Ulama yang Mewajibkan Kekhalifahan Tunggal

Jumhur ulama menyatakan wajib bagi umat Islam untuk mengangkat seorang pemimpin tunggal. Hal ini diantaranya berdasarkan hadits berikut ini,

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ ، فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا

“Apabila telah terjadi bai’at terhadap dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR. Muslim)

Peristiwa Saqifah Bani Saidah pun menunjukkan bahwa Umar bin Khathab menolak usulan Al-Habbab bin Al-Mundzir bin Al-Jamuh agar kepemimpinan kaum muslimin dipecah menjadi dua.

Berkata kalangan Anshar,

مِنَّا أَمِيرٌ ، وَمِنْكُمْ أَمِيرٌ

“Dari kami seorang pemimpin, dan dari kalian pun ada satu orang pemimpin.”

Umar menanggapinya dengan mengatakan,

 سِيفَانِ فِي غِمْدٍ وَاحِدٍ ، إِذًا لا يَصْلُحَانِ

“Dua pedang dalam satu sarung, jika seperti itu tentu keduanya tidak akan membawa kebaikan.”[1]

Berikut ini pernyataan para ulama tentang wajibnya kepemimpinan tunggal bagi umat Islam:

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوز أَنْ يُعْقَد لِخَلِيفَتَيْنِ فِي عَصْر وَاحِد سَوَاء اِتَّسَعَتْ دَار الْإِسْلَام أَمْ لَا

“Para ulama bersepakat bahwa tidak boleh mengangkat dua khalifah di satu masa, baik wilayah kekhilafahan luas maupun tidak.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, vol 12 hal 232)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

فَأَمَّا نَصْبُ إِمَامَيْنِ فِي الْأَرْضِ أَوْ أَكْثَرَ فَلَا يَجُوزُ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: “مَنْ جَاءَكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ يُرِيدُ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَكُمْ فَاقْتُلُوهُ كَائِنًا مَنْ كَانَ” . وَهَذَا قَوْلُ الْجُمْهُورِ، وَقَدْ حَكَى الْإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ غَيْرُ وَاحِدٍ، مِنْهُمْ إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ

“Dan sedangkan pengangkatan dua imam atau lebih di muka bumi, maka hal itu tidak boleh, berdasarkan Sabda Nabi saw: ‘Barang siapa yang mendatangi kalian sedangkan urusan kalian terkumpul (pada satu khalifah), dia ingin memecahbelah kalian maka bunuhlah dia seketika siapapun dia.’ Yang demikian ini pendapat jumhur (mayoritas) ulama, dan yang mengatakan bahwa pendapat tersebut merupakan ijma’ tidak hanya satu orang, diantaranya adalah Imam Haramain (Al-Juwaini).” (Tafsir Ibn Katsir, vol 1 hlm 222)

Imam As-Sinqithi rahimahullah berkata,

قول جماهير العلماء من المسلمين : أنه لا يجوز تعدد الإمام الأعظم ، بل يجب كونه واحدا ، وأن لا يتولى على قطر من الأقطار إلا أمراؤه المولون من قِبَلِهِ ، محتجين بما أخرجه مسلم في “صحيحه” من حديث أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إذا بويع لخليفتين فاقتلوا الآخر منهما » .

“Pendapat jumhurul ‘ulama: Bahwa berbilangnya khalifah adalah tidak boleh, bahkan wajib berjumlah satu, dan hendaknya tidak berkuasa atas wilayah-wilayah (kekuasaan kaum muslimin) kecuali umara’ yang diangkat olehnya, mereka (jumhur ‘ulama) berhujjah dengan hadits sahih dikeluarkan oleh Imam Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: ‘Jika dibai’at dua khalifah maka bunuhlah yang terakhir (dibai’at) di antara keduanya.’” (Adhwa’ Al-Bayan fi Idhah Al-Qur’an bi Al-Qur’an, vol 3 hlm 39)

Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Jazairi rahimahullah berkata,

إِتَّفَقَ اْلأَئِمَّةُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ أَنَّ اْلإِمَامَةَ فَرْضٌ وَأَنَّهُ لاَ بُدَّ لِلْمُسْلِمِيْنَ مِنْ إِمَامٍ يُقِيْمُ شَعَائِرَ الدِّيْنِ وَيُنْصِفُ الْمَظْلُوْمِيْنَ مِنَ الظَّالِمِيْنَ وَعَلىَ أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ عَلىَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ وَقْتٍ وَاحِدٍ فِيْ جَمِيْعِ الدُّنْيَا إِمَامَانِ لاَ مُتَّفِقَانِ وَلاَ مُفْتَرِقَانِ

”Telah sepakat para Imam (Yang Empat) bahwa Imamah (Khilafah) adalah fardhu; dan bahwa tak boleh tidak kaum muslimin harus mempunyai seorang Imam yang menegakkan syiar-syiar agama dan melindungi orang-orang yang dizhalimi dari orang-orang zhalim; dan bahwa tak boleh kaum muslimin pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam, baik keduanya sepakat maupun bertentangan.” (Al Fiqh ‘Ala Al Madzahib Al Arba’ah, Juz V hlm. 416).

Ulama yang Membolehkan Berbilangnya Khalifah

Diantara ulama ada yang membolehkan berbilangnya khalifah karena alasan kondisi meluasnya wilayah Islam. Al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan bahwa yang berpendapat seperti itu diantaranya adalah Imam Abu Ishak rahimahullah,

وَكَانَ الْأُسْتَاذُ أَبُو إِسْحَاقَ يُجَوِّزُ ذَلِكَ فِي إِقْلِيمَيْنِ مُتَبَاعِدَيْنِ غَايَةَ التَّبَاعُدِ لِئَلَّا تَتَعَطَّلَ حُقُوقُ النَّاسِ وَأَحْكَامُهُمْ

“… dan adalah ustadz Abu Ishak membolehkan hal itu pada dua wilayah yang saling berjauhan secara signifikan, agar hak-hak kaum muslimin dan penerapan hukum mereka tidak terbengkalai.” (Tafsir Al-Qurthubi, vol 1 hlm 273)

Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukani rahimahullah pun termasuk yang membolehkan. Dalam kitabnya as-Sailul Jarar, Syarh kitab Hadaiq al-Azhar, beliau berkata,

وأما بعد انتشار الإسلام واتساع رقعته وتباعد أطرافه فمعلوم أنه قد صار في كل قطر أو أقطار الولاية إلى إمام أو سلطان وفي القطر الآخر أو الأقطار كذلك ولا ينفذ لبعضهم أمر ولا نهي في قطر الآخر

“Adapun setelah tersebarnya Islam dan meluasnya wilayah Islam, maka menjadi hal yang wajar ketika di masing-masing negeri muncul pemerintahan sendiri yang dipimpin oleh Imam atau Sultan. Demikian pula yang ada di belahan negara yang lain. Penduduk suatu negeri, tidak wajib melaksanakan perintah dan larangan yang berlaku di negeri yang lain.”

Lebih lanjut, as-Syaukani rahimahullah menegaskan,

فلا بأس بتعدد الأئمة والسلاطين ويجب الطاعة لكل واحد منهم بعد البيعة له على أهل القطر الذي ينفذ فيه أوامره ونواهيه وكذلك صاحب القطر الآخر

“Karena itu, tidak jadi masalah dengan keberadaan banyak pemimpin negara dan sultan. Masing-masing penduduk negara wajib mentaati mereka, setelah mereka dibai’at oleh penduduk negerinya, dan wajib melaksakan perintah dan larangannya. Demikian pula yang berlaku bagi penduduk negeri yang lain.” (as-Sailul Jarar, 1/941).

Kelompok Karamiyah pun membolehkan mengangkat dua khalifah atau lebih. Hal ini disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya,

وقالت الكرامية : يجوز نصب إمامين فأكثر كما كان علي ومعاوية إمامين واجبي الطاعة ، قالوا وإذا جاز بعث نبيين في وقت واحد وأكثر جاز ذلك في الإمامة ؛ لأن النبوة أعلى رتبة بلا خلاف

“Dan berkata Al-Karamiyah: boleh hukumnya mengangkat dua khalifah atau lebih sebagaimana Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan dua imam yang wajib ditaati; mereka beralasan: jika pengutusan dua nabi atau lebih dalam satu waktu saja dibolehkan maka hal tersebut tentu juga boleh dalam perkara khilafah, karena perkara kenabian adalah derajat tertinggi tanpa ada perselisihan.” (Tafsir Ibn Katsir, vol 1 hlm 222)

Berbilangnya Khalifah dalam Kondisi yang Tidak Ideal

Di dalam kelompok ulama yang berpandangan wajibnya kekhalifahan tunggal, terdapat pandangan tersurat yang menyatakan bahwa kewajiban kekhalifahan tunggal tersebut adalah jika kaum muslimin berada dalam kondisi ideal. Imam Al-Haramain menyatakan bahwa dalam kondisi yang tidak ideal, sebagian ulama ada yang membolehkan berbilangnya khalifah,

قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: لَوْ خَلاَ الزَّمَانُ عَنِ السُّلْطَانِ فَحَقٌّ عَلَى قُطَّانِ كُلِّ بَلْدَةٍ، وَسُكَّانِ كُلِّ قَرْيَةٍ، أَنْ يُقَدِّمُوا مِنْ ذَوِي اْلأَحْلاَمِ وَالنُّهَى، وَذَوِي الْعُقُولِ وَالْحِجَا مَنْ يَلْتَزِمُونَ امْتِثَالَ إِشَارَاتِهِ وَأَوَامِرِهِ، وَيَنْتَهُونَ عَنْ مَنَاهِيهِ وَمَزَاجِرِهِ ; فَإِنَّهُمْ لَوْ لَمْ يَفْعَلُوا ذَلِكَ، تَرَدَّدُوا عِنْدَ إِلْمَامِ الْمُهِمَّاتِ، وَتَبَلَّدُوا عِنْدَ إِظْلاَلِ الْوَاقِعَاتِ.

“Sebagian ulama berkata: “Apabila suatu masa mengalami kekosongan dari penguasa tunggal, maka penduduk setiap daerah dan setiap desa, harus mengangkat di antara orang-orang yang memiliki kecerdasan dan pemikiran, seseorang yang dapat mereka ikuti petunjuk dan perintahnya, dan mereka jauhi larangannya. Karena apabila mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka akan ragu-ragu ketika menghadapi persoalan penting dan tidak mampu mengatasi persoalan yang sedang terjadi.” (Imam al-Haramain, Ghiyats al-Umam fi Iltiyats al-Zhulam, hal. 386-387).

Al-Imam al-Hafizh Abu Amr al-Dani rahimahullah berkata,

وَإِقَامَةُ اْلإِمَامِ مَعَ الْقُدْرَةِ وَاْلإِمْكَانِ: فَرْضٌ عَلىَ اْلأُمَّةِ لاَ يَسَعُهُمْ جَهْلُهُ، وَالتَّخَلُّفُ عَنْهُ، وَإِقَامَتُهُ إِلىَ أَهْلِ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ مِنَ اْلأُمَّةِ دُوْنَ النَّصِّ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Mengangkat seorang imam ketika mampu dan memungkinkan dihukumi wajib bagi umat Islam, yang harus mereka ketahui dan tidak boleh ditinggalkan. Pengangkatan tersebut berdasarkan keputusan ahlul halli wal ‘aqdi dari umat, bukan berdasarkan nash dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Abu Amr al-Dani, al-Risalah al-Wafiyah, hal. 130).

Ibnul Azraq al-Maliki, Qadhi Al-Quds Palestina, dalam kitabnya Bada’i as-Suluk fi Thabai al-Muluk menuliskan,

أن شرط وحدة الإمام بحيث لا يكون هناك غيره لا يلزم مع تعذر الإمكان. قال بن عرفة – فيما حكاه الأبي عنه – : فلو بعد موضع الإمام حتى لا ينفذ حكمه في بعض الأقطار البعيدة، جاز نصب غيره في ذلك القطر.

“Syarat penyatuan sistem kepemimpinan, dimana tidak boleh ada pemimpin yang lain, hukumnya tidak wajib, selama tidak memungkinkan. Ibnu Arafah mengatakan, ‘Ketika wilayah kekuasaan imam sangat jauh, sehingga titahnya tidak bisa dilaksanakan di beberapa daerah yang jauh, maka boleh menunjuk pemimpin yang lain di negeri tersebut.’” (Bada’i as-Suluk, 1/76).

Sedangkan menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, wajibnya kepemimpinan tunggal sudah merupakan sunnah (ketetapan). Hanya saja dalam kondisi-kondisi yang tidak ideal, kepemimpinan berbilang itu pun tetap sah dan mereka terikat oleh kewajiban-kewajiban kepemimpinan—seperti: menegakkan hudud dan memenuhi hak-hak rakyatnya.

وَالسُّنَّةُ أَنْ يَكُونَ لِلْمُسْلِمِينَ إمَامٌ وَاحِدٌ وَالْبَاقُونَ نُوَّابُهُ فَإِذَا فُرِضَ أَنَّ الْأُمَّةَ خَرَجَتْ عَنْ ذَلِكَ لِمَعْصِيَةِ مِنْ بَعْضِهَا وَعَجْزٍ مِنْ الْبَاقِينَ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ كَانَ لَهَا عِدَّةُ أَئِمَّةٍ: لَكَانَ يَجِبُ عَلَى كُلِّ إمَامٍ أَنْ يُقِيمَ الْحُدُودَ وَيَسْتَوْفِيَ الْحُقُوقَ

“Dan merupakan sunnah (ketetapan), yaitu hendaknya kaum muslimin memiliki satu orang Imam (khalifah), dan yang lain bertindak sebagai wakil-wakilnya. Adapun jika umat Islam terpaksa harus keluar dari ketentuan tersebut disebabkan kemaksiatan sebagian dari mereka, dan yang lain lemah untuk mencegahnya atau karena alasan lain, sehingga umat Islam kemudian memiliki imam-imam yang berbilang, maka setiap Imam tetap wajib menegakkan hudud (hukum-hukum Allah) dan memenuhi hak-hak (rakyatnya)”. (Majmu’ Al-Fatawa, vol 34 hlm 175 versi maktabah syamilah)

Imam Muhammad bin Ismail Ash-Shan’ani rahimahullah menyatakan sahnya ketaatan kepada khalifah yang bukan berada dalam kepemimpinan tunggal,

عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال: « من خرج عن الطاعة وفارق الجماعة ومات فميتته ميتة جاهلية » أخرجه مسلم ، قوله عن الطاعة أي طاعة الخليفة الذي وقع الاجتماع عليه وكأن المراد خليفة أي قطر من الأقطار إذ لم يجمع الناس على خليفة في جميع البلاد الإسلامية من أثناء الدولة العباسية بل استقل أهل كل إقليم بقائم بأمورهم إذ لو حمل الحديث على خليفة اجتمع عليه أهل الإسلام لقلت فائدته

“Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa keluar dari keta’atan dan memisahkan diri dari jama’ah dan kemudian mati, maka kematiannya adalah kematian dalam keadaan jahiliah’. Riwayat Muslim. Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapa yang tidak taat’ artinya mentaati khalifah yang dibai’at masyarakat. Seolah yang beliau maksudkan adalah khalifah di negeri manapun dimana sejak masa Daulah ‘Abbasiah mereka tidak lagi bersatu dalam satu kepemimpinan seorang khalifah untuk semua negeri-negeri Islam. Bahkan yang terjadi, masing-masing penduduk negeri memiliki penguasa sendiri yang mengatur urusan mereka. Dan jika hadis ini dipahami wajibnya taat pada khalifah yang memimpin seluruh kaum muslimin, tentu tidak bisa diterapkan.”[2] (Subulus Salam, 3/258).

Berkenaan dengan hal ini, Imam Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi, dalam ad-Durar as-Saniyah  menuliskan,

أن الناس من زمن طويل قبل الإمام أحمد إلى يومنا هذا، ما اجتمعوا على إمام واحد، ولا يعرفون أحدا من العلماء ذكر أن شيئا من الأحكام، لا يصح إلا بالإمام الأعظم

“Masyarakat dari sejak masa silam, sebelum Imam Ahmad hingga hari ini, mereka memiliki lebih dari satu pemimpin. Mereka tidak mengetahui ada satupun ulama yang menyebutkan bahwa tidak boleh melaksanakan hukum dan undang-undang, kecuali dengan komando satu pemimpin.” (ad-Durar as-Saniyah, 12/2).

Baca risalah selanjutnya: Khilafah (Bag. 6): Khilafah hanya Berlangsung 30 Tahun?

Catatan Kaki:

[1] Lihat: HR. An-Nasa’i, Al-Baihaqi, dan Al-Bazzar

[2] Maksudnya: Jika perintah untuk taat kepada pemimpin itu disyaratkan harus ada satu khalifah untuk umat islam seluruh dunia, maka  perintah itu menjadi sesuatu yang tidak bisa diterapkan karena kenyataannya umat Islam menghadapi kondisi yang tidak ideal.

One thought on “Khilafah (Bag. 5): Khilafah Bolehkah Berbilang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s