Syarah Hadits Kedelapan Belas: Bertaqwa di Mana Saja dan Berakhlak Baik kepada Manusia (Bag. 4)

smile

Selanjutnya:

وَخَالِقِ النَّاسَ :  dan berakhlaklah dengan manusia

Yaitu bergaul, berinteraksi, dan bermuamalah dengan manusia mana pun, terlebih lagi umat Islam.

Syaikh Abul ‘Ala Muhamamd Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarkafuri mengatakan:

أي خالطهم وعاملهم

                Yaitu membaurlah dengan mereka dan bergaul/berurusan dengan mereka. (Tuhfah Al Ahwadzi, 6/123. Cet. 3, 1963M-1383H. Maktabah As Salafiyah, Madinah Al Munawarah)

                Bergaul dan membaur dengan manusia, dan bertahan terhadap fitnah (kerusakan) yang ada pada mereka,  adalah lebih utama dibanding ‘uzlah (memisahjkan diri).

Imam An Nawawi menjelaskan:

اعْلم أنَّ الاختلاط بالنَّاسِ عَلَى الوجهِ الَّذِي ذَكَرْتُهُ هُوَ المختارُ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وسائر الأنبياء صلواتُ البِرِّ وَالتَّقْوَى } [ المائدة : 20 ] والآيات في معنى مَا ذكرته كثيرة معلواللهِ وسلامه عَلَيْهِمْ ، وكذلك الخُلفاءُ الرَّاشدون ، ومن بعدَهُم مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ ، ومن بَعدَهُم من عُلَماءِ المُسلمين وأَخْيَارِهم ، وَهُوَ مَذْهَبُ أكثَرِ التَّابِعينَ وَمَنْ بَعدَهُمْ ، وبه قَالَ الشافعيُّ وأحمدُ وأكثَرُ الفقهاءِ  رضي اللهُ عنهم أجمعين. قَالَ اللهُ تَعَالَى: { وَتَعَاوَنُوا عَلَى مة .

Ketahuilah, bahwa membaur dengan manusia dengan cara seperti yang telah saya sebutkan, adalah sika pilihan yang di atasnya Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada, juga semua para Nabi Shalawatullah wa salamuhu ‘Alaihim, demikian juga para khulafa’ur rasyidin, dan yang setelah mereka dari kalangan sahabat dan tabi’in, dan yang setelah mereka dari kelompok ulama Islam dan manusia-manusia terbaik mereka, dan inilah madzhab mayoritas tabi’in dan manusia  setelah mereka. Inilah pendapat Asy Syafi’i, Ahmad, dan mayoritas fuqaha Radhiallahu ‘Anhum ajma’in. Allah Ta’ala berifirman: “Saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan.” (QS. Al Maidah (5): 20). Dan ayat-ayat yang semakna sebagaimana yang telah saya sebutkan banyak jumlahnya dan terkenal. (Lihat Riyadhushshalihin Hal. 210. Cet. 3. 1998M – 1419H. Muasasah Ar Risalah. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al Arna’uth)

Disamping itu, dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

و خير الناس أنفعهم للناس

“Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR.  Al Qudha’i dalam Musnad Asy Syihab No. 1234,  Ath Thabarani dalam Al Awsath No. 5787, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 43065. Syaikh Al Albani menyatakan: Hasan shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 426. Darul Ma’arif. Dihasankan pula dalam Shahih Kunuz As Sunnah An Nabawiyah, Bab Khiyarukum No. 4, disusun oleh Syaikh Baari’ ‘Irfan Taufiq)

                Maka, bagaimana mungkin menjadi manusia bermanfaat jika tidak berinteraksi dengan manusia lainnya?

                Selanjutnya:

بِخُلُقٍ حَسَنٍ : dengan akhlak yang baik

Yaitu dengan akhlak yang mulia, dan yang menjadi standarnya adalah Al Quran dan As Sunnah.

Ta’rif (definisi) Akhlak

Secara bahasa (lughatan): Akhlaq adalah jamak dari Al khuluq, yang berarti:

وهو الدِّين والطبْع والسجية

                “Yaitu ad din (agama), tabiat, dan perangai.” (Ibnu Manzhur Al Mishri, Lisanul ‘Arab, 10/85)

وقالَ ابنُ الأعْرابِيِّ : الخُلُقُ : المُرُوءةُ

          “Berkata Ibnul A’rabi: Al Khuluq artinya muru’ah (kepribadian/citra diri yang baik).” (Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazaq Al Hasani,  Tajjul ‘Arusy, Hal. 6292)

Sedangkan, makna secara istilah (ishtilahan), adalah:

وحقيقته أَنه لِصورة الإِنسان الباطنة وهي نفْسه وأَوصافها ومعانيها المختصةُ بِها بمنزلة الخَلْق لصورته الظاهرة وأَوصافها ومعانيها ولهما أَوصاف حسَنة وقبيحة والثوابُ والعقاب يتعلّقان بأَوصاف الصورة الباطنة أَكثر مما يتعلقان بأَوصاف الصورة الظاهرة

“Hakikatnya (akhlak) adalah gambaran batin manusia, yakni jiwanya, sifat-sifatnya, dan makna-maknanya yang spesifik, yang dengannya terlihat  kedudukan makhluk, lantaran gambarannya secara zahir, baik sifat-sifatnya dan makna-maknanya, dan keduanya memeliki sifat yang baik atau buruk, mendapat pahala dan sanksi, yang kaitan keduanya dengan sifat-sifat yang tergambar secara batin adalah lebih banyak, dibanding apa-apa yang yang terkait dengan gambaran zahirnya.” (Ibid, lihat juga Tajjul ‘Arusy, Hal. 6292)  

Sementara itu, Hujjatul Islam Imam Al Ghazali, mendefinisikan akhlak yang baik sebagai berikut:

وإنما الأخلاق الجميلة يراد بها العلم والعقل والعفة والشجاعة والتقوى والكرم وسائر خلال الخير، وشيء من هذه الصفات لا يدرك بالحواس الخمس بل يدرك بنور البصيرة الباطنة

“Sesungguhnya, yang dimaksudkan dengan akhlak yang indah adalah ilmu, akal, ‘iffah (rasa malu berbuat dosa), keberanian, taqwa, kemuliaan, dan semua perkara yang baik, dan semua sifat-sifat ini tidak hanya ditampilkan oleh panca indera yang lima, tetapi juga oleh cahaya mata hati dan batin.” (Ihya ‘Ulumuddin, 3/393)

                Sedangkan Ibnu Maskawaih berkata tentang akhlak:

الخلق حال للنفس داعية لها إلى أفعالها من غير فكر ولا روية  

“Akhlak adalah kondisi bagi jiwa yang mengajak segala perbuatan kepadanya dengan tanpa dipikirkan, dan tanpa ditimbang-timbang.” (Ibnu Maskawaih, Tahdzibul Akhlaq, hal. 10)

                Demikian makna akhlak yang diterangkan para ulama dan ahli bahasa. Semua pembicaraan tentang akhlak bermuara pada kondisi jiwa manusia yang ditampakkan oleh perbuatan mereka, yang didasarkan oleh pemahaman agama, Al Quran, dan ketaqwaan.

  1. Kata Akhlak dalam Al Quran

                Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan seseungguhnya engkau (Muhammad), benar-benar berbudi pekerti  agung.” (QS. Al Qalam (68): 4)

Berkata Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari Rahimahullah:

وإنك يا محمد لعلى أدب عظيم، وذلك أدب القرآن الذي أدّبه الله به، وهو الإسلام وشرائعه.

“Sesungguhnya engkau, wahai Muhammad, benar-benar di atas adab (etika) yang mulia, itulah adab Al Quran yang dengannya Allah telah mendidiknya, yakni (adab) Islam dan syariat-syariatnya.” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, 23/528)

                Ucapan Imam Ibnu Jarir ini merupakan rangkuman dari berbagai tafsir tentang makna ‘Khuluqun ‘Azhim’, yang dimaknai oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Adh Dhahak, dan Ibnu Zaid, di mana mereka mengartikannya dengan makna ‘agama mulia’, yakni Islam. Sedangkan ‘Athiyah memaknainya dengan ‘Adabul Qur’an, (etika al Quran)’ (Ibid, 23/529-530)

                Sementara itu, Aisyah Radhiallahu ‘Anha memaknai ayat ‘sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti agung’  adalah Al Quran. Sebagaimana riwayat berikut:

 عن سعد بن هشام بن عامر ، في قول الله عز وجل ( وإنك لعلى خلق عظيم  ) قال : سألت عائشة رضي الله عنها : يا أم المؤمنين ، أنبئيني عن خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقالت : « أتقرأ القرآن ؟ » فقلت : نعم ، فقالت : « إن خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم القرآن »

          Dari Sa’ad bin Hisyam bin ‘Amir, tentang firmanNya ‘Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti agung’, dia berkata: ‘Aku bertanya kepada ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha: “Wahai Ummul Mu’minin, kabarkan kepada saya tentang akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Beliau menjawab: “Apakah engkau membaca Al Quran?” Aku menjawab: “Tentu.” Dia berkata: “Sesungguhnya Akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Al Quran.” (HR. Muslim No. 746, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 4413, 4588, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 425, Al Hakim,  dalam Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, No. 3842, katanya: shahih sesuai syarat syaikhan (Bukhari dan Muslim), dan disepakati Imam Adz Dzahabi)

III. Kata Akhlaq dalam As Sunnah

Selanjutnya adalah beberapa hadits yang memuat kata ‘akhlaq’ dan pengertiannya menurut para pensyarah.

Hadits Pertama

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu,  katanya:

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang sesuatu yang paling banyak menyebabkan manusia masuk ke dalam surga, beliau menjawab:   “Taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Beliau juga ditanya tentang penyebab terbanyak manusia dimasukkan ke dalam neraka, beliau menjawab: “Mulut dan kemaluan.” (HR. At Tirmidzi No. 2004, katanya: shahih. Ibnu Hibban No. 4246, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 7919, katanya: shahih. Imam Adz Dzahabi juga menshahihkannya dalam At Talkhish)   

                Berkata Syaikh Abdurrahman Al Mubarkafuri tentang makna husnul khuluq:

أَيْ مَعَ الْخَلْقِ ، وَأَدْنَاهُ تَرْكُ أَذَاهُمْ وَأَعْلَاهُ الْإِحْسَانُ إِلَى مَنْ أَسَاءَ إِلَيْهِ مِنْهُمْ

“Yaitu akhlak terhadap makhluk, dia mendekatkan diri dan menjauhkan dari sikap menyakiti mereka, dan lebih tinggi kebaikannya kepada siapa-siapa yang telah berbuat buruk kepadanya dari mereka.” (Syaikh Abdurrahman Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 6/142)

Dalam kitab yang sama:

قَالَ الطِّيبِيُّ قَوْلُهُ : تَقْوَى اللَّهِ إِشَارَةٌ إِلَى حُسْنِ الْمُعَامَلَةِ مَعَ الْخَالِقِ بِأَنْ يَأْتِيَ جَمِيعَ مَا أَمَرَهُ بِهِ وَيَنْتَهِيَ عَنْ مَا نَهَى عَنْهُ وَحُسْنُ الْخَلْقِ إِشَارَةٌ إِلَى حُسْنِ الْمُعَامَلَةِ مَعَ الْخَلْقِ وَهَاتَانِ الْخَصْلَتَانِ مُوجِبَتَانِ لِدُخُولِ الْجَنَّةِ وَنَقِيضُهُمَا لِدُخُولِ النَّارِ فَأَوْقَعَ الْفَمَ وَالْفَرْجَ مُقَابِلًا لَهُمَا .

Ath Thayyibi berkata: “Sabda beliau,’ Taqwa kepada Allah’ merupakan isyarat terhadap baiknya pergaulan dengan Sang Pencipta, yakni dengan cara menjalankan semua yang diperintahkanNya  dan menjauhi dari dari apa-apa yang dilarangNya. “Akhlak yang baik’ merupakan isyarat terhadap baiknya pergaulan dengan sesama makhluk. Dua perangai ini akan mengantarkan kepada surga, sedangkan  yang bertentangan dengan keduanya akan masuk ke neraka. Apa yang biasa dilakukan Mulut dan kemaluan, merupakan lawan dari kedua perangai itu. (Ibid)

Sementara Imam At Tirmidzi meriwayatkan dari Imam Abdullah bin Mubarak tentang makna Husnul Khuluq (akhlaq yang baik):

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُ وَصَفَ حُسْنَ الْخُلُقِ فَقَالَ هُوَ بَسْطُ الْوَجْهِ وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَكَفُّ الْأَذَى

Dari Abdullah bin Mubarak, bahwa dia menyifati akhlak yang baik adalah wajah yang ceria, suka memberikan hal-hal yang baik, dan menahan tangannya dari menyakiti manusia. (Lihat Sunan At Tirmidzi No. 2005)

Hadits Kedua

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُق

Dari Abu Darda, dia berkata: Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada sesuatu yang diletakkan di atas timbangan, yang  beratnya melebihi berat akhlak yang baik.” (HR. At Tirmidzi No. 2003, katanya: hadits ini gharib.  Abu Daud No. 4799. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 876, Al Irwa No. 941, dan Shahihul Jami’ No. 5726)

Imam Abu Thayyib Rahimahullah berkata tentang maksud hadits di atas:

أَيْ مِنْ ثَوَابه وَصَحِيفَته أَوْ مِنْ عَيْنه الْمُجَسَّد

“Yaitu pahala akhlak yang baik, catatannya dan nilai akhlak baik itu sendiri.” (Imam Abu Thayyid Muhammad Syamsuddin Abadi, ‘Aunul Ma’bud,  13/108. Cet. 2. Darul Kutub Al ‘ilmiyah, Beirut – Libanon)

Hadits Ketiga

عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سِمْعَانَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

Dari An Nawas bin Sam’an al Anshari, dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang Al Birr (kebaikan) dan Dosa, beliau bersabda: Al Birr adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa-apa yang membuat dadamu tidak nyaman, dan engkau membencinya jika manusia melihatnya.” (HR. Muslim No. 2553)

                Imam An Nawawi Rahimahullah mengomentari hadits ini:

قَالَ الْعُلَمَاء : الْبِرّ يَكُون بِمَعْنَى الصِّلَة ، وَبِمَعْنَى اللُّطْف وَالْمَبَرَّة وَحُسْن الصُّحْبَة وَالْعِشْرَة ، وَبِمَعْنَى الطَّاعَة ، وَهَذِهِ الْأُمُور هِيَ مَجَامِع الْخُلُق

          “Berkata para ulama: Al Birr dimaknai dengan Ash Shilah (hubungan), dan bermakna kelembutan, kebaikan, persahabatan yang baik, dan pergaulan yang baik, dan juga bermakna ketaatan. Semuanya ini terhimpun pada kata Akhlak.” (Al Minhaj Syarh   Shahih Muslim,  8/343)

  1. Macam-Macam Akhlak
  2. Akhlak kepada Allah Ta’ala

–          MenjadikanNya satu-satunya ma’bud (sembahan) yang haq dan murni. (QS. 1: 5) dan (QS. 98:5)

–          Taat kepadaNya secara mutlak. (QS. 4:65)

–          Tidak menyekutukanNya dengan apa pun. (QS. 4: 116)

–          MenjadikanNya sebagai tempat minta pertolongan. (QS. 1:5)

–          Memberikan hak rububiyah, uluhiyah, asmaul husna dan sifatul ’ulya, hanya kepadaNya. (QS. 1;2), (QS. 114: 3)

–          Tidak menyerupakanNya dengan apa pun (QS. 42: 11)

–          Menetapkan apa-apa yang ditetapkanNya, mengingkari apa-apa yang diingkariNya, mengharamkan apa-apa yang diharamkanNya, dan menghalalkan apa-apa yang dihalalkanNya. (QS. 5: 48-49)

–          MenjadikanNya sebagai satu-satunya pembuat syariat. (QS. 6: 57)

–          Berserah diri kepadaNya (QS. 20:72)

  1. Akhlak kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

–          Mengakui dan mengimani bahwa Beliau adalah hamba Allah dan RasulNya. (QS. 18:110)

–          Meyakini bahwa Beliau adalah Rasul dan NabiNya yang terakhir, dan risalahnya pun juga risalah terakhir. (QS. 30:40)

–          Taat kepadanya secara mutlak. (QS. 4:65)

–          Menjadikannya sebagai teladan yang baik dalam kehidupan, beragama, keluarga, sosial, dan lain-lain. (QS. 30:21)

–          Meyakini bahwa syafa’at darinya hanya terjadi dengan idzin Allah ta’ala. (QS. 10:3), (QS. 20:109)

–          Bershalawat padanya. (QS. 30:56)

–          Menerima keputusannya secara lapang. (QS. 4: 59)

–          Mencintai keluarganya (ahli baitnya). (HR. At Tirmidzi,  No. 3789, katanya: hasan)

–          Mencintai para sahabatnya dan mengakui bahwa mereka adalah umat terbaik dan semuanya adil. (QS. 3: 110)

–           Mencintai yang dicintainya dan membenci yang dibencinya.

  1. Akhlak kepada manusia

–          Berbakti kepada kedua orang tua (QS. 6:151) (QS.46:17)

–          Menyambung silaturrahim (QS. 4:1) (QS. 2:27)

–          Tolong menolong dalam kebaikan, bukan dalam kejahatan. (QS. 5:2)

–          Tawadhu’ (QS.7:199)

–          Tidak mencela. (HR. Bukhari)

–          Lemah lembut dan berkasih sayang  kepada sesama muslim dan tegas terhadap orang kafir. (QS. 5:54) (QS. 48: 29)

–          Sabar, menepati janji, dan jujur. (QS. 2:177)

–          Pemaaf (QS. 2:109)

–          Adil (QS. 3: 18)

–          Dermawan (QS. 2: 245)

–          Memuliakan tamu (QS. 11:69)

–          Dan lain-lain.

Wallahu A’lam

Advertisements

One response to “Syarah Hadits Kedelapan Belas: Bertaqwa di Mana Saja dan Berakhlak Baik kepada Manusia (Bag. 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s