Takhrij Al-Ma’tsurat (Bag. 12)

Membaca surat Ar Ruum ayat 17-26

فَسُبْحَانَ اللهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ, وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ, يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرَجُونَ, وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ, وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَـــــــيْهَا وَجَعَلَ بَيْــــنَكُم مَّـــوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ  لِّـــــقَوْمٍ  يَــــتَفَــــكَّرُونَ, وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ , وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ , وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاء مَاء فَيُحْيِي بِهِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ , ‏وَمِنْ آيَاتِهِ أَن تَقُومَ السَّمَاء وَالأَرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِّنَ
الأَرْضِ إِذَا أَنتُمْ تَخْرُجُونَ , وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ

“Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. dan seperti Itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur). dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. semuanya hanya kepada-Nya tunduk. (QS. Ar Ruum: 17-26)

* * *

Ada beberapa riwayat yang menyebutkan agar membaca ayat ini dibaca setiap pagi dan sore, namun tidak satu pun yang shahih.

Imam Ahmad dalam Musnadnya merwayatkan sebagai berikut:

حَدَّثَنَا حَسَنٌ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، حَدَّثَنَا زَبَّانُ بْنُ فَائِدٍ، عَنْ سَهْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ” أَلَا أُخْبِرُكُمْ لِمَ سَمَّى اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِبْرَاهِيمَ خَلِيلَهُ الَّذِي وَفَّى ؟ لِأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: كُلَّمَا أَصْبَحَ، وَأَمْسَى: {فَسُبْحَانَ اللهِ حِينَ تُمْسُونَ، وَحِينَ تُصْبِحُونَ} [الروم: 17] حَتَّى يَخْتِمَ الْآيَةَ “

                Telah bercerita kepada kami Hasan, telah bercerita kepada kami Ibnu Luhai’ah, bercerita kepada kami Zabban bin Faaid, dari Sahl, dari ayahnya, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa beliau bersabda: “Maukah saya kabarkan kenapa Allah Tabaraka wa Ta’ala menamakan Ibrahim sebagai kekasihNya yang menepati janji? Karena dia membaca ketika pagi dan sore: Fasubhanallahi hiina tumsuuna wa hiina tushbihuun (QS. Ar Ruum: 17), sampai penutup ayat.” (HR. Ahmad No. 15624, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 16826, Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Tafsirnya, 22/545)

Hadits ini dhaif, lantaran kedhaifan Ibnu Luhai’ah dan Zabban bin Faaid.

Kelemahan Ibnu Luhai’ah sangat terkenal dikalangan muhadditsin, khususnya ketika buku-bukunya terbakar sehingga hapalannya kacau, dan dahulunya dia seorang tsiqah bil kutub (terpercaya dengan buku-bukunya). Oleh karenanya, para ulama meninggalkan hadits-haditsnya ketika pasca terbakar buku-bukunya yang membuat kacau hapalannya.  Namun demikian, para ulama tetap mengambil hadits darinya jika hadits  beliau  diriwayatkan dari empat orang bernama Abdullah, sebab mereka mendengarnya ketika hapalannya masih bagus.

Imam Ibnu Hibban bercerita –sebagaimana dikutip Imam Adz Dzahabi:

وكان صالحا، لكنه يدلس عن الضعفاء، ثم احترقت كتبه، وكان أصحابنا يقولون: سماع من سمع منه قبل احتراق كتبه مثل العبادلة: عبدالله بن وهب، وابن المبارك، وعبد الله بن يزيد المقرئ، وعبد الله بن مسلمة القعنبى – فسماعهم صحيح.

“Dia adalah orang shalih, tetapi dia melakukan tadlis (manipulasi/penggelapan) dari orang-orang dhaif, kemudian buku-bukunya terbakar. Kawan-kawan kami mengatakan: “Boleh  saja mendengar dari orang yang mendengarkan hadits darinya sebelum terbakar buku-bukunya dari para ‘abadilah , yaitu: Abdullah bin Wahb, Abdullah bin Al Mubarak, Abdullah bin Yazid Al Muqri, dan Abdullah bin Maslamah Al Qa’nabi, maka mendengarkan dari mereka adalah shahih.” (Mizanul I’tidal, 2/482)

Dan, hadits di atas tidaklah diriwayatkan oleh empat Abdullah darinya. Maka, jelas kelemahan hadits ini.

Ditambah lagi, adanya Zabban bin Faaid, seorang yang didhaifkan oleh jamaah ahli hadits, hanya Abu Hatim yang mentsiqahkannya. (Lihat Imam Al Haitsami, Majma’ Az Zawaid, 5/284)

Al Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Imam Ahmad mengatakan hadits-hadits Zabban adalah munkar. Imam Yahya bin Ma’in mengatakan sebagai syaikh yang dhaif. Sedangkan Imam Abu Hatim mengatakan shalihul hadits (haditsnya baik). (Tahdzibut Tahdzib, 3/08)

Syaikh Syu’aih Al Arnauth mengomentari hadits ini: isnaaduhu dhaif- isnadnya dhaif.  (Lihat Tahqiq Musnad Ahmad, 24/388)

Selain itu, ada riwayat lain tentang anjuran membaca surat Ar Ruum ayat 17, sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُطَّلِبُ بن شُعَيْبٍ الأَزْدِيُّ , حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بن صَالِحٍ , حَدَّثَنِي اللَّيْثُ بن سَعْدِ , عَنْ سَعِيدِ بن بَشِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بن عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْبَيْلَمَانِيِّ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن عَبَّاسٍ , عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ:مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ: “فسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ”[الروم آية 17] الآيَةَ كُلَّهَا أَدْرَكَ مَا فَاتَهُ فِي يَوْمِهِ , وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي أَدْرَكَ مَا فَاتَهُ لَيْلَتَهُ.

            Bercerita kepada kami Syu’aib Al Azdi, bercerita kepada kami Abdullah bin Shalih, bercerita kepadaku Al Laits bin Sa’ad, dari Sa’id bin Basyir, dari Muhammad bin Abdurrahman Al Bailamani, dari ayahnya, dari Abdullah bin Abbas, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

“Barangsiapa yang membaca saat pagi: Fasubhanallahi hiina tumsuuna wa hiina tushbihuun … dst (QS. Ar Ruum: 17) sampai semuanya, maka dia akan menemukan apa-apa yang luput darinya pada siangnya, dan yang membacanya ketka sore maka dia akan menemukan apa-apa yang luput darinya pada malam harinya.” (HR. Abu Daud No. 5076. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 12815)

Riwayat ini juga dhaif jiddan (sangat lemah).  Lantaran beberapa rawinya yang dhaif.

Sa’id bin Basyir, dia didhaifkan para imam. Imam Al Bukhari memasukkanya dalam kitabnya Adh Dhu’afa (orang-orang lemah), dan mengatakan: haditsnya tidak shahih. Abu Hatim mengatakan bahwa Sa’id bin Basyir adalah guru dari Al Laits bin Sa’ad, tetapi tidak terkenal. Ibnu Hibban mengatakan: laisa bi syai’ (bukan apa-apa). Al Uqaili mengatakan: majhul (tidak dikenal). (Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 4/11)

            Muhammad bin Abdurrahman Al Bailamani, dia juga didhaifkan para imam. Imam Al Bukhari dan Imam Abu Hatim mengatakan: munkarul hadits (haditsnya munkar). Imam Ad Daruquthni dan lainnya mengatakan: dhaif. Imam Ibnu Hibban mengatakan: “Dia meriwayatkan hadits dari ayahnya (Abdurrahman Al Bailamani) salinan naskah yang samar, sejumlah dua ratus hadits yang semuanya palsu.” Imam Ibnu ‘Adi mengatakan: “Semua hal yang diriwayatkan Ibnu Al Bailamani terdapat bala’ (musibah) yang berasal darinya.” (Al Hafizh Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, 3/618-619)

Ada pun Abdurrahman Al Bailamani -ayah dari Muhammad bin Abdurrahman Al Bailamani- juga seorang yang didhaifkan oleh mayoritas ulama. Imam Abu Hatim mengatakan dhaif, Imam Ad Daruquthni mengatakan dhaif, dan tidak kuat dijadikan hujjah. (Ibid, 2/551)

                Oleh karenanya Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini; dhaif jiddan (sangat lemah). (Lihat Dhaiful Jami’ No. 5733)

Wallahu A’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s