Definisi As-Sunnah

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Secara bahasa (Lughatan – Etimologis):

As Sunnah jamaknya adalah As Sunan, Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan artinya Ath Thariiq (jalan/cara/metode). (Al Qadhi’ Iyadh, Ikmal Al Mu’allim, 8/80. Lihat juga Imam Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari, 35/436). Lalu, Imam Abul Abbas Al Qurthubi mengatakan: Ath Thariiq Al Masluukah (jalan yang dilewati). (Imam Abul Abbas Al Qurthubi, Al Mufhim Lima Asykala Min Talkhishi fi Kitabi Muslim, 22/53)

Hal ini nampak dari  hadits berikut:

Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 “لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ؟ “

“Kalian akan benar-benar mengikuti sunan (jalan) orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai walau mereka melewati lubang biawak, kalian akan menempuhnya juga.” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau bersabda: “Ya Siapa lagi?” (HR. Bukhari No. 3269, 6889, Muslim No. 2669, Ibnu Hibban No. 6703 , Ahmad No. 11800)

 Juga bisa berarti As Siirah (peri kehidupan/perjalanan) (lihat Syaikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Hujjah As Sunnah An Nawawiyah, Hal.  88) Juga berarti perilaku. (Kamus Al Munawwir, Hal. 669)

Dalam Al Munjid disebutkan makna As Sunnah, yakni: As Sirah (perjalanan),  Ath Thariqah (jalan/metode), Ath Thabi’ah (tabiat/watak), Asy Syari’ah (syariat/jalan). (Al Munjid fil Lughah wal A’lam, hal. 353)

Disebutkan dalam sebuah hadits terkenal:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ ، وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa dalam Islam melakukan kebiasan baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa dalam Islam melakukan kebiasaan buruk, maka tercatat baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim, No. 1017, At Tirmidzi No. 2675, An Nasa’i No. 2554, Ibnu Majah No. 203)

Imam Abul Abbas Al Qurthubi Rahimahullah mengomentari kalimat : Man sanna fil Islam sunnatan hasanah …, katanya:

من فعل فعلاً جميلاً

            “Barangsiapa yang mengerjakan fi’l (perbuatan/perilaku) yang bagus ..” (Al Mufhim, 9/33)

Makna Secara Istilah (Ishthilahan -Terminologis):

       Syaikh Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani menyebutkan makna As Sunnah:

والمراد بالسنة : الطريقة التى كان عليها رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و أصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة

Yang dimaksud dengan As Sunnah adalah: jalan yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik berada di atasnya sampai hari kiamat. (Syaikh Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasathiyah, Hal. 10. Muasasah Al Juraisi)

Selain itu dalam perkembangannya, makna As Sunnah terbagi menjadi beberapa bagian sesuai disiplin ilmu yang mengikatnya.

  • Menurut Ahli Ushul

Imam Ibnul Atsir rahimahullah mengatakan:

وإذا أطلقت في الشرع، فإنما يراد بها ما أمر به النبي صلى الله عليه وسلم، ونهى عنه، وندب إليه قولا، وفعلا مما لا ينطق به الكتاب العزيز، ولهذا يقال: في أدلة الشرع الكتاب والسنة. أي القرآن والحديث

“Jika dilihat dari sudut pandang syara’, maka maksudnya adalah apa-apa yang diperintahkan dan dilarang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan apa yang dianjurkannya baik perkataan, perbuatan yang tidak dibicarakan oleh Al Quran. Maka, dikatakan: tentang dalil-dalil Syara’ adalah Al Kitab dan As Sunnah, yaitu Al Quran dan Al Hadits.” (An Nihayah, 1/186)

Syaikh Abdul Qadir As Sindi Rahimahullah mengatakan:

عبارة عما صدر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ما عدا القرآن الكريم من قول, أو فعل, أو تقرير، فيخرج من السنة عندهم ما صدر من غيره عليه الصلاة والسلام رسولا كان أو غير رسول، وما صدر عنه صلى الله عليه وسلم قبل البعثة.

“Keterangan tentang apa yang berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selain dari Al Quran Al Karim, berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuannya. Yang tidak termasuk dari As Sunnah menurut mereka adalah apa yang selain dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik dia seorang rasul atau selain rasul, dan apa-apa yang berasal dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebelum masa bi’tsah (masa diutus  menjadi rasul).” (Syaikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Hujjah As Sunnah An Nawawiyah, Hal.  88. 1975M-1395H. Penerbit: Al Jami’ah Al Islamiyah – Madinah)

Jadi, menurut para ahli ushul, As sunnah adalah semua yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bukan dari selainnya dan bukan pula dari Al Quran, khususnya yang berimplikasi kepada hukum syara’, baik berupa perintah, larangan, dan anjuran.

  • Menurut Fuqaha (Ahli Fiqih)

Berkata Syaikh Abdul Qadir As Sindi:

فهي عندهم عبارة عن الفعل الذي دل الخطاب على طلبه من غير إيجاب، ويرادفها المندوب والمستحب، والتطوع، والنفل، والتفرقة بين معاني هذه الألفاظ اصطلاح خاص لبعض الفقهاء، وقد تطلق على ما يقابل البدعة منه قولهم طلاق السنة كذا، وطلاق البدعة كذا، فهم بحثوا عن رسول الله صلة الله عليه وسلم الذي تدل أفعاله على حكم شرعي.

“Maknanya menurut mereka adalah  istilah tentang perbuatan yang menunjukkan perkataan  perintah selain kewajiban. Persamaannya adalah mandub (anjuran), mustahab (disukai), tathawwu’ (suka rela), an nafl (tambahan). Perbedaan  makna pada lafaz-lafaz istilah ini, memiliki makna tersendiri bagi sebagian fuqaha. Istilah ini juga digunakan sebagai lawan dari bid’ah, seperti perkataan mereka: thalaq sunah itu begini, thalaq bid’ah itu begini . Jadi,  pembahasan mereka pada apa-apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menunjukkan perbuatannya itu sebagai hukum syar’i.” (Ibid)

  • Menurut Muhadditsin (Ahli Hadits)

Beliau juga mengatakan:

الرأي السائد بينهم – ولا سيما المتأخرين منهم – أن الحديث والسنة مترادفان متساويان يوضع أحدهما مكان الآخر  

Pendapat utama di antara mereka –apalagi kalangan muta’akhirin- bahwa Al Hadits dan  As Sunnah adalah muradif (sinonim-maknanya sama), yang salah satunya diletakkan pada posisi yang lain. (Ibid)

       Sedangkan hadits adalah –sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:

الحديث النبوي هو عند الإطلاق ينصرف إلى ما حُدِّث به عنه بعد النبوة : من قوله وفعله وإقراره، فإن سنته ثبتت من هذه الوجوه الثلاثة .

“Al Hadits An Nabawi adalah berangkat dari apa-apa yang diceritakan darinya setelah masa kenabian: berupa perkataan, perbuatan, dan persetujuannya. Jadi, sunahnya ditetapkan dari tiga hal ini.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/6)

       Syaikh Dr. Mahmud Ath Thahhan mendefinisikan Al Hadits:

ما اضيف إلى النبى صلى الله عليه وسلم من قول او فعل او تقرير او صفة

“Apa saja yang dikaitkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berupa perkataan, atau perbuatan, atau persetujuan, atau sifatnya.” (Taysir   Mushthalahul Hadits, Hal. 14. Tanpa tahun)

 Jadi, makna As Sunnah dalam pandangan ahli hadits adalah semua yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah diutusnya menjadi Rasul, baik perkatan, perbuatan, persetujuan, dan sifatnya, tanpa dibedakan mana yang mengandung muatan syariat atau bukan, semuanya adalah As Sunnah.

Namun dalam pemakaian sehari-hari, istilah Al Hadits –walau maknanya sama dengan As Sunnah– lebih sering dikaitkan dengan perkataan (Qaul) nabi saja. Maka, sering kita dengar manusia mengatakan sebuah kalimat: “Dalam sebuah hadits nabi bersabda ….”, jarang sekali kita dengar manusia mengatakan: “Dalam sebuah sunah nabi bersabda …”

Hal ini dikatakan oleh Prof. Dr. ‘Ajaj Al Khathib, dalam kitab Ushulul Hadits, sebenarnya Al Hadits merupakan sinonim dari As Sunnah, yaitu segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah baik ucapan, perbuatan, dan taqrir. Namun, dalam pemakaiannya Al Hadits lebih sempit maknanya, yaitu identik dengan qauliyah (ucapan) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang ditetapkan oleh para Ahli Ushul. (Prof. Dr.Muhammad ‘Ajaj Al Khathib, Ushulul Hadits, hal. 8)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s