Menyikapi Tasawuf

shalat

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Mukadimah: Mengenal Tasawwuf

Harus diakui, sikap manusia terhadap tasawwuf tidak sama. Hal itu lerjadi karena perbedaan kadar pengetahuan, interaksi, dan penampilan para sufi yang membuat pandangan manusia berbeda-beda. Kaum muslimin ada yang menghina tasawwuf dan ahlinya (sufi) secara keseluruhan, tanpa kecuali. Tabdi’(tuduhan sebagai ahli bid’ah) selalu diarahkan kepada pengikut tasawwuf. Tidak ada kebaikan sedikit pun pada mereka. Sekali pun ada, kebaikan ahli bid’ah masih lebih buruk dibanding keburukan ahli maksiat. Mereka menganggap agama kaum sufi bukanlah dinullah (agama Allah) melainkan dinussufi (agama kaum sufi). Artinya, kaum sufi memiliki cara beragama sendiri menurut hawa nafsu pendiri thariqah-nya. Pemuka-pemuka tasawwuf dipandang hina. Bahkan lebih hina dibanding pengikutnya karena merekalah yang menyebabkan tersebarnya bid’ah tasawwuf.

Kelompok ini menaruh kebencian luar biasa kepada tasawwuf dan sufi. Mereka membuka mata lebar-lebar terhadap segala kekurangan tasawwuf. Tetapi menutup mata rapat-rapat terhadap segala kebaikan yang ada padanya.

Sementara itu, di sisi lain. Ada kaum muslimin yang memuji tasawwuf setinggi langit, bahkan lebih. Kaum sufi —kata mereka— adalah manusia paling mulia setelah para Nabi. Merekalah Ahlus Sunnah sebenarnya. Bahkan, merekalah para shiddiqin, muqarrabin, dan ahludz dzikri. Sering kita mendengar mereka menganggap ulama syariat (fuqaha) menimba ilmu dari yang pasti mati (manusia). Sedangkan sufi menimba ilmu langsung dari Yang Tidak Pernah Mati (Allah). Memang, banyak kaum sufi yang sebenarnya malas mencari ilmu. Bahkan menghina mata airnya sehingga banyak di antara mereka melecehkan ahli ilmu dan murid-muridnya. Oleh karena itu, ibadah mereka pun takalluf (berIebihan/memberatkan) dan aneh. Karena tidak ada dasar ilmu di dalamnya. Kelompok ini menilai kesalahan kaum sufi adalah kesengajaan agar orang-orang awam tidak menyucikannya. Sungguh, ini adalah apologi yang kerdil dan perangkap setan bagi mereka.

Kedua sikap itu sama-sama keliru dan tidak mencerminkan kealiman seorang ulama dan kearifan seorang da’i. Seharusnya, manusia menahan lisannya dari memaki dan memuji secara berlebihan. Sikap tawazun (seimbang) dan tawasuth (pertengahan) terhadap kekeliruan dan kebaikan manusia adalah sikap yang terbaik tanpa menyalahkan yang benar dan tidak membenarkan yang salah serta tidak membuka yang seharusnya tertutup dan tidak menutup yang seharusnya terbuka. Itulah sikap kita: adil, seimbang, dan tepat.

Meletakkan tasawwuf pada tempatnya akan menentukan arah sikap kita terhadapnya.

Sejarahnya

Ada baiknya, kita mencermati dahulu perjalanan tasawwuf. Syaikh Hasan al-Banna bercerita:

حين اتسع عمران الدولة الإسلامية في صدر القرن الأول، وكثرت فتوحاتها وأقبلت الدنيا على المسلمين من كل مكان، وحببت إليهم ثمرات كل شيء، وكان خلفيتهم بعد ذك يقول للسحابة في كبد السماء: شرقي أو غربي فحيثما وقع قطرك جاءني خراجه. وكان طبيعيا أن يقبلوا على هذه الدنيا يتمتعون بنعيمها ويتذوقون حلاوتها وخيراتها في اقتصاد أحيانا وفي إسراف أحيانا أخرى، وكان طبيعيا أمام هذا التحول الاجتماعي، من تقشف عصر النبوة الزاهر إلى لين الحياة ونضارتها فيما بعد ذلك، أن يقوم من الصالحين الأتقياء العلماء الفضلاء دعاة مؤثرون يزهدون الناس في متاع هذه الحياة الزائل، ويذكرونهم بما قد يسره من متاع الآخرة الباقي: “وإن الدار الآخرة لهي الحيوان لو كانوا يعلمون” ومن أول هؤلاء الذين عرفت عنهم هذه الدعوة – الإمام الواعظ الجليل – الحسن البصري، وتبعه على ذلك كثير من أضرابه الدعاة الصالحين، فكانت طائفة في الناس معروفة بهذه الدعوة إلى ذكر الله واليوم الآخر. والزهادة في الدنيا، وتربية النفوس على طاعة الله وتقواه. وطرأ على هذه الحقائق ما طرأ على غيرها من حقائق المعارف الإسلامية فأخذت صورة العلم الذي ينظم سلوك الإنسان ويرسم له طريقا من الحياة خاصا: مراحله الذكر والعبادة ومعرفة الله، ونهايته الوصول إلى الجنة ومرضاة الله

“Ketika kemakmuran pemerintahan Islam telah melebar luas pada permulaan abad pertama, penaklukan berbagai negara pun banyak berlangsung. Masyarakat dari berbagai penjuru dunia memberikan perhatiannya kepada kaum muslimin. Segala jenis buah telah tergenggam dan bertumpuk di tangan mereka. Khalifah ketika itu berkata kepada awan dan langit, ‘Barat maupun Timur entah bagian bumi mana pun yang mendapat tetesan air hujan-Mu, pasti akan datang kepadaku membawa upeti’.

Suatu hal yang lumrah jika ada umat manusia ketika menerima nikmat dunia, mereka menikmati kelezatan dan anugerah yang ada. Memang ada yang menikmatinya dengan kesahajaan. Ada pula yang menikmatinya dengan berlebihan. Sudah menjadi hal yang lumrah pula perubahan sosial itu terjadi. Dari kesahajaan hidup masa kenabian, kini telah sampai pada masa kemewahan.

Melihat kenyataan itu, bangkitlah dari kalangan ulama yang shalih dan bertakwa serta para dai yang menghimbau umat manusia untuk kembali kepada kehidupan zuhud terhadap kesenangan duniawi yang fana sekaligus mengingatkan mereka pada berbagai hal yang dapat melupakan dirinya dari nikmat akhirat yang kekal abadi. Sungguh, kampung akhirat itulah kehidupan yang kekal lagi sempurna jika mereka mengetahui.

Satu yang saya ketahui adalah seorang Imam pemberi petuah yang mulia, Hasan Al Bashri. Meski akhirnya diikuti pula sekian banyak orang shalih lainnya semisal beliau. Terbentuklah sebuah kelompok di tengah-tengah umat yang dikenal dengan dakwahnya untuk selalu mengingat Allah Ta’ala dan mengingat akhirat, zuhud di dunia, serta men-tarbiyah diri untuk selalu menaati Allah Ta’ala dan bertakwa kepada-Nya.

Dari fenomena itu, lahirlah format keilmuan seperti disiplin ilmu keislaman lainnya. Dibangunlah suatu disiplin ilmu yang mengatur tingkah laku manusia dan melukiskan jalan kehidupannya yang spesifik. Tahapan jalan itu adalah zikir, ibadah, dan ma’rifatullah. Sedangkan hasil akhirnya adalah surga Allah dan ridha-Nya.” (Imam Hasan al-Banna, Mudzakkirat ad-Da’wah wad-Da’iyyah, Hal. 24)

Demikianlah tasawwuf. Pada mulanya, ia adalah suatu yang mulia. la mengisi kekosongan yang dilupakan fuqaha (ahli fiqh), muhaddits (ahli hadis), dan mutakallimin (ahli kalam). Yaitu kekosongan ruhiyah (jiwa) dan akhlak. Secara jujur harus diakui, inti ajaran Islam adalah akhlak yang menjadi tujuan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyempurnakannya. Penerapan syariat Islam dari lingkup terkecil, individu, sampai terbesar, pergaulan antar bangsa, dan semuanya memiliki dimensi akhlak. “Pada hakikatnya, tasawwuf adalah akhlak. Siapa yang bertambah baik akhlaknya, bertambah baik pula tasawwuf-nya.” Demikian kata Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah.

Jika demikian adanya, bukan tasawwuf-nya yang layak dikecam. Melainkan oknum-oknum yang merusak tasawwuf dan menyebarkan kerusakan yang ada padanya. Jadi, kritiklah sesuai haknya tasawwuf yang lepas dari jalan Islam yang benar. Kekeliruan mereka memiliki bobot yang berbeda, ada yang cukup di-bid’ah-kan, ada pula yang layak untuk dikafirkan.

Penyimpangan pada tasawwuf pernah dipertontonkan Al Hallaj yang terpedaya setan. la berkata, “Ana Allah” (Aku Allah). la berpendapat, Allah Subhanahu wa Ta’ala bereinkarnasi dengan makhluk. Begitu pun Ibnu ‘Arabi dengan filsafat wihdatul wujud. la beranggapan tidak ada Khalik (Pencipta) dan makhluk (ciptaan). Tidak ada Rabb (Tuhan) dan hamba. Beliau dikafirkan sebagian ulama, walau dibela beberapa yang lain. Merekalah contoh musibah dalam dunia tasawwuf.

Sebaliknya, pujilah sesuai haknya: tasawwuf yang lurus dan jalannya sesuai syariat dengan pemahaman salafush shalih yang tumbuh dan berkembang bersih dari bid’ah, khurafat, takhayul, qubury, zindiq, dan syirk. Itulah tasawwuf yang selamat dan pernah dilalui para imam seperti Al Junaid bin Muhammad, Abu Hafs, Abu Sulaiman ad Darani, dan Sahl bin Abdullah at Tastary seperti yang dikatakan Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin.

Sufi Generasi Pertama Menyeru Kepada Al Quran dan As Sunnah

Imam Ibnul Qayyim telah mengutip berbagai perkataan kaum sufi generasi awal yang menunjukkan bahwa mereka merupakan kaum yang sangat perhatian dengan sunnah. Bahkan, mereka mengatakan bahwa jalan yang mereka tempuh (tasawwuf) harus berpijak pada Al Quran dan As Sunnah.

Imam Ibnul Qayyim, mengutip ucapan mereka sebagai berikut:

قال سيد الطائفة وشيخهم الجنيد بن محمد رحمه الله: الطرق كلها م

سدودة على الخلق إلا على من اقتفى آثار الرسول وقال: من لم يحفظ القرآن ويكتب الحديث لا يقتدى به في هذا الأمر لأن علمنا مقيد بالكتاب والسنة وقال: مذهبنا هذا مقيد بأصول الكتاب والسنة وقال أبو حفص رحمه الله: من لم يزن أفعاله وأحواله في كل وقت بالكتاب والسنة ولم يتهم خواطره فلا يعد في ديوان الرجال وقال أبو سليمان الداراني رحمه الله: ربما يقع في قلبي النكتة من نكت القوم أياما فلا أقبل منه إلا بشاهدين عدلين: الكتاب والسنة

“Berkata pemimpin dan syaikhnya mereka, Al Junaid bin Muhammad Rahimahullah, ‘Semua jalan tertutup bagi makhluk kecuali yang mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’

Dia juga berkata, ‘Siapa yang tidak menghafal al-Quran dan Hadis, ia tidak boleh diteladani dalam urusan tasawwuf. Karena ilmu kami terikat dengan keduanya.’

Dia juga berkata, ‘Madzhab kami ini terikat oleh dasar-dasar Al Quran dan As Sunnah.’

Berkata Abu Hafsh rahimahullah, ‘Barangsiapa yang tidak menimbang keadaan dan perbuatannya setiap waktu dengan Al Kitab dan As Sunnah serta tidak memperhatikan suara hatinya, ia tidak termasuk dalam golongan kami.’

Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkata, ‘Kadang-kadang, timbul suatu titik dalam hatiku seperti titik-titik yang terdapat pada suatu kaum selama beberapa hari. Saya tidak dapat memutuskannya kecuali dengan dua saksi yang adil, yaitu al-Quran dan as-Sunnah.’” (Imam Ibnul Qayyim, Madarijus Salikin, Bab Manzilatul ‘Ilmi, 2/434. Cet. 3, 1996M-1416H. Darul Kitab Al ‘Arabi, Beirut)

Abu Hafsh juga berkata:

أحسن ما يتوسل به العبد إلى الله: دوام الافتقار إليه على جميع الأحوال وملازمة السنة في جميع الأفعال

“Sarana terbaik bagi seorang hamba kepada Allah Ta’ala adalah membiasakan sikap butuh kepada-Nya dalam segala keadaan, dan membiasakan diri dengan sunnah dalam semua perbuatan.” (Ibid, 2/412)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga mencatat:

قَالَ سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ التستري : كُلُّ وَجْدٍ لَا يَشْهَدُ لَهُ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ فَهُوَ بَاطِلٌ . وَقَالَ الجنيد بْنُ مُحَمَّدٍ : عِلْمُنَا مُقَيَّدٌ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ ؛ فَمَنْ لَمْ يَقْرَأْ الْقُرْآنَ وَيَكْتُبْ الْحَدِيثَ لَا يَصِحُّ أَنْ يَتَكَلَّمَ فِي عِلْمِنَا

“Berkata Sahl bin Abdillah At Tastari, ‘Semua intuisi (cinta, suka cita) yang tidak disaksikan (dikuatkan) oleh Al Quran dan As Sunnah, maka itu adalah batil.’

Berkata Al Junaid bin Muhammad, ‘Ilmu kami terikat dengan Al Quran dan As Sunnah, maka barangsiapa yang tidak membaca Al Quran dan tidak menulis Hadits, maka tidak sah berbicara tentang ilmu kami (yakni tasawwuf, pen).’” (Imam Ibnu Taimiyah, Al Fatawa Al Kubra, 2/418, Lihat juga Majmu’ Al Fatawa, 10/719)

Demikianlah sikap para penempuh tasawwuf generasi pertama. Mereka sangat terikat -dalam meniti jalan tasawwuf- dengan Al Quran dan As Sunnah. Sehingga, Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim memberikan apresiasi terhadap mereka semua.

Sementara itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, telah menyandingkan nama-nama sufi generasi awal, dengan para imam ahli fiqih dan hadits dengan sebutan: para imam  pembawa petunjuk. Beliau  berkata:

أَنَّهُمْ مَشَايِخُ الْإِسْلَامِ وَأَئِمَّةُ الْهُدَى الَّذِينَ جَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْأُمَّةِ مِثْلُ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ وَالْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَمَالِكِ بْنِ أَنَسٍ والأوزاعي وَإِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَمَ وَسُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ والفضيل بْنِ عِيَاضٍ وَمَعْرُوفٍ الكرخي وَالشَّافِعِيِّ وَأَبِي سُلَيْمَانَ وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَبِشْرٍ الْحَافِي وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ وَشَقِيقٍ البلخي وَمَنْ لَا يُحْصَى كَثْرَةٌ . إلَى مِثْلِ الْمُتَأَخِّرِينَ : مِثْلُ الجنيد بْنِ مُحَمَّدٍ القواريري وَسَهْلِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ التستري وَعُمَرَ بْنِ عُثْمَانَ الْمَكِّيِّ وَمَنْ بَعْدَهُمْ – إلَى أَبِي طَالِبٍ الْمَكِّيِّ إلَى مِثْلِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الكيلاني وَالشَّيْخِ عَدِيٍّ وَالشَّيْخِ أَبِي الْبَيَانِ وَالشَّيْخِ أَبِي مَدِينٍ وَالشَّيْخِ عَقِيلٍ وَالشَّيْخِ أَبِي الْوَفَاءِ وَالشَّيْخِ رَسْلَانَ وَالشَّيْخِ عَبْدِ الرَّحِيمِ وَالشَّيْخِ عَبْدِ اللَّهِ اليونيني وَالشَّيْخِ الْقُرَشِيِّ وَأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ الْمَشَايِخِ الَّذِينَ كَانُوا بِالْحِجَازِ وَالشَّامِ وَالْعِرَاقِ وَمِصْرَ وَا

لْمَغْرِبِ وَخُرَاسَانَ مِنْ الْأَوَّلِينَ والآخرين .

“Sesungguhnya mereka adalah para Syaikhul Islam, para Imam pembawa petunjuk, yang Allah Ta’ala telah menjadikan untuk mereka lisan yang benar bagi umat. Seperti Said bin al-Musayyib, al-Hasan al-Bashri, Umar bin Abdil ‘Aziz, al-Auza’i, Malik bin Anas, Ibrahim bin Ad-ham, Sufyan ats-Tsauri, Fudhail bin ‘Iyadh, Ma’ruf al-Karkhi, asy-Syafi’i, Abu Sulaiman ad-Darani, Ahmad bin Hambal, Bisyr  al-Hafi, Abdullah bin al-Mubarak, Syaqiq al-Balkhi, dan banyak lagi yang tidak terhitung. Juga yang generasi selanjutnya: al-Junaid bin Muhammad, Sahl bin Abdillah at-Tastari, Umar bin Utsman al-Makki, dan orang-orang setelah mereka, hingga Abu Thalib al-Makki, hingga semisal Abdul Qadir al-Jailani. Syaikh ‘Adi, Syaikh Abul Bayan, Syaikh Abu Madin, Syaikh ‘Aqil, Syaikh Abul Wafa’,  Syaikh Ruslan,  Syaikh Abdurrahim, Syaikh Abdullah al-Yunaini, Syaikh al-Qurasyi, dan masyayikh lain yang semisalnya baik di Hijaz, Syam, Irak, Mesir, Khurasan, baik generasi awal atau belakangan.” (Imam Ibnu Tamiyah, Majmu’ Fatawa, 2/474. Tahqiq: Abdurrahman bin Muhammad Qaasim. 1995M-1416H)

Sikap Pertengahan Imamain (Dua Imam) Dalam Menilai Tasawwuf

Sikap objektif adalah sikap terbaik walau itu sulit bagi sebagian orang. Baik karena ketidakmampuan atau ketidakmauan. Para Imam Ahlus Sunnah telah menampakkan sikap objektif terhadap kaum sufi. Di antaranya adalah sikap imamain (dua imam), yakni Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah.

Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata tentang kaum sufi:

وَلِأَجْلِ مَا وَقَعَ فِي كَثِيرٍ مِنْهُمْ مِنْ الِاجْتِهَادِ وَالتَّنَازُعِ فِيهِ تَنَازَعَ النَّاسُ فِي طَرِيقِهِمْ ؛ فَطَائِفَةٌ ذَمَّتْ ” الصُّوفِيَّةَ وَالتَّصَوُّفَ ” . وَقَالُوا : إنَّهُمْ مُبْتَدِعُونَ خَارِجُونَ عَنْ السُّنَّةِ وَنُقِلَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ الْأَئِمَّةِ فِي ذَلِكَ مِنْ الْكَلَامِ مَا هُوَ مَعْرُوفٌ وَتَبِعَهُمْ عَلَى ذَلِكَ طَوَائِفُ مِنْ أَهْلِ الْفِقْهِ وَالْكَلَامِ . وَطَائِفَةٌ غَلَتْ فِيهِمْ وَادَّعَوْا أَنَّهُمْ أَفْضَلُ الْخَلْقِ وَأَكْمَلُهُمْ بَعْدَ الْأَنْبِيَاءِ وَكِلَا طَرَفَيْ هَذِهِ الْأُمُورِ ذَمِيمٌ . وَ ” الصَّوَابُ ” أَنَّهُمْ مُجْتَهِدُونَ فِي طَاعَةِ اللَّهِ كَمَا اجْتَهَدَ غَيْرُهُمْ مِنْ أَهْلِ طَاعَةِ اللَّهِ فَفِيهِمْ السَّابِقُ الْمُقَرَّبُ بِحَسَبِ اجْتِهَادِهِ وَفِيهِمْ الْمُقْتَصِدُ الَّذِي هُوَ مِنْ أَهْلِ الْيَمِينِ وَفِي كُلٍّ مِنْ الصِّنْفَيْنِ مَنْ قَدْ يَجْتَهِدُ فَيُخْطِئُ وَفِيهِمْ مَنْ يُذْنِبُ فَيَتُوبُ أَوْ لَا يَتُوبُ . وَمِنْ الْمُنْتَسِبِينَ إلَيْهِمْ مَنْ هُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ عَاصٍ لِرَبِّهِ . وَقَدْ انْتَسَبَ إلَيْهِمْ طَوَائِفُ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ وَالزَّنْدَقَةِ ؛ وَلَكِنْ عِنْدَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ التَّصَوُّفِ لَيْسُوا مِنْهُمْ : كَالْحَلَّاجِ مَثَلًا ؛ فَإِنَّ أَكْثَرَ مَشَايِخِ الطَّرِيقِ أَنْكَرُوهُ وَأَخْرَجُوهُ عَنْ الطَّرِيقِ . مِثْلُ : الجنيد بْنِ مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الطَّائِفَةِ وَغَيْرِهِ .

“Oleh karena itu, banyak pembicaraan dan pertentangan tentang jalan para ahli tasawwuf. Sebagian manusia mencela tasawwuf dan sufi, seraya berkata, ‘Sesungguhnya mereka adalah ahli-ahli bid’ah yang keluar dari sunnah.’ Ucapan seperti ini juga didapatkan dari sebagian imam sebagaimana yang sudah diketahui dan diikuti oleh berbagai kelompok ahli fiqih dan kalam.

Sedangkan golongan lain bersikap berlebihan terhadap ahli tasawwuf dan mendakwakan bahwa mereka adalah makhluk paling utama dan paling sempurna setelah para nabi.

Kedua golongan itu keliru, dan yang benar adalah bahwa ahli tasawwuf berusaha keras dalam mentaati Allah sebagaimana halnya orang lain juga berupaya keras mentaati Allah. Maka, di antara mereka ada yang berada di garis depan dan selalu dekat dengan Allah sesuai ijtihad dan usahanya. Ada pula yang sedang-sedang saja yang tergolong ahlul yamin (golongan kanan). Sementara itu, pada masing-masing dua golongan ada pula yang kadang melakukan ijtihad dan ijtihadnya keliru, ada yang berbat dosa kemudian bertobat, dan ada pula yang tidak bertobat.

Di antara orang yang menisbatkan (menyandarkan) dirinya pada ahli tasawwuf, ada yang zalim terhadap dirinya sendiri dan bermaksiat kepada Tuhannya.  Dan ada pula kelompok-kelompok ahli bid’ah  dan zindik yang menyandarkan diri mereka kepada ahli tasawwuf. Oleh para muhaqqiq (peneliti) mereka tidaklah dianggap sebagai ahli tasawwuf. Seperti Al Hallaj. Sebab kebanyakan para masyayikh telah mengingkarinya dan mengeluarkannya dari jalan tasawwuf sebagaimana sikap Al Junaid sang pemuka Ath Thaifah dan lainnya.” (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 1/18)

Inilah komentar sangat adil tentang sufi dan tasawwuf dari Imam Ibnu Taimiyah. Beliau pun menyikap secara adil kitab tasawwuf, Ihya ‘ulumuddin, karya Imam al-Ghazali rahimahullah. Sebagian manusia mencela kitab ini. Bahkan sampai dibakar karena berisi khurafat, bid’ah, filsafat yang merusak, dan dibubuhi hadits-hadits dhaif, baik munkar maupun palsu. Ada juga yang menyanjung setinggi langit. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa kitab Al-Ihya ini merupakan pedoman menuju surga.

Namun, lagi-lagi Imam Ibnu Taimiyah menampakkan objektifitas dalam menilai kitab tersebut. Katanya,

وَالْإِحْيَاءُ فِيهِ فَوَائِدُ كَثِيرَةٌ ، لَكِنَّ فِيهِ مَوَادَّ مَذْمُومَةً ، فَإِنَّ فِيهِ مَوَادَّ فَاسِدَةً مِنْ كَلَامِ الْفَلَاسِفَةِ تَتَعَلَّقُ بِالتَّوْحِيدِ وَالنُّبُوَّةِ وَالْمَعَادِ

“Kitab al-Ihya di dalamnya terdapat banyak faedah (manfaat). Tetapi di dalamnya juga terdapat materi-materi yang tercela. Materi merusak yang berasal dari ucapan filsuf yang terkait masalah tauhid, kenabian, dan akhirat.” (Imam Ibnu Tamiyah, al-Fatawa al-Kubra, 5/86)

Sikap Imam Ibnu Taimiyah ini juga diwariskan oleh murid terdekatnya, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Ketika Beliau membuat syarah kitab tasawuf, Manazil Sairin, karya Syaikhul Islam Ismail al-Harawi al-Hambali, beliau mengomentari kesalahan Syaikhul Islam dalam kitab tersebut dengan ucapannya,

ولا توجب هذه الزلة من شيخ الإسلام إهدار محاسنه وإساءة الظن به فمحله من العلم والإمامة والمعرفة والتقدم في طريق السلوك المحل الذي لا يجهل وكل أحد فمأخوذ من قوله ومتروك إلا المعصوم صلوات الله وسلامه عليه والكامل من عد خطؤه ولا سيما في مثل هذا المجال الضنك والمعترك الصعب الذي زلت فيه أقدام وضلت فيه أفهام وافترقت بالسالكين فيه الطرقات وأشرفوا إلا أقلهم على أودية الهلكات.

“Kesalahan Syaikhul Islam dalam masalah ini tidak dapat menghancurkan kebaikan-kebaikannya dan tidak boleh mengakibatkan prasangka tidak baik kepadanya. Beliau adalah seorang ulama besar, imam, ahli ma’rifah, dan tokoh ilmu suluk. Setiap manusia boleh diambil pendapatnya dan ditinggal perkataannya, kecuali al-Ma’shum (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Orang sempurna adalah orang yang menyadari kesalahannya. Terutama dalam masalah yang pelik dan seringkali menggelincirkan kaki serta membingungkan pemahaman dan mengakibatkan para salik (pengikut/penempuh jalan tasawwuf) terjerumus dalam kehancuran.” (Imam Ibnul Qayyim, Madarijus Salikin, Bab Manzilah at-Tadzkiran wa Huwa Qarin al-Inabah, 1/216)

Sikap kedua imam ini adalah sikap elegan dan menunjukkan kualitas ilmu dan pemahaman mereka serta mampu memosisikan manusia sesuai tempatnya. Kritik yang mereka lakukan tidaklah membutakan mereka dari kebaikan yang telah dihasilkan oleh pihak yang dikritiknya. Namun, sikap mereka ini adalah hal yang sulit diikuti bagi manusia yang fanatik dengan hawa nafsu, kagum dengan diri sendiri, dan selalu memandang manusia dengan pandangan rendah.

Sejenak Bersama Sikap Syaikh Hasan Al Banna

Sikap Imam Hasan al-Banna dalam menilai tasawwuf adalah sama dengan kedua imam di atas. Beliau juga memiliki pandangan orisinil yang menunjukkan objektifitasnya. Setelah beliau menceritakan sejarah tasawwuf, beliau memaparkan bagaimana tasawwuf yang benar dan lurus serta tasawwuf yang menyimpang. Sebagaimana yang diceritakan pula oleh dua imam sebelumnya.

Syaikh Hasan al- Banna Rahimahullah berkata:

وهذا القسم من علوم التصوف، واسمه” علوم التربية والسلوك”، لا شك أنه من لب الإسلام وصميمه، ولا شك أن الصوفية قد بلغوا به مرتبة من علاج النفوس ودوائها، والطب لها والرقي بها، لم يبلغ إليها غيرهم من المربين، ولا شك أنهم حملوا الناس بهذا الأسلوب على خطة عملية من حيث أداء فرائض الله واجتناب نواهيه، وصدق التوجه إليه، وإن كان ذلك لم يخل من المبالغة في كثير من الأحيان تأثراً بروح العصور الت

ي عاشت فيها هذه الدعوات: كالمبالغة في الصمت والجوع والسهر والعزلة.. ولذلك كله أصل في الدين يرد إليه، فالصمت أصله الإعراض عن اللغو، والجوع أصله التطوع بالصوم، والسهر أصله قيام الليل، والعزلة أصلها كف الأذى عن النفس ووجوب العناية بها.. ولو وقف التطبيق العملي عند هذه الحدود التي رسمها الشارع لكان في ذلك كل الخير.ولكن فكرة الدعوة الصوفية لم تقف عند حد السلوك والتربية، ولو وقفت عند هذا الحد لكان خيرا لها وللناس، ولكنها جاوزت ذلك بعد العصور الأولى إلى تحليل الأذواق والمواجد، ومزج ذلك بعلوم الفلسفة والمنطق ومواريث الأمم الماضية وأفكارها، فخلطت بذلك الدين بما ليس منه، وفتحت الثغرات الواسعة لكل زنديق أو ملحد أو فاسد الرأي والعقيدة ليدخل من هذا الباب باسم التصوف والدعوة إلى الزهد والتقشف

“Inilah bagian dari ilmu tasawwuf yang saya namakan ‘ulum at tarbiyah was suluk (ilmu-ilmu pembinaan spiritual dan perilaku), tidak ragu lagi bahwa dia adalah bagian dari intisari Islam. Dan tidak sangsi pula bahwa kaum sufi dengan ilmunya itu telah mencapai jenjang yang tidak dicapai oleh selain mereka. Walau para pendidik sekali pun, yakni jenjang terapi dan pengobatan jiwa.

Tidak ragu pula, bahwa mereka telah membawa umat manusia untuk melakukan amal nyata. Yaitu melaksanakan kewajiban yang  dibenarkan Allah Ta’ala dan menjauhi larangannya serta benar-benar menghadapkan diri kepada-Nya sekalipun sering terjebak dalam tindakan berlebihan. Itu karena pengaruh semangat perlawanan terhadap kondisi zaman.

Misalnya, berlebihan berdiam diri, menahan lapar, tidak tidur malam, ‘uzlah (mengasingkan diri).  Sebenarnya semua tindakan itu ada dasarnya dalam agama. Diam misalnya, berarti menghindarkan diri dari laghwun (perilaku tidak berguna). Menahan lapar berarti ia puasa. Tidak tidur malam, berarti ia qiyamul lail, dan ‘uzlah hakikatnya adalah memelihara diri. Jika saja pengamalannya proporsional, tepat pada yang ditetapkan syara’, tentu hal itu merupakan gudang kebajikan.

Ternyata, fikrah dakwah tasawwuf tidak hanya terhenti pada batas ilmu suluk dan tarbiyah. Jika hanya berhenti pada batas itu, tentu manfaatnya akan banyak bagi manusia. Sayangnya, setelah  abad-abad  pertama berlalu, tasawwuf berkembang melampaui batas wilayahnya (kajiannya, pen). Ia pada batas memberi kebebasan liar pada dzauq (cita rasa) dan wajd (intuisi) di samping mencampur adukkan dengan filsafat, manthiq (logika), serta warisan berpikir umat terdahulu yang bukan berasal darinya. Terbukalah lubang-lubang yang cukup lebar bagi masuknya perilaku ateis, zindik, atau orang yang rusak pikiran dan aqidahnya atas nama tasawwuf dan zuhud.” (Imam Hasan Al Banna, Mudzakkirat Ad Da’wah wa Da’iyyah, Hal. 24-25)

Demikianlah pandangan Syaikh Hasan al-Banna rahimahullah, ia memberikan pandangan apa adanya tentang tasawwuf berupa hal-hal yang baik atau yang buruk. Apa yang kita lihat dari tulisannya, secara esensi, –qaddarullah– mirip dengan yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Pandangan yang adil, objektif, pertengahan, dan tidak berat sebelah. Amat berbeda dengan sebagian manusia yang mengaku mengagumi Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim  tetapi mereka sama sekali tidak mewariskan akhlak  mereka berdua. Oleh karena itu, mencela Syaikh Hasan al- Banna dalam sisi ini, sama juga telah mencela Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, semoga Allah meridhai mereka semua.

Tambahan: Para Perawi Hadits Terpercaya Pun Ada yang Sufi

Berikut akan saya tampilkan para sufi yang juga menjadi perawi hadits, yang dipercaya oleh para imam kaum muslimin. Ini menunjukkan bahwa para imam tidak menyamaratakan semua sufi adalah terdakwa dan layak dituntut kesalahannya dengan vonis sesat. Sikap muwazanah (keseimbangan) para imam ini layak ditiru. Selain memang, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bersikap adil dan seimbang.

Tentu  tidak akan semua saya tampilkan, hanya beberapa saja sesuai kebutuhan yang semoga bisa mewakili persepsi kita agar bisa lebih adil dan bijak dalam menilai mereka. Berikut ini nama-nama sufi yang juga perawi hadits terpercaya.

  1. Ahmad bin al-Hasan bin Abdil Jabbar ash-Shufi

Dia seorang terkenal, dan ditsiqahkan oleh ad-Dariquthni. Al-Khathib mengatakan, beliau mendengarkan hadits dari Ali binal-Ja’di, Abu Nashr at-Tamar, Yahya bin Ma’in, Abu ar-Rabi’ az-Zahrani, Suwaid bin Sa’id, dan dari orang segenerasi dengan mereka. Dan yang mendengar darinya adalah Abu Suhail bin Ziyad, al-Ja’abi, Ibnu al-Ziyat, dan Ibnu al-Muzhafar. (al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, Lisanul Mizan, 1/151,  Lihat juga Mizanul I’tidal No. 335)

  1. Ahmad bin Al Hasan ash-Shufi ash-Shaghir

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Dia tsiqah, Insya Allah. Sebagian ada yang melemahkannya. Dia meriwayatkan hadits dari Ibrahim at-Tarjamani. Sedangkan Abu Hafsh bin Ziyat dan jamaah mengambil hadits darinya.” (Ibid,  1/155)

  1. Sa’id bin Abi Sa’id al-‘Iyar ash- Shufi

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Dia jujur, Insya Allah, dan terkenal. Abu Shalih al-Mu’adzdzin membicarakan sebagian apa yang didengarkannya, dan mencela apa-apa yang didengarnya khususnya yang didengar dari  Bisyr bin Ahmad al-Isfiraini.” (Ibid, 3/30)

  1. Al-Hafzih al-‘Alim az-Zahid Abu Sa’id Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Abdillah bin Hafsh al-Anshari al-Harawi ash-Shufi.

Demikianlah Imam as-Suyuthi menulis namanya. Dia seorang tsiqah dan mutqin dan termasuk Kibarus Shufiyah (shufi besar/senior). Ibnu Adi, Ibnu Najid, dan Abu asy-Syaikh mendengar darinya. (Imam as-Suyuthi, Thabaqat al-Huffazh,  Hal. 84)

  1. ‘Athiyah bin Sa’id Abu Muhammad al-Andalusi ash-Shufi

Dia dijuliki al-Hafizh al-‘Allamah Syaikhul Islam, oleh Imam as-Suyuthi.  Dia mempelajari al-Quran dari jamaah (Ahlul Qurra, pen), dan melakukan perjalanan untuk mencatat hadits. Dia adalah seorang yang zuhud dan wara’ dalam keadaannya itu. Jika dia berbicara tentang rijal hadits, maka pendengarnya akan takjub kepadanya. Wafat di Mekkah tahun 408 H. (Ibid,  Hal. 85)

  1. Abu Ya’qub Yusuf bin Ahmad bin Ibrahim ash-Shufi

Imam as-Suyuthi juga menyebutnya dengan al- Imam al-Hafizh, lahir 529 H, seorang Syaikh Sufi pengarang al-Arba’in al-Buldaniyah. Dia seorang terjaga hafalannya dan melakukan perjalan panjang untuk mencari hadits. (Ibid, Hal. 99)

  1. Zainuddin Abu al-Fath Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakr ash-Shufi asy-Syafi’i.

Imam as-Suyuthi menyebutnya dengan al-Imam al-Muhaddits al-Hafzih al-Mufid. Lahir 601 H. Dia mencari hadits ketika kahlan (berusia lebih dari 30-50 tahun). Dia mendengarkan hadits dari as-Sakhawi dan adh-Dhiya’ al- Hafizh. Dia seorang ahli agama dan kebaikan. (Ibid,  Hal. 107)

  1. Muhammad bin Shalih bin Abdirrahman al-Baghdadi Abu Bakr al-Anmathi ash-Shufi

Dia seorang al-Hafizh, dikenal dengan nama Kilajah. Abu Daud mengatakan, “Dia Shaduq (jujur).” An-Nasa’i mengatakan: “Tsiqah.” Ad-Daruquthni juga mengatakan demikian. (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, Juz. 9, Hal. 201)

Kami kira ini sudah cukup. Sekian. Wallahu  A’lam.

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa shahbihi wa Sallam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s