Siapakah Abu Bakar?

Ia bernama Abdullah bin Abu Quhafah, Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib, al-Quraisy, at-Tamimi.

Abu Bakar bergelar ash-Shiddiq. Beliau dilahirkan 2 tahun 2 bulan setelah kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan meninggal dalam usia 63 tahun sebagaimana usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau adalah seorang tokoh Quraisy di masa Jahiliyah, orang yang selalu diminta nasehat dan pertimbangannya, sangat dicintai di kalangan mereka, sangat tahu kode etik yang ada pada kalangan mereka.

Assabiqunal Awwalun

Abu Bakar adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan laki-laki dewasa, Ali dari kalangan anak-anak dan Khadijah dari kalangan wanita.

Sebelum memeluk Islam, Abu Bakar pernah bermimpi melihat rembulan turun ke Makkah dan pecah. Kepingan-kepingannya menyebar masuk ke setiap rumah. Tidak ada satupun rumah yang tak dimasuki. Lalu kepingan-kepingan itu kembali menyatu, membentuk rembulan utuh, kemudian mendekati Abu Bakar dengan perlahan-lahan dan jatuh kepangkuannya. Seorang ahli kitab menta’wilkan mimpi itu bahwa ia adalah isyarat akan datangnya seorang nabi yang akan menaungi zamannya, dan Abu Bakar akan menjadi pengikut nabi tersebut.[1]

Disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang kesegeraan Abu Bakar dalam menyambut Islam, “Tak seorang pun yang aku ajak menuju Islam ia pasti mundur, berpikir dan ragu, kecuali Ibnu Abi Quhafah. Ia tidak berpikir panjang ataupun ragu saat aku sampaikan Islam kepadanya.”[2]

Abu Bakar pun aktif  mengenalkan Islam kepada orang-orang Quraisy secara sembunyi-sembunyi. Orang yang masuk Islam berkat jasa Abu Bakar diantaranya: Utsman bin Affan, Az-Zubair bin Al-Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Zubair. [3]

Keutamaan Abu Bakar

Pertama, pembebas para budak.

Pada masa awal-awal dakwah Islam kaum muslimin mendapat tekanan berat, terutama kaum lemah dan para budak. Beliaulah yang membebaskan Bilal bin Rabah saat ia disiksa oleh Umayyah Ibn Khalaf karena keislamannya.

Selain Bilal, budak yang dibebaskan Abu Bakar adalah: Amr Ibn Fahirah, Ummu Ubais (sahaya milik Tayim Ibn Marrah), dan Zanirah (sahaya Bani Abdi Dar); kemudian Nahdiah beserta putrinya, yang kerap disiksa selama menjadi budak Bani Abdi Dar. Hayy, perempuan dari Bani Adi  yang sering disiksa Umar bin Khattab ketika masih musyrik, juga dibebaskan oleh Abu Bakar.

Tindakan Abu Bakar ini disayangkan oleh ayahnya, Abu Quhafah, “Bukankah sebaiknya kau membebaskan budak-budak yang kuat, kemudian kau jadikan penjagamu?”

“Ayah, aku melakukan ini semata-mata karena Allah,” jawab Abu Bakar dengan lembut.

Kedua, menghadapi tekanan dakwah dengan sabar.

Tekanan dakwah yang keras menyebabkan kaum muslimin merasakan kesempitan, tidak terkecuali Abu Bakar, sampai-sampai ia pernah meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk hijrah. Rasul mengizinkan. Di tengah jalan ia bertemu dengan Ibn Dughunnah pemimpin kelompok Ahabisy yang telah membuat perjanjian damai dengan Quraisy. Ketika mengetahui perihal Abu Bakar, Ibnu Dughnah segera menawarkan jaminan keamanan. Dengan begitu orang Quraisy tidak dapat mengganggunya. Abu Bakar pun menerimanya.

Didepan rumahnya  di tengah-tengah Bani Jumah, Abu Bakar memiliki bangunan di depan rumahnya yang digunakan untuk shalat dan membaca Al-Qur’an. Hal itu menarik perhatian anak-anak, para budak, kaum perempuan yang lewat; mereka selama beberapa hari merasa senang berkumpul dan mendengarkannya. Hal ini diadukan orang-orang Quraisy kepada Ibnu Dughunnah, dan akhirnya Abu Bakar melepaskan jaminan keamanan darinya.

Tak lama kemudian orang-orang Quraisy mendatangi Abu Bakar, dan menaburi kepala Abu Bakar dengan pasir.

Ketiga, keimanan yang teguh.

Salah satu contohnya: Perhatikanlah bagaimana ia menyikapi hasil Perjanjian Hudaibiyah; di kala para sahabat tidak rela karena dianggap hal itu akan merugikan, Abu Bakar adalah satu-satunya sahabat yang memercayai dan mendukung keputusan Rasulullah.

Saat semua sahabat kebingungan di hari wafatnya Rasulullah, maka Abu Bakarlah yang dengan lantang berkata: “Barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah mati. Barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah Mahahidup tidak akan mati. Allah berfirman: ‘Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.’”

Keempat, ilmu dan pengetahuannya luas.

Perkataannya yang terkenal yang menunjukkan keteguhan dan keluasan ilmunya adalah, “Demi Allah, akau akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat. Demi Allah, kalau sekiranya mereka tidak mau memberikan anak kambing yang mereka berikan kepada Rasulullah, maka pasti aku akan memerangi mereka karena penolakan mereka.”[4]

Syeikh Abu Ishaq menjadikan perkataan Abu Bakar di atas sebagai bukti bahwa Abu Bakar adalah sahabat yang paling tahu agama karena semua sahabat saat itu tidak memahami hukum masalah tersebut. Setelah Abu Bakar menjelaskan, akhirnya mereka menyadari bahwa pendapat Abu Bakar yang benar sehingga mereka pun mengambil pendapat Abu Bakar.

Ketika para sahabat kebingungan dimana harus menguburkan jasad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar mengetahuinya, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Ketika seorang Nabi meninggal, ia dikuburkan di bawah pembaringan terakhir tempat tinggalnya.’”

Ketika para sahabat berbeda pendapat tentang harta pusaka peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada seorangpun yang mengetahu jawabannya. Kemudian Abu Bakar menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kami adalah para nabi tidak mewariskan, dan harta pusaka kami adalah sedekah.”[5]

Ibnu Katsir berkata: “Abu Bakar As-Shidiq adalah sahabat yang paling memahami Al-Qur’an, karena Nabi memercayainya untuk menjadi imam shalat bersama para sahabat lainnya ketika beliau sakit, sedangkan Nabi pernah bersabda, ‘Orang yang mengimami kaum haruslah orang yang paling memahami (aqra’uhum) Al-Qur’an.’”[6]

Contoh begitu dalamnya pengetahuan/pemahaman Abu Bakar terhadap Al-Qur’an tergambar dari berita yang diriwayatkan dari Al-Aswad Ibn Hilal bahwa Abu Bakar bertanya kepada para sahabatnya: “Bagaimana pendapat kalian tentang dua ayat ini: ‘Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Allah Tuhan kami’ kemudian mereka istiqamah’ (QS. Fushilat: 30) dan ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkan keimanan dengan kezaliman, mereka mendapatkan keamanan dan mereka mendapatkan petunjuk’ (QS. Al-An’am: 82)?’, Para sahabat berkata: “Mereka senantiasa istiqamah, tidak berbuat dosa, dan tidak mencampurkan keimanan dengan kebatilan.” Abu Bakar berkata, “Kalian menyampaikan pemahaman yang tidak sesuai.” Lalu ia mengungkapkan tafsir ayat itu, “Mereka mengatakan Tuhan kami Allah kemudian mereka istiqamah tidak berpaling kepada tuhan-tuhan lainnya, dan tidak mencampurkan keimanan mereka dengan syirik.”[7]

Kelima, zuhud terhadap dunia

Abu Bakar tidak meninggalkan harta pusaka, walaupun hanya satu dirham atau satu dinar. Sebelum wafat ia telah menyerahkan seluruh hartanya ke Baitul Mal.[8]

Mu’awwiyah berkata: “Sesungguhnya dunia tidak pernah menginginkan Abu bakar dan ia pun tidak pernah menginginkannya. Dunia menginginkan Umar, namun ia tidak menginginkannya.”[9]

Diriwayatkan bahwa pada masa Nabi, ketika beliau berkhutbah pada hari Jum’at, datang sekelompok pedagang ke Madinah. Para sahabat berlarian menyambut rombongan itu sehingga yang tersisa di hadapan Nabi hanya 12 orang. Pada saat itu turunlah QS Al-Jumu’ah ayat 11. Abu Bakar dan Umar termasuk 12 orang yang bertahan mendengar khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[10]

Keenam, takut kepada allah.

Ia pernah berkata: “Demi Allah, aku sangat suka seandainya aku diciptakan sebagai pohon, yang dimakan dan ditebang.”[11] Saking takutnya kepada Allah, ketika shalat, ia berdiri bagaikan tiang yang tegap tak tergoyahkan karena khusyuk.[12]

Abu Bakar pernah berusaha memuntahkan makanan dari dalam perutnya dengan cara memasukkan jari-jarinya ke kerongkongannya, ketika mengetahui bahwa makanan pemberian yang baru saja dimakannya adalah berasal dari hasil menjampi (ruqyah) yang tidak sesuai syariat. Ketika ditanya, “Engkau melakukan itu hanya untuk mengeluarkan sedikit makanan yang kau makan?” Abu Bakar menjawab, “Ketahuilah, seandainya aku mesti mati agar dapat memuntahkan makanan itu, aku akan berusaha memuntahkannya, karena aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Setiap jasad yang tumbuh karena makanan yang haram maka neraka layak menjadi tempat kembalinya.’ Aku takut jika dalam tubuhku ada daging yang berasal dari sejumput makanan ini.”[13]

Ketujuh, berpegang teguh kepada al-qur’an.

Jika ada satu permasalahan yang diajukan kepada Abu Bakar dan dia tidak mendapatkan di dalam Kitab Allah dan Sunnah, Abu Bakar akan mengatakan, “Aku akan berijtihad dengan menggunakan kemampuan akalku. Apabila hal itu benar maka itu dari Allah, jika salah, maka itu berasal dari kelemahanku dan aku memohon ampun kepada Allah.”[14]

Kedelapan, fasih.

Ibnu Katsir berkata, “Abu Bakar adalah orang yang paling fasih bahasanya dan paling piawai berkhutbah. Zubair bin Bakkar berkata, ‘Aku mendengar seorang ulama berkata, ‘Orang yang paling fasih dalam berkhutbah di antara para sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam adalah Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib.’”

Kesembilan, pemimpin yang amanah.

Abu Bakar memahami bahwa kepemimpinan sejatinya adalah amanah. Kepemimpinan bukanlah kekuatan yang mendorong dirinya untuk bertindak sesuka hati. Kepemimpinan baginya adalah tugas berat agar ia mampu menegakkan keadilan dan kebenaran serta menghapuskan berbagai kemudharatan dan kemaksiatan. Hal ini tergambar dalam pidatonya sesaat setelah dibai’at menjadi khalifah,

“Wahai umat Islam! Sesungguhnya aku telah dipilih untuk memimpin kalian, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Jika aku melakukan sesuatu yang baik, bantulah aku. Jika aku melakukan perbuatan yang menyimpang maka luruskanlah aku! Sebab kejujuran adalah amanah, sedangkan kebohongan adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian itu kuat dalam pandanganku. Aku akan penuhi hak-haknya, insya Allah. Sedangkan orang yang kuat di antara kalian itu lemah di hadapanku. Aku akan tuntut kewajibannya, insya Allah. Ketika suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah maka Allah pasti akan menghinakan mereka. Setiap kali kemaksiatan merajalela di tengah suatu kaum, Allah pasti menimpakan malapetaka kepada mereka. Taatlah kalian kepadaku selama aku taat kepada Allah dan rasul-Nya. Jika aku melakukan kemaksiatan kepada Allah dan rasul-Nya maka tidak ada kewajiban taat kalian kepadaku…”[15]

Kesepuluh, peduli umat.

Abu bakar memiliki  Baitul Mal di Sanah, sebuah tempat di pinggiran Kota Madinah. Dari Baitul Mal inilah Abu Bakar pernah membagikan harta untuk rakyatnya yang fakir miskin dengan pembagian yang merata. Dia membeli unta, kuda, dan senjata untuk kepentingan jihad di jalan Allah. Dia juga membeli karpet yang dibawa orang-orang Badui dan dia bagikan kepada janda-janda yang ada di Madinah. Ketika Abu Bakar wafat dan telah dimakamkan, Umar memanggil orang-orang kepercayaannya, diantaranya Abdurahman bin Auf dan Utsman bin Affan. Mereka masuk ke Baitul Mal milik Abu Bakar dan membukanya, namun mereka tidak mendapatkan satu dinar atau dirham pun di dalamnya.

Catatan Kaki:

[1] Lihat: Abu Bakr, Dr. Musthafa Murad, hal. 26

[2] As-Sirah an-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 1/252

[3] Lihat: Abu Bakr, Dr. Musthafa Murad, hal. 27

[4] An-Nawawi dalam kitab At-Tahdzib

[5] Diriwayatkan Abu al-Qasim al-Baghawi dan Abu Bakr al-syafi’i dalam Fawa’id-nya.

[6] Al-Suyuthi, Tarikhul Khulafa’ hal. 36.

[7] Abu Nu’aim, al-Hilyah.

[8] Riwayat Sa’id Ibn Manshur.

[9] HR. Ahmad, Bab Zuhud, Hal. 140.

[10] Lihat, Ibid, hal. 136.

[11] Thabaqat Ibn Sa’ad, Jilid 3 dan diriwayatkan oleh Ahmad dalam Bab Zuhud.

[12] Ibid.

[13] Lihat: HR. Bukhari dan Ahmad

[14] Ibnu Sa’ad dari Ibnu Sirin

[15] Lihat: Ibnu Ishaq dalam kitab As-Sirah dari Az-Zuhri dari Anas bin Malik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s