Tafsir Ayat ‘9 Naga’ Kota Hijr

Padang Pasir

Pertarungan antara al-haq dan al-batil adalah sunnatullah dalam kehidupan manusia di sepanjang sejarahnya. Al-Haq dan al-batil akan selalu bergumul di setiap waktu dan tempat dengan pelaku yang berbeda-beda di setiap zaman.

Juga merupakan sunnatullah, bahwasanya al-haq pasti akan menghancurkan al-batil.  Oleh karena itu, seorang muslim harus memastikan dirinya selalu bersama dengan al-haq (kebenaran), agar memperoleh keselamatan dan kemenangan di dunia dan akhirat.

Salah satu rangkaian ayat Al-Qur’an yang mengisahkan pertarungan al-haq dan al-batil adalah surat An-Naml ayat 48 – 53. Di dalamnya diceritakan penentangan al-batil di Kota Hijr yang dilakukan oleh ‘9 naga’ Kaum Tsamud terhadap al-haq yang dimotori Nabi Saleh ‘alaihis salam.[1]

Ayat 48:

وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

“Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.”

Ayat ini menerangkan sebab-sebab banyaknya timbul kebinasaan di dalam negeri mereka, yaitu di dalam kota Hijr itu terdapat sembilan orang yang suka berbuat kekacauan dalam masyarakat. Mereka yang sembilan orang itu berasal dari anak-anak orang bangsawan yang berkuasa di negeri itu. Segala perbuatan apapun baik atau buruk dapat mereka lakukan dengan leluasa, tidak seorangpun dapat menghalanginya, karena perbuatan-perbuatan jahat yang mereka lakukan itu selalu dilindungi dan dibela oleh orang-orang tua mereka yang berkuasa di negeri itu, sehingga orang yang sembilan itu menjadi sumber perbuatan buruk dan angkara murka.

Ada beberapa riwayat yang menerangkan nama-nama dari orang yang sembilan itu, seperti yang diterangkan oleh Al Gaznawi, Ibnu Ishaq, Zamakhsyari, Mawardi dan sebagainya; masing-masing mereka mengemukakan nama-nama yang berbeda-beda. Tetapi yang penting dari semuanya itu ialah bahwa kerusakan dan perbuatan dosa yang dilakukan oleh penjahat-penjahat yang sembilan itu di negeri Tsamud diketahui dan direstui oleh pembesar-pembesar negeri itu.

Orang yang sembilan ini, oleh karena mereka berasal dari kaum bangsawan yang berkuasa di negeri itu, maka pengaruh mereka amat besar kepada kaum Tsamud.

Ayat 49:

قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ

Mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar”.

Ayat ini menerangkan perbuatan makar yang sedang dirundingkan oleh orang-orang sembilan itu, setelah mereka melakukan perbuatan terlarang dengan membunuh unta yang dilarang oleh Saleh untuk dibunuh. Mereka menerima ancaman dari Saleh bahwa mereka akan dibinasakan Allah dalam waktu tiga hari setelah mereka membunuh unta itu.

Di antara mereka ada yang berkata: “Marilah kita semua bersumpah dengan sungguh-sungguh bahwa kita akan membunuh Saleh dengan pengikut-pengikutnya, pada suatu malam, kemudian kita katakan kepada keluarganya yang terbunuh itu esok harinya, bahwa kita tidak tahu menahu tentang peristiwa itu, dan mustahil kita melakukan perbuatan aniaya terhadap keluarga sendiri, dan kita katakan kepadanya bahwa kita semua adalah orang-orang yang benar.”

Ayat 50:

وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

“Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.”

Allah SWT memperingatkan kepada kaum Muslimin bahwa demikianlah rencana perbuatan makar dan tipu daya yang dibuat oleh kaum Tsamud untuk membunuh Saleh dan orang-orang yang beriman besertanya. Tetapi mereka lupa bahwa Allah SWT mempunyai rencana dan kehendak yang tidak dapat mereka halangi sedikitpun, sesuai dengan sunah Nya, yaitu Dia akan menimpakan azab dan siksa kepada orang-orang yang mengingkari seruan para Rasul yang diutus Nya. Di dunia mereka akan ditimpa malapetaka yang datang tanpa mereka sadari, sedang di akhirat nanti mereka akan menemui azab yang pedih.

Ayat 51:

فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ

“Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya.”

Ayat ini menyuruh kaum Muslimin agar memikirkan kisah Saleh dan kaumnya. Kepada kaum Saleh ini ditimpakan Tuhan azab yang menghancurkan mereka sampai akar-akarnya (azab isti’sal), akibat kedurhakaan mereka kepada Saleh dan akibat tipu daya mereka hendak membinasakan Saleh dan orang-orang yang beriman besertanya. Mereka dibinasakan Allah dengan sambaran petir yang dahsyat yang tiada terkirakan. Sesuai dengan Sunatullah, maka malapetaka dan azab itu akan ditimpakan pula kepada orang-orang musyrik Mekah, seandainya mereka tetap ingkar dan menentang seruan Nabi Muhammad saw.

Ada riwayat menerangkan bahwa Nabi Saleh as membuat suatu mesjid di Al Hijr yang dibuat di suatu lembah. Beliau biasa mengerjakan salat di mesjid itu. Setelah ia menyampaikan ancaman Allah, maka beliau dan keluarganya beserta orang-orang yang beriman dengannya pergi ke mesjid itu. Karena kepergiannya itu kaumnya berunding dan memutuskan untuk membunuh Saleh sebelum hari yang ketiga dan hari yang dijanjikan Saleh itu. Maka pergilah beberapa orang kaumnya ke lembah mesjid untuk melaksanakan rencana itu. Tetapi mereka telah ditimpa batu besar dalam perjalanan sebelum sempat melaksanakan maksudnya itu, dan kaumnya yang lain dibinasakan Allah dengan sambaran petir. Saleh dan pengikut-pengikutnya terlepas dan selamat dari azab itu.

Ayat 52:

فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui.”

Ayat ini menerangkan akibat yang dialami oleh kaum Tsamud dan negeri mereka. Karena sambaran petir yang dahsyat itu, mereka kaum Tsamud mati di rumah-rumah mereka, tidak seorangpun yang dapat menyelamatkan diri dan merawat bangkai-bangkai mereka, karena semuanya telah mati. Bangkai-bangkai itu membusuk dan lebur bersama tanah, dan rumah-rumah dan negeri-negeri mereka telah dapat disaksikan oleh para musafir, sebagai dokumentasi atas kebenaran cerita Al Qurun tentang kaum Tsamud yang telah dihancurkan Nya itu akibat keingkaran dan kedurhakaan mereka kepada Nabi Saleh yang menyeru mereka kepada agama Allah.

Dalam kisah yang diterangkan Allah SWT pada ayat-ayat ini yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw kepada kaumnya, benar-benar terdapat pengajaran dan i’tibar bagi manusia. Ayat ini mengingatkan sunnatullah yang pasti berlaku bagi orang-orang yang mengingkari perintah-perintah Allah dan yang senantiasa mengerjakan larangan Nya termasuk di dalamnya kaum musyrikin Quraisy.

Ayat 53:

وَأَنْجَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa.”

Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Saleh dan orang-orang yang beriman bersamanya dari malapetaka yang besar itu, Allah SWT menyelamatkan mereka itu adalah karena mereka tidak rnau mengerjakan perbuatan-perbuatan yang menimbulkan kemarahan Allah yang mengakibatkan mereka ditimpa siksa Allah, dan mereka memelihara diri mereka dari kemurkaan Allah itu dengan mengerjakan semua perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Nya.

Ayat ini mengisyaratkan kepada Nabi Muhammad saw dan orang-orang yang beriman bahwa orang-orang musyrik Mekah akan menerima azab dan malapetaka seperti yang diterima oleh umat-umat dahulu seandainya mereka tetap tidak beriman. Dan Allah akan menyelamatkan Muhammad beserta orang-orang yang beriman, sebagaimana Dia telah menyelamatkan Nabi Saleh dan kaumnya. Dan sebagai telah disebutkan di atas, orang-orang musyrikin Quraisy yang tetap dalam kemusyrikannya telah dihancurkan Tuhan.

Setelah kehancuran kaumnya, maka Nabi Saleh dan orang-orang yang beriman besertanya pergi ke suatu tempat yang bernama Ramallah di Palestina, dan menetap di negeri itu. Dan sampai sekarang masih terdapat kuburan Nabi Saleh di dekat kota Ramallah itu, kuburan ini juga adalah merupakan dokumentasi bagi peristiwa Nabi Saleh dan kaumnya.

Kesimpulan pelajaran dari ayat ini:

  1. Sunnatullah bahwa akan selalu ada di setiap negeri di zaman manapun orang-orang yang senang berbuat kerusakan. Di ayat lain Allah SWT menggambarkannya dengan ungkapan:“Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.” (QS. Al-An’am: 123)
  2. Orang-orang jahat ini selalu melakukan berbagai macam makar untuk memadamkan cahaya al-haq, namun ketahuilah mereka tidak akan pernah berhasil melakukannya, karena makar mereka akan selalu digagalkan oleh makar Allah SWT.
  3. Jika ingin selamat, seseorang hendaknya selalu bersama kebenaran dan bersabar di dalamnya.

Wallahu A’lam.

 

 

[1] Penjelasan rangkaian ayat-ayat ini kami kutip seluruhnya dari Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu, Depag RI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s