Takhrij Al-Ma’tsurat (Bag. 6)

mecca_mekkah_saudi_arabiaMembaca Surat Al Fatihah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ , الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ, مَـلِكِ يَوْمِ الدِّينِ, إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ, اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ, صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ  الضَّالِّينَ

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji  bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. yang menguasai di hari Pembalasan. hanya Engkaulah yang Kami sembah , dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan. Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al Fatihah (1): 1-7)

                                                                   * * *

Surat Al Fatihah memiliki banyak keutamaan, diantaranya:

Pertama, Dia disebut A’zhamus Surah (Surat yang paling agung).  

Dari   Abu Said Al Mu’alli Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu:

كُنْتُ أُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ فَدَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي فَقَالَ أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ { اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ } ثُمَّ قَالَ لِي لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ قُلْتُ لَهُ أَلَمْ تَقُلْ لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

“Saya sedang shalat di masjid, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memanggil saya, namu saya tidak menjawabnya. Maka saya berkata: “Wahai Rasulullah, tadi saya sedang shalat.” Maka Beliau bersabda: “Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman: “ penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al Anfal (8): 24). Lalu, Beliau bersabda kepada saya, “Saya akan memberitahu kamu surat yang paling agung di Al Quran, sebelum kamu keluar dari masjid.” Lalu beliau memegang tangan saya, maka ketika hendak keluar dari masjid saya berkata kepadanya, bukankah baginda berkata, “Saya akan memberitahu kamu surat yang paling agung di Al Quran.” Beliau menjawab: “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, itulah sab’ul matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang) dan Al Quran yang agung, yang aku telah diberikan olehNya.” (HR. Bukhari  No. 4204, 4370, 4426, 4720.  Abu Daud  No. 1458.  Ad Darimi dalam Sunannya No. 3371)

Kedua, Sebagai Ruqyah, sehingga dibolehkan membacanya jika kita sedang sakit.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang surat Al Fatihah:

وما يدريك أنها رقية

“Tidakkah kau tahu bahwa dia adalah ruqyah?” (Diriwayatkan oleh: Imam Bukhari No. 2156,  4721, 5404, 5417)

Ketiga, Surat istimewa yang tidak pernah Allah Ta’ala turunkan sebelumnya dalam Taurat, zabur, dan Injil, bahkan tidak ada yang sepertinya di dalam Al Quran sendiri.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أُبَيُّ وَهُوَ يُصَلِّي فَالْتَفَتَ أُبَيٌّ وَلَمْ يُجِبْهُ وَصَلَّى أُبَيٌّ فَخَفَّفَ ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْكَ السَّلَامُ مَا مَنَعَكَ يَا أُبَيُّ أَنْ تُجِيبَنِي إِذْ دَعَوْتُكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ فِي الصَّلَاةِ قَالَ أَفَلَمْ تَجِدْ فِيمَا أَوْحَى اللَّهُ إِلَيَّ أَنْ { اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ } قَالَ بَلَى وَلَا أَعُودُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ قَالَ أَتُحِبُّ أَنْ أُعَلِّمَكَ سُورَةً لَمْ يَنْزِلْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا قَالَ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ تَقْرَأُ فِي الصَّلَاةِ قَالَ فَقَرَأَ أُمَّ الْقُرْآنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُنْزِلَتْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا وَإِنَّهَا سَبْعٌ مِنْ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُعْطِيتُهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَفِي الْبَاب عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَفِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar menuju Ubai bin Ka’ab. Maka, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Ubai.” Dia sedang shalat, dia  menoleh dan tidak menjawab. Lalu dia meringankan shalatnya, setelah selesai dia menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata: “As Salamu ‘Alaika ya Rasulallah.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab; “Wa ‘Alaikas Salam, Wahai Ubai apa yang mencegahmu menyahutku  ketika aku memanggilmu?” Ubai menjawab: “Saya tadi sedang shalat.”  Beliau bersabda: “Apakah kau tidak temukan adanya wahyu Allah yang diturunkan kepadaku: “Jawablah panggilan Allah dan Rasul jika keduanya memanggil kamu kepada sesuatu yang memberikan kehiduan bagi kamu.”

Ubai menjawab: “Tentu, aku tidak akan mengulangi lagi Insya Allah.”   Beliau bersabda: “Sukakah kau aku  beritahu  tentang surat yang belum pernah diturunkan kepada Taurat, Injil, Zabur, dan juga semisal itu dalam Al Furqan (Al Quran)?” Ubai menjawab: “Tentu ya Rasulullah.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: “Surat apa yang kamu baca dalam shalat?”  maka Ubai membaca Ummul Quran. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Demi Yang Jiwaku ada ditanganNya, tidaklah diturunkan di dalam Taurat, injil, Zabur, dan Al Furqan yang sepertinya, dia adalah sab’un minal matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang) dan Al Quran Al ‘Azhim yang mana aku telah diberikan.”

Berkata Abu ‘Isa (Imam At Tirmidzi): hadits ini hasan shahih. Dalam bab ini juga terdapat riwayat dari Anas bin Malik dan di dalamnya dari Abu Said bin Al Mu’alli.  (HR. At Tirmidzi   No.  2875, dari jalur Abu Hurairah.  Imam At Tirmidzi mengatakan: hasan shahih. Imam Ad Darimi No. 3373. Dishahihkan pula oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan At Tirmidzi No. 2875, 3125. Imam Ahmad, dalam Musnadnya, No. 20180, 20181. dari Ubai bin Ka’ab. Ibnu Hibban No. 775, dari Ubai bin Ka’ab)

Keempat, disebut sebagai induknya Al Quran (Ummul Quran atau Ummul Kitab). [1]

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أمُّ الْقُرْآنِ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ

“Ummul Quran dia adalah sab’ul matsani (tujah ayat yang diulang-ulang), dan Al Quran yang agung.” (HR.  Bukhari  No. 4427. Ahmad No. 9788, Ad Darimi No. 3374)

Kelima, bersama akhir surat Al Baqarah, Al Fatihah disebut dua cahaya yang belum pernah diberikan kepada nab-nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma:

بيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ هَذَا بَابٌ مِنْ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ

Ketika Jibril duduk di samping Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terdengar suara pintu dibuka dari atas lalu dia menengadahkan kepalanya, dan berkata: “Ini adalah pintu dari langit yang dibuka ada hari ini yang sebelumnya tidak pernah dibuka sama sekali kecuali hari ini.”

Lalu turun darinya Malaikat, lalu berkata: “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi yang tidak pernah turun sebelumnya kecuali hari ini.” Lalu dia mengucapkan salam dan berkata: “Berikan kabar gembira dengan adanya dua cahaya yang diberikan kepadamu, dan sebelumnya tidak pernah diturunkan kepada nabi sebelummu, yaitu Fatihatul Kitab dan akhir surat surat Al Baqarah, tidaklah engkau membacanya satu huruf melainkan engkau akan diberikanNya.” (HR. Muslim No. 806, An Nasa’i No. 912, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 2052, Abu Ya’la No. 2488, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, 7/423)

Catatan:

Kalimat: ‘Bismillahirrahmanirrahim’ (istilahnya basmalah)  dalam surat Al Fatihah, telah terjadi perselisihan pendapat para ulama; apakah dia bagian dari Al Fatihah atau bukan? Ataukah dia ayat tersendiri namun mesti di baca pada setiap surat kecuali At Taubah? Ataukah dia hanya berfungsi sebagai pemisah surat saja? Namun, para ulama sepakat bahwa Bismillahirrahmanirrahim  terdapat pada salah satu ayat dalam surat An Naml 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengetahui pemisahan surat hingga diturunkan kepadanya: Bismillahirrahmanirrahim. (HR. Abu Daud  No. 788. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 2206. Imam Ibnu Katsir mengatakan: sanad hadits ini shahih. Lihat Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/116.  Syaikh Al Albani juga menyatakan shahih, lihat Shahihul Jami’ No. 4864. Ini juga diriwayatkan secara mursal dari Said bin Jubeir, juga oleh Imam Al Hakim dalam Al Mustadraknya)

Dalam Shahih Ibnu Khuzaimah , dari Ummu Salamah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قرأ البسملة في أول الفاتحة في الصلاة وعدّها آية

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca basmalah pada awal Al Fatihah ketika shalat dan menghitungnya sebagai ayat.”

Al Hafizh Al Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa dalam sanadnya terdapat Umar bin Harun Al Balkhi, dia seorang yang dhaif. Namun riwayat ini memiliki mutaba’ah (penguat) yang diriwayatkan Imam Ad Daruquthni dari Abu Hurairah secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah). Dan yang seperti ini juga diriwayatkan dari Ali, Ibnu Abbas, dan selain keduanya. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/116)

Ada pula yang mengatakan bahwa basmalah merupakan ayat dari semua surat kecuali At Taubah (Al Bara’ah), mereka adalah: Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Az Zubeir, Abu Hurairah, dan Ali. Dari kalangan tabi’in adalah Atha’, Thawus, Said bin Jubeir, Makhul, dan Az Zuhri. Ini juga pendapat Abdullah  bin Al Mubarak, Asy Syafi’i, Ahmad bin Hambal dalam satu riwayat darinya, Ishaq bin Rahawaih, dan Abu ‘Ubaid bin Al Qasim bin  Salam – Rahimahumullah. (Ibid)

Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan para pengikut keduanya mengatakan bahwa kalimat basmalah bukanlah bagian dari Al Fatihah dan bukan pula termasuk semua surat lainnya.

Imam Asy Syafi’i mengatakan bahwa basmalah adalah termasuk ayat dari surat Al Fatihah, namun bukan termasuk ayat pada surat lainnya. Juga diriwayatkan darinya, bahwa basmalah merupakan bagian dari ayat pada awal setiap surat. Kedua riwayat ini gharib (menyendiri/aneh/asing/janggal).

Imam Daud Azh Zhahiri mengatakan bahwa basmalah adalah ayat terpisah pada awal setiap surat dan bukan bagian dari surat tersebut. Pendapat seperti ini juga diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hambal. Ini juga menjadi pendapat Imam Abu Bakar Ar Razi dan Imam Abul Hasan Al Karkhi, keduanya adalah pembesar madzhab Abu Hanifah. Semoga Allah merahmati mereka semua. (Ibid, 1/117. Dar Ath Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’)

Secara umum membaca basmalah   dianjurkan pada awal setiap amal kebajikan, sebagaimana riwayat shahih tentang menjima’ istri, naik kendaraan, memulai makan, memulai majelis, memulai wudhu,   dan lainnya.  Ada sebuah riwayat:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ب ( بسم الله الرحمن الرحيم ) فهو أبتر

“Setiap urusan dalam kehidupan yang di dalamnya tidak dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim, maka dia terputus.” (Diriwayatkan oleh As Subki dalam Thabaqat As Syafi’iyah, 1/6. Al Khathib dan Al Hafizh Abdul Qadir Ar Rahawi, hal. 5)

Namun riwayat ini dhaif (lemah), lantaran seorang perawi bernama Ahmad bin Muhammad bin ‘Imran Al ‘Atiqi, biasa dikenal Ibnu Al Jundi. Imam  Khathib Al Baghdadi mengatakan: “Riwayat darinya dilemahkan dan madzhabnya telah dicela (karena dia tasyayyu’ – terpengaruh syi’ah). Aku bertanya kepada Az Zuhri tentang Ibnu Al Jundi, katanya: “Dia bukan apa-apa.”  (Tarikh Baghdad, 2/414)

Syaikh Al Albani menyatakan: dhaif jiddan – sangat lemah. (Lihat Irwa’ul Ghalil, 1/29. Cet. 2. 1985M-1405H.  Al Maktab Al Islami. Beirut)  Sementara Imam Ibnu Katsir berhujjah dengan hadits ini, namun tidak berkomentar apa-apa tentang derajat hadits ini. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/120)

 Tertulis dalam Majmu’ah Rasa’il-nya Imam Hasan Al Banna, pada Bab Al Ma’tsurat, hal. 379. Penerbit Al Maktabah At Taufiqiyah, pada catatan kaki no. 3, bahwa Imam Abu Daud dan selainnya meriwayatkan dengan sanadnya, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda:

 كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم  فهو أقطع

                “Setiap urusan kehidupan yang di dalamnya tidak dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim, maka itu perputus.”

Ini keliru dan tidak terdapat dalam Sunan Abu Daud. Justru dalam ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud disebutkan tentang riwayat ini: dikeluarkan oleh Ibnu Hibban melalui dua jalan/jalur. Ibnu Ash Shalah mengatakan:  hadits ini hasan. (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 13/130)

                Ternyata, yang tertulis dalam ‘Aunul Ma’bud bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban juga keliru! Benar ada dua jalan, namun  tidak ada teks yang demikian. Dalam Shahih Ibnu Hibban, baik  No. 1 dan No. 2, (baik terbitan Muasasah Ar Risalah dengan tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth, mau pun keluaran Mawqi’ Ruh Al Islam) teks (matan) nya adalah:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه بحمد الله فهو أقطع

“Setiap urusan kehidupan yang di dalamnya tidak dimulai dengan  Alhamdulillah, maka itu terputus.”

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa isnad hadits ini dhaif, lantaran kedhaifan Ibnu Abdirrahman Al Mu’afiri Al Mishri, yang telah didhaifkan oleh Yahya bin Ma’in, Ahmad, Abu Zur’ah, Abu Hatim, dan An Nasa’i. (Tahqiq Shahih Ibnu Hibban, 1/173)

Dalam Sunan Abu Daud  tidak ada pula lafaz demikian. Yang benar adalah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

كلُّ كلامٍ لا يُبدأ فيه بالحمد للّه فهو أجذم

“Setiap ucapan yang di dalamnya tidak dimulai dengan Al Hamdulillah, maka dia terputus (fahuwa aj-dzam).” (HR. Abu Daud No. 4840,  yang seperti ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah No. 1894, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 5559, Ad Daruquthni, Kitabus Shalah No. 1,  Ibnu Hibban No. 1, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, 6/263, semua dengan lafaz: fa huwa aqtha’. Namun ini pun juga dhaif. Lantaran kedhaifan Ibnu Abdirrahman Al Mu’afiri Al Mishri, yang telah didhaifkan para ulama seperti Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, An Nasa’i, Abu Hatim, dll. Syaikh Al Albani mendhaifkan semuanya dalam berbagai kitabnya, seperti Dhaiful Jami’ No. 4216, Tahqiq Misykah Al Mashabih No. 3151, Dhaif At Targhib wat Tarhib No. 958, dan lainnya. Sedangkan Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim Abadi mengatakan riwayat ini hasan, baik diriwayatkan secara maushul dan mursal, dan yang maushul (bersambung) sanadnya jayyid (baik). Lihat ‘Aunul Ma’bud, 13/130).

Wallahu A’lam

Footnote:

[1] Ada pun menamakan Al Fatihah dengan Ummul Quran telah terjadi perbedaan pendapat para ulama.  Sebagian besar ulama mengatakan boleh menamakan Al Fatihah dengan Ummul Quran. Berkata Imam Ibnu Katsir;

يقال لها: الفاتحة، أي فاتحة الكتاب خطا، وبها تفتح   القراءة في الصلاة  ويقال لها أيضا: أم الكتاب عند الجمهور…..

Dia juga dinamakan Al Fatihah yaitu sebagai pembuka Al kitab (Al Quran) secara khath (tulisan), dan dengannya dibuka bacaan shalat, dan dia juga dinamakan Ummul Kitab menurut jumhur (mayoritas ulama) ..”

Alasannya adalah seperti yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir:

وقد ثبت في[الحديث]   الصحيح عند الترمذي وصححه عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” الحمد لله أم القرآن وأم الكتاب والسبع المثاني والقرآن العظيم “

“Telah pasti dalam hadits shahih At Tirmidzi dan dia menshahihkannya, dari Abu Hurairah, katanya: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Al Hamdulillah adalah Ummul Quran, dan Ummul Kitab, sab’ul matsani, dan Al Quran Al ‘Azhim. ” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/101. Daruth Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’)

                        Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

كل صلاة لا يقرأ فيها بأم الكتاب فهي خداج ثم هي خداج ثم هي خداج

“Setiap shalat yang tidak dibacakan di dalamnya Ummul Quran, maka itu khidaj (tidak sempurna). (diulang 3x).” (HR. Ibnu Majah No. 840, Al Baihaqi dalam  Sunannya No. 2195. Syaikh Al Albani mengatakan: hasan shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 840)

Tentu Ummul Quran dalam hadits ini adalah surat Al Fatihah karena terkait dengan syarat sahnya shalat.

Sebagian Imam memakruhkan istilah ini, yakni Anas bin Malik, Al Hasan Al Bashri, dan Ibnu Sirin. Mereka mengatakan: Ummul Kitab adalah Lauh Mahfuzh, Al Hasan juga mengatakan ayat-ayat muhkamat itulah Ummul kitab . (Ibid)

Pendapat mereka sebagaimana surat Ali Imran ayat 7:

هُوَ الَّذِي أَنزلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat , itulah ummul Kitab (pokok-pokok isi Al Quran) dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat…”

Ayat lainnya:

يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh). (QS. Ar Ra’du (13); 39)

Ayat lainnya:

وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ

Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.  (QS. Az Zukhruf (43): 4)

Abdul Wahid bin Salim berkata:

قدمت مكة فلقيت عطاء بن أبي رباح فقلت له يا أبا محمد إن أهل البصرة يقولون في القدر قال يا بني أتقرأ القرآن قلت نعم قال فاقرأ الزخرف قال فقرأت

{ حم والكتاب المبين إنا جعلناه قرآنا عربيا لعلكم تعقلون وإنه في أم الكتاب لدينا لعلي حكيم } فقال أتدري ما أم الكتاب قلت الله ورسوله أعلم قال فإنه كتاب كتبه الله قبل أن يخلق السماوات وقبل أن يخلق الأرض فيه إن فرعون من أهل النار

Aku datang ke Mekkah, dan bertemu dengan ‘Atha bin Abi Rabah, aku berkata kepadanya; “Wahai Abu Muhammad,  sesungguhnya penduduk Bashrah membincangkan tentang Qadar.” Beliau (‘Atha) berkata: “Wahai anakku apakah kau membaca Al Quran?”  Aku menjawab: “Ya.” Dia berkata: “Bacalah surat Az Zukhruf.” Aku pun membaca: Hamim. Demi Kitab (Al Quran) yang menerangkan. Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.  (QS. Az Zukhruf (43): 4)

Dia (‘Atha) bertanya: “Tahukah kamu apakah Ummul Kitab?” Aku menjawab: “Allah dan RasulNya lebih tahu. Beliau menjawab; “Itulah kitab yang Allah tulis sebelum dicitakannya langit dan bumi, dan disitulah tertulis bahwa Fir’aun termasuk ahli neraka …dst.” (Sunan At Tirmdzi No. 2155, Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2155)

Wallahu A’lam

iklan-ebook_pinky

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s