Dasar kewajiban menegakkan Khilafah/Imamah adalah sebagai berikut,[1]

Dalil dari Al-Qur’an:

Pertama, Surat an-Nisa’ ayat 59:

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu.”

Ketika menyebutkan pendapat para mufassir tentang makna ulil amri, Imam ath-Thabari menyimpulkan, “Pendapat yang paling benar adalah pendapat (yang mengatakan, red.), ‘Mereka adalah para penguasa yang menaati Allah dan mendatangkan maslahat bagi kaum muslimin.’” (Jami’ul Bayan, ath-Thabari: 8/502).

Wajhul istidlal dari ayat ini: Allah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk menaati penguasa, dan perintah untuk taat menjadi dalil wajibnya mengangkat pemimpin. Karena Allah tidak memerintahkan ketaatan kepada orang yang tidak ada wujudnya.

Kedua, Surat al-Ma’idah ayat 49

Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam,

وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللّهُ إِلَيْكَ

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu” 

Perintah Allah kepada Rasul-Nya agar memutuskan perkara berdasarkan syariat yang diturunkan Allah. Perintah kepada Rasul ini juga berlaku bagi umat beliau, sehingga mereka wajib untuk menegakkan hukum sesuai syariat yang diturunkan Allah, hingga hari kiamat. Penegakan hukum ini tidak mungkin bisa tegak kecuali dengan mengangkat pemimpin. Karena itu termasuk tugasnya. Dengan demikian, seluruh ayat yang memerintahkan untuk berhukum dengan apa yang diturunkan Allah menjadi dalil tentang wajibnya mengangkat pemimpin (imam).

Ketiga, Surat al-Hadid ayat 25

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab, dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi itu), dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

Tugas para Rasul dan para pengikut mereka sepeninggalnya adalah menegakkan keadilan di antara manusia sesuai dengan apa yang ada di dalam al-Qur’an, dan menopangnya dengan kekuatan. Olehnya, pengikut para rasul harus mengangkat Imam yang menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka, dan mengatur para pasukan yang akan membelanya. Oleh karenanya, Ibnu Taimiyah berkata, “Agama yang haq (Islam) harus ditopang oleh al-Kitab yang memberi petunjuk, dan pedang yang menolong….. al-Kitab akan menjelaskan apa yang diperintah dan dilarang  oleh Allah, sedang pedang yang akan menolong dan menguatkannya.” (Minhajus Sunah an-Nabawiyah: 1/142).

Dalil dari Sunah Qauliyah:

Ada banyak hadits Nabi yang menunjukkan tentang kewajiban mengangkat seorang imam, di antaranya adalah:

Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَة مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّ

“Barangsiapa yang mati, dan di lehernya tidak terdapat baiat, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Muslim, nomor 1851).

Ini adalah dalil yang jelas tentang wajibnya mengangkat seorang imam, karena jika baiat itu diwajibkan atas setiap muslim, maka mengangkat imam itu juga wajib. Karena baiat tidak terjadi kecuali kepada imam.

Kedua, hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤمِّرُوْا أَحَدَهُمْ

“Jika ada tiga orang yang bepergian, maka hendaklah mereka menjadikan satu orang sebagai pemimpinnya.” (HR. Abu Dawud, nomor 2608).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Jika dalam komunitas yang paling sedikit, dan perkumpulan yang paling kecil diwajibkan untuk menjadikan salah satunya sebagai pemimpin, maka ini adalah penyerupaan tentang kewajiban untuk komunitas yang lebih besar dari itu.” (al-Hisbah, hal. 11).

Dalil dari Sunah Fi’liyah: 

Perintah untuk mengangkat seorang imam atau khalifah itu tidak hanya berdasarkan hadits qauliyah saja, tetapi Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri yang telah mempraktekkannya. Beliau mendirikan pemerintahan Islam di Madinah, dan beliau yang menjadi imam pertama terhadap pemerintahan tersebut. Setelah Allah telah mempersiapkan orang-orang yang menolong agama ini dan membela Rasul-Nya, beliau mulai membangun pondasi-pondasinya, beliau mempersatukan antara suku Aus dan Khazraj dan meredam permusuhan panjang di antar mereka, kemudian beliau mempersaudarakan antara orang-orang Anshar dan Muhajirin, mempersiapkan pasukan mujahid yang siap  menyebarkan agama ini dan melindunginya. Beliau juga mengutus para utusan yang berisi ajakan kepada segenap raja di negeri-negeri sekitar Madinah untuk masuk Islam, mengikat kesepakatan dan perjanjian dengan orang-orang Yahudi dan selain mereka, menjelaskan hukum-hukum tawanan dan yang terkait dengannya, menerangkan hukum-hukum perang dan ahli dzimah.

Beliau juga mengatur Baitul mal kaum muslimin dan membagikannya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, menunjuk para amir dan hakim untuk mengurusi urusan kaum muslimin, menegakkan hudud syar’iyah dan hukuman-hukuman…, dan urusan-urusan lain yang sudah semestinya dilakukan oleh seorang pimpinan negara.

Imam asy-Syathibi rahimahullah berkata, “Telah tsabit (tetap) bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak meninggal, hingga beliau telah menjelaskan seluruh urusan agama dan dunia yang dibutuhkan, dan ini tidak ada perselisihan di antara ahli sunah.” (al-I’tisham: 1/64).

Karena memang, kekhilafahan seperti yang dipraktekkan oleh Nabi sendiri  merupakan tuntutan dari agama Islam ini.

Perbuatan yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menjadi pemimpin dalam Negara Islam pertama menjadi dalil wajibnya kepemimpinan. Karena beliau telah menjelaskan hukum-hukum syar’i dengan perkataan, perbuatan dan penetapannya. Dan perbuatan beliau menuntut kewajiban. (Tafshilul Mas’alah fi Syarhil Kaukab al-Munir: 2/189, Ibnu Najar).[2]

Ijma’ Ulama tentang Wajibnya Menegakkan Khilafah/Imamah

Imam Al Mawardi  rahimahullah  berkata,

وَعَقْدُهَا لِمَنْ يَقُومُ بِهَا فِي الْأُمَّةِ وَاجِبٌ بِالْإِجْمَاعِ وَإِنْ شَذَّ عَنْهُمْ الْأَصَمُّ ، وَاخْتُلِفَ فِي وُجُوبِهَا هَلْ وَجَبَتْ بِالْعَقْلِ أَوْ بِالشَّرْعِ ؟

“Menegakkannya bagi  manusia di tengah-tengah umat adalah wajib menurut ijma’kecuali menurut Al-Asham, yang berbeda pendapat dalam kewajiban ini; apakah wajib menurut akal atau wajib menurut syariat?” (Al Ahkam As Sulthaniyah, Hal. 3. Mawqi’ Al Islam)

Imam An Nawawi, seorang ulama Ahlus Sunnah, tegas menyatakan,

أَجْمَعُوْا عَلىَ أَنَّهُ يَجِبُ عَلىَ الْمُسْلِمِيْنَ نَصْبُ خَلِيْفَةٍ

“Mereka (para sahabat) telah bersepakat bahwa wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang khalifah.”[3]

Ulama Ahlus Sunnah yang lain, Ibnu Hajar al-Asqalani, juga menegaskan,

وَأَجْمَعُوْا عَلىَ أَنَّهُ يَجِبُ نَصْبُ خَلِيْفَةٍ وَعَلىَ أَنَّ وُجُوْبَهُ بِالشَّرْعِ لاَ بِالْعَقْلِ.

“Mereka (para ulama) telah berijma’ (bersepakat) bahwa wajib mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal.”[4]

Imam Abu Ya’la al-Farra’ juga menyatakan:

نَصْبَةُ اْلإِمَامِ وَاجِبَةٌ

“Mengangkat Imam (Khalifah) adalah wajib.”[5]

Bahkan ijma’ ini bukan hanya bagi ahlus sunnah, tapi juga menurut murjiah, syi’ah, dan khawarij.  Hal ini dijelaskan oleh  Imam Abu Muhammad bin Hazm rahimahullah dalam   Al Fashl fil Milal sebagai berikut,

اتفق جميع أهل السنة وجميع المرجئة وجميع الشيعة وجميع الخوارج على وجوب الإمامة وأن الأمة واجب عليها الانقياد لإمام عادل يقيم فيهم أحكام الله ويسوسهم بأحكام الشريعة التي أتى بها رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Telah sepakat semua ahlus sunnah, semua murjiah, semua syi’ah, semua khawarij, atas kewajiban adanya imamah,   dan sesungguhnya umat  wajib mengikatkan dirinya dengan pemimpin yang adil yang dapat menegakkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah mereka dan membimbing mereka dengan hukum-hukum syariah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[6]

Ulama masa kini, Syaikh Wahbah Az Zuhaili rahimahullah, juga mengatakan demikian,

وهو الإجماع: أجمع الصحابة والتابعون على وجوب الإمامة، إذ بادر الصحابة فور وفاة النبي صلّى الله عليه وسلم وقبل تجهيز

“Itu adalah ijma’, para sahabat dan tabi’in telah ijma’ atas wajibnya imamah, hal ini dibuktikan dengan bersegeranya para sahabat secara langsung pada saat wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum mengurus jenazahnya.”[7]

Pernyataan seperti ini pernah diungkapkan oleh Ibnu Khaldun, “Jabatan imam ini wajib ditegakkan. Kewajibannya di dalam hukum Islam dikenal sebagai ijma para sahabat dan tabi’in. Para sahabat Rasulullah, ketika Rasulullah meninggal dunia, bersegera memilih penggantinya dan membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah dan menyerahkan segala urusan ummat kepadanya. Demikianlah, sampai kapan pun, setelah itu, manusia tidak boleh dibiarkan kacau tanpa adanya imam. Ini menegaskan keijma’an kaum Muslimin dalam persoalan mengangkat Imam”.[8]

Lebih lanjut di dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah disebutkan bahwa kewajiban menegakkan imamah ini merupakan kewajiban kifayah,

وَهَذَا الْوُجُوْبُ وُجُوْبُ كِفَايَةٍ كَالْجِهَادِ وَنَحْوِهِ، فَإِذَا قَامَ بِهَا مَنْ هُوَ مِنْ أَهْلِهَا سَقَطَ الْحَرَجُ عَنِ الْكَافَّةَ، وَإِنْ لَمْ يَقُمْ بِهَا أَحَدٌ أَثِمَ مِنْ النَّاسِ فَرِيقَانِ : ۱. أَهْلُ الِاخْتِيَارِ وَهُمْ أَهْلُ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَوُجُوْهِ النَّاسِ حَتَّى يَخْتَارُوا إمَامًا لِلْأُمَّةِ .۲. أَهْلُ الْإِمَامَةِ وَهُمْ مَنْ تَتَوَفَّرُ فِيْهِمْ شُرُوْطُ اْلإِمَامَةِ إِلىَ أَنْ يُنْصَبَ أَحَدُهُمْ إِمَامًا.

“Kewajiban mengangkat seorang imam ini adalah kewajiban kifayah seperti halnya jihad dan sesamanya. Apabila ada seseorang yang melaksanakannya, maka beban dosa gugur dari seluruh umat Islam. Apabila tidak ada seorang pun yang melaksanakannya, maka dua golongan dari umat Islam yang menanggung dosa. Pertama, ahli memilih, yaitu ahlul halli wal ‘aqdi dari kalangan para ulama dan tokoh masyarakat, sampai mereka memilih seorang imam bagi umat. Kedua, ahli imamah, yaitu mereka yang memenuhi kriteria menjadi imam, sampai salah seorang di antara mereka diangkat sebagai imam.” Pernyataan ini dikutip dari Imam Al-Mawardi rahimahullah. [9]

Berkaitan dengan ungkapan Imam Al-Mawardi rahimahullah di atas tentang dua golongan dari umat Islam yang menanggung dosa, Syaikh Sa’id Hawwa rahimahullah berkata, “Yang benar adalah dosa tersebut dipikul oleh seluruh kaum muslimin. Sebab seluruh kaum muslimin menjadi sasaran perintah Allah, dan mereka berkewajiban menegakkannya.”[10]

Baca risalah selanjutnya: Khilafah (Bag. 5): Khilafah Bolehkah Berbilang?

Catatan Kaki:

[1] Pembahasan ini dikutip dan diringkas dari: http://www.istidlal.org, Dalil-dalil Syar’i Tentang Wajibnya Mendirikan Khilafah.

[2] Sampai disini kutipan dari http://www.istidlal.org

[3] Al Minhaj Syarh Shahîh Muslim, 12/ 205

[4] Fathul Bari, 12/205

[5] Abu Ya’la Al Farra’, Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hlm. 19

[6] Al Fashl fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal,   1/451. Mawqi’ Ruh Al Islam

[7] Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 8/273. Maktabah Misykah.

[8] Dikutip Sa’id Hawwa dalam Al-Islam, hal. 51.

[9] Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 6. Hal. 217. Pernyataan ini dikutip dari al-Imam al-Mawardi, dalam al-Ahkam al-Sulthaniyyah wa al-Wilayat al-Diniyyah, hal. 3, al-Imam Abu Ya’la al-Farra’ al-Hanbali, dalam al-Ahkam al-Sulthaniyyah, hal. 19, dan al-Imam al-Qalqasyandi, dalam Ma’atsir al-Inafah fi Ma’alim al-Khilafah, juz 1, hal. 30 (Ust. Idrus Ramli).

[10] Al-Islam, Sa’id Hawwa, hal. 69.

Advertisements

One thought on “Khilafah (Bag. 4): Dasar Kewajiban dan Hukum Menegakkan Khilafah/Imamah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s