Adab-adab dalam Berdo’a

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku  akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’.” (QS. Ghafir: 60)

Pada ayat ini Allah SWT memerintahkan agar manusia berdoa kepada-Nya. Jika mereka berdoa niscaya Dia akan memperkenankan doa itu. Ayat ini pun merupakan peringatan dan ancaman yang keras kepada orang-orang yang enggan beribadat kepada Allah dan merupakan pernyataan keinginan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman bahwa Dia ingin hamba-hamba Nya itu memperoleh kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Seakan-akan Allah mengatakan: “Wahai hamba-hamba-Ku hambakanlah dirimu kepada Ku, selalulah beribadat dan berdoa kepada Ku. Aku akan menerima ibadat dan doa yang kamu lakukan dengan ikhlas, memperkenankan permintaanmu, mengampuni dosa-dosamu”

Do’a adalah salah satu bentuk peribadatan kepada Allah Ta’ala. Ia adalah refleksi keimanan akan kemahakuasaan Allah Ta’ala serta wujud ketundukkan dan  penyerahan diri kepada-Nya. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدﱡعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah,” (HR. Tirmizi, Abu Dawud, Ibnu Majah)

Dalam hadits lain,

عن عائشة رضي الله عنها قالت : سُئِلَ النَبِيُّ صلى الله عليه وسلم أيُّ العِبَادَةِ أَفْضَل ؟ فَقَاَلَ : دُعَاءُ الْمَرْءِ لِنَفْسِهِ

Dari ‘Aisyah, dia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya orang: ‘Ibadat manakah yang paling utama?’. Beliau menjawab: ‘Doa manusia untuk dirinya’.” (HR. Bukhari)

Diantara hal yang harus  kita jaga dalam berdo’a adalah memperhatikan adab-adabnya, agar do’a yang kita panjatkan itu dapat dikabulkan atau dinilai sebagai ibadah yang utama.

Ada beberapa adab yang harus kita jaga sebelum berdo’a, saat berdo’a, dan setelah berdo’a.

Adab sebelum berdo’a:

Pertama, mengikhlashkan diri dari syirik dalam berdo’a kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah; 5)

Kedua, mengakui dosa-dosa yang diperbuat dan memohon ampun kepada-Nya. Hal ini dilakukan agar Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita dan berkenan mendengar do’a-do’a yang kita panjatkan. Karena diantara hal yang dapat menghalangi dikabulkannya do’a adalah dosa-dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan, terutama dosa memakan dan meminum yang haram, memakai pakaian dan mengkonsumsi yang haram.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إِلا طَيِّبًا ، وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ ، فَقَالَ : ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ ) ، وَقَالَ : ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ) ، ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ )

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin sebagaimana Allah memerintahkan kepada para rasul untuk menyampaikannya. Maka Allah berfirman, ‘Wahai Rasul, makanlah dari yang baik dan beramal shaleh sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu lakukan. Kemudian firman-Nya, ‘Wahai orang beriman makanlah dari yang baik dari apa yang diberikan rezki kepada kamu semua.’ Kemudian disebutkan seseorang yang lama bepergian, kumal dan berdebu, mengangkat kedua tangannya ke langit serta mengatakan: ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.’ Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan mengkonsumsi yang haram. Bagaimana akan dikabulkan hal itu.” (HR. Muslim )

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Maka makanan halal dan minuman, pakaian dan mengkonsumi yang halal termasuk sebab dikabulkan doa.”

Dengan mengakui dosa-dosa dan beristighfar kepada Allah Ta’ala sebelum berdo’a, mudah-mudahan Allah Ta’ala ridho. ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَيَعْجَبُ مِنَ الْعَبْدِ إِذَا قَالَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ إِنِّيْ قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذُنُوْبِيْ إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، قَالَ: عَبْدِيْ عَرَفَ أَنَّ لَهُ رَباًّ يَغْفِرُ وَ يُعَاقِبُ.

“Sesungguhnya Allah kagum kepada hamba-Nya apabila ia berkata: ‘Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Engkau, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah dosa-dosaku karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau.’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah mengetahui bahwa baginya ada Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum.’” (HR. Al-Hakim)

Ketiga, memuji dan menyanjung Allah Ta’ala dengan pujian dan sanjungan yang layak bagi-Nya dan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berdasarkan riwayat dari Fudhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu,

بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ إِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَقَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَجِلْتَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي ، إِذَا صَلَّيْتَ فَقَعَدْتَ فَاحْمَدْ اللَّهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ، وَصَلِّ عَلَيَّ ، ثُمَّ ادْعُهُ

“Ketika Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam duduk, datanglah seseorang laki-laki lalu ia menunaikan shalat dan berdoa, ‘Ya Allah ampuni diriku dan sayangi diriku.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai orang yang shalat, Anda ini tergesa-gesa. Apabila Anda telah shalat dan duduk, maka memujilah kepada Allah dengan apa-apa yang layak untuk-Nya dan bershalawatlah kepadaku kemudian barulah berdo’a.” (HR. Tirmidzi).

Di dalam redaksi hadits lain disebutkan,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ لْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لْيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ . قَالَ : ثُمَّ صَلَّى رَجُلٌ آخَرُ بَعْدَ ذَلِكَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّهَا الْمُصَلِّي ، ادْعُ تُجَبْ

“Apabila salah seorang diantara kamu berdoa, maka mulailah dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya. Kemudian bershalawatlah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berdo’alah setelah itu sesuai yang dikehendaki. Berkata (Fudhalah), ”Kemudian ada orang lain shalat setelah itu, dan memuji kepada Allah, bershalawat kepada Nabi sallallahu alahi wa sallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai orang yang shalat, berdoalah (pasti) dikabulkan.”  (HR. Tirmidzi).

Diantara pujian dan sanjungan yang layak bagi Allah Ta’ala adalah dengan menyebut-nyebut nama-nama-Nya yang indah (asmaul husna). Bahkan ia bukan hanya diucapkan di awal berdo’a, tetapi hendaknya diucapkan di sepanjang kita berdo’a kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu…” (QS. Al-A’raf: 180)

Mengenai membaca shalawat dalam berdo’a disebutkan pula dalam hadits berikut ini.

كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Setiap doa itu terhijab hingga dibacakan shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam” (H.R At-Thabrani)

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya do’a tertahan di antara langit dan bumi tidak naik, hingga dibacakan sholawat untuk Nabimu shallallahu ‘alaihi wa sallam” (HR. Tirmidzi)

Adab saat berdo’a:

Pertama, menghadap kiblat dan mengangkat tangan. Hal ini diisyaratkan oleh riwayat dari Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu,

لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلاثُ مِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلا ، فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ : ( اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي ، اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي ، اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِسْلامِ لا تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ ) فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ

“Ketika perang Badar, Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam melihat orang-orang musyrik berjumlah 1000 orang sedangkan para shahabatnya 319 orang. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam menghadap kiblat kemudian menengadahkan kedua tangannya dan memohon kepada Tuhannya, “Ya Allah kabulkan untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah berikan apa yang telah Engkau janjikan untukku. Ya Allah kalau sekiranya kelompok (umat Islam) ini musnah, maka tidak ada yang disembah di muka bumi.” Beliau terus memohon kepada Tuhannya seraya menengadahkan kedua tangannya dan menghadap kiblat sampai jatuh selendangnya dari pundak beliau.” (HR. Muslim).

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalamnya ada anjuran menghadap kiblat dalam berdoa. Dan mengangkat kedua tangannya.”

Mengenai mengangkat kedua tangan dalam bedo’a,  Salman radhiallahu anhu  meriwayatkan bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

“Sesungguhnya Tuhan Kamu Tabaraka wa Ta’ala itu Maha Malu serta Maha Dermawan. Malu kepada hamba-Nya  apabila mengangkat kedua tangan kepada-Nya, dan kembali dalam kondisi kosong.” (HR. Abu Dawud).

Saat mengangkat kedua tangan, telapak tangan menghadap ke langit seperti keadaan orang fakir yang sedang meminta dan mengharap diberi. Diriwayatkan dari Malik bin Yasar radhiallahu ‘anhu sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَأَلْتُمْ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلا تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا

“Kalau kamu semua meminta kepada Allah, maka mintalah dengan sisi dalam telapak tangan kalian semua. Jangan meminta dengan sisi luar telapak tangannya.” (HR. Abu Dawud)

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menegaskan dalam ‘Syarah Mumti’, (4/25) bahwa kedua tangan itu dirapatkan, “Sementara merenggangkan dan saling menjauhkan diantara keduanya, saya belum mengetahui itu ada asalnya baik dalam sunah maupun perkataan para ulama”.

Kedua, melirihkan dalam berdoa dan tidak mengeraskannya; merendahkan diri, khusyu’, penuh harap dan rasa takut; diiringi keyakinan do’anya akan dikabulkan dan berupaya menghadirkan hati.

Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raf: 55).

Dan firman-Nya,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاهٍ

“Berdoalah kepada Allah sementara anda semua dalam kondisi yakin dikabulkan. Ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan sia-sia.” (HR.Tirmidzi).

Ketiga, tidak memohon sesuatu yang bernilai dosa dan memutuskan kekerabatan serta tidak diiringi ketergesa-gesaan ingin dikabulkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ ، مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ ، قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا الاسْتِعْجَالُ ؟ قَالَ  يَقُولُ : قَدْ دَعَوْتُ ، وَقَدْ دَعَوْتُ ، فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي ، فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

“Dikabulkan seorang hamba (berdoa) selagi tidak berdoa untuk dosa dan memutus kerabat, dan tidak tergesa-gesa.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah. Apa tergesa-gesa itu?” Maka beliau menjawab, “Sungguh saya telah berdoa, telah berdoa. Dan saya tidak melihat dikabulkan untukku, sehingga dia menyesal dan waktu itu dia tinggalkan berdoa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

لاَ تَدْعـُوْا عَلَى أَنْفُـسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوْا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ لاَ تَدْعُـوْا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لاَ تَوَافِقُـوْا مِنَ اللهِ سَاعَةً يَسْأَلُ فِيْهَا عَطَاءً، فَيَسْـتَجِيْبُ لَكُمْ.

“Janganlah kalian mendo`akan keburukan kepada diri kalian, janganlah mendo`akan buruk kepada anak-anak kalian, janganlah mendo`akan buruk kepada harta-harta kalian, dan janganlah sampai (doa buruk kalian itu) bertepatan dengan waktu Allah ta’ala mengabulkan do`a, karena Allah akan mengabulkan do`a kalian.” (HR. Muslim)

Keempat, menegaskan do’a. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ ، لِيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ ، فَإِنَّ اللهَ لا مُكْرِهَ لَهُ

“Jangan salah seorang diantara kamu mengatakan, ‘Ya Allah ampuni diriku kalau Engkau berkehendak. Ya Allah sayangi diriku kalau Engkau berkehendak.’ Hendaklah menegaskan dalam permintaan, karena sesungguhnya Allah tidak menolak seorangpun.” (HR. Bukhari, dan Muslim).

Kelima, mengulang-ulang ucapan do’a tiga kali. Hal ini seperti diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berikut ini.

بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عِنْدَ الْبَيْتِ وَأَبُو جَهْلٍ وَأَصْحَابٌ لَهُ جُلُوسٌ وَقَدْ نُحِرَتْ جَزُورٌ بِالأَمْسِ ، فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ : أَيُّكُمْ يَقُومُ إِلَى سَلا جَزُورِ بَنِي فُلانٍ فَيَأْخُذُهُ فَيَضَعُهُ عَلَى ظَهْرِ مُحَمَّدٍ إِذَا سَجَدَ ، فَانْبَعَثَ أَشْقَى الْقَوْمِ فَأَخَذَهُ فَلَمَّا سَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ ، قَالَ : فَاسْتَضْحَكُوا وَجَعَلَ بَعْضُهُمْ يَمِيلُ عَلَى بَعْضٍ . وَأَنَا قَائِمٌ أَنْظُرُ لَوْ كَانَتْ لِي مَنَعَةٌ طَرَحْتُهُ عَنْ ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدٌ مَا يَرْفَعُ رَأْسَهُ حَتَّى انْطَلَقَ إِنْسَانٌ فَأَخْبَرَ فَاطِمَةَ فَجَاءَتْ وَهِيَ جُوَيْرِيَةٌ فَطَرَحَتْهُ عَنْهُ ثُمَّ أَقْبَلَتْ عَلَيْهِمْ تَشْتِمُهُمْ ، فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاتَهُ رَفَعَ صَوْتَهُ ثُمَّ دَعَا عَلَيْهِمْ – وَكَانَ إِذَا دَعَا دَعَا ثَلاثًا ، وَإِذَا سأَلَ سَأَلَ ثَلاثًا – ثُمَّ قَالَ : اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، فَلَمَّا سَمِعُوا صَوْتَهُ ذَهَبَ عَنْهُمْ الضِّحْكُ وَخَافُوا دَعْوَتَهُ ، ثُمَّ قَالَ : اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَبِي جَهْلِ بْنِ هِشَامٍ وَعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَشَيْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَالْوَلِيدِ بْنِ عُقْبَةَ وَأُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ وَعُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ – وَذَكَرَ السَّابِعَ وَلَمْ أَحْفَظْهُ – فَوَالَّذِي بَعَثَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَقِّ لَقَدْ رَأَيْتُ الَّذِينَ سَمَّى صَرْعَى يَوْمَ بَدْرٍ ثُمَّ سُحِبُوا إِلَى الْقَلِيبِ قَلِيبِ بَدْرٍ

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallalm shalat di Baitullah sementara Abu Jahal dan teman-temannya duduk; mereka sehari sebelumnya telah menyembelih unta. Maka Abu Jahal mengatakan, ‘Siapa diantara kaum yang bisa pergi ke tempat penyembelihan di Bani Fulan mengambil dan menaruh di atas punggung Muhammad ketika sujud.’ Maka kaum terjelek pergi dan mengambilnya, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud, ditaruhlah di antara punggungnya. Mereka tertawa-tawa sampai sebagian miring ke sebagian lainnya. Sementara saya berdiri melihatnya. Kalau sekiranya saya mempunyai pelindung, pasti akan saya bersihkan dari punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud tidak mengangkat kepalanya sampai ada seseorang pergi memberitahukan kepada Fatimah. Kemudian beliau—yang pada saat itu masih seumuran gadis kecil—datang untuk membersihkan darinya. Kemudian beliau menghadap mereka dan mencelanya. Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, beliau mengeraskan suaranya dan mendoakan kejelekan kepada mereka–biasanya beliau apabila berdoa diulangnya tiga kali, dan kalau meminta diulangnya tiga kali–kemudian berkata, ‘Ya Allah, timpakan kejelekan kepada Quraisy.’ Beliau mengucapkannya tiga kali. Ketika mereka mendengar suara beliau,  mereka berhenti tertawa dan takut akan do’anya. Kemudian beliau melanjutkan doa seraya mengatakan, “Ya Allah berikan kejelekan kepada Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah. Walid bin Uqbah, Umayyah bin Khalaf serta Uqbah bin Abi Mu’aid—beliau menyebutkan nama yang ketujuh, hanya saya tidak hafal—demi (Allah) yang mengutus Muhammad shallallahu  ‘alaihi wa sallam dengan kebenaran, sungguh saya telah melihat orang-orang yang disebut bergelimpangan pada perang Badar kemudian dilemparkan ke sumur Badar.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keenam, lebih afdhal (utama) apabila do’a yang diucapkan berupa do’a yang singkat dan padat, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنَ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berdo’a dengan do’a-do’a yang singkat dan padat namun makna-nya luas dan tidak berdo’a dengan yang selain itu.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Hakim)

Ketujuh, memulai dengan mendo’akan diri sendiri, jika hendak mendo’akan orang lain.

Perhatikanlah contoh-contoh do’a yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala berikut.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

“…Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…” (QS. Al-Hasyr: 10).

Firman-Nya yang lain:

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ

“Musa berdo’a: ‘Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau…’” (QS. Al-A’raaf: 151)

Firman-Nya yang lain:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Rabb-ku, berikanlah ampun kepadaku dan kedua ayah ibuku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat).” (QS. Ibrahim: 41)

Diriwayatkan pula dari Ibnu ‘Abbas dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَكَرَ أَحَدًا فَدَعَا لَهُ بَدَأَ بِنَفْسِهِ.

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingat kepada seseorang, maka beliau mendo’akannya dan sebelumnya beliau mendahulukan berdo’a untuk dirinya sendiri.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

Kedelapan, memilih berdo’a di waktu yang mustajab (waktu yang pasti dikabulkan), di antaranya adalah:

Pada waktu tengah malam;

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzaaariyat: 18)

Hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ يَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita (Allah) tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir seraya berfirman; ‘Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku saat ini, niscaya Aku akan memperkenankannya, barangsiapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, barangsiapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya.’” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi)

Di antara adzan dan iqamah;

Dalilnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اَلدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ فَادْعُوْا.

“Do’a yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak, maka berdo’alah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Di saat dalam sujud;

Dalilnya sabda Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَ هُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ.

“Saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika dia sedang sujud (kepada Rabb-nya), maka perbanyaklah do’a (dalam sujud kalian).” (HR. Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa-i)

Ketika adzan dan ketika berkecamuk peperangan;

Dalilnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثِنْتَانِ لاَ تُرَدَّانِ أَوْ قَلَّماَ تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ عِنْدَ الْبَأْسِ حِيْنَ يُلْحِمُ بَعْضُهُمْ بَعْضاً.

“Dua waktu yang tidak akan ditolak (permohonan yang dipanjatkan di dalamnya, atau sedikit kemungkinan untuk ditolak, yaitu do’a setelah (dikumandangkan) adzan dan do’a ketika berkecamuk peperangan, tatkala satu dan lainnya saling menyerang.” (HR. Abu Dawud dan ad-Darimi)

Setelah waktu ‘Ashar pada hari Jum’at;

فِيهِ سَاعَةٌ لاَيُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّيْ يَسْأَلُ اللهَ تَعاَلَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا.

“Pada hari itu (hari Jum’at) terdapat waktu-waktu tertentu, tidaklah seorang hamba berdiri melaksanakan shalat dan berdo’a memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah pasti akan mengabulkannya. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan tangannya (yang menggambaran) waktu itu pendek.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim )

Waktu itu adalah saat setelah shalat ‘Ashar sebagaimana yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zaadul Ma’ad (I/390).

Ketika hari ‘Arafah;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ…

“Sebaik-baik do’a ialah do’a hari Arafah…” (HR. At-Tirmidzi dan  Malik dalam al-Muwaththa’)

Ketika turun hujan;

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ تَحْتَ الْمَطَرِ.

“Dua waktu yang padanya sebuah permohonan (do’a) tidak akan ditolak oleh Allah, do’a ketika setelah dikumandangkan adzan dan do’a ketika turun hujan.” (HR. Al-Hakim dan Abu Dawud)

Ketika 10 hari terakhir bulan Ramadhan (Lailatul Qadar);

Dari ‘Aisyah radhiyallahu anhuma ia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang sebaiknya aku baca pada Lailatul Qadar?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bacalah:

اَللّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ.

‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemberi maaf dan mencintai pemberian maaf, maka maafkanlah aku.’” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Adab Setelah Berdo’a:

Pertama, membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana telah disebutkan dalam hadits-hadits sebelumnya,

كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Setiap doa itu terhijab hingga dibacakan shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam” (H.R At-Thabrani)

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya do’a tertahan di antara langit dan bumi tidak naik, hingga dibacakan sholawat untuk Nabimu shallallahu ‘alaihi wa sallam” (HR. Tirmidzi)

Kedua, tetap menjaga keyakinan do’a akan dikabulkan dan bersabar menantinya dengan terus berdo’a kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِى

Akan dikabulkan (doa) kalian selama tidak tergesa-gesa. Dia mengatakan, ‘Saya telah berdoa, namun belum saja dikabulkan‘.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, meningkatkan ibadah, ketaatan dan keimanan kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِي إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. A-Baqarah: 186)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari).

 

Maraji:

| Kumpulan dari Adab Berdo’a, http://www.islamqa.info | Adab-adab dalam Berdo’a, ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani, Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah Zaki Rahmawan | Adab dalam Berdo’a, http://www.konsultasisyariah.com |

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s