Lawaazimul Mahabbah (Konsekuensi-konsekuensi Cinta)

b_17 lawazimul mahabbah

Oleh: M. Indra Kurniawan

Salah satu ciri keimanan yang benar adalah tumbuhnya cinta kepada Allah Ta’ala. Dalam pembahasan sebelumnya kita berkali-kali diingatkan dengan firman Allah Ta’ala berikut ini,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 165)

Untuk memahami bagaimana mencintai Allah Ta’ala, marilah kita mengenal tentang lawazimul mahabbah (konsekuensi-konsekuensi cinta) sebagai berikut.

Pertama, konsekuensi cinta diantaranya adalah mahabbatu man ahabbahul mahbub (mencintai siapa yang dicintai sang kekasih). Jika kita mengaku mencintai Allah Ta’ala, maka selayaknya bagi kita untuk mencintai siapa saja yang dicintai-Nya.

Allah Ta’ala mencintai mereka yang: bertaubat dan mensucikan/membersihkan diri (2: 222, 9: 108),  berbuat baik (2: 195, 5: 93, 3: 148, 3: 134), sabar (3: 146), tawakkal (3: 159), adil (60: 8), takwa (3: 76, 9: 4), berjuang dalam barisan yang rapi (61: 4), dan lain-lain.

Diantara mereka yang dicintai oleh Allah Ta’ala adalah orang-orang yang disebutkan di dalam Al-Qur’an telah mendapatkan curahan nikmat dari-Nya, yaitu: para nabi dan rasul, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang- orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa, 4: 69)

Kedua, konsekuensi cinta diantaranya adalah mahabbatu maa ahabbul mahbub (mencintai apa-apa yang dicintai sang kekasih). Jika kita mengaku mencintai Allah Ta’ala, maka selayaknya bagi kita untuk mencintai apa-apa yang dicintai-Nya.

Diantara hal yang dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan-amalan shalih, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud. Dia berkata.

أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ ؟ قَالَ : ((الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا)). قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : ((بِرُّ الوَالِدَيْنِ)). قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قال : ((الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ)). قَالَ : حَدَّثَنِي بِهِنَّ رَسُولُ اللهِ , وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

“Saya bertanya kepada Nabi, ‘Apakah amal yang paling dicintai oleh Allah?’ (Dalam satu riwayat: yang lebih utama) Beliau bersabda, ‘Shalat pada waktunya’ Saya bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau bersabda, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Saya bertanya, ‘Kemudian apa lagi’? Beliau bersabda, ‘Jihad (berjuang) di jalan Allah.”‘ Ia berkata, “Beliau menceritakan kepadaku. (Dalam satu riwayat: “Saya berdiam diri dari Rasulullah.”) Seandainya saya meminta tambah, niscaya beliau menambahkannya.” (H.R. Bukhari)

Dalam hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata,

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ وَقَالَ اكْلَفُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah?’. Maka beliau menjawab,”Yaitu yang paling kontinyu, meskipun hanya sedikit.” Beliau juga bersabda, “Bebanilah diri kalian dengan amal-amal yang mampu untuk kalian kerjakan.” (HR. Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq)

Ketiga, konsekuensi cinta diantaranya adalah bughdu man abghadhahul mahbub (membenci siapa saja yang dibenci sang kekasih). Jika kita mengaku mencintai Allah Ta’ala, maka selayaknya bagi kita untuk membenci siapa saja yang dibenci-Nya.

Allah Ta’ala membenci mereka yang: berbuat berlebih-lebihan dan melampaui batas (6: 141, 2: 190), berbuat kerusakan (5: 64, 28: 77), sombong dan membanggakan diri (16: 23, 4: 36, 57: 23), khianat dan bergelimang dosa (4: 107, 8: 58), kafir (2: 276, 3: 32), ingkar (30: 45), zalim (3: 140), kufur nikmat (22: 38), dan lain-lain.

Objek utama yang harus kita benci adalah syaithan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir, 35: 6)

Keempat, konsekuensi cinta diantaranya adalah bughdu maa abghadhahul mahbub (membenci apa-apa yang dibenci Sang Kekasih). Jika kita mengaku mencintai Allah Ta’ala, maka selayaknya bagi kita untuk membenci apa-apa yang dibenci-Nya.

Diantara hal yang dibenci Allah Ta’ala adalah ucapan buruk. Dia berfirman,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. An-Nisa, 4: 148)

Allah Ta’ala juga membenci pasar-pasar yang di dalamnya banyak dilakukan kemaksiatan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا

“Tempat yang paling Allah cintai adalah masjid-masjid, dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar-pasar.” (HR. Muslim)

Imam Nawawiy dalam kitabnya Syarh Sahih Muslim mengatakan: “Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah mesjid karena sebagai tempat melakukan ketaatan, dan dibangun atas dasar takwa. Dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar karena banyak terjadi penipuan, penghianatan, riba, sumpah palsu, menyalahi janji, lupa mengingat Allah, dan sebagainya.”

Al-Mulla Ali Al-Qariy mengatakan: “Kandungan hadits ini ditinjau dari sisi mayoritas, karena bisa jadi seseorang ke mesjid untuk melakukan hal negatif seperti ghibah, dan orang ke pasar untuk mencari rezki yang halal.”

Hadis ini bukan berarti larangan pergi ke pasar, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya pun pergi dan melakukan transaksi di pasar.

Perkara-perkara lain yang dibenci Allah Ta’ala diantaranya disebutkan dalam  hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا, (وفي رواية: ويسخط منكم ثلاثا) يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلَا تُشْرِكُوْ بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا وَأَنْ تَنَاصَحُوْا مَنْ وَلَّاهُ اللهُ أَمْرَكُمْ وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara (di dalam riwayat yang lain: dan murka kepada kalian pada tiga perkara); Allah Ridha kepada kalian (ketika kalian) beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya sedikitpun, (dan meridhai ketika kalian semua) berpegang teguh kepada tali agama Allah dan janganlah kalian bercerai berai, (Allah subhanahu wa ta’ala meridhai ketika kalian) saling nasehat menasehati kepada pemimpin-pemimpin kalian. Dan Allah subhanahu wa ta’ala membenci desas-desus, dan membenci banyak bertanya dan menghambur-hamburkan harta.” (HR. Imam Malik dan Imam Ahmad).

Mencintai siapa dan apa saja yang dicintai oleh Allah Ta’ala merupakan wujud al-wala, yakni loyalitas kepada-Nya. Sedangkan membenci siapa dan apa saja yang dibenci Allah Ta’ala adalah wujud al-bara’, yakni anti loyalitas kepada selain Allah Ta’ala.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ الْمُوَالَاةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

“Tali iman yang paling kokoh adalah memberikan loyalitas karena Allah, memusuhi karena Allah, mencintai karena Allah, dan membenci karena Allah.” (HR. ath-Thabarani dari Ibnu Abbas, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah [2/734 no. 998])

Wallahu A’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s