Penduduk Mekah mengamati gerakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masyarakat, dan mereka menemukan jejak da’wahnya di tengah-tengah masyarakat Mekah pada masa da’wah siriyah. Hanya saja mereka menganggapnya sesuatu yang kecil, tidak menyentuh para pembesar dan penasehat, yang sering muncul setiap waktu di pasar-pasar Arab dan kampung-kampungnya, kemudian hilang. Karena itu pada awalnya, mereka tidak menganggap da’wah Nabi sebagai ancaman. Mereka meyakini bahwa para pengikut itu akan segera bubar dari Nabi akan pindah kembali ke agama mereka sampai akhir.

Perubahan dari Siriyah ke Jahriyah

Di sisi lain, da’wah Islam telah memiliki tokoh-tokoh yang beriman dan menjadi komunitas yang solid. Telah menjadi kebiasaan Nabi berkumpul dengan mereka untuk memberikan pengarahan dan pengajaran. Maka Nabi memilih rumah Al Arqam bin Abil Arqam, salah seorang terdepan dalam Islam sebagai tempat pertemuan, taujih dan shalat.

Rasulullah terus melakukan da’wah sirriyah sampai Allah izinkan untuk merubah caranya dari siriyah ke jahriyah, dari tersembunyi menjadi terbuka, mengumandangkannya agar semakin luas wilayahnya. Ketika itu Allah turunkan ayat yang mewajibkan Rasulullah melakukan hal ini.

فَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ (٢١٣) وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ (٢١٤) وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (٢١٥) فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ (٢١٦

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang- orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu Maka Katakanlah: ‘Sesungguhnya Aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan’” ( QS. Asy Syu’ara: 214-216 )

Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan perintah Rabbnya. Tsiqahnya (keyakinan) kepada Allah memenuhi dirinya dalam kebenaran dakwah yang dibawanya. Beliau naik bukit Shafa, menyerukan dengan lantang:“Wahai Bani Fihr… Wahai Bani ‘Adiy… “ suku Quraisy dipanggil semua sehingga mereka berkumpul. Dan yang tidak dapat hadir menyuruh utusan untuk mendengarkan berita yang hendak disampaikan. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara:

أرأيتم لو أخبرتكم أن خيلاً بالوادي تريد أن تغير عليكم أكنتم مصدقي ؟

“Bagaimana pendapat kalian jika saya sampaikan bahwa ada pasukan berkuda di lembah yang hendak menyerang kalian, apakah kalian membenarkannya? “

قالوا : نعم ! ما جربنا عليك إلا صدقاً

Mereka menjawab: “ Ya, kami tidak pernah membuktikan ucapanmu kecuali selalu benar.”

قال : فإني نذير لكم بين يدي عذاب شديد

Kata Nabi: “ Sesungguhnya kami memperingatkan kalian dari adzab yang berat. “

فقال أبو لهب : تباً لك ! ألهذا جمعتنا ؟

Abu Lahab berkata: “Celaka engkau! Hanya untuk urusan ini, engkau kumpulkan kami.”

Maka Allah turunkan dalam hal ini ayat yang berbunyi:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (١) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (٢)سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (٣) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (٤) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ

Makkah dan Penduduknya Pasca Dakwah Jahriyah

Rasulullah mulai berda’wah secara terbuka dengan tetap bertawakkal kepada Allah, menyampaikan di tengah-tengah umat manusia bahwa dirinya adalah pembawa peringatan bagi mereka dari azab hari kiamat. Berita ini tersebar luas setelah pertemuan di bukit Shafa. Warga Mekah baru menyadari bahwa masalahnya serius bukan main-main. Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terus berjalan dengan dakwahnya, yang mengimaninya juga terus bertambah dan siap berkorban fi sabilillah. Maka orang Quraisy mulai merasakan ancaman bahaya dari dakwah ini yang akan menghancurkan apa yang mereka dapati dari nenek moyangnya, penyembahan berhala. Mulai berubah tatanan yang sudah mapan antara tuan dan budak. Keluarga terbelah atas dasar iman dan kufur. Kebanggaan nasab dan kedudukan mulai luntur. Setelah peristiwa Shafa, Mekah mulai diliputi kewaspadaan dan goncangan, mulai berfikir menghadapi dakwah yang hampir menggeser tradisi dan warisan dari nenek moyangnya.

Mengapa Suku Quraisy Berdiri Melawan Dakwah Islam?

Pertama, Islam menyeru kepada perbaikan dan kesetaraan.

Sesungguhnya prinsip Islam yang Rasulullah ajarkan menghancurkan pilar-pilar masyarakat jahiliyah yang dibangun di atas kesukuan, membelah manusia berdasarkan kedudukan, keturunan, kekayaan dan upaya pemenuhan nafsu tanpa batas. Maka bagaimana mungkin kaum seperti ini mau meninggalkan hak-hak istimewa yang telah lama mereka rasakan dan menjadi pilar hidup serta tegaknya kekuasannya? Kaum Quraisy sangat takut dengan apapun yang baru meskipun itu benar. Mereka lebih senang dengan yang klasik yang diwarisi dari nenek moyangnya meskipun bathil (salah).

Kedua, ambisi kekuasaan.

Para pembesar dan pemuka Quraisy berdiri melawan da’wah Islam karena rasa hasad (iri) dalam dirinya sendiri. Karena merekalah orang yang paling berambisi untuk menjadi pemimpin, sehingga mereka buta dari kebenaran. Mereka tidak melihat Rasulullah, kecuali sosok yang akan mengambil sendiri seluruh kekuasaan. Dalam dugaan mereka bahwa dakwah adalah kekuatan yang memberikan kepada pembawanya ghanimah materi dan kekuasaan.

Ketiga, ajaran menyembah berhala memudahkan mereka melakukan keburukan.

Warga Makkah mengakui bahwa berhala mereka tidak mampu mendatangkan keuntungan atau menghindarkan bahaya. Berhala itu tidak akan menuntut mereka karena kesalahan yang mereka buat. Dari itulah mereka dapat melakukan apa yang mereka inginkan. Mereka menyadari jika beriman kepada Allah, maka mereka akan diperhitungkan apa yang telah mereka perbuat. Sehingga mereka menolak beriman dan meneruskan kufurnya untuk dapat menikmati kebebasannya dan kebahagiaan dengan berhalanya.

Keempat, mengimani akhirat mengharuskan beramal shalih dan mencegahnya dari perbuatan zalim.

Ayat-ayat tegas yang dibacakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetuk telinganya, mengingatkan mereka dari adzab Allah ketika mereka dihadapkan dengan perhitungan amal yang detail setelah kematian. Jika mereka beramal baik maka surga balasannya, dan jika beramal buruk maka neraka abadi telah menantinya.

Orang-orang Quraisy mengalami kebimbangan tentang kebangkitan, perhitungan dan surga, karena keterikatan mereka dengan kenikmatan sesaat hari ini. Adapun mengimani surga maka akan mengharuskan mereka beramal shalih, hati terus terjaga, usaha yang serius, hidup mulia. Sedang mereka ingin lepas dari semua tugas ini agar dapat melakukan maksiat, memenuhi syahwat, tanpa ada pengawas atau penghitung. Dari semua itulah mereka melakukan perlawanan keras dan penolakan terhadap da’wah tauhid, dendam kepada Rasul yang mulia dan para pengikutnya yang beriman.

Kelima, Quraisy di jalur permusuhan dan perlawanan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah dengan hikmah serta nasehat yang baik, berdialog dengan cara yang lebih baik, lembut dalam menampilkan Islam, mengungkap aib berhala dan keburukannya, sebagai pengamalan perintah Allah yang telah menurunkan ayat yang tegas, shabar dalam da’wah. Tidak mengungkit pemberiannya pada siapapun atau merasa telah banyak memberi. Tetapi ini semua tidak membuat para pembesar dan pemimpin merelakannya. Statusnya telah menggelapkan matanya, yang mereka lihat bahwa dakwah Muhammad adalah ancaman bagi kepentingannya.

Dari sinilah kaum Quraisy mulai meletakkan permusuhan dan perlawanan, anti kebenaran dan menyerang jalan yang lurus. Hatinya dipenuhi duri kebencian dan ketidaksukaan, untuk memuaskan egoisnya yang menjijikkan dan kesombongannya yang menyakitkan.

Berikutnya kita akan lihat tekanan kaum Quraisy atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengimaninya, dengan berbagai macam bentuk siksaan dan tekanan.

Pelajaran Berharga:

  1. Tidak diragukan lagi bahwa jahriyatud da’wah yang Rasulullah lakukan adalah perintah Allah, dan hal itu di zaman sekarang ini berpulang kepada kondisi yang meliputi dakwah dan para aktivisnya. Sehingga sangat berbeda-beda kerena perbedaan situasi, kondisi, dan tempat. Sedangkan orang yang lebih berhak didakwahi adalah kerabat dekat, secara keturunan (nasab), atau tempat tinggal, karena merekalah yang paling mengenal da’inya.
  2. Cara dan gaya dakwah bukan sesuatu yang tauqifi(paten dari Allah) seperti shalat. Maka tidak menjadi kewajiban para da’i hari ini untuk naik bukit kemudian memanggil kaumnya. Akan tetapi berbeda dari satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Para da’i berkewajiban menggunakan seluruh sarana yang memungkinkan untuk menyebarkan da’wahnya.
  3. Da’wah jahriyah hari ini adalah hukum aslinya. Sehingga semua orang dapat mendengar tentang Islam. Akan tetapi masih boleh siriyah di sebagian situasi yang mencekam atau gerakan yang menekan. Karena mereka yang mengintai Islam sangat banyak sekali, dakwah jahriyah lebih luas jangkauannya, meskipun da’wah fardiyah lebih fokus. Keduanya saling berkaitan dalam da’wah dan saling menyempurnakan. Prinsipnya tarbiyah (pembinaan) harus terus berlangsung di sepanjang waktu.
  4. Di tengah-tengah dakwah terbuka, seorang da’i harus memilih elemen-elemen yang bagus yang memiliki kesiapan untuk memikul beban dakwah. Karena mereka akan menjadi figur-figur da’wah setelah itu.
  5. Para da’i wajib bersikap tegas dalam dakwahnya, tidak basa-basi dalam kebenaran meskipun hal ini harus berhadapan dengan penderitaan fisik, atau materi.
  6. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kesesatan kaum musyrikin, menilai bodoh para pemimpinnya, mencela tuhan-tuhannya, maka kita juga harus tegas, maka tidak boleh menyebut riba dengan bunga, lacur dan jorok dengan seni, nifaq dengan sebutan diplomasi, dan seterusnya.
  7. Dakwah Islam adalah dakwah perbaikan dan kesetaraan untuk semua. Dakwah adalah pengorbanan bukan mengambil keuntungan, bukan untuk membelah ras, memperbudak manusia. Dakwah adalah pembebasan dari nafsu, mengajak beramal dan istiqamah. Karena itulah dakwah ini dilawan oleh para pemuas nafsu dan pemburu jabatan. Perhatikanlah bagaimana dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditolak oleh orang-orang Quraisy, padahal sebelumnya merekalah yang memberi gelar Ash Shadiq (yang benar) dan Al Amin (terpercaya) kepada Rasulullah sebelum masa kerasulan; mereka menerimanya sebagai hakim yang adil dalam meletakkan hajar aswad kembali ke tempat semula ketika renovasi ka’bah, tapi kemudian mereka memusuhinya. Sungguh kontras sekali sikap mereka ini.

Wallahu A’lam.

Baca risalah selanjutnya: Dakwah Jahriyah (Bag. 2)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s