Kembali Saja Kepada Qur’an dan Sunnah!

Oleh: Ustadz Surya Darma, Lc.

Sering dengar kalimat ini ? Maksudnya apa ? Kalau dengan harapan bahwa itu akan menyelesaikan sengkarut perbedaan yang selama ini membelit dan mewarnai cara berpikir dan perilaku beragama umat, maka sudah seharusnya sejak dulu-dulu kita tak pernah lagi mendengar atau membaca kisah perselisihan, mulai dari zaman sahabat hingga zaman kita sekarang.

Tapi kenyataan yang kita lihat dan baca malah berbeda. Bahkan perbedaan yang muncul bukan hanya pada apa yang biasa kita sebut soal furu’ atau khilafiah, tapi menerabas juga masuk sampai ke persoalan aqidah. Sebut saja saling silang dalam hal sifat dan dzat Allah antara yang mengklaim dirinya kaum salaf dengan kelompok yang dilabeli sebutan Asy’ariah dan Maturidiah. Kaum salaf biasanya merasa diatas angin karena klaim bahwa pendapat mereka merujuk kepada salaf. Padahal kaum Asy’ari dan Maturidi juga mengklaim dirinya salaf karena menurutnya mereka juga merujuk kepada paham salaf.

Kembali saja kepada Quran dan Sunnah…! Aha, saya teringat kepada kemasygulan Syeikh Thantawi Jauhari, ulama besar pengarang tafsir Al-Jauhari, ketika dia bertanya kepada Hasan Al-Banna kepada apa dia akan diajak ? Al-Banna menjawab, saya mengajak tuan Syeikh untuk kembali kepada Qur’an dan Sunnah. Tak perlu menunggu lama, Syeikh Thantawi lalu berkomentar, “Ini ungkapan yang terdzalimi (hadzihi kalimah madzlumah)”. Orang banyak mengobralnya padahal ia sendiri tidak mengerti apa maksudnya. Tapi sejarah akhirnya mencatat bahwa Syeikh Thantawi dengan keluasan ilmu dan sikap takzim orang kepadanya, menjadi pengikut Al-Banna yang setia.

Sejak masa remaja, bahkan sampai terketiknya catatan ini, saya sering membaca dan mendengar ungkapan diatas. Dan baru saja saya baca sebuah postingan tertulis begini: “Kembali saja kepada Qur’an dan hadis shahih. Jangan pakai akal, karena kedua sumber ini sifatnya mutlak dan -karenanya- otoritatif sementara akal terbatas dan relatif.”

Siapapun sepakat mengatakan bahwa akal itu relatif, sebab yang mutlak hanya Allah. Kalau akal mutlak, tentu saja manusia sebagai pemilik dan penggunanya berstatus mutlak, dan ini mustahil sebab ia mengambil sifat Tuhan.
Yang juga jadi pertanyaan besar, adakah dengan modal manggut-manggut saja seseorang mampu memahami Quran? Apakah hanya dengan jalan mendengar dari seseorang, entah dimana, lalu seorang ahli hadits (muhaddits) spontan bisa men-takhrij sebuah hadis dan setelah itu lahirlah kitab shahih, sunan, mustadrak, musnad, atau pun semisal kumpulan hadits dhaif? Lagi pula istilah sahih, dhaif, mutawatir, hasan lidzatihi atau lighairihi, mana ada dalam Quran dan Sunnah ? Semua itu ijtihadi. Murni hasil olah akal manusia yang relatif.

Biasanya yang suka menyebar ungkapan diatas adalah kelompok yang cenderung menafikan instrumen penalaran yang biasa dipergunakan para ulama kita yang bergelut di bidang jurisprudensi hukum Islam (ushul fiqh). Mereka hanya tahunya baca kitab hadits. Dan biasanya otoritas sebuah pendapat diukur dari shahih tidaknya sebuah sanad hadis. Jika hadits itu sudah berkategori shahih maka dinyatakankah bahwa itu: “Islam yang benar”.

Kalau memang urusannya bisa sesederhana itu, lalu mengapa sahabat harus terpecah menjadi dua kelompok dalam menyikapi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang mereka shalat Ashar hingga mereka mengepung benteng dan kampung Bani Quraidzah Yahudi ? Sama-sama mendengar langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi koq bisa ya tidak cukup sehari mereka sudah terbelah dalam penyikapan?

Mengapa Bilal meradang terhadap keputusan Khalifah Umar untuk tidak lagi membagi harta rampasan sesuai petunjuk dalam Al-Anfal: 41 yang nyata-nyata sudah dipraktikkan sejak jaman baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Lalu mengapa Imam Syafi’i, dengan kejeniusan akal anugrah Allah yang dimiliknya, sampai memiliki koleksi ijtihad “orla” (qaul qadim [pendapat terdahulu]) dan “orba” (qaul jadid [pendapat baru])?

Pun Imam abu Hanifah yang jelas-jelas menolak hujjah hadis ahad meski berstatus shahih ?

Semua fakta ini layak sekali dipertimbangkan di depan kebiasaan kita melakukan simplikasi dengan meluncurkan kalimat kembali saja kepada Qur’an dan sunnah. Sebenarnya karya tentang cara memahami perselisihan umat sudah banyak tersaji. Nama-nama Yusuf Qaradhawi, Muhammad Al Ghazali, Ahmad Rasuni, Abdul Majid Najjar, Bakar Abu Zaid, Thaha Jabir Ulwani, adalah sekian diantara cendikiawan muslim yang banyak menjelaskan bagaimana memahami nash atau teks agama (fiqh nash) dan bagaimana meletakkannya dengan tepat (fiqh tanzil) kala nash menyapa mozaik realitas kehidupan yang begitu beragam. Tapi toh dengan segala ikhtiar mereka yang begitu besar dan sungguh-sungguh, karya mereka dari sisi kebenaran tetaplah tidaklah mutlak. Dan di satu waktu boleh jadi muncul karya yang sifatnya dialektis terhadap pernyataan-pernyataan mereka. Mungkin disitu ada kritikan, revisi, atau mungkin juga wujud dalam bentuk sarkasme yang terkesan penistaan seperti yang biasa terkandung dalam karya yang berjudul “ar raddu alaa jahalah wa dhalalah…” (penolakan terhadap kebodohan dan kesesatan….). Juga tidak mustahil lahir karya yang menghasilkan gelegar intelektual yang nyaring dan membangunkan seperti yang kita baca dalam karya Ibn Taimiyah, Muhammad Abduh, Alal fasi, Abul A’la Maududi, Imam Ibn Asyur atau Sayyid Qutb.

Karena itulah ulama punya etika yang tinggi dalam menyikapi perbedaan. Ungkapan yang mengesankan bahwa kebenaran mutlak milik mereka, benar-benar dihindari. Dalam menalari sebuah nash mereka sungguh telaten dan spiritualistik. Telaten dalam artian, semua perangkat analisis (aliyah tahliliyah) mereka pergunakan dalam membedah satu masalah. Dalam membaca nash, mereka menyorotnya dari segala sisi; mulai dari makna leksikalnya, kedudukannya dalam gramatika arab, historikanya, posisinya dihadapan teks yang lain, dan apakah itu sudah sesuai dengan tujuan utama diturunkannya syariat (maqashid)?

Yang menarik adalah pendekatan spiritualistik mereka. Dikisahkan bahwa setiap Imam Bukhari akan menulis satu hadits, beliau mendahuluinya dengan melaksanakan shalat istikharah. Demikian pula Imam Ahmad mewarnai hari-hari kesibukan ijtihadnya dengan shalat sunnah, yang menurut penuturan putranya, sebanyak 300 rakaat perhari. Dan jika kita baca karya mereka, apatah lagi dalam bidang hadits dan fiqh, umumnya mereka meletakkan bab niat pada awal bahasan mereka. Seolah-olah mereka ingin membisiki diri mereka sendiri untuk selalu menghadapkan segala niat mereka dalam ijtihadnya semata mengejar keridhaan Allah. Tapi ketika mereka sudah sampai pada puncak penjelajahan intelektualnya, dan kala semua argumentasi naqli dan aqli sudah dihamparkan dan dibedah, kadang ada dari mereka yang ingin kembali jadi “pelajar pemula”. Itu yang bisa kita hayati dari lantunan munajat Imam Al Ghazali dan Imam ar Razi, “Ya Allah, anugrahilah diriku keimanan orang awam…!”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s