Ittishal Jama’i dan Ittishal Fardhi

Oleh: Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir

Ittishal Jama’i (Kontak kepada kumpulan manusia secara terbuka)

Pada tahapan dakwah jahriyah (terang-terangan), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan berbagai sarana untuk menyampaikan dakwahnya kepada manusia, diantaranya:

Pertama, mengumpulkan manusia dalam suatu jamuan makan di rumahnya, kemudian menyampaikan prinsip-prinsip dakwah kepada mereka.

Disampaikan di dalam musnad Imam Ahmad dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan atau mengundang Bani Abdul Muthallib termasuk para tokoh mereka. Mereka semua menikmati hidangan kurma setengah matang dan minumannya.” Ali berkata: “Beliau mengatur makanan itu secara memanjang, lalu mereka makan hingga kenyang.” Ali berkata: “Tetapi makanan itu tetap utuh sebagaimana semula, seolah-olah tidak pernah disentuh. Kemudian beliau mempersilahkan mereka minum dari semangkuk air, lalu mereka minum hingga kenyang. Tetapi minuman itu tetap utuh sebagaimana semula, seolah-olah tidak pernah disentuh. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Wahai Bani Abdul Muthallib sesungguhnya aku diutus kepada kalian khususnya dan kepada manusia umumnya. Kalian telah menyaksikan tanda (mukjizat) ini, maka siapakah diantara kalian yang mau berbai’at kepadaku untuk menjadi saudara dan sahabatku?’” Ali Berkata: “Maka tidak ada seorangpun yang berdiri kepadanya dan aku adalah orang yang paling muda di antara mereka. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Duduklah’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan demikian tiga kali setiap aku berdiri kepadanya. Lalu beliau berkata kepadaku: ‘Duduklah!’ hingga kali yang ketiga beliau memukulkan tangannya kepadaku (berbaiat).”

Kedua, mengumpulkan manusia di berbagai tempat, kemudian menyampaikan risalah Allah kepada mereka.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan lainnya dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Ketika turun ayat: ‘Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang dekat dan kaummu yang mukhlis di antara mereka. ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar naik ke atas bukit Shafa, kemudian berseru: ‘Ya shabaha.’ Lalu mereka berkata: ‘Siapakah ini?’ Kemudian mereka berkumpul di sekitarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: ‘Bagaimanakah menurut pendapatmu jika aku kabarkan kepadamu bahwa di balik bukit ini ada seekor kuda yang akan keluar, apakah kalian akan membenarkan aku?’ Mereka menjawab: ‘Kami belum pernah mendapatimu berdusta.’ Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Maka sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepadamu dari siksaan yang pedih!’”

Ketiga,  pergi ke tempat-tempat pertemuan manusia dan menyampaikan dakwah Allah kepada mereka.

Ahmad meriwayatkan dari Rabi’ah Ad-Daili—seorang yang pernah hidup di masa jahiliyyah kemudian masuk Islam—ia berkata: “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa jahiliyyah di Pasar Dzil Majaz. Beliau bersabda: ‘Wahai manusia katakanlah Laa Ilaha illa-Llah niscaya kalian mendapatkan kemenangan.’” Ibnu Ishaq berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kabilah-kabilah Arab di berbagai musim, mengajak mereka kepada Allah dan mengabarkan bahwa ia adalah Nabi yang diutus Allah.”

Keempat, pergi ke berbagai negara untuk menyampaikan dakwah.

Ibnu Ishaq berkata: “Ketika sampai di Thaif, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi beberapa orang dari suku Tsaqif…”

Kelima, mengirim surat kepada suku dan raja.

Berkata pengarang Bahjatul Mahafil: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersiapkan surat-surat untuk para raja yang berkuasa. Beliau menyampaikan kabar gembira dan ancaman kepada mereka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Dahiyah bin Khalifah Al-Kalbi kepada Kaisar (Romawi), Abdullah bin Hudzafah Sahmi kepada Kisra (Persia), Amr bin Umayyah Adh Dhamri kepada Najasi, Hatib bin Abi Baltha’ah kepada Mauqaqis (Gubernur Mesir), Syuja bin Wahab kepada Haris bin Syamar (raja Ghassasinah), dan Shalt bin Amr Al-Amiri kepada Hudzah bin Ali bin Hanafi. Diantara surat-surat itu yang paling terkenal dan disepakati oleh Bukhari dan Muslim adalah surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Heraklius dan Kaisar. Di dalam Shahih Bukhari disebutkan dari Ibnu Abbas tentang pembicaraan Abu Sufyan dengan Heraklius. Di dalam hadits ini juga disebutkan teks surat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu: Bismillahirrahmanirrahim. Sesungguhnya aku mengajak tuan kepada Islam…”

Ittishal Fardhi (Kontak Pribadi)

Cara ini oleh para ahli sirah disebut tahapan sirriyah (rahasia) dalam dakwah. Dalam tahapan ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi pribadi-pribadi, kerabat, dan teman-teman dekatnya yang dapat dipercaya untuk menjaga apa yang disampaikannya, kemudian beliau meminta mereka menerimanya dan merahasiakan kontak yang telah berlangsung tersebut baik diterima atau tidak. Hal ini dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dakwahnya yang masih ‘bayi’ itu tidak dipukul. Dalil-dalil tentang cara ini banyak sekali, diantaranya:

Pertama, penyampaian kepada Khadijah sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan lainnya dari Aisyah dalam sebuah hadits yang panjang….Maka ia berkata kepada Khadijah dan memberitahukan kabar (wahyu) itu kepadanya…Pensyarah kitab Bahjatul Mahafil berkata: “Diantara orang yang pertama kali masuk Islam adalah Khadijah, yaitu ketika pertamakali beliau menerima wahyu, kemudian kembali (pulang) kepada Khadijah seraya berkata, ‘Selimuti aku, selimuti aku.’”

Ibnu Hisyam berkata, “Khadijah binti Khuwailid beriman kepadanya, membenarkan apa yang dibawanya dari Allah, dan membantu urusannya. Khadijah adalah orang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan membenarkan apa yang dibawa dari-Nya. Maka dengan itulah Allah meringankan Nabi-Nya.”

Kedua, penyampaian dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak pamannya, Ali bin Abu Thalib, sebagaimana disebutkan di dalam Sirah Ibnu Ishaq: “Kemudian Ali bin Abi Thalib datang dua hari sesudah itu, maka ia mendapati keduanya sedang melakukan shalat, lalu Ali bertanya, ‘Apa yang kalian lakukan ini, wahai Muhammad?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Agama Allah yang telah dipilih-Nya, dan dengannya Dia telah mengutus Rasul-Nya, maka aku mengajakmu kepada Allah semata dan beribadah kepada-Nya.’ Ali berkata, ‘Ini adalah persoalan yang tidak dapat aku putuskan sehingga aku menceritakan kepada Abu Thalib.’ Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: ‘Wahai Ali, jika kamu tidak masuk Islam, hendaklah kamu merahasiakan (hal ini).’”

Dari Ibnu Hisyam, ia berkata: “Orang lelaki yang pertama kali beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, shalat bersamanya dan membenarkan apa yang dibawanya dari Allah, adalah Ali bi Abi Thalib. Pada hari itu ia berusia 10 tahun.”

Ibnu Katsir berkata: ”Ali waktu itu menyembunyikan keislamannya.”

Pengarang ‘Uyunul Atsar berkata, “Apabila datang waktu shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke lorong-lorong kota Makkah bersama Ali bin Abi Thalib menghindari Abu Thalib, semua pamannya dan semua kaumnya; lalu keduanya shalat di dalamnya.”

Sumber: dikutip dengan sedikit perubahan dari majalah Waqfah Tarbawiyah, Nomor 3, Vol. I, 1996

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s