Ada dua pendapat berbeda tentang eksistensi khilafah dalam tubuh umat Islam:

Pertama, pendapat sebagian pihak yang memahami bahwa sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kekhalifahan hanya berlangsung 30 tahun. Setelah itu tidak akan ada lagi khilafah, yang ada hanyalah raja-raja. Pendapat ini berdasarkan hadits dari Safinah radhiyallahu ‘anhu – pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam – , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْخِلاَفَةُ فِى أُمَّتِى ثَلاَثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكاً بَعْدَ ذَلِكَ

“Khilafah di tengah umatku selama 30 tahun. Kemudian setelah itu diganti kerajaan.” (HR. Ahmad 22568, Turmudzi 2390 dan sanadnya dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Rentang 30 tahun tersebut terhitung sejak masa Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu hingga peristiwa penyerahan kekhalifahan di masa Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhum kepada Mu’awwiyah radhiyallahu ‘anhu.

Ibnul Arabi rahimahullah berkata tentang hal ini,

فنفذ الوعد الصادق في قوله- صلى الله عليه وسلم- … : ((الخلافة في أمتي ثلاثون سنة ثم تعود ملكاً)) فكانت لأبي بكر وعمر وعثمان وعلي وللحسن… لا تزيد ولا تنقص يوماً فسبحان المحيط لا رب غيره

“Terbukti untuk janji Nabi yang as-Shadiq (benar ucapannya), … ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Khilafah di tengah umatku selama 30 tahun. Kemudian setelah itu diganti kerajaan.’ Masa khilafah dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Hasan, tidak tambah maupun kurang walaupun sehari. Maha Suci Dzat yang al-Muhith (Maha Meliputi), tiada Rab selain-Nya.”[1]

Ibnu Abil Izz merinci rentang waktu tersebut sebagai berikut: Khilafah Abu Bakar berlangsung 2 tahun 3 bulan, Khilafah Umar berlangsung 10 tahun 6 bulan, Khilafah Utsman berlangsung 12 tahun, Khilafah Ali berlangsung 4 tahun 9 bulan, dan Khilafah  Hasan berlangsung 6 bulan.[2]

Berdasarkan nash di atas, sebagian pihak berkesimpulan bahwa menegakkan khilafah hanyalah sebuah utopia belaka.

Kedua, pendapat yang memahami bahwa khilafah ‘ala minhajin nubuwwah akan tegak kembali setelah keruntuhannya. Adapun hadits yang menyebutkan khilafah berlangsung selama 30 tahun maksudnya adalah khilafah yang tidak terpengaruh oleh sistem kerajaan, yaitu masa keberlangsungan khulafaur-rasyidin. Sedangkan masa pemerintahan setelahnya adalah masa kekhalifahan yang terpengaruh oleh sistem kerajaan, namun tetap dapat disebut sebagai khilafah.

Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu’ Al-Fatawa mengutip Qadhi Abu Ya’la untuk menjawab pertanyaan seseorang apakah setelah masa 30 tahun Khilafah telah berubah menjadi kerajaan sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits. Kata Ibnu Taimiyyah : “Qadhi Abu Ya’la menjawab bahwa ada kemungkinan yang dimaksud dengan ‘Khilafah’ dalam hadits ‘Khilafah itu berlangsung 30 tahun’, adalah Khilafah yang tidak terpengaruh oleh kerajaan setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan yang dimaksud ‘berlangsung 30 tahun’ adalah Khilafah dari para khalifah yang empat. Adapun Khilafah Mu’awiyah telah terpengaruh dengan sistem kerajaan, namun hal ini tidaklah membuat cacat kekhalifahan Mu’awiyah.”[3]

Selain itu, disebutkan dalam hadits, bahwa setelah masa 30 tahun itu akan muncul 12 orang khalifah yang berpegang kepada manhaj kenabian—seluruhnya berasal dari suku Quraisy.

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِى عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ « إِنَّ هَذَا الأَمْرَ لاَ يَنْقَضِى حَتَّى يَمْضِىَ فِيهِمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً ». قَالَ ثُمَّ تَكَلَّمَ بِكَلاَمٍ خَفِىَ عَلَىَّ – قَالَ – فَقُلْتُ لأَبِى مَا قَالَ قَالَ « كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ.

Dari Jabir bin Samurah, “Aku bersama bapakku masuk kepada Nabi, maka aku mendengar beliau bersabda, ‘Sesungguhnya urusan (Agama Islam) ini tidak akan berakhir sampai berlangsung di tengah mereka dua belas khalifah’. Kemudian beliau berkata dengan perkataan yang samar bagiku. Maka Aku bertanya kepada ayahku apa yang disabdakan beliau? Ayahku menjawab, ‘Semuanya dari Quraesy’”. (Shahih Muslim, No. 4809. Sunan Abu Dawud, No. 4279)

Mengomentari hadits ini Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Hadits ini sebagai dalil keberadaan 12 khalifah yang ‘adil. Akan tetapi itu bukanlah (dalil bagi keberadaan) 12 imam-imam Syi’ah, karena umat ini tidaklah dalam keadaan baik di zaman mereka (12 imam Syi’ah). Sedangkan 12 orang (khalifah) tersebut dalam hadits semuanya ‘adil dan berasal dari Quraisy. Dan sungguh telah tetap kabar gembira tersebut atas mereka dalam kitab-kitab sebelumnya. Kemudian, keberadaan mereka tidaklah disyaratkan harus berturut-turut. Bisa jadi berturut-turut, bisa pula tidak. Empat di antaranya sudah ada, yaitu Abu Bakar, ‘Umar. ‘Utsman, dan ‘Ali radliyallaahu ‘anhum. Kemudian setelah mereka ada masa-masa fatrah (jeda). Kemudian ada lagi setelah mereka orang yang dikehendaki Allah., kemudian akan ada yang tersisa dari mereka pada waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Dan di antara mereka adalah Al-Mahdi dimana namanya sama dengan nama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kunyahnya sama dengan kunyahnya. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesusahan dan kedhaliman”.

Keyakinan akan kembalinya khilafah ‘ala minhajin nubuwwah juga didasarkan pada sebuah hadits nabawi yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dari sahabat Hudzaifah radhiallahu ‘anhu,

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌعَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَهُعَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًاعَاضًّا فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَهَعَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيًّا فَتَكُونُمَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ. ثُمَّسَكَتَ

“Akan ada masa kenabian pada kalian selama yang Allah  kehendaki, Allah  mengangkat atau menghilangkannya kalau Allah  menghendaki. Lalu akan ada masa khilafah di atas manhaj nubuwwah selama Allah  kehendaki, kemudian Allah  mengangkatnya jika Allah  menghendaki. Lalu ada masa kerajaan yang sangat kuat selama yang Allah  kehendaki, kemudian Allah  mengangkatnya bila Allah  menghendaki. Lalu akan ada masa kerajaan (tirani) selama yang Allah  kehendaki, kemudian Allah  mengangkatnya bila Allah  menghendaki. Lalu akan ada lagi masa kekhilafahan di atas manhaj nubuwwah.“ Kemudian beliau diam.” (HR. Ahmad, 4/273)

Baca risalah selanjutnya: Khilafah (Bag. 7): Berjuang Menegakkan Kembali Khilafah

Catatan Kaki:

[1] Ahkam al-Quran, Ibnul Arabi, 4/152

[2] Lihat: Syarh Aqidah Thahawiyah, Ibnu Abil Izz, 3/172

[3] Ibnu Taimiyah, Majmuu’ Al-Fatawa, Juz XXVIII, hlm. 18

Advertisements

One thought on “Khilafah (Bag. 6): Khilafah Hanya Berlangsung 30 Tahun?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s