Memahami Hukum Cadar (Bag. 2)

cadar_2Dalil-Dalil As Sunnah

Berikut adalah dalil-dalil dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang semakin menunjukkan bahwa wajah dan telapak tangan bukanlah aurat.

  1. Hadits Asma binti Abu Bakar Radhiallahu ‘Anha

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

قَالَ أَبُو دَاوُد هَذَا مُرْسَلٌ خَالِدُ بْنُ دُرَيْكٍ لَمْ يُدْرِكْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha dia berkata, bahwa Asma’ binti Abu bakar masuk kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia menggunakan pakaian yang tipis, maka Rasulullah berpaling darinya dan bersabda: “Wahai Asma’, sesungguhnya wanitu itu jika dia sudah mengalami haidh maka tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini, dia mengisyaratkan wajah dan telapak tangan.” Abu Daud berkata: Hadits ini mursal, karena Khalid bin Duraik belum pernah berjumpa ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha. [1]

Namun, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menguatkan hadits ini lantaran banyaknya syawahid (penguat) hadits ini, sehingga menurutnya derajatnya naik menjadi shahih.

  1. Hadits-Hadits tentang Perintah Menahan Pandangan

Haditsnya cukup banyak, kami akan ringkas. Dari Abu Said Al Khudri, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada para sahabat tentang hak jalanan, di antaranya: “Tundukan pandangan …”[2]

Hadits tentang macam-macam zina, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Zinanya mata adalah memandang .. dan seterusnya.”[3]

Hadits dari Jabir bin Abdullah, “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan spontan, lalu beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandangan.”[4]

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, bahwa pada zaman nabi, di Madinah ada seorang anak muda memandang seorang wanita, keduanya sama-sama tertarik karena bisikan   setan kepada dua-duanya, hingga akhirnya si pemuda menabrak tembok dan hidungnya berdarah. Dia berkata: “Demi Allah aku tidak akan membersihkan darah ini sebelum mengadu kepada Rasulullah atas peristiwa ini.” Setelah ia menemui nabi dan bercerita, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Itu adalah hukuman atas dosamu.” Lalu beliau membaca ayat: “Katakanlah kepada mukmin laki-laki, hendaknya tundukanlah pandangan mereka.”[5]

                Riwayat-riwayat ini dan yang semisalnya, menunjukkan bahwa kebiasaan wanita pada zaman itu adalah tidak menutup wajahnya. Sebab, jika mereka menutup seluruh tubuhnya termasuk wajah dan telapak tangannya, tidak akan ada perintah menundukkan pandangan kepada kaum laki-laki mukmin sebab hal itu menjadi tidak relevan. Jika wanita menutup seluruh tubuh serta wajahnya, maka tidak akan ada seorang laki-laki yang saling pandang terhadap wanita hingga dia terbentur wajahnya.  Intinya, apakah ada laki-laki bersyahwat, atau  lahir rasa  tertarik, dengan wanita yang lewat yang  berpakaian serba hitam dari atas hingga ke bawah tanpa celah sedikit pun,  hingga akhirnya mereka diperintah menundukkan pandangan? Menunduk dari apakah? Akhirnya, kenapa harus menundukan pandangan, bukankah wanita tersebut sudah tertutup semua dari ujung kaki ke ujung rambut, depan, belakang, atas, dan bawah? Maka, mustahil syariat memintahkan sesuatu yang tidak ada ‘sebab’ atau latar belakangnya. Kami kira berbagai keterangan ini sudah sangat jelas bahwa, menutup wajah bukanlah kewajiban bagi seorang wanita muslimah.

  1. Hadits-Hadits yang Menunjukkan Kekaguman Terhadap Wanita

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, aku dengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Apabila diantara kamu tertarik dengan wanita, hingga terkesan di hatinya, maka datangilah isterinya dan bergaulah dengannya, sebab yang demikian itu akan menolak gangguan yang ada di dalam jiwanya.”[6]

Jabir bin Abdullah  pun meriwayatkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melihat seorang wanita, lalu dia mendatangi Zainab yang saat itu sedang menyamak kulit, maka dia penuhi keinginannya terhadap Zainab.[7]

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa wajah wanita tidaklah tertutup. Dari manakah lahirnya ketertarikan awal laki-laki kepada wanita? Sebab apakah syahwat laki-laki kepada wanita?  apakah Rasulullah lahir keinginan terhadap wanita hingga akhirnya dia memenuhi hajatnya kepada Zainab? Sungguh, kaum laki-laki tertarik kepada wanita bukan karena jempol kakinya!

  1. Hadits Tentang Anggota Wajah Yang Sujud

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Aku diperintahkan sujud di atas tujuh tulang: di atas jidat, dan beliau mengisyaratkan dengan tangan kanan beliau ke hidung, dua tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua telapak kaki.”[8]

Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah memberikan keterangan sebagai berikut:

وَنَقَلَ اِبْن الْمُنْذِرِ إِجْمَاع الصَّحَابَة عَلَى أَنَّهُ لَا يُجْزِئ السُّجُود عَلَى الْأَنْف وَحْده ، وَذَهَبَ الْجُمْهُور إِلَى أَنَّهُ يُجْزِئُ عَلَى الْجَبْهَة وَحْدهَا ، وَعَنْ الْأَوْزَاعِيِّ وَأَحْمَد وَإِسْحَاق وَابْن حَبِيب مِنْ الْمَالِكِيَّة وَغَيْرهمْ يَجِب أَنْ يَجْمَعهُمَا وَهُوَ قَوْلٌ لِلشَّافِعِيِّ أَيْضًا

                “Dikutip dari Ibnul Mundzir adanya ijma’ (kesepakatan) sahabat nabi bahwa menempelkan hidung saja tidaklah cukup ketika sujud. Sedangkan jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa menempelkan jidat saja sudah cukup. Sedangkan dari Al Auza’i, Ahmad, Ishaq, Ibnu Habib dari kalangan  Malikiyah dan selain mereka mewajibkan menggabungkan antara jidat dan hidung. Ini juga pendapat Asy Syafi’i.”[9]

Maka, menurut hadits ini wajah harus terbuka. Bagaimana bisa orang menempelkan jidat dan hidungnya jika wajah tertutup? Padahal shalat adalah keadaan yang lebih layak bagi aurat untuk ditutup. Maka, ketika jidat dan hidung disyariatkan harus menempel, maka itu membuktikan bahwa dia bukan aurat, jika wajah aurat, tidak mungkin diperintahkan untuk dibuka ketika shalat.

Memang ada ulama zaman ini yang tetap mewajibkan wanita menutup wajahnya ketika shalat jika ada kaum laki-laki sebab khawatir mengundang fitnah. Namun, pendapat ini menyelisihi nash (teks) hadits di atas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

وَأَمَّا سَتْرُ ذَلِكَ فِي الصَّلَاةِ فَلَا يَجِبُ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ بَلْ يَجُوزُ لَهَا إبْدَاؤُهُمَا فِي الصَّلَاةِ عِنْدَ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ كَأَبِي حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيِّ وَغَيْرِهِمَا وَهُوَ إحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ أَحْمَد

“Ada pun menutup wajah dalam shalat tidaklah wajib dengan kesepakatan kaum muslimin, bahkan boleh bagi wanita menampakkan wajah dan kedua telapak tangan dalam shalat menurut jumhur ulama, seperti Abu Hanifah, Asy Syafi’i, dan lainnya, serta satu riwayat dari Ahmad.”[10]

Imam Al Bahuti Rahimahullah berkata:

لَا خِلَافَ فِي الْمَذْهَبِ أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ الْحُرَّةِ كَشْفُ وَجْهِهَا فِي الصَّلَاةِ ذَكَرَهُ فِي الْمُغْنِي وَغَيْرِهِ .

“Tidak ada perbedaan pendapat dalam madzhab (Hambali), bahwa boleh bagi wanita merdeka membuka wajahnya dalam shalat, sebagaimana disebutkan dalam Al Mughni dan lainnya.”[11]

Sementara Imam An Nawawi mengatakan, jika membuka wajah itu wajib, maka itu musykil, maka untuk kehati-hatian lebih baik memang wajah dan telapak tangan dibuka, paling tidak salah satunya.[12]  Sementara ulama lain mengatakan makruh bagi wanita menutup wajahnya ketika shalat, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abdil Bar dalam At Tamhid dan Ibnu Qudamah dalam Asy Syarh Al Kabir.

  1. Hadits Larangan Menutup Wajah Bagi Wanita Ketika Ihram

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 وَلَا تَنْتَقِبْ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ

“Wanita yang berihram janganlah memakai cadar.”[13]

Berkata Imam Ibnul Mundzir Rahimahullah:

أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ الْمَرْأَة تَلْبَس الْمَخِيط وَالْخِفَاف ، وَلَهَا أَنْ تُغَطِّيَ رَأْسهَا لَا وَجْههَ

“Mereka telah ijma’ (sepakat) bahwa bagi wanita memakai pakaian berjahit, khuf (sepatu yang ringan), dan baginya menutup kepalanya bukan wajahnya.”[14]

Berkata Imam Ibnu Hajar Rahimahullah:

وَمَعْنَى قَوْله ” وَلَا تَنْتَقِب ” أَيْ لَا تَسْتُر وَجْههَا كَمَا تَقَدَّمَ

“Makna dari sabdanya: “jangan bercadar” yaitu jangan menutup wajahnya, sebagaimana penjelasan terdahulu.”[15]

Sebagaimana shalat, ihram adalah kondisi lebih tepat untuk menutup aurat, ternyata justru dilarang menutup wajah. Ini membuktikan wajah bukanlah aurat.

Bahkan Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

ولانه يحرم على المحرمة سترهما بالقفازين كما يحرم ستر الوجه بالنقاب

                “Karena sesungguhnya diharamkan bagi wanita yang sedang ihram menutup kedua telapak tangannya dengan sarung tangan, sebagaimana diharamkan menutup wajah dengan cadar.”[16]

Sementara dalam kitabnya yang lain, beliau berkata:

فَأَجْمَعَ أَكْثَرُهُمْ عَلَى أَنَّ لَهَا أَنْ تُصَلِّيَ مَكْشُوفَةَ الْوَجْهِ

                “Maka, kebanyakan ulama telah sepakat bahwa bagi kaum wanita shalatnya dengan membuka wajah.”[17]

  1. Hadits Perintah Melihat Wanita Yang Akan Dipinang

Abu Hurairah menceritakan, ketika bersama dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,  ada seorang laki-laki datang dan mengatakan akan menikahi wanita Anshar, nabi menanyakan apakah laki-laki sudah melihat wanita itu?, laki-laki itu menjawab: “Belum.” Maka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Pergilah, dan lihatlah, karena pada mata orang Anshar terdapat sesuatu.”[18]

                Imam Muslim meletakkan hadits ini dalam   Bab An Nadb An Nazhar ilal Wajhil Mar’ah wa Kaffaiha Liman Turidu Tazawwujaha (Bab Anjuran Melihat Wajah Wanita dan Kedua Telapak Tangannya Bagi Yang Hendak Menikahinya). Nah, perintah melihat wajah wanita yang akan dinikahi menunjukkan bahwa wajah bukan aurat, sebab sangat mustahil Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan sahabatnya untuk sengaja melihat aurat. Jika benar wajah adalah aurat, maka aurat tetaplah aurat, tidak boleh ditampakkan kepada laki-laki asing kapan pun, kecuali untuk keperluan darurat.

Selain itu, perintah melihat wajah ini juga menjadi tidak bermanfaat, jika ternyata si wanita menutup wajahnya, apanya yang dilihat? Hal ini juga menunjukkan bahwa membuka wajah merupakan kebiasaan pada saat itu. Dan, jika wajah ditutup, bagaimana bisa seorang laki-laki mengenal yang mana wanita yang akan dinikahinya?

Bahkan, jika wajah ditutup, dari mana seseorang mengetahui identitas tetangganya? Bagaimana Rasulullah mengetahui wanita ini adalah si anu? Banyak riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbicara dengan kaum wanita yang sudah dikenalnya, dan bukan mahramnya, seperti Ummu Hani’ (anak Abu Thalib, statusnya adalah sepupu dan bukan mahram), Dhiba’ah binti Zubeir bin Abdul Muthalib (anak paman dari pihak ayah, statusnya sepupu dan bukan mahram), Asma’ bin Umais (isteri dari sepupu, statusnya bukan mahram), Halah bnti Khuwaild (ipar beliau, statusnya bukan mahram). Ini semua diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih.

Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi mengatakan:

ولا خلاف بين أهل العلم في اباحة النظر إلى وجهها لانه ليس بعورة وهو مجمع المحاسن وموضع النظر ولا يباح له النظر إلى ما يظهر عادة وحكي عن الاوزاعي أنه ينظر إلى مواضع اللحم وعن داود أنه ينظر إلى جميعها لظاهر قوله عليه السلام ” انظر إليها ” ولنا قوله تعالى (ولا يبدين زينتهن الا ما ظهر منها) روى عن ابن عباس أنه قال هو الوجه وباطن الكف ولان النظر أبيح للحاجة فيختص بما تدعوا الحاجة إليه

“Tidak ada perbedaan pendapat antara para ulama tentang kebolehan melihat wajah wanita (yang dilamar) karena itu bukan termasuk aurat, dan wajah merupakan tempat berkumpulnya keindahan dan tempat bagi pandangan, dan tidak dibolehkan melihat bagian yang tidak biasa tampak. Diceritakan dari Al Auza’i bahwa melihat itu adalah pada bagian isinya. Dari Daud Azh Zhahiri bahwa melihat itu pada seluruh tubuhnya, sesuai zhahir hadits: “lihatlah kepadanya.” Dan pendapat kami adalah firmanNya, “Jangan mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak darinya,” diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa itu adalah wajah dan bagian dalam telapak tangan, karena melihat dibolehkan karena adanya kebutuhan, maka dikhususkan hal ini karena adanya kebutuhan untuk memandangnya.”[19]

  1. Hadits-hadits Tentang Kebiasaan Membuka Wajah Bagi Para Wanita pada Zaman Nabi, walau ayat Hijab untuk Para Isteri Nabi sudah turun

Ayat yang memerintahkan agar isteri-isteri nabi menggunakan hijab (penghalang) ketika berbicara dengan laki-laki lain sudah diturunkan. Namun, kenyataannya para wanita lain tetap membuka wajahnya. Ini menunjukkan menutup wajah adalah kekhususan bagi isteri-isteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.  Berikut ini adalah bukti-buktinya.

  • Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu berkata, ketika hari ‘Id Rasulullah mendatangi jamaah kaum wanita dan menasehati mereka agar banyak sedekah, karena kebanyakan mereka menjadi bahan bakar neraka. Maka berdirilah seorang wanita yang pipinya kemerah-merahan, lalu bertanya: “Kenapa Ya Rasulullah?”, Nabi menjawab: karena kalian banyak mengeluh dan mengkufuri pergaulan dari suami.”[20]

Inilah riwayat yang sangat jelas dan terang, tak mungkin diingkari kecuali, bahwa wajah wanita tersebut jelas terbuka. Tahu dari mana Jabir bin Abdullah bahwa wanita itu pipinya kemerah-merahan? Ya, karena wajahnya terbuka.

  • Zaid bin Aslam, dari ayahnya dia berkata: “Saya pernah keluar bersama Umar bin Al Khathab ke pasar, maka seorang wanita muda menemui Umar lalu berkata: …dst.”[21]

Kisah ini juga menunjukkan bahwa wanita tersebut tidak menutup wajah. Sebab jika ditutup, maka tidak akan diketahui, apakah wanita itu masih muda atau sudah tua.

  • Kisah tenar, dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, menceritakan tentang Al Fadhl bin Abbas yang berboncengan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan Al Fadhl bin Abbas adalah seorang pemuda yang tampan. Saat itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendatangi kumpulan manusia untuk memberikan fatwa, lalu datanglah seorang wanita Khats’amiyah yang berparas cantik, dan mereka berdua saling berpandangan, lalu Rasulullah memegang dagu Al Fadhl dan memalingkan wajahnya dari wanita itu.[22]

Kisah ini juga menunjukkan bahwa wanita tersebut terbuka wajahnya, jika tertutup maka tidak akan ada saling memandang antara mereka berdua. Ini juga menunjukkan bahwa wajah wanita itu bukan aurat, jika itu aurat maka pastilah Rasulullah langsung akan memerintahkan menutupnya, bukan sekadar memalingkan wajah Al Fadhl bin Abbas.

Imam Ibnu Hajar mengutip dari Imam Ibnu Baththal sebagai berikut:

قَالَ اِبْن بَطَّال : فِي الْحَدِيث الْأَمْر بِغَضِّ الْبَصَر خَشْيَة الْفِتْنَة ، وَمُقْتَضَاهُ أَنَّهُ إِذَا أُمِنَتْ الْفِتْنَة لَمْ يَمْتَنِع  

                “Berkata Ibnu Baththal: Dalam hadits ini terdapat petunjuk perintah untuk menundukkan pandangan karena dikhawatirkan fitnah dan segala akibatnya, tapi jika aman dari fitnah maka tidak dilarang memandang.”

Lalu beliau melanjutkan:

 وَفِيهِ دَلِيل عَلَى أَنَّ نِسَاء الْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ عَلَيْهِنَّ مِنْ الْحِجَاب مَا يَلْزَم أَزْوَاج النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، إِذْ لَوْ لَزِمَ ذَلِكَ جَمِيع النِّسَاء لَأَمَرَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْخَثْعَمِيَّة بِالِاسْتِتَارِ وَلَمَا صَرَفَ وَجْه الْفَضْل ، قَالَ : وَفِيهِ دَلِيل عَلَى أَنَّ سَتْر الْمَرْأَة وَجْههَا لَيْسَ فَرْضًا لِإِجْمَاعِهِمْ عَلَى أَنَّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تُبْدِي وَجْههَا فِي الصَّلَاة وَلَوْ رَآهُ الْغُرَبَاء

                “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa bagi wanita mukmin tidaklah diwajibkan berhijab (wajahnya) sebagaimana lazimnya isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seandainya itu lazim bagi semua wanita, niscaya Nabi akan memerintahkan wanita Khats’amiyah itu untuk menutup wajahnya, tidak perlu memalingkan wajah Al Fadhl. Ini juga dalil bahwa bagi wanita, menutup wajah tidaklah wajib, karena menurut kesepakatan mereka (para ulama) bahwa wanita harus menampakkan wajahnya ketika shalat, walau dilihat oleh orang asing.”[23]

  • Atha bin Rabah berkata, Ibnu Abbas berkata kepadaku: “Maukah aku tunjukkan seorang wanita calon penghuni surga? “ Saya jawab: “Tentu.” Dia berkata: “Wanita yang hitam inilah ….”[24]

Riwayat ini, dan riwayat lain yang menceritakan sifat wanita; cantik, putih, hitam, atau kemerahan, menunjukkan bahwa hal yang biasa mereka menampakkan wajahnya. Dan, itu terjadi di luar shalat dan di hadapan non mahramnya. Walau, memang ada riwayat shahih pula yang menunjukkan   tentang wanita yang memakai cadar, tetapi itu jumlahnya sedikit dan tidak lazim.

Masih banyak lagi riwayat yang senada dengan ini, tetapi kami kira dalil-dalil Al Quran dan As Sunnah ini sudah lebih dari cukup menunjukkan bahwa wajah wanita bukan aurat, dan tidak wajib bercadar.

Footnote:

[1] HR. Abu Daud, dia berkata hadits ini mursal, yakni perawinya bernama Khalid bin Duraik belum pernah berjumpa dengan Aisyah. Lihat  Sunan Abu Daud, Kitab Al Libas, Bab Fima Tabdi al Mar’ah min Zinatiha, No. 4104. Hadits ini dikuatkan oleh Syaikh Al Albany dalam Shahih Sunan Abu Daud Juz 9, Hal. 104. no. 4104. lihat juga tahqiqnya terhadap Hijab al Mar’ah al Muslimah no.24. Imam Al Baihaqi meriwayatkan dalam As Sunan Al Kubra No. 3034, 13274, juga Syu’abul Iman No. 7796, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 19115.

Sebagian ulama mendhaifkan hadits ini, karena Khalid bin Duraik belum pernah berjumpa dengan ‘Aisyah, berarti hadits ini munqathi’ (terputus sanadnya), lalu dalam sanadnya terdapat Sa’id bin Basyir seorang dhaif, dan Al Walid bin Muslim seorang mudallis (perawi yang suka menggelapkan sanad atau matan). (Lihat Takhrij Azh Zhilal, Hal. 574)

[2] HR. Bukhari, Kitab Al Mazhalim Bab Afniyah Ad Duur wal Julus fiha, No. 2465. Muslim, Kitab Al Libas waz Zinah Bab An Nahyi ‘anil Julus fi Thuruqat .., No. 2121.

[3] HR. Bukhari, Kitab Al Qadar Bab Wa Haraam ‘ala Qaryatin Ahlaknaaha, No. 6243. Muslim, Kitab Al Qadar Bab Quddira ‘ala Ibni Adam Hazhzhuhu min Zina wa Ghairihi, No. 2657.

[4] HR. Muslim, Kitab Al Adab Bab Nazharatul Fuja’ah, No. 2159.

[5] Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, Juz. 5, Hal. 211

[6] HR. Muslim, Kitab An Nikah Bab Nadbi Man Ra’a Imra’atan fawaqa’a fi Nafsihi an Ya’tiya Imra’atahu aw Jariyatahu Fayuwaqi’aha, No. 1403.

[7] Ibid

[8] HR. Bukhari, Kitabul Abwab Al Adzan Bab As Sujud ‘alal Anfi, No. 812

[9] Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz. 3, Hal. 204, No. 767.

[10]  Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, Juz. 22, Hal. 114. Majma’ Al Malik Fahd Lithiba’ah Al Mushhaf Asy Syarif

[11]  Imam Al Bahuti, Kasysyaf Al Qina’, Juz. 2, Hal. 247.

[12] Imam An Nawawi, Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, Juz. 2, Hal. 52.

[13] HR. Bukhari, Kitab Al Hajj Bab Ma Yanha min Ath Thibi Lil Muhrim wal Muhrimah, No. 1838. Abu Daud, Kitab Al Manasik Maa Yalbasu Al Muhrim, No. 1826. Malik, Kitab Al Hajj Bab Takhmiril Muhrim Wajhah, No. 717.

[14] Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al ‘Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud, Juz. 5, Hal. 190. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah

[15] Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz. 4, Hal. 54. Darul Fikr

[16] Imam Ibnu Qudamah, Asy Syarh Al Kabir, Juz. 1, Hal. 458

[17] Imam Ibnu Qudamah, Al Mughni, Juz. 3, Hal. 53.

[18] HR. Muslim, Kitab An Nikah Bab An Nadb An Nazhar ilal Wajhil Mar’ah wa Kaffaiha Liman Turidu Tazawwujaha, No. 1424.

[19] Imam Ibnu Qudamah, Asy Syarh Al Kabir, Juz. 7, Hal. 342. Darul Kutub Al ‘Arabi.

[20] HR. Muslim, Kitab Ash Shalah ‘Idain, No. 885.

[21] HR. Bukhari, Kitab Al Maghazi Bab Ghazwatul Hudaibiyah, No. 3916.

[22] HR. Bukhari  No. 1513, 1855. Muslim No.1334

[23] Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz. 11, Hal. 10. Darul Fikr

[24] HR. Bukhari No. 5652. Muslim No. 2576

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s