Takhrij Al-Ma’tsurat (Bag. 10)

hilalMembaca surat Al Isra’ ayat 110-111

قُلِ ادْعُواْ اللهَ أَوِ ادْعُواْ الرَّحْمَـنَ أَيًّا مَّا تَدْعُواْ فَلَهُ الأَسْمَاء الْحُسْنَى وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً, وَقُلِ الْحَمْدُ للهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَم يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلَّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

“Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik) dan jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.’ Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempuyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan agungkanlah Dia dengan peng-agungan yang sebenar-benarnya’.” (QS. Al Isra’: 110-111)

Tentang bacaan ayat di atas,  Imam Abu Ya’la meriwayatkan sebagai berikut:

حدثنا بشر بن سيحان البصري، حدثنا حرب بن ميمون، حدثنا موسى ابن عبيدة الرَّبَذي، عن محمد بن كعب القُرَظي، عن أبي هريرة قال: خرجت أنا ورسول الله صلى الله عليه وسلم ويدي في يده، فأتى على رجل رث الهيئة، فقال: “أي فلان،  ما بلغ بك ما أرى؟”. قال: السقم والضرّ يا رسول الله. قال: “ألا أعلمك كلمات تذهب عنك السقم والضر؟”. قال: لا قال: ما يسرني بها   أن شهدت معك بدرًا أو أحدًا. قال: فضحك رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال: “وهل يدرك أهل بدر وأهل أحد ما يدرك الفقير القانع؟”. قال: فقال  أبو هريرة: يا رسول الله، إياي فعلمني قال: فقل يا أبا هريرة: “توكلت على  الحي الذي لا يموت، الحمد لله الذي لم يتخذ ولدًا، ولم يكن له شريك في الملك، ولم يكن له ولي من الذل، وكبره تكبيرًا”. قال: فأتى عليّ رسول الله وقد حَسُنَت حالي، قال: فقال لي: “مَهْيم”. قال: قلت: يا رسول الله، لم أزل  أقول الكلمات التي علمتني

Berkata kepada kami Bisyr bin Saihan Al Bashri, berkata kepada kami Harb bin Maimun, berkata kepada kami Musa bin ‘Ubaidah Az Zabadiy,  dari Muhammad bin Ka’ab Al Qurazhiy, dari Abu Hurairah, dia berkata: “Saya dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar, tangan saya di atas tangannya. Datanglah seorang laki-laki berpenampilan lusuh.” Beliau bersabda: “Hai fulan, apa yang membuatmu sampai seperti yang saya lihat?” Dia menjawab: “Penyakit dan keadaan sulit  ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Maukah kamu saya ajarkan ucapan yang dapat menghilangkan sakit dan kesulitanmu?.” Dia menjawab: “Tidak, itu tidaklah menggembirakanku sampai aku menjadi syahid bersamamu pada perang Badar dan Uhud.” Abu Hurairah berkata: “Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tertawa.” Lalu beliau bersabda: “Apakah kamu tahu Ahli Badar dan Ahli Uhud, tidakkah kamu tahu orang yang faqir dan qana’ah (merasa puas)?”  Lalu Abu Hurairah berkata: “Wahai Rasulullah, beritahu  aku juga.” Beliau bersabda: “Wahai Abu Hurairah, hendakya kau bertawakal kepada yang Maha Hidup yang tidak pernah mati,  dan Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempuyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan agungkanlah Dia dengan peng-agungan yang sebenar-benarnya. (QS. Al Isra’ : 111)

Laki-laki itu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendatangi saya dan keadaan saya sudah membaik.” Beliau bersaba: “Bagaimana keadaanmu?” Aku berkata: “Wahai Rasulullah aku senantiasa membaca kalimat yang kau ajarkan kepadaku.”  (HR. Abu Ya’la, 12/23)

Imam Ibnu Katsir mengatakan: “Sanadnya dhaif dan matannya munkar.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 5/131)

Imam Nuruddin Al Haitsami mengatakan: “Dalam sanadnya terdapat Musa bin ‘Ubaidah Az Zabadiy, dia seorang yang dhaif.” (Majma’ Az Zawaid, 7/52)

Imam Ahmad mengatakan tentang Musa bin ‘Ubaidah Az Zabadiy: “Haditsnya jangan ditulis.” Imam An Nasa’i dan lainnya: “Dhaif.” Imam Ibnu ‘Adi mengatakan: “kedhaifan haditsnya jelas.” Imam Yahya bin Ma’in mengatakan: “Dia  bukan apa-apa.” Juga mengatakan: “haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah.” Imam Yahya bin Sa’id mengatakan: “Kami takut/menjauhi haditsnya.” Imam Ibnu Sa’ad mengatakan: “Terpercaya, tapi tidak bisa dijadikan hujjah.” Ya’qub bin Syaibah mengatakan: “Jujur, tapi haditsnya sangat dhaif. ” (Al Hafizh Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, 4/213)

Maka, jelaslah kedhaifan riwayat ini.

Ada riwayat lain yang berbunyi:

من قرأ فى صبح أو مساء { قل ادعوا الله أو ادعوا الرحمن } [ الإسراء : 110 ] إلى آخر السورة لم يمت قلبه ذلك اليوم ولا فى تلك الليلة (الديلمى عن أبى موسى)

“Barang siapa yang membaca pada pagi dan petang (Qulid’uullaha awid’uurrahmaan) (QS. Al Isra: 110) hingga akhir surat, niscaya tidaklah akan mati hatinya pada hari itu dan tidak pula pada malam harinya.” (Ad Dailami dari Abu Musa). (Lihat Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 2594, juga Imam As Suyuthi dalam Jami’ Al Ahadits No  23452, dan Jami’ Al Kabir No. 6185)

Para ulama menyebut hadits ini termasuk riwayat makdzuub –didustakan/palsu. (Lihat Syaikh Hisamuddin bin Musa ‘Afanah, Fatawa Yas’alunaka, 7/210), Syaikh Abdullah Al Faqih menyebutnya termasuk hadits yang diperkirakan dhaif dan palsu.  (Lihat juga Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih, Fatawa Asy Syabkah Al Islamiyah, No. 61592).  Wallahu A’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s