Ramadhan, Syahrul Murabathah

Oleh: M. Indra Kurniawan

أَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا ، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ؟ ” ، قَالَوا : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : ” إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ ، وَانْتِظَارُ الصَّلاةِ بَعْدَ الصَّلاةِ ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ

“Maukah kutunjukkan kepadamu apa yang dapat menghapus dosa dan meningkatkan derajat?” Para sahabat menjawab, “Baiklah ya Rasulullah!” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu di saat kesukaran, banyaknya langkah ke masjid, menunggu sholat (berikutnya) sesudah menunaikan sholat. Itulah yang disebut ar-ribath. Itulah yang disebut ar-ribath (terikat karena menunaikan tugas).” (HR Muslim)

Hadits di atas kita dapati di dalam Riyadhus Sholihin di Bab Keutamaan Wudhu. Di dalamnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kata ar-ribath. Ribath berasal dari kata rabatha yang artinya mengikat. Sebuah kata yang biasanya dipergunakan dalam peperangan, yakni  berjaga dan bersiap siaga menghadapi musuh. Perhatikanlah hadits berikut ini,

رِبَاطُ يَوْمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا

“Ribath (bersiap siaga) satu hari di jalan Allah lebih baik dari dunia dan apa saja yang ada diatasnya….” (HR. Bukhari No. 2678)

Dalam Al Qur-an, yang dimaksud ribath adalah menyiapkan diri terikat dalam pembelaan Islam, sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siagalah (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imraan: 200).

Dalam hadits riwayat Muslim di atas disebutkan bahwa menanti waktu-waktu sholat dengan bersiap dalam keadaan wudhu dan berjalan jauh ke masjid disebut pula sebagai ribath. Jadi Ribath itu ada dua macam: Pertama, ribath (terikat) di front peperangan untuk membela dan menegakkan Islam. Kedua, ribath (terikat) secara kejiwaan yaitu memelihara diri jangan sampai terjatuh ke dalam larangan Allah serta memaksa diri mengerjakan amal-amal sholeh dan membiasakannya terus menerus.

Ramadhan: Syahrul Murabathah

Ramadhan datang menjelang. Jika kita kaitkan ibadah Ramadhan dengan ar-ribath, maka cocoklah jika kita menyebut Ramadhan sebagai syahrul murabathah; bulan untuk memperkuat ikatan atau penjagaan diri.

Ramadhan adalah saat yang tepat bagi kita untuk melatih jiwa agar terbiasa ribath seperti disebutkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, yakni  “Menyempurnakan wudhu di saat kesukaran, banyaknya langkah ke masjid, menunggu shalat (berikutnya) sesudah menunaikan sholat.”. Juga tentu saja mencakup seluruh upaya untuk menyucikan jiwa dan menetapi ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Upaya-Upaya Murabathah

Syaikh Sa’id Hawwa dalam al-Mustakhlah fi Tazkiyatil Anfus menyebutkan bahwa upaya-upaya murabathah dapat dilakukan dengan melewati 6 tahap, yaitu:

  1. Musyarathah (penetapan syarat)
  2. Muraqabah (pengawasan)
  3. Muhasabah setelah beramal
  4. Mu’aqabah (menghukum diri atas segala kekurangan)
  5. Mujahadah (bersungguh-sungguh)
  6. Mu’atabah (mencela diri).

Musyarathah

Akal perlu menetapkan musyarathah kepada jiwa, yaitu memberinya tugas, mengarahkan jiwa mencapai sasaran, dan mewajibkannya untuk menempuh seluruh proses yang diperlukan untuk mencapai tujuan.

Dalam musyarathah ini setiap diri hendaknya berkata pada jiwanya sendiri : “Wahai jiwa, aku hanya memiliki umur yang dianugerahkan Allah. Dengan modal umurku inilah aku mencari peruntungan di dunia. Bila umurku habis maka aku tidak ingin aku mendapat kerugian melainkan keuntungan yang menyenangkan hatiku. Maka, wahai jiwa, giatlah menghabiskan umurku ini dengan berbagai amal shalih, jangan biarkan engkau kembali dengan kehampaan dan kesia-siaan, agar kita dapat melampiaskan kerinduan kepada Allah Ta’ala, al-Khalik mu dengan tentram dan bahagia”.

Sebagai latihan, di bulan Ramadhan ini tetapkanlah tugas kepada diri kita untuk melakukan berbagai macam ketaatan: shaum dengan menjaga syarat dan rukunnya, tilawah dan tadabbur al-Qur’an, shalat berjama’ah, qiyamu lail, dll.

Muraqabah

Bila hati telah diwasiatkan tentang apa yang menjadi kewajiban utamanya, maka perlu pengawasan agar jiwa tidak menyimpang melampaui batas dan merusak dirinya sendiri.

“Barang siapa melanggar batas-batas Allah maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri” (Q.S. ath-Thalaq: 1).

Kita harus mengontrol seluruh gerak hati, lisan dan perilaku di setiap kesempatan. Rasakanlah muraqabatullah (pengawasan Allah).

Muhasabah

Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menghisab diri sendiri: “Hai orang-orang yang beriman bertqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (Q.S. al-Hasyar: 18).

Al-Hasan berujar: “Setiap mukmin akan mengevaluasi dirinya sendiri. Ia menghisab karena Allah. Hisab itu akan menjadi ringan bagi orang-orang yang telah menghisab diri mereka di dunia, dan akan menjadi berat pada hari kiamat bagi orang-orang yang mengambil perkara ini tanpa muahasabah”.

Umar bin Khattab  memukul dua kakinya dengan cemeti disetiap larut malam seraya berkata: “Apakah yang telah engkau perbuat hari ini ?”.

Perhatikanlah amal-amal yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini. Jika masih banyak kekurangan dan kelalaian maka perbanyaklah istighfar.

Mu’aqabah

Bahkan muhasabah harus ditindaklanjuti dengan mu’aqabah, yaitu menghukum diri sendiri atas segala kekurangan yang telah dilakukan. Hal ini agar jiwa kita tidak terjerumus dalam kubangan kemaksiatan oleh karena bisikan syetan dan terpedaya oleh hiasan semu belaka.

Umar bin Khattab menshadaqahkan tanah miliknya senilai 200.000 dirham oleh karena ia terlambat shalat berjama’ah. Pernah satu kali ia terlambat shalat maghrib maka ia menghukum dirinya dengan memerdekakan dua orang budak.

Abu Thalhah menshadaqahkan kebunnya setelah ia menyadari bahwa shalatnya menjadi tidak khusyu’ oleh karena kebunnya itu.

Mari kita latih mu’aqabah di bulan Ramadhan ini. Tetapkanlah sanksi pada diri jika lalai melakukan ketaatan.

Mujahadah

Bila kita telah menghukum diri, maka kita harus bersegera lebih bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah. Jangan biarkan hati lalai kembali sehingga pintu hati terbuka bagi syetan untuk memperdaya.

Bila jiwa enggan dan mengalami kesulitan bergairah beribadah kepada Allah, maka terapi yang harus kita lakukan adalah bersahabat dengan ahli ibadah yang lurus dan ikhlas seraya mengambil pelajaran dan mengikuti nasihat-nasihatnya.

Ali bin Abi Thalib menggambarkan jiwa para sahabat yang selalu berada dalam kondisi mujahadah, ia berkata “Demi Allah, aku telah melihat para sahabat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan aku sekarang tidak melihat sesuatu yang menyerupai mereka sama sekali. Mereka dahulu berdebu dan pucat pasi, mereka melewatkan malam hari dengan sujud dan berdiri karena Allah, mereka membaca Kitab Allah dengan bergantian pijakan kaki dan jidat mereka, apabila menyebut nama Allah mereka bergetar seperti pohon bergetar terterpa angin, mata mereka mengucurkan air mata membasahai pakaian mereka dan orang-orang sekarang seakan-akan lalai (bila dibandingkan mereka)”.

Di bulan Ramadhan ini, perbanyaklah berkumpul dengan orang-orang shalih atau hadir di majelis-majelis dzikir agar kesungguhan jiwa terpacu semakin kokoh.

Mu’atabah

Musuh utama diri kita ada dalam diri kita sendiri, yaitu potensi untuk membangkang kepada Allah Ta’ala, kecondongan untuk melalaikan kehidupan akhirat dengan lebih menyibukkan diri dengan kehidupan dunia, yang mendorong dengan sangat kuat keinginan hati menikmati segala kelezatan dunia dengan tidak mengacuhkan peringatan-Nya.

Kita mesti waspada terhadap musuh dari dalam diri yang senantiasa siap menyerang kita saat kita lengah. Allah Ta’ala memperingatkan: “Janganlah kalian termasuk orang-orang yang lalai”. (Q.S. al-A’raf: 205)

Maka berilah peringatan terutama pada diri kita sendiri. Jangan pernah memperingatkan orang lain sebelum menjadikan tradisi diri untuk senantiasa mencela diri dalam upaya memperbaiki dan menyempurnakan kebeningan hati. Jangan biarkan hati dirasuki riya dan berbangga riya dengan diri sendiri.

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (Q.S. adz-Dzariyat: 55).

Penutup

Marilah kita latih murabathah di bulan mulia ini. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Amin.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s