Takhrij Al-Ma’tsurat (Bag. 8)

quranMembaca Surat Ali Imran ayat 1-2

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, الم, اللهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Alif laam miim. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. (QS. Ali Imran (3): 1-2)

Imam Al Hakim meriwayatkan dalam Al Mustadrak-nya, sebagai berikut:

أخبرنا أبو عبد الله الصفار ثنا أبو بكر بن أبي الدنيا حدثني عمار بن نصر ثنا الوليد بن مسلم حدثني عبد الله بن العلاء بن زبر ثنا القاسم بن عبد الرحمن عن أبي أمامة رضى الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن اسم الله الأعظم لفي ثلاث سور من القرآن في سورة البقرة وآل عمران وطه فالتمستها فوجدت في سورة البقرة آية الكرسي { الله لا إله إلا هو الحي القيوم } وفي سورة آل عمران { ألم الله لا إله إلا هو الحي القيوم } وفي سورة طه { وعنت الوجوه للحي القيوم }

Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdillah Ash Shafar, bercerita kepada kami Abu Bakr bin Abi Ad Dunya, bercerita kepadaku ‘Ammar bin Nashr, bercerita kepada kami Al Walid bin Muslim, bercerita kepadaku Abdullah bin Al ‘Ala bin Zibr, bercerita kepada kami Al Qasim bin Abdirrahman dari Abu Umamah Radhiallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia bersabda:

“Sesungguhnya bahwa asma Allah yang agung itu ada pada tiga surat dalam Al-Qur’an yakni: surat Al Baqarah, Ali Imran, dan surat Thaha. Al Qasim berkata, “Kemudian aku mencarinya, maka aku mendapatkan pada surat Al Baqarah adalah ayat (kursi), “allahu Ia ilaha illa huwal hayyul qayyum”, pada surat Ali Imran adalah ayat, “alif lam mim, allahu Ia ilaha illah huwal hayyul qayyum”, dan pada surat Thaha adalah ayat, ‘wa ‘anatil wujuhu ill hayyil qayyum.” (HR. Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain No. 1866. Ibnu Majah No. 3856)

Hadits ini hasan. (Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3856, As Silsilah Ash Shahihah No. 746)

Syaikh Al Albani Rahimahullah mengatakan:

قلت : و هذا إسناد حسن ، لأن القاسم ثقة لكن في حفظه شيء . و عبد الله بن العلاء هو ابن زبر ، و هو ثقة . و قد تابعه غيلان بن أنس و هو مقبول عند ابن حجر . أخرجه ابن ماجه ( 3856 ) و الطحاوي و الفريابي .و الحديث قال المناوي بعد ما عزاه أصله لابن ماجه و الطبراني و الحاكم :
” و فيه هشام بن عماره مختلف فيه ”  قلت : هذا لا وجود له عند ابن ماجه و الحاكم ، فيحتمل أن يكون في طريق الطبراني و لا يضر حديثه لأنه متابع عند الآخرين ، فالحديث ثابت . و الله أعلم

“Saya (Syaikh Al Albani) berkata: isnad hadits ini hasan, karena Al Qasim adalah tsiqah tetapi pada hapalannya ada masalah. Sedangkan Abdullah bin Al ‘Ala adalah Ibnu Zubeir, dia juga tsiqah. Dan, hadits ini telah dikuatkan oleh riwayat Ghailan bin Anas,  dan dia maqbul (bisa diterima) menurut Ibnu Hajar. Riwayat ini telah dikeluarkan oleh Ibnu Majah (3856), Ath Thahawi, dan Al Faryabi.

Imam Al Munawi berkata -setelah  menisbatkan asal hadits ini   dari Ibnu Majah dan Al Hakim: “Dalam sanadnya terdapat Hisyam bin ‘Imarah, dia diperselisihkan.” Saya (syaikh Al Albani) mengatakan: “Apa yang dikatakannya tidak ada pada Ibnu Majah dan Al Hakim, mungkin itu ada pada jalur Ath Thabarani, dan itu tidak menodai haditsnya karena terdapat mutaba’ah (penguat) pada yang lainnya. Maka, hadits ini kuat. Wallahu A’lam.” (As Silsilah Ash Shahihah No. 746. Darul Ma’arif)

 Dalam riwayat lain, dari Asma binti Yazid Radhiallahu ‘Anha, katanya:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اسْمُ اللَّهِ الْأَعْظَمُ فِي هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ{ وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ } وَفَاتِحَةِ آلِ عِمْرَانَ { الم اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ }

 Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Nama Allah yang Agung terdapat pada dua ayat ini: (dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. Al Baqarah (2): 163) ) dan pembuka surat Ali Imran ( Alif laam miim, Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. (QS. Ali Imran (3): 1-2) ). (HR. Abu Daud No. 1496, At Tirmidzi No. 3478, katanya: hasan shahih.  Ad Darimi No. 3389,  Ahmad No. 27611)

                Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengomentari sanad hadits ini:

وفيه نظر لأنه من رواية شهر بن حوشب.

“Padanya ada yang mesti dipertimbangkan karena ini termasuk riwayat dari Syarh bin Hausyab.” (Fathul Bari, 11/ 224)

                Ada pun Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Tahqiq Musnad Ahmad menyatakan bahwa isnad hadits ini dhaif (Tahqiq Musnad Ahmad, 45/584), karena kedhaifan Ubaidillah bin Abi Ziyad dan Syahr bin Hausyab.

Sebenarnya, Syahr bin Hausyab telah ditsiqahkan oleh Imam Ahmad dan Imam Yahya bin Ma’in, dan lebih satu orang yang  telah mempermasalahkannya. Sedangkan Ubaidillah bin Abi Ziyad Al Qaddah Al Makki juga lebih satu orang yang mempermasalahkannya. (Lihat Tuhfah Al Ahwadzi, 9/447, dan ‘Aunul Ma’bud, 4/255)

                Selain Imam Ahmad dan Imam Yahya bin Ma’in, beberapa imam juga mentsiqahkan Syahr bin Syauhab, di antaranya:

  • Imam Abu Zur’ah, dia berkata tentang Syahr: Laa ba’sa bihi (Tidak apa-apa).
  • Imam Abdurrahman bin Abi Hatim meriwayakan hadits darinya.
  • Imam Al Bukhari mengatakan: hasanul hadits (haditsnya bagus).
  • Imam Al ‘Ijli mengatakan: tsiqah Syamiy (orang Syam yang terpercaya).
  • Imam Yahya berkata: tsabit (kuat/kokoh).
  • Imam Ya’qub bin Syaibah berkata: Syahr terpercaya, sebagian manusia mencelanya.
  • Imam Adz Dzahabi berkata:

قد ذهب إلى الاحتجاج به جماعة، وقال حرب الكرماني، عن أحمد: ما أحسن حديثه ! ووثقه، وهو حمصي.

“Segolongan ulama telah berhujjah dengannya, dan berkata Harb Al Karmani, dari Ahmad: “Betapa bagus haditsnya!” Dia mentsiqahkannya dan dia orang Himsh. (Lihat semua dalam Mizanul I’tidal, 2/283-284)

Ada pun para imam yang menjarh-nya (baca:menkritik) adalah:

  • Imam Abu Hatim mengatakan: Laa yahtaj bihi – tidak bisa dijadikan hujjah.
  • Imam An Nasa’i dan Imam Ibnu ‘Adi mengatakan: Laisa bi qawwi – tidak kuat.
  • Imam Ibnu ‘Aun mengatakan: Inna Syahran tarakuuhu – mereka meninggalkan (hadits) syahr.
  • Imam Al Fallas mengatakan bawah Imam Yahya bin Sa’id Al Qaththan tidaklah mengambil hadits dari Syahr.
  • Imam Syu’bah telah meninggalkan hadits Syahr. (Ibid)

Namun, yang lebih kuat adalah bahwa hadits ini hasan. Sebab:

  • Syahr bin Hausyab adalah orang yang jujur, walau dia banyak keraguan dan meriwayatkan hadits secara mursal. Namun, Imam Bukhari telah meriwayatkan darinya dalam kitab Adabul Mufrad, begitu juga Imam Muslim dan para penyusun kitab sunan (ash habus sunan) telah mengambil riwayat darinya.
  • Ubaidillah bin Abi Zaiyad memang dhaif, namun Imam Ibnu Majah dan Imam At Tirmidzi telah mengambil hadits darinya.
  • Sedangkan sisa rawi yang lain adalah tsiqah, ditambah lagi hadits ini memiliki berbagai syawahid (penguat) dan banyak jalan.  (Lihat Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud  [179], Maktabah Misykah)

Imam Ahmad bin Hambal telah mengisyaratkan hasan-nya hadits Syahr bin Hausyab ini, berkata Imam Adz Dzahabi:

قال أحمد: روى عن أسماء بنت يزيد أحاديث حسانا.

Berkata Ahmad: Dia (Syahr) telah meriwayatkan dari Asma binti Yazid hadits-hadits hasan.” (Mizanul I’tidal, 2/283), dan hadits ini Syarh bin Hausyab telah meriwayatkannya dari Asma binti Yazid.

Begitu pula Syaikh Al Albani menghasankan hadits ini dalam berbagai kitabnya. (Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 3478. Shahih wa Dhaif Sunan Ibnu Majah No. 3855.  Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1496. Shahih At Targhib wat Tarhib No. 1642)

Wallahu A’lam

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s