Memahami Hukum Cadar (Bag. 3)

perempuan-bercadarPandangan Para Imam Ahlus Sunnah

                Berikut adalah pandangan para fuqaha dari madzhab terkenal umat Islam, khususnya Ahlus Sunnah wal Jamaah.

  1. Madzhab Hanafiyah

Imam As Sarkhasi mengatakan dalam Al Mabsuth, tentang  Ihramnya   wanita:

فلهذا تلبس المخيط والخفين وتغطي رأسها ولا تغطي وجهها لأن الرأس منها عور

Oleh karena itu, hendaknya memakai pakaian berjahit, khuf (alas kaki yang sampai menutupi mata kaki), menutup kepalanya, tidak menutup wajahnya, sebab kepala wanita adalah aurat.[1]

Imam Kamaluddin bin Al Hummam berkata dalam Fathul Qadir-nya:

أَيْ إحْرَامُهُ فِي رَأْسِهِ فَيَكْشِفُهُ وَإِحْرَامُهَا فِي وَجْهِهَا فَتَكْشِفُهُ

                “Yaitu ihram-nya laki-laki adalah pada kepalanya maka ia harus membukanya, dan ihramnya wanita adalah pada wajahnya, maka dia harus membukannya.”[2]

`               Dia juga mengatakan:

وَبَدَنُ الْحُرَّةِ كُلِّهَا عَوْرَةٌ إلَّا وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا   لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ { الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ مَسْتُورَةٌ } وَاسْتِثْنَاءُ الْعُضْوَيْنِ لِلِابْتِدَاءِ بِإِبْدَائِهِمَا .

“Tubuh wanita merdeka semuanya adalah aurat kecuali  wajah dan dua telapak tangannya, sesuai hadits: “Wanita adalah aurat yang tertutup” dikecualikan dua anggota badan itu sebagai ujian dengan menampakkannya.”[3]

Bahkan Beliau mengatakan bahwa tumit hingga telapak kaki bukanlah aurat, katanya:

وَيُرْوَى أَنَّهَا لَيْسَتْ بِعَوْرَةٍ وَهُوَ الْأَصَحُّ

“Diriwayatkan bahwa telapak kaki bukanlah aurat, dan itulah yang lebih benar.”[4]

Imam Abu Hanifah berpendapat bagian tumit ke bawah dari kaki wanita bukanlah aurat dan boleh terlihat, agar mereka tidak mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial, seperti jual beli. Bahkan pendapat ini didukung oleh Imam Ibnu Taimiyah. Beliau berkata:

فكذلك القدم يجوز إبداؤه عند أبي حنيفة، وهو الأقوي‏

“Demikian pula dengan tumit, boleh ditampakkan menurut Abu Hanifah, dan itu pendapat yang lebih kuat.”[5]

Demikianlah Pendapat fuqaha madzhab Hanafiyah.

  1. Madzhab Malikiyah

Imam Abui Walid  Sulaiman bin Khalaf Al Baji mengatakan dalam Syarah Al Muwaththa’:

وَذَلِكَ أَنَّ جَمِيعَ بَدَنِ الْمَرْأَةِ عَوْرَةٌ إِلَّا الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ

            “Dan, yang demikian itu, sesungguhnya tubuh wanita adalah aurat  kecuali wajah dan kedua telapak tangan.”[6]

Dalam Bidayatul Mujtahid disebutkan oleh Imam Ibnu Rusyd:

وهي حد العورة من المرأة، فأكثر العلماء على أن بدنها كله عورة، ما خلا الوجه، والكفين. وذهب أبو حنيفة إلى أن قدمها ليست بعورة.

“Itu adalah batasan aurat bagi  wanita, maka mayoritas ulama menyatakan bahwa seluruh badannya adalah aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangan. Sedangkan menurut Abu Hanifah tumitnya bukan aurat.”[7]

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah berkata:

وَجْهُ الْمَرْأَةِ وَكَفَّاهَا غَيْرُ عَوْرَةٍ وَجَائِزٌ أَنْ يَنْظُرَ ذَلِكَ مِنْهَا كُلُّ مَنْ نَظَرَ إلَيْهَا بِغَيْرِ رِيبَةٍ وَلَا مَكْرُوهٍ ، وَأَمَّا النَّظَرُ لِلشَّهْوَةِ فَحَرَامٌ وَلَوْ مِنْ فَوْقِ ثِيَابِهَا فَكَيْفَ بِالنَّظَرِ إلَى وَجْهِهَا ؟

“Wajah wanita dan dua telapak tangannya bukanlah aurat, dan boleh melihatnya, jika tiap kali melihatnya tanpa ada kebimbangan, dan itu tidak dimakruhkan. Ada pun melihat dengan syahwat, maka haram walau hanya melihat pakaian luarnya, maka apalagi melihat wajahnya?”[8]

Imam Al Haththab berkata, dalam Mawahib Al Jalil :

وَذَلِكَ الْوَجْهُ وَالْكَفَّانِ عَلَى مَا قَالَهُ أَهْلُ التَّأْوِيلِ فَجَائِزٌ لِلرَّجُلِ أَنْ يَنْظُرَ إلَى ذَلِكَ مِنْ الْمَرْأَةِ عِنْدَ الْحَاجَةِ وَالضَّرُورَةِ

“Demikian pula wajah dan dua telapak tangan, seperti apa yang dikatakan ahli takwil, bahwa dibolehkan bagi laki-laki memandangnya ketika ada keperluan dan darurat.”[9]

Imam Al Kharrasyi berkata  dalam Syarh Mukhtashar Khalil:

وَالْمَعْنَى أَنَّ عَوْرَةَ الْحُرَّةِ مَعَ الرَّجُلِ الْأَجْنَبِيِّ جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى دَلَالِيّهَا وَقُصَّتُهَا مَا عَدَا الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ ظَاهِرَهُمَا وَبَاطِنَهُمَا فَيَجُوزُ النَّظَرُ لَهُمَا بِلَا لَذَّةٍ وَلَا خَشْيَةِ فِتْنَةٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلَوْ شَابَّةً وَقَالَ مَالِكٌ تَأْكُلُ الْمَرْأَةُ مَعَ غَيْرِ ذِي مَحْرَمٍ وَمَعَ غُلَامِهَا وَقَدْ تَأْكُلُ مَعَ زَوْجِهَا وَغَيْرِه

“Maknanya adalah bahwa aurat wanita merdeka di depan laki-laki asing adalah adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan dua telapak tangan, baik bagian luar atau dalam. Maka, boleh melihatnya tanpa berlezat-lezat, dan tidak dikhawatiri lahirnya fitnah, boleh tanpa ada udzur walau pun masih muda. Imam Malik berkata: Wanita boleh makan bersama orang lain tanpa mahramnya namun ditemani oleh anaknya, dan dia makan bersama suaminya dan orang lain.”[10]

Imam Muhammad bin Ahmad ‘Alisy Al Maliki berkata dalam Manahal Jalil Syarh Mukhtashar   Khalil:

فَالْوَجْهُ وَالْكَفَّانِ لَيْسَا عَوْرَةً فَيَجُوزُ لَهَا كَشْفُهُمَا لِلْأَجْنَبِيِّ وَلَهُ نَظَرُهُمَا إنْ لَمْ تُخْشَ الْفِتْنَةُ فَإِنْ خِيفَتْ الْفِتْنَةُ بِهِ فَقَالَ ابْنُ مَرْزُوقٍ مَشْهُورُ الْمَذْهَبِ وُجُوبُ سَتْرِهِمَا وَقَالَ عِيَاضٌ لَا يَجِبُ سَتْرُهُمَا وَيَجِبُ عَلَيْهِ غَضُّ بَصَرِهِ

“Maka, wajah dan dua telapak tangan bukanlah aurat, boleh keduanya dibuka didepan laki-laki ajnabi (asing), dan dia melihat keduanya jika tidak khawatir timbul fitnah. Jika takut lahirnya fitnah, maka Ibnu Marzuq berkata –ini merupakan pendapat terkenal dalam madzhab (Malik)- wajib baginya menutup keduanya. Berkata ‘Iyadh: Tidak wajib menutupnya, tetapi wajib bagi si laki-laki menundukkan pandangannya.”[11]

Demikianlah pendapat fuqaha madzhab Malikiyah.

  1. Madzhab Asy Syafi’iyah

Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu berkata:

وعلى المراة ان تغطي في الصلاة كل بدتها ما عدا كفها ووجهها

“Dan wajib bag wanita menutup seluruh tubuhnya dalam shalat, kecuali telapak tangan wajah wajahnya.”

Lalu beliau berkata lagi:

وأنه يجزي الرجل والمرأة كل واحد أن يصلى متوارى العورة وعورة الرجل ما وصفت وكل المرأة عورة إلا كفيها ووجهها

“Cukuplah bagi masing-masing laki-laki dan wanita melaksanakan shalat dengan menutup auratnya. Aurat bagi laki-laki seperti yang sudah saya jelaskan. Wanita semua bagian tubuhnya adalah aurat kecuali telapak tangan dan wajahnya.”[12]

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan dalam  Raudhatuth Thalibin sebagai berikut:

نظر الرجل إلى المرأة فيحرم نظره إلى عورتها مطلقا وإلى وجهها وكفيها إن خاف فتنة وإن لم يخف فوجهان قال أكثر الأصحاب لا سيما المتقدمون لا يحرم لقول الله تعالى ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها وهو مفسر بالوجه والكفين لكن يكره قاله الشيخ أبو حامد وغيره

                “Laki-laki melihat wanita, maka diharamkan melihat auratnya secara mutlak dan juga melihat ke wajah dan dua telapak tangannya jika khawatir mengundang fitnah. Jika tidak khawatir mengundang fitnah, maka ada dua pendapat, kebanyakan para sahabat kami apalagi generasi terdahulu mengatakan tidaklah haram, sesuai firman Allah Ta’ala, “Kecuali yang biasa nampak darinya,” yang ditafsirkan sebagai wajah dan dua telapak tangan, tetapi Abu Hamid (Al Ghazali) dan lainnya memakruhkan.”[13]

Dalam kitabnya yang lain, Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, Imam An Nawawi mengatakan:

وأما الحرة فجميع بدنها عورة الا الوجه والكفين لقوله تعالي (ولا يبدين زينتهن الا ما ظهر منها) قال ابن عباس وجهها وكفيها ولان النبي صلي الله عليه وسلم ” نهي المرأة الحرام عن لبس القفازين والنقاب ” ولو كان الوجه والكف عورة لما حرم سترهما ولان الحاجة تدعو الي ابراز الوجه للبيع والشراء والي إبراز الكلف للاخذ والعطاء فلم يجعل ذلك عورة

“Ada pun wanita merdeka, maka seluruh badannya adalah aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangan, karena firmanNya: “Jangan mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak darinya,” berkata Ibnu Abbas yakni wajahnya dan dua telapak tangannya, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “melarang wanita yang ihram  memakai sarung tangan dan cadar”. Seandai pun wajah dan dua telapak tangan adalah aurat, maka karena adanya kebutuhan bagi wanita maka wanita menampakkan wajah dalam jual beli, mengangkat beban, mengambil dan memberi. Maka, hal ini membuatnya tidak termasuk dalam aurat.”[14]

Sementara, Imam Sayyid Al Bakr Ad Dimyathi Rahimahullah mengatakan:

يجب أن تستر سائر بدنها حتى باطن قدمها ما عدا وجهها وكفيها، وذلك لقوله تعالى: (ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها)  قال ابن عباس وعائشة: هو الوجه والكفان.

“Wajib bagi wanita menutup seluruh badannya hingga bawah telapak kakinya, kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Demikian itu karena Allah Ta’ala berfirman: “Jangan mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak darinya,” berkata Ibnu Abbas dan ‘Aisyah: itu adalah wajah dan dua telapak tangan.”[15]

                Imam Zakaria Al Anshari Rahimahullah mengatakan dalam Fathul Wahhab:

(و) عورة (حرة غير وجه وكفين) ظهرا وبطنا إلى الكوعين لقوله تعالى: (ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها) وهو مفسر بالوجه والكفين وإنما لم يكونا عورة لان الحاجة تدعو إلى إبرازهما

                “Dan aurat wanita merdeka adalah selain wajah dan dua telapak tangannya, baik luar atau dalamnya hingga ke pergelangan tangan, karena Allah Ta’ala berfirman: “Jangan mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak darinya,” yang ditafsirkan dengan wajah dan dua telapak tangan, sesungguhnya keduanya tidak dikategorikan aurat karena kebutuhan si wanita untuk menampakkannya.”[16]

Dalam kitabnya yang lain, Asnal Mathalib, Imam Zakaria Al Anshari mengatakan:

( وَعَوْرَةُ الْحُرَّةِ فِي الصَّلَاةِ وَعِنْدَ الْأَجْنَبِيِّ ) وَلَوْ خَارِجَهَا ( جَمِيعُ بَدَنِهَا إلَّا الْوَجْهَ ، وَالْكَفَّيْنِ ) ظَهْرًا وَبَطْنًا إلَى الْكُوعَيْنِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا } قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَغَيْرُهُ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَجْهُهَا وَكَفَّاهَا وَإِنَّمَا لَمْ يَكُونَا عَوْرَةً ؛ لِأَنَّ الْحَاجَةَ تَدْعُو إلَى إبْرَازِهِمَا وَإِنَّمَا حُرِّمَ النَّظَرُ إلَيْهِمَا ؛ لِأَنَّهُمَا مَظِنَّةُ الْفِتْنَةِ

“Aurat wanita merdeka dalam shalat di depan laki-laki asing, dan juga diluar shalat, adalah seluruh badannya kecuali wajah dan dua telapak tangan baik bagian luar atau dalamnya hingga pergelangan tangan, karena Allah Ta’ala berfirman: “Jangan mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak darinya,” berkata Ibnu Abbas dan lainnya, yang biasa tampak darinya adalah wajah dan telapak tangan. Keduanya bukan termasuk aurat, karena adanya kebutuhan menampakkan keduanya. Sesungguhnya diharamkan melihatnya lantaran adanya kekhawatiran lahirnya fitnah.”[17]

Imam Abdul Karim Ar Rafi’i Rahimahullah mengatakan dalam Fathul ‘Aziz Syarh Al Wajiz:

اما المرأة فان كانت حرة فجميع بدنها عورة الا الوجه واليدين لقوله تعالي (ولا يبدين زينتهن الا ما ظهر منها) قال المفسرون هو الوجه والكفان

“Adapun wanita, jika dia wanita merdeka, maka seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali wajah dan dua telapak tangan, karena Allah Ta’ala berfirman: “Jangan mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak darinya,” para ahli tafsir mengatakan itu adalah wajah dan dua telapak tangan.”[18]

Nampaknya, jika saya sebutkan satu persatu akan sangat banyak. Berikut adalah kitab-kitab madzhab Syafi’iyah yang berpendapat sama dengan di atas:

  • Syarh Al Bahjah Al Wardiyah, Juz. 3, Hal. 456, karya Imam Zakaria Al Anshari
  • Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, Juz. 6, Hal. 238, karya Imam Ibnu Hajar Al Haitami
  • Mughni Muhtaj ila Ma’rifati AlFazh Al Minhaj, Juz. 2, Hal. 453, karya Imam Muhammad Al Khathib Asy Syarbini
  • Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, Juz. 4, Hal. 424, karya Imam Syihabuddin Ar Ramli
  • Hasyiah Al Bajirumi ‘alal Minhaj, 4, Hal. 78, karya Imam Sulaiman bin Umar bin Muhammad Al Bajirumi Asy Syafi’i

Dan lain-lain.

  1. Madzhab Hambaliyah

Berkata Imam Musa Al Hijawi Rahimahullah dalam Al Iqna’ :

القول في عورة الحرة وعورة الحرة غير الوجه والكفين ظهرا وبطنا إلى الكوعين لقوله تعالى:   (ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها)   وهو مفسر بالوجه والكفين، وإنما لم يكونا عورة لان الحاجة تدعو إلى ابرازهما

                “Pendapat tentang aurat wanita merdeka. Aurat wanita merdeka adalah selain wajah dan dua telapak tangan baik luar atau dalamnya hingga ke pergelangan tangan, sesuai firmanNya: “Jangan mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak darinya,” ini ditafsirkan dengan wajah dan dua telapak tangan. Sesungguhnya keduanya tidak termasuk aurat karena adanya kebutuhan untuk menampakkan keduanya.”[19]

Selanjutnya, Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi mengatakan dalam Asy Syarh Al Kabir:

ولا خلاف بين أهل العلم في اباحة النظر إلى وجهها لانه ليس بعورة وهو مجمع المحاسن وموضع النظر ولا يباح له النظر إلى ما يظهر عادة وحكي عن الاوزاعي أنه ينظر إلى مواضع اللحم وعن داود أنه ينظر إلى جميعها لظاهر قوله عليه السلام ” انظر إليها ” ولنا قوله تعالى (ولا يبدين زينتهن الا ما ظهر منها) روى عن ابن عباس أنه قال هو الوجه وباطن الكف ولان النظر أبيح للحاجة فيختص بما تدعوا الحاجة إليه

“Tidak ada perbedaan pendapat antara para ulama tentang kebolehan melihat wajah wanita (yang dilamar) karena itu bukan termasuk aurat, dan wajah merupakan tempat berkumpulnya keindahan dan tempat bagi pandangan, dan tidak dibolehkan melihat bagian yang tidak biasa tampak. Diceritakan dari Al Auza’i bahwa melihat itu adalah pada bagian isinya. Dari Daud Azh Zhahiri bahwa melihat itu pada seluruh tubuhnya, sesuai zhahir hadits: “lihatlah kepadanya.” Dan pendapat kami adalah firmanNya, “Jangan mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak darinya,” diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa itu adalah wajah dan bagian dalam telapak tangan, karena melihat dibolehkan karena adanya kebutuhan, maka dikhususkan hal ini karena adanya kebutuhan untuk memandangnya.”[20]

Beliau juga berkata:

رُخِّصَ لَهَا فِي كَشْفِ وَجْهِهَا وَكَفَّيْهَا ؛ لِمَا فِي تَغْطِيَتِهِ مِنْ الْمَشَقَّةِ ، وَأُبِيحَ النَّظَرُ إلَيْهِ لِأَجْلِ الْخِطْبَةِ ؛ لِأَنَّهُ مَجْمَعُ الْمَحَاسِنِ .

“Diberikan keringanan buat wanita untuk menampakkan wajahnya dan kedua telapak tangannya, lantaran jika ditutup akan membawa kesulitan. Dan dibolehkan pula memandangnya karena untuk melamarnya, sebab wajah merupakan tempat berkumpulnya keindahan.”[21]

Imam Al Bahuti Rahimahullah berkata:

لَا خِلَافَ فِي الْمَذْهَبِ أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ الْحُرَّةِ كَشْفُ وَجْهِهَا فِي الصَّلَاةِ ذَكَرَهُ فِي الْمُغْنِي وَغَيْرِهِ .

“Tidak ada perbedaan pendapat dalam madzhab (Hambali), bahwa boleh bagi wanita merdeka membuka wajahnya dalam shalat, sebagaimana disebutkan dalam Al Mughni dan lainnya.”[22] Menurut Imam Ar Rahibani ini adalah pendapat jumhur ulama.[23]

Demikian pendapat para Imam dalam Madzhab Hambaliyah.

  1. Madzhab Zhahiriyah

Ini adalah salah satu madzhab yang pernah ada di kalangan Ahlus Sunnah, dengan tokohnya Imam Daud Azh Zhahiri dan Imam Abu Muhammad bin Hazm.

Imam Ibnu Hazm Rahimahullah berkata dalam kitabnya, Al Muhalla:

فأمرهن الله تعالى بالضرب بالخمار على الجيوب، وهذا نص على ستر العورة والعنق والصدر، وفيه نص على إباحة كشف الوجه، لا يمكن غير ذلك أصلا

                “Maka Allah Ta’ala memerintahkan mereka (kaum wanita) menjulurkan kerudung mereka hingga ke dada. Ini adalah nash (dalil) wajibnya menutup aurat, leher, dan dada. Dan di dalamnya juga terdapat nash kebolehan membuka wajah, sama sekali tidak mungkin memaknai selain itu.” [24]

Setelah beliau menyampaikan hadits Ibnu Abbas, ketika shalat ‘Id, katanya: “Maka aku melihat mereka menurunkan tangan mereka untuk melemparkan (perhiasannya) ke baju Bilal.” Imam Ibnu Hazm berkata:

فهذا ابن عباس بحضرة رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى أيديهن، فصح ان اليد من المرأة والوجه ليساعورة، وما عداهما ففرض عليها ستره

“Inilah Ibnu Abbas yang dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat tangan-tangan mereka, maka benarlah bahwa (telapak) tangan wanita dan wajahnya bukan aurat, ada pun selain keduanya maka wajib ditutup.”[25]

Selain itu, setelah menyebutkan kisah Al Abbas yang saling berpandangan dengan wanita cantik, Imam Ibnu Hazm berkata:

 فلو كان الوجه عورة يلزم ستره لما أقرها عليه السلام على كشفه بحضرة الناس، ولامرها أن تسبل عليه من فوق، ولو كان وجهها مغطى ما عرف ابن عباس أحسناء هي أم شوهاء؟ فصح كل ما قلناه يقينا.

“Seandainya wajah adalah aurat yang mesti ditutup niscaya Nabi tidak akan menyetujuinya membuka wajah di depan banyak manusia, dan Beliau akan memerintahkan wanita itu untuk menutupnya dari atas. Dan seandainya wajah wanita itu tertutup, maka Ibnu Abbas tidak akan tahu apakah ia cantik atau buruk? Maka benarlah semua yang kami katakan secara meyakinkan.” [26]

Pandangan Para Imam Mufassir

Sebenarnya apa yang sudah kami apaprkan telah mencukupi, namun untuk lebih menguatkan maka berikut kami paparkan pandangan para pakar tafsir. Mereka adalah para imam yang diakui kedalaman ilmunya dalam bidang ini, dan telah mendapatkan pengakuan dari zaman ke zaman.

  1. Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari

Dalam tafsir Jami’ul Bayan-nya, yang menjadi kitab induk tafsir Al Quran, ia menegaskan bahwa wajah dan dua telapak tangan wanita bukanlah aurat. Ini sudah kami paparkan sebelumnya.

  1. Imam Al Qurthubi

Beliau berkata ketika menafsirkan “Kecuali yang biasa nampak darinya”:

هذا قول حسن، إلا أنه لما كان الغالب من الوجه والكفين ظهورهما عادة وعبادة وذلك في الصلاة والحج، فيصلح أن يكون الاستثناء راجعا إليهما.

                “Ini pendapat yang baik, karena menampakkan wajah dan kedua telapak tangan dalam adat dan ibadah adalah hal biasa, juga saat shalat dan haji, maka selayaknya pengecualian itu dikembalikan kepada keduanya.”[27]

  1. Imam Abu Bakar Ar Razi Al Jashash

Beliau berkata tentang makna “Kecuali yang biasa nampak darinya”:

وَقَالَ أَصْحَابُنَا : الْمُرَادُ الْوَجْهُ وَالْكَفَّانِ ؛ لِأَنَّ الْكُحْلَ زِينَةُ الْوَجْهِ وَالْخِضَابَ وَالْخَاتَمَ زِينَةُ الْكَفِّ ، فَإِذْ قَدْ أَبَاحَ النَّظَرَ إلَى زِينَةِ الْوَجْهِ وَالْكَفِّ فَقَدْ اقْتَضَى ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ إبَاحَةَ النَّظَرِ إلَى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ .

وَيَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ مِنْ الْمَرْأَةِ لَيْسَا بِعَوْرَةٍ أَيْضًا أَنَّهَا تُصَلِّي مَكْشُوفَةَ الْوَجْهِ وَالْيَدَيْنِ ، فَلَوْ كَانَا عَوْرَةً لَكَانَ عَلَيْهَا سَتْرُهُمَا كَمَا عَلَيْهَا سَتْرُ مَا هُوَ عَوْرَةٌ ؛ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ جَازَ لِلْأَجْنَبِيِّ أَنْ يَنْظُرَ مِنْ الْمَرْأَةِ إلَى وَجْهِهَا وَيَدَيْهَا بِغَيْرِ شَهْوَةٍ

                “Para sahabat kami mengatakan, bahwa yang dimaksud adalah wajah dan dua telapak tangan. Sesungguhnya celak adalah perhiasan mata, sedangkan gelang dan cincin adalah perhiasan tangan. Maka jika dibolehkan melihat perhiasan tersebut, maka membawa konsekuensi kebolehan melihat tempatnya perhiasan tersebut yakni wajah dan dua telapak tangan.

Yang juga menunjukkan bahwa wajah dan dua telapak tangan bukanlah aurat adalah wanita shalat dengan membuka wajah dan dua telapak tangannya, maka jika keduanya aurat maka wajib baginya untuk menutupnya sebagaimana menutup bagian yang termasuk aurat. Maka, jika demikian, dibolehkan bagi laki-laki asing memandang wajah wanita dan dua telapak tangannya dengan tana syahwat.”[28]

  1. Imam Abu Bakar Ibnu Al ‘Arabi

Beliau berkata dalam kitabnya yang berjudul sama dengan Imam Al Jashash, yakni Ahkamul Quran:

 وَالصَّحِيحُ أَنَّهَا مِنْ كُلِّ وَجْهٍ هِيَ الَّتِي فِي الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ ، فَإِنَّهَا الَّتِي تَظْهَرُ فِي الصَّلَاةِ .

وَفِي الْإِحْرَامِ عِبَادَةً ، وَهِيَ الَّتِي تَظْهَرُ عَادَةً .

“Yang benar bahwa semua perhiasan wajah dan tangan adalah yang berada pada wajah dan dua telapak tangan, dan sesungguhnya keduanya ditampakkan dalam shalat dan ibadah ihram, dan juga ditampakkan pada adat (kebiasaan).”[29]

  1. Imam Al Baghawi

Beliau berkata:

وإنما رُخص في هذا القدر أن تبديه المرأة من بدنها لأنه ليس بعورة وتؤمر بكشفه في الصلاة

                “Sesungguhnya wanita diberikan keringan untuk menampakkan kadar tertentu dari badannya, karena itu bukan aurat, dan diperintahkan dibuka di dalam shalat.”[30]

Beliau juga berkata ketika menafsirkan, “janganlah menampakkan perhiasan mereka:

يعني:الزينة الخفية التي لم يبح لهن كشفها في الصلاة ولا للأجانب، وهو ما عدا الوجه والكفين

                Yakni perhiasan yang tersembunyi yang tidak boleh dibuka dalam shalat dan di depan laki-laki asing, dan itu adalah selain wajah dan dua telapak tangan.”[31]

  1. Imam Fakhruddin Ar Razi

Beliau mengutip dari Al Qaffal, ketika menafsirkan “Kecuali yang biasa nampak darinya” sebagai berikut:

فقال القفال معنى الآية إلا ما يظهره الإنسان في العادة الجارية ، وذلك في النساء الوجه والكفان

                “Al Qaffal berkata, makna ayat adalah kecuali yang biasa ditampakkan oleh manusia dalam kebiasaan hariannya, dan hal itu bagi wanita adalah wajah dan dua telapak tangan.”[32]

  1. Imam Al Khazin

Beliau berkata ketika menafsirkan, “kecuali yang biasa nampak darinya”:

وإنما رخص في هذا القدر للمرأة أن تبديه من بدنها لأنه ليس بعورة وتؤمر بكشفه في الصلاة  

                “Sesungguhnya wanita diberikan keringanan dalam kadar tertentu untuk menampakkan bagian tubuhnya karena itu bukan aurat, dan diperintahkan membuka wajah dalam shalat.” [33]

Beliau juga berkata ketika menafsirkan, “Jangan mereka menampakkan perhiasan mereka…”:

يعني الخفية التي لم يبح لهن كشفها في الصلاة ولا للأجانب وهي ما عدا الوجه والكفين

                “Yakni perhiasan tersembunyi yang tidak dibolehkan ditampakkannya dalam shalat dan di depan laki-laki asing, dan itu adalah selain wajah dan kedua telapak tangan.”[34]

  1. Syahidul Islam Sayyid Quthb

Beliau berkata:

فأما ما ظهر من الزينة في الوجه واليدين ، فيجوز كشفه . لأن كشف الوجه واليدين مباح لقوله صلى الله عليه وسلم لأسماء بنت أبي بكر : « يا أسماء إن المرأة إذا بلغت المحيض ، لم يصلح أن يرى منها إلا هذا وأشار إلى وجهه وكفيه » .

“Ada pun apa-apa yang tampak dari perhiasan pada wajah dan tangan, maka dibolehkan untuk membukanya. Karena membuka wajah dan dua telapak tangan adalah boleh, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda kepada Asma binti Abi Bakar: “Wahai Asma’, sesungguhnya wanitu itu jika dia sudah mengalami haidh maka tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini, dia mengisyaratkan wajah dan telapak tangan.”[35] Dan lain-lain.

  1. Imam Abul Hasan An Naisaburi Rahimahullah

Beliau mengatakan:

{ إلاَّ ما ظهر منها } وهو الثِّياب ، والكحل ، والخاتم والخضاب ، والسِّوار ، فلا يجوز للمرأة أن تظهر إلاَّ وجهها ويديها إلى نصف الذِّراع  

(Kecuali yang biasa tampak darinya) yaitu pakaiannya, celak, cincin, gelang, maka tidak boleh bagi wanita menampakkan kecuali wajah dan kedua tangannya hingga setengah hasta.[36]

Footnote:

[1] Imam As Sarkhasi, Al Mabsuth, Juz. 4, Hal. 30. Darul Fikr

[2] Imam Kamaluddin bin Al Hummam, Fathul Qadir, Juz. 5, Hal. 87.

[3] Ibid, Juz. 1, Hal. 494

[4] Ibid

[5]  Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, Juz. 22, Hal. 114. Majma’ Al Malik Fahd Lithiba’ah Al Mushhaf Asy Syarif

[6] Imam Abu Sulaiman bin Khalaf Al Baji, Al Muntaqa Syarh Al Muwaththa’, Hal. 2, Hal. 252, No. 633.

[7] Imam Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Juz. 1, Hal. 95.

[8]  Imam Abu Abdillah bin Yusuf Al Abdari Al Mawwaq , At Tajj Al Iklil Li Mukhtashar  Khalil, Juz.  1, Hal. 384.

[9]  Imam Syamsuddin Al Haththab Ar Ru’yani, Mawahib Al Jalil fi Syarh Mukhtashar Syaikh Al Khalil, Juz. 16, Hal. 91.

[10] Imam Al Kharrasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, Juz. 3, Hal. 201.

[11] Imam Muhammad bin Ahmad ‘Alisy Al Maliki, Manahal Jalil Syarh Mukhtashar Khalil, Juz. 1, Hal. 476.

[12] Imam Asy Syafi’i, Al Umm, Juz. 1, Hal. 109.

[13] Imam An Nawawi, Raudhatuth Thalibin, Juz. 2, Hal. 455.

[14] Imam An Nawawi, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, Juz. 3, Hal. 167. Darul Fikr.

[15] Imam Sayyid Al Bakr Ad Dimyathi, I’anatuth Thalibin, Juz. 1, Hal. 133.

[16] Imam  Zakaria Al Anshari, Fathul Wahhab, Juz. 1, Hal. 88. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah.

[17] Imam Zakaria Al Anshari, Asnal Mathalib, Juz. 3, Hal. 41.

[18] Imam Abdul Karim Ar Rafi’i, Fathul ‘Aziz Syarhul Wajiz, Juz. 4, Hal. 87-88. Darul Fikr.

[19] Imam Musa Al Hijawi, Al Iqna’, Juz. 1, Hal. 113.

[20] Imam Ibnu Qudamah, Asy Syarh Al Kabir, Juz. 7, Hal. 342. Darul Kutub Al ‘Arabi.

[21]  Imam Ibnu Qudamah, Al Mughni, Juz. 3, Hal. 53.

[22]  Imam Al Bahuti, Kasysyaf Al Qina’, Juz. 2, Hal. 247.

[23] Imam Ar Rahibani, Mathalib Ulin Nuha Syarh Ghayah Al Muntaha, Juz. 2, Hal. 321.

[24] Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, Juz. 3, Hal. 216. Darul Fikr.

[25] Ibid, Juz. 3, Hal. 217.

[26] Ibid, Juz. 3, Hal. 218

[27] Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, Juz.12, Hal. 229. Dar Ihya’ At Turats Al ‘Arabi

[28] Imam Abu Bakar Al Jashsash, Ahkamul Quran, Juz. 7, Hal. 494.

[29] Imam Abu Bakar bin Al ‘Arabi, Ahkamul Quran, Juz. 6, Hal. 64.

[30] Imam Al Baghawi, Ma’alim At Tanzil, Juz. 6, Hal. 34.

[31] Ibid

[32] Imam Fakhruddin Ar Razi, Mafatih Al Ghaib, Juz. 11, Hal. 305.

[33] Imam Al Khazin, Lubab At Ta’wil fi Ma’ani At Tanzil, Juz. 4, Hal. 499.

[34] Ibid

[35] Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Quran, Juz. 5, Hal. 277. Al Maktabah Asy Syamilah

[36] Imam An Naisaburi, Al Wajiz, Juz. 1, Hal. 590

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s