Cinta Ditolak Dukun Bertindak!

Oleh: M. Indra Kurniawan

Ungkapan di atas mungkin saja hanyalah ungkapan kelakar, tapi sebetulnya memang menggambarkan kondisi aspek pemahaman aqidah dan keimanan sebagian masyarakat kita yang sebenarnya.

Praktek Ramal, Dukun, dan Sihir dalam Masyarakat Kita

Harus kita akui, kondisi sebagian umat Islam saat ini masih ada yang memiliki kecenderungan terhadap praktek ramal, dukun, dan sihir; yang saat ini lebih familiar dengan sebutan paranormal. Hal ini berawal dari dorongan keinginan untuk ‘menyelesaikan’ problematika—ekonomi, kesehatan, cinta, jabatan, dan lain-lain—dengan segera. Mereka rela melakukan berbagai macam praktek mistik walaupun itu bertentangan dengan nilai-nilai aqidah dan keimanan yang dianutnya.

Praktek pedukunan memang sudah dikenal manusia sejak dulu; Al-Qur’an sendiri menceritakan bagaimana praktek sihir ini pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Allah Ta’ala berfirman,

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan mereka mengikuti (kitab-kitab sihir) yang dibaca oleh syaitan-syaitan[1] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat[2] di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya.[3] Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 102)

Praktek Ramal, Dukun, dan Sihir dalam Pandangan Islam

Islam melarang umatnya mendatangi dan percaya kepada tukang ramal, dukun, dan tukang sihir. Larangannya ditegaskan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَتَى عَرَّافاً فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْئٍ فَصَدَّقَهُ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal kemudian bertanya sesuatu lalu dia mempercayainya, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (HR. Muslim, No. 2230)[4]

Dalam hadits lain disebutkan,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi kahin (dukun/peramal) lalu dia mempercayai perkataannya maka dia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Muslim)

Berdasarkan hadits Nabi di atas, dapat kita katakan bahwa orang yang mendatangi dan percaya kepada tukang ramal, dukun, dan tukang sihir, berarti telah mencederai aqidah dan keimanannya kepada Allah Ta’ala dan kepada ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; karena mereka telah beri’tikad bahwa ada selain Allah Ta’ala yang mampu mendatangkan kemaslahatan atau kemudharatan; mereka terikat kepada makhluk—tukang ramal, dukun, tukang sihir—dan lupa kepada kekuasaan Khaliq, Allah Ta’ala.

Sikap yang Benar

Oleh karena itu setiap muslim hendaknya menjauhi praktek paranormal ini. Jika ada penyakit yang terkait dengan fisik, pengobatannya kita serahkan kepada ahlinya—yaitu tabib atau dokter, adapun kesembuhannya kita serahkan kepada Allah Ta’ala. Jika ada penyakit yang terkait dengan psikis, maka kita serahkan kepada psikiater. Jika ada cita-cita dan keinginan dalam kehidupan ini, maka kita coba gapai itu semua dengan ikhtiar dan kerja keras seraya menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala; karena Dialah yang mementukan segalanya dan mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Jika Terkena Sihir, Apa Tindakan Kita?

Jika terkena sihir maupun jin, maka ada cara-cara syar’i, yaitu rukyah atau do’a yang bisa kita baca secara mandiri.

Diantara rukyah atau do’a yang dapat kita baca untuk melindungi diri dari gangguan syaithan atau jin adalah 10 ayat dari surat Al-Baqarah—yakni ayat 2-5, lalu ayat kursi, tambah dua ayat setelahnya (ayat 255-257), dan 3 ayat terakhir (ayat 284-286)—sebagaimana dijelaskan atsar berikut.

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ:” مَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ لَمْ يَدْخُلْ ذَلِكَ الْبَيْتَ شَيْطَانٌ تِلْكَ اللَّيْلَةَ حَتَّى يُصْبِحَ أَرْبَعاً مِنْ أَوَّلِهَا وَآيَةُ الْكُرْسِىِّ وَآيَتَانِ بَعْدَهَا وَثَلاَثٌ خَوَاتِيمُهَا ، أَوَّلُهَا (لِلَّهِ مَا فِى السَّمَوَاتِ) .

Berkata Abdullah bin Mas’ud: “Barang siapa yang membaca sepuluh ayat dari surat Al Baqarah di rumahnya, maka rumah tersebut tidak akan dimasuki syetan dari malam hingga pagi, yakni empat ayat di awal Al Baqarah, ayat Kursi dan dua ayat setelahnya, dan tiga ayat penutupnya, awalnya (adalah Lillahi maa fis samawaati .. ).”[5] [6]

Jika kita cermati ayat-ayat rukyah di atas, nyatalah bahwa kita digiring untuk terikat dan bertawakkal hanya kepada Allah Ta’ala. Kepada-Nya kita bertakwa, karena Dialah Tuhan yang sebenarnya, Rabb semesta alam Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Mari kita menghamba dengan benar kepada Allah Ta’ala, kepada-Nya kita berdo’a (Al-Mu’min, 40: 60), kepada-Nya kita khauf –takut- (Ali Imran, 3: 175), kepada-Nya raja’ –berharap- (Al-Kahfi, 18: 110), kepadanya tawakkal –berserah diri- (Al-Maidah, 5: 23), kepada-Nya raghbah –penuh minat-, rahbah –cemas-, dan khusyu’ –tunduk- (Al-Anbiya, 21: 90), kepada-Nya khasyyah –takut- (Al-Baqarah, 2: 150), kepada-Nya inabah –kembali- (Az-Zumar, 39: 54), kepada-Nya isti’anah –memohon pertolongan- (Al-Fatihah, 2: 5), kepada-Nya isti’adzah –memohon perlindungan- (Al-Falaq, 113: 1), kepada-Nya istighotsah –memohon pertolongan untuk dimenangkan- (Al-Anfal, 8: 9), kepada-Nya dzabh –penyembelihan- (Al-An’am, 6: 162-163), kepada-Nya nadzar (Al-Insan, 76: 7)—niscaya Dia akan selalu menolong dan membantu kita atau memberikan yang jalan terbaik yang membawa kemaslahatan bagi dunia kita atau akhirat kita.

Wallahu A’lam.

| Risalah ini ditulis berdasarkan kisi-kisi materi yang disusun oleh Ustadz Aslam Hadi, Lc yang dimuat di buku Khutbah Cita-cita Umat Islam, diterbitkan oleh Forum Muballigh, Imam dan Khuthoba, Oktober 2012 |

 

 

Footnote:

[1] Syaitan-syaitan itu menyebarkan berita-berita bohong, bahwa Nabi Sulaiman menyimpan lembaran-lembaran sihir (Ibnu Katsir).

[2] Para mufassirin berlainan Pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang Malaikat itu. Ada yang berpendapat, mereka betul-betul Malaikat dan ada pula yang berpendapat orang yang dipandang saleh seperti Malaikat dan ada pula yang berpendapat dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti malaikat.

[3] Berbacam-macam sihir yang dikerjakan orang Yahudi, sampai kepada sihir untuk mencerai-beraikan masyarakat seperti mencerai-beraikan suami isteri.

[4] Ucapan ‘lalu dia mempercayainya’ tidak berasal dari riwayat Muslim, akan tetapi berasal dari riwayat Imam Ahmad, 4/28

[5] Diriwayatkan oleh: Imam Ad Darimi, Kitab Fadhail Al Quran Bab Fadhli Awali Suratil Baqarah wa Ayatil Kursi, No.  3382. Imam Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, No hadits. 8592. Imam Nuruddin Al Haitsami mengatakan: rijal (periwayat) hadits ini adalah shahih, hanya saja Asy Sya’bi tidak mendengar langsung dari Ibnu Mas’ud. Lihat Majma’ Az Zawaid, 10/118. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah

[6] Berikut ayat-ayat yang dimaksud:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5)

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Baqarah, 2: 2-5)

Lalu:

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255) لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256) اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (257)

  1. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqarah (2): 255-257)

 Lalu:

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (284) آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

  1. kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
  2. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”
  3. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqarah (2): 284-286)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s