Membangun Kembali Moralitas Bangsa

Kehancuran suatu bangsa sampai pada kondisi terancamnya kebutuhan hidup paling mendasar—yaitu makanan dan keamanan—menandakan terjadinya kehancuran sistem kehidupan pada bangsa itu.

Sebuah sistem yang tak mampu lagi bertahan, menunjukkan bahwa nilai-nilai kebaikan yang melandasinya sudah tidak mampu lagi ditegakkan. Inilah yang disebut moralitas. Ketika moralitas tidak lagi dipegang oleh manusia-manusia yang menjalankan sistem, kehancuran total pasti akan terjadi. Sumber moralitas yang hakiki dalam kehidupan umat manusia adalah AGAMA.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ * وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

“Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang Rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; Karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. An-Nahl: 112 – 113)

Bangsa Indonesia sedang menghadapi tiga persoalan besar. Pertama, persoalan yang datang dari atas diri kita. Ia berupa kelaliman penguasa yang menyengsarakan rakyat atau berbagai bencana alam yang datang dari atas langit. Kedua, persoalan yang datang dari bawah diri kita. Ia berupa orang-orang kecil tertindas yang memberontak dan melawan dengan penuh keangkaramurkaan atau berbagai bencana alam dari bawah bumi kita; kekeringan, gempa bumi atau hama binatang yang merusak tanaman. Dan ketiga, persoalan diantara kita berupa perselisihan, permusuhan dan bahkan pembantaian antar sesama. Inilah hakikat dari bentuk-bentuk azab ketika Allah menghukum suatu kaum yang mengabaikan moralitas dan kebenaran agama.

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

“Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”.(QS. Al-An’am: 65).

Inilah kesadaran pertama dan utama yang harus dibangun oleh setiap manusia Indonesia dalam melihat krisis yang kita alami bersama. Sehingga segera terbangun keyakinan pada kita semua, bahwa jalan pertama keluar yang hakiki dari segala persoalan ini adalah menegakkan kembali pondasi dan pilar moralitas. Itu dilakukan dengan menghidupkan kembali moralitas agama di tengah-tengah masyarakat da tampilnya pemimpin-pemimpin bangsa yang memiliki moralitas kuat dan teruji integritasnya.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka itulah orang-orang yang fasik.(QS. An-Nur: 55).

Sumber: Tema Umum & Isu Nasional Kampanye Partai Keadilan Pemilu Juni 1999, Tim Sukses Pemilu 1999 DPP Partai Keadilan

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s