Patut disadari, tujuan mempelajari sirah Nabi bukanlah hanya untuk mengetahui rangkaian peristiwa dan memetik pelajaran dalam kejadian penting. Tujuan terpenting dari studi sirah adalah agar setiap muslim dapat melihat potret agama Islam secara utuh dalam sosok teladan terbaik: Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tujuan Studi Sirah

Pertama, memahami kepribadian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui napak tilas kehidupan yang beliau lalui.

Kedua, agar setiap orang dapat menemukan sosok suritauladan paling luhur.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (Al-Ahzab: 21)

Ketiga, agar semakin mudah memahami Al-Qur’an, sekaligus merasakan spirit yang dibawanya.

Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari.  Sebagian ayat Al-Qur’an turun berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan beliau dengan para sahabatnya. Salah satu hikmahnya adalah yang demikian itu lebih membekas dalam hati para sahabat karena merupakan pengalaman. Kita sendiri yang mengkaji dan mentadabburi Al-Qur’an beserta sirahnya akan dapat merasakan spirit dan memahami secara kontekstual.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

“Berkatalah orang-orang yang kafir: ‘Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).’” (Al-Furqan: 32)

Salah satu contoh tentang kebertahapan turunnya Al-Qur’an dihubungkan dengan konteks kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berikut ini.

إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنْ الْمُفَصَّلِ فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الْإِسْلَامِ نَزَلَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ لَا تَشْرَبُوا الْخَمْرَ لَقَالُوا لَا نَدَعُ الْخَمْرَ أَبَدًا وَلَوْ نَزَلَ لَا تَزْنُوا لَقَالُوا لَا نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا لَقَدْ نَزَلَ بِمَكَّةَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِّي لَجَارِيَةٌ أَلْعَبُ بَلْ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ وَمَا نَزَلَتْ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَالنِّسَاءِ إِلَّا وَأَنَا عِنْدَهُ

“Sesungguhnya yang pertama-tama kali turun darinya (Al-Qur’an) adalah surat Al-Mufashshal yang di dalamnya disebutkan tentang surga dan neraka. Dan ketika manusia telah condong ke Islam, maka turunlah kemudian ayat-ayat tentang halal dan haram. Sekiranya yang pertama kali turun adalah ayat, ‘Janganlah kalian minum khamer.’ Niscaya mereka akan mengatakan, ‘Sekali-kali kami tidak akan bisa meninggalkan khamer selama-lamanya.’ Dan sekiranya juga yang pertamakali turun adalah ayat, “Janganlah kalian berzina..’ niscaya mereka akan berkomentar, ‘Kami tidak akan meniggalkan zina selama-lamanya.’ Ayat yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Makkah yang pada saat itu aku masih anak-anak adalah: ‘Bal As Saa’atu Mau’iduhum Was Saa’atu Adhaa Wa Amarr.(QS. Al-Qamar: 46).’ Dan tidaklah surat Al Baqarah dan An Nisa` kecuali aku berada di sisi beliau.” (HR. Bukhari).

Riwayat di atas memberikan informasi kepada kita tentang karakter surat-surat Al-Qur’an yang turun pada periode Makkah dan periode Madinah. Di dalamnya terkandung pelajaran berharga diantaranya berkaitan dengan fiqhud da’wah dan fiqhul ahkam.

Keempat, agar setiap muslim dapat menghimpun sebanyak mungkin manfaat yang terkandung di dalam peradaban dan ajaran Islam, baik yang menyangkut akidah, hukum, maupun akhlak; karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah potret paling nyata yang menghimpun semua prinsip ajaran Islam.

Kelima, agar setiap da’i dan guru dapat menerapkan berbagai metode pendidikan dan pengajaran yang diterapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Penulisan Sirah

Penulisan riwayat hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sejarah peperangan (maghazi) baru dilakukan setelah penulisan sunah. Namun, sebelumnya para sahabat tetap memberikan perhatian untuk melestarikan sirah dan maghazi secara lisan.

Diduga kuat orang pertama yang melakukan penulisan sirah dan maghazi adalah:

  1. Urwah ibn Zubair (wafat 92 H)
  2. Abban ibn Utsman (wafat 105 H)
  3. Wahb bin Munabbih (wafat 110 H)
  4. Syarhabil ibn Sa’ad (wafat 123 H)
  5. Ibnu Syihab Az-Zuhri (wafat 124 H)

Sayangnya tulisan yang disusun kelima orang tersebut telah musnah, yang sampai kepada kita hanya berupa kutipan-kutipan yang berserakan. Konon tulisan karya salah seorang dari mereka, yaitu tulisan Wahb ibn Munabbih, sekarang tersimpan di museum Kota Heidelberg Jerman.

Berikutnya, tercatat Muhammad Ibn Ishaq (wafat 152 H), sebagai orang yang berhasil menghimpun catatan-catatan dari generasi sebelumnya dengan judul Al-Maghazi.

Meskipun kitab Al-Maghazi tersebut tidak sampai kepada kita, namun periwayatan dari kitab tersebut yang diperbaiki oleh Ibnu Hisyam (Muhammad Abdul Malik) telah sampai kepada kita, yang dikenal dengan nama kitab: Sirah Ibn Hisyam.

Sumber-sumber Penulisan Sirah

  1. Al-Qur’an
  2. Kitab-kitab hadits:
    • Shahih Bukhari dihimpun oleh Imam Bukhari
    • Shahih Muslim dihimpun oleh Imam Muslim
    • Sunan an-Nasa’i atau disebut juga As-Sunan As-Sughra dihimpun oleh Imam Nasa’i
    • Sunan Abu Dawud dihimpun oleh Imam Abu Dawud
    • Sunan at-Tirmidzi dihimpun oleh Imam Tirmidzi
    • Sunan ibnu Majah dihimpun oleh Imam Ibnu Majah
    • Muwaththa Imam Malik
    • Musnad Imam Ahmad
    • Para Perawi (periwayat hadits)

Metode Penulisan Sirah

Aliran Objektif yang menampilkan sirahdengan menggunakan metode ilmiah yang tertuang dalam ilmu musthalahul hadits, terutama yang berkaitan dengan sanad dan matan, serta ilmu jarh wat ta’dil yang berkaitan dengan perawi, meliputi otobiografi dan catatan kepribadian mereka masing-masing.

Aliran Individualis yang lahir pada abad 19, menampilkan sirah dengan memasukkan tendensi pribadi, ideologi, keyakinan, atau pandangan politik. Mereka mengabaikan metode ilmiah yang sangat dijungjung aliran objektif dengan alasan ‘metode ilmiah’ menurut persepsi Barat.

Bagaimana Seharusnya Mempelajari Sirah?

Mempelajari sirah mengharuskan kita mempelajari seluruh aspek kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mulai dari kelahiran, akhlak, kehidupan rumah tangga, kesabaran, perjuangan, perdamaian yang dilakukan, peperangan yang dipimpin, sikap terhadap sahabat-sahabatnya, perlakuannya terhadap musuh, serta sikapnya di hadapan gemerlap dan pesona dunia.

Untuk meraih kebenaran, kecermatan, pergunakanlah metode obyektif yang dibangun di atas metode ilmiah yang menuntut diterapkannya prinsip-prinsip penentuan riwayat, sanad, syarat keshahihan, dan sebagainya.

Wallahu A’lam…

Ingin tahu Sirah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sejak lahir hingga wafat dalam 10 Menit? Silahkan baca: Timeline Sejarah Perjuangan Muhammad Rasulullah.

Advertisements

2 thoughts on “Mukadimah Sirah Nabawiyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s