Meminta Bantuan Kepada Jin?

cropped-universe.jpgSekurang-kurangnya terdapat dua pendapat ulama berkaitan dengan hukum meminta bantuan kepada jin. Pertama, pendapat ulama yang melarang seorang muslim meminta bantuan jin untuk tujuan apa pun. Kedua, pendapat ulama yang membolehkan meminta bantuan jin dengan beberapa catatan, artinya hukumnya tidak mutlak haram ataupun sebaliknya.

Pendapat Pertama

Pendapat ini diantaranya disampaikan oleh Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhut Wal Ifta yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz dan beranggotakan Syaikh Abdullah bin Ghudayan, Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh, dan Syaikh Bakr Abu Zaid.

Ketika ditanya tentang hukum orang menggunakan jin untuk menyembuhkan penyakit yang diakibatkan oleh jin, Lajnah ini memfatwakan bahwa tidak boleh seorang muslim meminta bantuan jin untuk tujuan apapun. Karena mereka tidak memberi bantuan kecuali manusia menaati para jin dalam berbuat maksiat kepada Allah dan berbuat kesyirikan atau kekufuran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS. Al-Jin, 72: 6).

Senada dengan ayat di atas,

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ

“Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (manusia dan jin), (dan Allah berfirman) : Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami (manusia) telah mendapat kesenangan dari sebagian yang lain (jin) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami. Allah berfirman: Neraka itulah tempat tinggal kamu semua, sedang kamu semua kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain) (QS. Shad, 38: 55).

Dan mengambil upah dari perbuatan ini hukumnya haram. Penyakit yang disebabkan jin atau penyakit lainnya diobati dengan Al Qur’an atau pengobatan yang syar’i atau pengobatan yang mubah, melalui orang terpercaya yang memiliki aqidah yang lurus.

Pendapat Kedua

Pendapat ini memandang bahwa jin memiliki kesamaan dengan manusia: sama-sama berakal dan sama-sama mukallaf atau berkewajiban untuk menjalankan hukum Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman :

ومَا خَلَقْتُ الجِنَّ والإنسَ إلاَّ لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Az-Dzariyaat, 51: 56)

Dan firman Allah,

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا شَهِدْنَا عَلَىٰ أَنفُسِنَا ۖ وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-An’am, 6: 130)

Sama dengan manusia, jin itu ada yang muslim dan ada yang kafir. Hal ini telah dijelaskan oleh ayat-ayat Allah Ta’ala berikut ini,

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا  يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآَمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

Katakanlah (hai Muhammad):‘Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Quran yang menakjubkan. (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya, dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan tuhan kami.’” (QS. Al-Jin : 1-2)

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: Diamlah kamu (untuk mendengarkannya). Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (QS. Al-Ahqaf, 46: 29)

Di dalam Al-Qur’an disebutkan pula perkataan jin bahwa diantara mereka ada yang kafir dan ada juga yang muslim,

وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا

Dan Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS. Al-Jin, 72: 11)

Tengku Alizar Utsman dalam tulisannya yang membahas tentang meminta bantuan Jin mengatakan: “Berdasarkan ini, maka jin merupakan makhluq Allah Ta’ala yang mempunyai kelebihan dan kekurangan, ada yang baik dan ada pula yang jahat sebagaimana halnya makhluq Allah yang lain. Dengan demikian, bergaul dan minta bantuan kepada kelompok jin sama hukumnya dengan bergaul dan minta bantuan kepada makhluq lainnya. Selama bergaul dan minta bantuan itu tidak mengandung syirik, maksiat atau hal-hal negatif lainnya, maka tentu diperbolehkan dalam agama. Sebaliknya kalau mengandung syirik, maksiat atau hal-hal negatif lainnya, maka tentu terlarang dalam agama.”

Tgk. Alizar Usman mengutip pendapat Sayyed Mustafa al-Zahabi al-Syafi’i yang menjelaskan bahwa orang-orang yang minta bantuan kepada ruh-ruh yang baik dan maksudnya tidak menyalahi syara’ serta kekuatan kharq ‘adat (diluar kebiasaan, red.) yang muncul pada tangannya tidak memudharatkan atas seseorang, maka itu bukanlah sihir. (Mustafa al-Zahabi al-Syafi’i, al-Rasail al-Zahabiyah, [dicetak pada hamisy Fathul Wahab], Juz. II, Hal. 151)

Ibnu Taimiyyah pun mengatakan, bahwa meminta bantuan pada jin dalam hal mubah, maka hukumnya mubah. Sebaliknya meminta bantuan jin kepada kekufuran, maka hukumnya kufur dan apabila meminta bantuan jin kepada maksiat, maka hukumnya maksiat. Beliau memberikan rincian terkait hukum bekerja sama dengan jin, dikutip oleh Ustadz Ammi Nur Baits.

  1. Manusia menyuruh jin untuk melakukan apa yang Allah dan rasul-Nya perintahkan, seperti beribadah kepada Allah semata, atau menaati Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaliknya, jin menyuruh manusia untuk melakukan yang sama, maka jin dan manusia ini termasuk wali Allah yang mulia. Di samping itu, dia merupakan penerus dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Manusia yang bekerja sama dengan jin dalam masalah yang mubah, sementara dia tetap berusaha menyuruh melakukan kewajiban syariat atau meninggalkan larangan syariat, dan dia meminta jin untuk melakukan sesuatu yang mubah, maka dalam kasus ini sama seperti penguasa yang menyuruh bawahannya untuk melakukan sesuatu.
  3. Manusia memerintahkan jin untuk melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik untuk melakukan kesyirikan, membunuh orang yang tidak bersalah, mengganggu orang namun tidak sampai membunuh, misalnya mengirim penyakit, membuat gila, atau kezaliman lainnya, atau membantu dalam perbuatan maksiat yang diminta oleh manusia, berarti dia telah meminta tolong jin untuk melakukan perbuatan dosa dan melampaui batas. Jika dia minta tolong jin untuk melakukan kekafiran maka manusia itu kafir, dan jika dia meminta tolong jin untuk melakukan kemaksiatan maka dia orang fasik atau pelaku perbuatan dosa. (Majmu’ Fatawa, 11: 307-308)

Demikianlah dua pendapat yang berbeda diantara para ulama umat ini. Namun sebenarnya mereka bersepakat bahwa meminta bantuan, meminta pertolongan, dan berhubungan dengan jin dalam perkara yang dilarang agama -seperti syirik dan maksiat- adalah haram. Lalu, bagaimanakah sikap yang bijak dalam memandang hal ini?

Penulis menyepakati apa yang disampaikan Tgk. Alizar Usman, beliau mengatakan: “Meskipun berhubungan dengan jin dibolehkan dengan syarat-syarat yang tersebut di atas, namun perlu diingat bahwa berhubungan dengan jin adalah berhubungan dengan makhluq ghaib yang kemungkinan tertipu sangat mungkin terjadi. Berhubungan dengan sesama manusia yang nyata saja, orang banyak tertipu, apalagi ini dengan makhluq yang tidak diketahui bagaimana wujudnya. Karena itu, menurut hemat kami sebaiknya menjauhi dari berhubungan dan bergaul dengan jin, meskipun menurut pengakuan jin tersebut dia adalah muslim. Ingat syaithan berbuat apa saja demi ambisinya menipu manusia.”[1] Wallahu A’lam.

[1] Lihat: Minta Bantuan Kepada Jin Islam, Tgk. Alizar Usman

 

Advertisements

2 responses to “Meminta Bantuan Kepada Jin?

  1. Pingback: Makna Al-Ilah | Risalah Tarbawiyah·

  2. Pingback: Meminta Bantuan Kepada Jin? - MOSLEM UPDATE·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s