Penyakit ‘Ujub

Pengertian Ujub

Secara etimologi, kata ‘ujub mempunyai arti  sebagai berikut.

Pertama, kegembiraan atau kebahagiaan. Seperti ungkapan “a’jabahul amru” yang bisa bermakna sarrhu (hal yang menggembirakannya atau membahagiakannya).

Kedua, pengagungan atau membesarkan. Ungkapan “a’jabahul amru” juga bisa bermakna adzuma indahu atau kabura ladaihi (sesuatu itu agung atau  besar).

Adapun makna ujub dalam pendekatan terminologi adalah rasa bahagia dan gembira terhadap apa yang terjadi pada dirinya serta sesuatu yang muncul darinya, baik berupa perkataan atau pun perbuatan. Hal ini dilakukan tanpa melakukan tindakan zalim terhadap orang lain, baik dalam perkataan atau perbuatan, dalam keadaan baik atau buruk, terpuji  atau tercela.

Dikatakan pula ujub artinya merasakan kelebihan pada dirinya tanpa melihat siapa yang memberikan kelebihan itu. Ia adalah penyakit hati yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Namun, jika nampak atsar/pengaruhnya kepada lahiriah seseorang seperti: sombong dalam berjalan, merendahkan manusia, menolak kebenaran, dan lain sebagainya; maka yang nampak ini disebut dengan kibr atau khuyala’ (kesombongan).

Waspadalah, awal munculnya kesombongan adalah karena adanya penyakit ‘ujub di hati.

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. (HR. Muslim, no. 2749, dari ‘Abdullah bin Mas’ûd)

Ujub adalah salah satu penyakit hati di samping hasad (dengki), kibr (sombong), riya’, dan mahabbatuts tsanaa’ (mencintai sanjungan).

Ibnul Mubarok  berkata, perasaan ‘ujub adalah ketika seseorang merasa bahwa dirinya mempunyai suatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Imam Al Ghazali menyebutkan bahwa perasaan ‘ujub adalah kecintaan seseorang akan suatu karunia yang ada pada dirinya dan merasa memilikinya sendiri serta tidak menyadari bahwa karunia tersebut adalah pemberian Allah Ta’ala. Orang yang memiliki sifat ujub tidak akan mengembalikan keutamaan yang dimiliki tersebut kepada Allah Ta’ala.

Contoh Sikap ‘Ujub

Di dalam Al-Quran disebutkan kisah Qarun (lihat: Al Qashsash: 76-83). Allah Ta’ala memberikan kepadanya harta yang banyak di mana kunci-kuncinya sungguh berat sampai dipikul oleh sejumlah orang-orang yang kuat.

Kaumnya telah mengingatkan Qarun agar jangan bersikap sombong karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong, namun nasihat itu dijawabnya dengan mengatakan,

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

“Sesungguhnya aku diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”, yakni kalau bukan karena Allah ridha kepadaku dan Dia mengetahui kelebihan pada diriku, tentu aku tidak diberikan harta ini. (sebagaimana dikatakan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam).

Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرَ جَمْعًا وَلاَيُسْئَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

“Dan apakah ia (yakni Qarun) tidak mengetahui, bahwa Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta?” (QS. Al Qashshas: 78)

* * *

Allah Ta’ala juga telah menegur sebagian sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tertimpa penyakit ‘ujub dalam perang Hunain.

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, Yaitu diwaktu kalian ujub karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang Luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai”. (QS At-Taubah : 25)

Ar-Rabi’ bin Anas ia berkata,

قَالَ رَجُل يَوْم حُنَيْنٍ : لَنْ نُغْلَب الْيَوْم مِنْ قِلَّة , فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَتْ الْهَزِيمَة

“Tatkala perang Hunain seseorang berkata: ‘Kita tidak akan kalah hari ini karena sedikitnya pasukan (karena jumlah pasukan kaum muslimin banyak, red.)”, maka hal inipun memberatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka terjadilah kekalahan” (Lihat: Fathul Baari, 8/27)

* * *

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan  contoh perilaku orang yang ‘ujub dan sombong melalui sabdanya,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Ketika seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam bumi sampai hari kiamat”. (HR. Bukhari, no. 5789; Muslim, no. 2088; dan ini lafazh Muslim).

* * *

Contoh sikap ‘ujub yang lain adalah seperti yang disebutkan dalam hadis berikut ini.

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَانَ رَجُلَانِ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ مُتَوَاخِيَيْنِ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ وَالْآخَرُ مُجْتَهِدٌ فِي الْعِبَادَةِ فَكَانَ لَا يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الْآخَرَ عَلَى الذَّنْبِ فَيَقُولُ أَقْصِرْ فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ فَقَالَ لَهُ أَقْصِرْ فَقَالَ خَلِّنِي وَرَبِّي أَبُعِثْتَ عَلَيَّ رَقِيبًا فَقَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَوْ لَا يُدْخِلُكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ فَقَبَضَ أَرْوَاحَهُمَا فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ فَقَالَ لِهَذَا الْمُجْتَهِدِ أَكُنْتَ بِي عَالِمًا أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي قَادِرًا وَقَالَ لِلْمُذْنِبِ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَقَالَ لِلْآخَرِ اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ

Abu Hurairah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ada dua orang laki-laki dari bani Isra’il yang saling bersaudara; salah seorang dari mereka suka berbuat dosa sementara yang lain giat dalam beribadah. Orang yang giat dalam beribadah itu selalu melihat saudaranya berbuat dosa hingga ia berkata, Berhentilah. Lalu pada suatu hari ia kembali mendapati suadaranya berbuat dosa, ia berkata lagi, Berhentilah. Orang yang suka berbuat dosa itu berkata, Biarkan aku bersama Tuhanku, apakah engkau diutus untuk selalu mengawasiku! Ahli ibadah itu berkata, Demi Allah, sungguh Allah tidak akan mengampunimu, atau tidak akan memasukkanmu ke dalam surga. Allah kemudian mencabut nyawa keduanya, sehingga keduanya berkumpul di sisi Rabb semesta alam. Allah kemudian bertanya kepada ahli ibadah: Apakah kamu lebih tahu dari-Ku? Atau, apakah kamu mampu melakukan apa yang ada dalam kekuasaan-Ku? Allah lalu berkata kepada pelaku dosa: Pergi dan masuklah kamu ke dalam surga dengan rahmat-Ku. Dan berkata kepada ahli ibadah: Pergilah kamu ke dalam neraka.’” Abu Hurairah berkata, Demi Dzat yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sungguh ia telah mengucapkan satu ucapan yang mampu merusak dunia dan akhiratnya.’” (HR. Abu Dawud)

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ اَهْلَكَهُمْ

Barangsiapa yang mengatakan “Orang-orang telah binasa”, maka sebenarnya kata-kata itu telah membinasakannya.”

Imam Malik berkata –menerangkan hadis di atas-: “Apabila ia mengucapkan kata-kata itu karena melihat keadaan orang-orang yakni agamanya (yang kurang), saya kira hal itu tidak mengapa…, akan tetapi apabila ia mengucapkan kata-kata itu karena merasa ujub dengan dirinya dan merendahkan manusia, maka hal itu dibenci dan dilarang.”

Bahaya Sifat ‘Ujub

Pertama, tidak disukai oleh Allah Ta’ala.

وَلاَتُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَتَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS.  Luqman: 18)

Kedua, dimurkai oleh Allah Ta’ala.

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَظَّمَ فِى نَفْسِهِ أَوِ اخْتَالَ فِى مِشْيَتِهِ لَقِيَ اللهُ عز و جل وَ هُوَ غَضْبَانٌ

“Barangsiapa yang merasa dirinya hebat dan congkak ketika berjalan, maka ia akan menjumpai Allah Azza wa Jalla dalam keadaan murka kepadanya”. (HR. al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad: 549)

Ketiga, terancam azab Allah Ta’ala.

Seperti sudah disebutkan sebelumnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Ketika seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam bumi sampai hari kiamat”. (HR. Bukhari, no. 5789; Muslim, no. 2088; dan ini lafazh Muslim).

Keempat, jatuh dalam kebinasaan.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَهُوَيَ مُتَبَعٌ وَإِعْجَابٌ اْلمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga perkara yang membinasakan: sifat syuh (rakus dan bakhil) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujub seseorang terhadap dirinya”. (Silsilah Shahihah, no. 1802)

Mewaspadai Sifat ‘Ujub

Kita sebagai hamba-hamba Allah Ta’ala yang selalu berupaya memperbaiki diri hendaknya waspada terhadap penyakit ‘ujub ini. Karena ia bisa jadi lebih mengancam terhadap orang-orang shaleh dibanding terhadap ahli maksiat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ

“Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub ! ujub !” (HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 6868, hadits ini dinyatakan oleh Al-Munaawi bahwasanya isnadnya jayyid (baik) dalam at-Taisiir, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no 5303)

Ditanyakan kepada Aisyah,

مَتَى يَكُوْنُ الرَّجُلُ مُسِيْأً

“Kapan seseorang dikatakan buruk?”

‘Aisyah menjawab,

إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ مُحْسِنٌ

“Jika ia menyangka bahwa ia adalah orang baik” (Lihat: At-Taisiir bisyarh Al-Jaami’ as-Shoghiir 2/606)

Oleh karena itu berhati-hatilah terhadap ibadah-ibadah yang kita lakukan, jangan-jangan ia akan menjadi pintu masuk bagi sifat ‘ujub ini.

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata :

وَلاَ أَعْلَمُ فِي الْمُصَلِّيْنَ شَيْئًا شَرٌّ مِنَ الْعُجْبِ

“Aku tidak mengetahui pada orang-orang yang shalat, perkara yang lebih buruk daripada ujub” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Sy’abul Iman no 8260).

Ada seseorang melihat kepada Bisyr Al-Haafi yang dalam keadaan lama dan indah ibadahnya. Maka Bisyr berkata kepadanya :

لاَ يَغُرَنَّكَ مَا رَأَيْتَ مِنِّي فَإِنَّ إِبْلِيْسَ تَعَبَّدَ آلاَفَ سِنِيْنَ ثُمَّ صَارَ إِلَى مَا صَارَ إِلَيْهِ

“Janganlah engkau terpedaya dengan apa yang kau lihat dariku, sesungguhnya Iblis beribadah kepada Allah ribuan tahun kemudian dia menjadi kafir kepada Allah” (At-Taisiir bisyarh Al-Jaami’ as-Shoghiir 2/606)

Ubaidillah bin Abu Ja’far Al-Mishri, seorang ulama ahli hadits yang mentakhrij kitab-kitab hadits Kutubus Sittah dan seorang ahli hikmah, pernah memberi nasihat untuk murid beliau, “Jika engkau duduk di suatu majelis lalu engkau berbicara kemudian engkau merasa bangga dengan hal itu, maka tahanlah. Dan jika engkau berada di suatu majelis dan engkau diam lalu engkau merasa bangga dengan diammu itu, maka berbicaralah. Lihat dan perhatikan hawa nafsumu dan selisihilah!.” (Lihat: Tahdzibil Kamal fii Asmaa-i Ar-Rijaal)

Dampak Negatif terhadap Amal Islami

Pertama, mengurangi produktifitas amal. Hal ini dikarenakan kecenderungan orang bekerja secara individu.

Kedua, rapuhnya solidaritas dalam bangunan amal jama’i.

Terapi Sifat Ujub

Secara umum, sifat ‘ujub ini akan dapat dihindari jika kita selalu sadar diri bahwa seluruh kenikmatan dan kebaikan yang kita miliki hakikatnya adalah berasal dari Allah Ta’ala.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl, 16: 53)

Termasuk di dalamnya adalah nikmat hidayah. Oleh karena itu pantaslah jika di akhirat kelak kaum mu’minin akan berkata,

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ

“….mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki Kami kepada (surga) ini. dan Kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi Kami petunjuk”. (QS Al-A’raaf, 7: 43)

Jadi, berhati-hati dan waspadalah terhadap: ‘keunggulan nasab’, sanjungan, penghormatan dan pujian yang berlebihan; karena itu semua bisa menjadi bibit-bibit timbulnya penyakit ‘ujub.

Wallahu A’lam.

 

Maraji: Berjihad Melawan Riya dan Ujub, Firanda Andirja Abidin Lc., MA | Ujub Dalam Islam : Pengertian, Hukum dan Bahayanya, http://www.dalamislam.com | Ujub, Penyakit Hati yang Sangat Berbahaya, Nur Fitri Hadi, MA. | Ujub, http://www.masjidalamanah.com |

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s