memasuki secara sempurna. Namun demikian, keduanya tidak pernah berbeda (selalu beririsan) dalam masalah yang qath’i (absolut) Hakikat ilmiah yang benar tidak mungkin bertentangan dengan kaidah-kaidah syariat yang tsabitah(jelas). Sesuatu yang zhanni (interpretable) harus ditafsirkan agar sesuai dengan yang qath’i. Jika yang berhadapan adalah dua hal yang sama-sama zhanni, maka pandangan yang syar’i lebih utama untuk diikuti sampai logika mendapatkan legalitas kebenarannya, atau gugur sama sekali.
  20. Kita tidak mengkafirkan seorang muslim, yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun karena kemaksiatannya, kecuali jika ia mengatakan kata-kata kufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama, mendustakan secara terang-terangan Al-Qur’an, menafsirkannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterpretasikan kecuali dengan tindakan kufur

Al-Ikhlas

Secara harfiyah, ikhlas artinya bersih atau murni. Menurut DR. Ali Abdul Halim Mahmud: “Ikhlas adalah melepaskan diri dari segala perkara selain Allah Ta’ala dengan memurnikan perkataan dan perbuatan serta meninggalkan segala pengaruh luar yang mencampurinya”.

Ikhlas menurut Hasan Al-Banna, seperti yang dikutip oleh Sa’id Hawwa adalah bahwa setiap muslim harus mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala dan pahala dari semua ucapan, amal dan jihad yang dilakukannya tanpa didorong oleh kepentingan pribadi, penampilan, kemewahan, pangkat, gelar, kedudukan dan lainnya. Dengan ini, seorang muslim menjadi laskar ideologi dan aqidah, bukan orang yang mengejar kepentingan pribadi.

Keikhlasan akan membuat sekecil apapun amal seseorang tercatat di sisi Allah Ta’ala, sedang tanpa keikhlasan sebesar dan sebanyak apapun amal seseorang tidak ada catatan pahala dan nilai sedikitpun dihadapan-Nya. Oleh karena itu, Sa’id Hawwa menyatakan: “Untuk mencapai keikhlasan ini, setiap muslim harus selalu membetulkan dan meluruskan niatnya. Ia harus selalu mengintrospeksi diri tentang dorongan dan motif hakiki apa saja dibalik setiap amal yang dilakukannya. Setelah membetulkan niatnya itu baru ia boleh meneruskan amalnya”.

Selanjutnya Sa’id Hawwa menyatakan: “Apabila sifat ikhlas ini telah ada dalam diri kita, maka jumlah anggota Ikhwan akan bertambah pada saat-saat krisis dan akan menyusut pada saat akan mendapatkan kemenangan dan keuntungan. Mereka akan berlomba untuk beramal, tapi akan menghilang pada waktu mendapatkan keuntungan. Mereka enggan memburu dunia, tetapi berlomba–lomba mengejar keuntungan akhirat. Jika demikian, maka semua amal atau kegiatan akan menjadi berkah dan shaf akan bersatu padu”. Dengan demikian, yang harus kita lakukan adalah luruskan niat, rapatkan barisan. Barisan perjuangan kita akan solid manakala kita berjuang dengan niat yang lurus (ikhlas).

Selanjutnya, keikhlasan akan membuat seseorang selalu melakukan kebaikan, baik pada saat sulit maupun saat senang, ada yang memuji atau malah banyak yang menghina, bahkan dia tidak peduli, apakah amal itu akan menguntungkan secara duniawi atau malah merugikan, dan orang yang ikhlas juga akan merasa senang bila orang lain mencapai kemajuan dan kenikmatan, meskipun dia tidak mendapatkan apa-apa.

Akhirnya, kata kunci yang bisa kita pegang adalah: ikhlas akan membuat seberat apapun amal yang harus kita lakukan akan terasa menjadi ringan, sedang tanpa keikhlasan, seringan apapun amal yang harus kita lakukan akan terasa menjadi berat. Oleh karena itu, salah satu dari sekian banyak kekhawatiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umatnya adalah bila tidak ada keikhlasan.

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ ». قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِىَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً »

Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’ (HR. Ahmad 5: 429. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Al-Amal

Dalam kehidupan seorang muslim, amal merupakan manifestasi dari keimanan kepada Allah Ta’ala. Iman harus dibuktikan dengan amal dan amal harus dilandasi oleh iman. Karena itu, di dalam Al-Qur’an, kata iman seringkali dirangkai dengan ilmu, bahkan kita bisa menyimpulkan bahwa antara iman dengan amal shaleh seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dan tidak boleh dipisah-pisahkan.

Dalam konteks dakwah Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna menyatakan: “Yang saya maksud dengan amal (aktivitas)  adalah buah dari ilmu dan keikhlasan. Dalam konteks inilah, betapa amal begitu banyak dan luas yang urutannya meliputi, Pertama, memperbaiki diri sendiri sehingga menjadi manusia yang memiliki tubuh yang kuat, akhlak yang terpuji, pikiran yang kaya dengan ilmu, mampu berusaha, aqidah yang lurus, mengendalikan hawa nafsu, disiplin, mampu memanfaatkan waktu dengan baik, beribadah secara baik, dan bermanfaat bagi orang lain.

Kedua, membentuk keluarga muslim sehingga anggota keluarga menghormati ide dan pemikirannya, memelihara etika Islam, bijak dalam memilih calon isteri, mendidik anak-anak dengan baik dan membentuknya sesuai dengan Islam.

Ketiga, membimbing masyarakat dengan menyampaikan seruan kebaikan, memerangi kejahatan dan kemunkaran, mendorong segala keutamaan, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, bersegera melakukan kebaikan, membentuk opini yang islami serta mewarnai berbagai aspek kehidupan dengan nilai-nilai Islami.

Keempat, memerdekakan tanah air dari cengkeraman kekuasaan asing yang bukan Islam, baik dibidang politik, ekonomi, mental maupun spiritual.

Kelima, memperbaiki pemerintahan sehingga menjadi pemerintahan yang sesuai dengan Islam, yakni sebagai pelayan umat dengan menjalankan kewajiban Islam dan tidak melakukan kemaksiatan. Pemerintahan Islam merupakan tempat lahirnya penegakan hukum-hukum Islam, menyampaikan dakwah, memperkuat dan meninggikan akhlak, mengembangkan ilmu pengetahuan, mempersiapkan kekuatan, menjaga kesehatan umum, mengembangkan kekayaan negara dan menjaga keselamatan harta kekayaan. Bila kondisinya darurat, mungkin saja pemerintahan Islam mengangkat kalangan non muslim sebagai pejabat untuk jabatan yang tidak strategis.

Keenam, mewujudkan kembali kesatuan dunia Islam dengan cara membebaskannya dari keterjajahan, menghidupkan kembali kejayaan Islam, mendekatkan kebudayaan dan ilmu pengetahuan dan kesepakatan mewujudkan khilafah Islamiyah menuju kesatuan yang dicita-citakan.

Ketujuh, memimpin dunia dengan menyebarkan dakwah ke berbagai penjurunya hingga tidak ada fitnah dan agama itu hanya bagi Allah.

(Bersambung ke Bagian Kedua)

Catatan Kaki:

[1] Dua puluh prinsip yang dikemukakan oleh Hasan Al-Banna ini merupakan produk dari pandangannya yang mendalam terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, perenungan terhadap buku-buku aqidah dan ushulul fiqh, kristalisasi dan kefahamannya akan syari’at Allah, serta pengetahuannya yang mendalam terhadap realitas kaum muslimin dan perbedaan antara yang baik dan  buruk, yang menjadi warisan umat Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s