Memahami Hukum Cadar (Bag. 1)

perempuan-bercadarWajib tidaknya cadar, tentu terkait dengan status wajah wanita, aurat atau bukan. Sejak lama para ulama kita berselisih pendapat. Namun, mayoritas ulama mengatakan bahwa wajah dan telapak tangan wanita bukan termasuk aurat yang harus ditutup.

Benarkah anggapan dia bahwa Al Quran – dan syariat Islam-  mewajibkan cadar? Kita lihat dalil-dalil berikut.

Dalil-Dalil Al Quran

Berikut ini adalah ayat-ayat yang memerintahkan kaum wanita menutup aurat:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya, dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nuur (24): 31)

Ayat ini tegas mewajibkan wanita menutup seluruh tubuhnya, kecuali yang biasa tampak. Tegas pula disebutkan bahwa hendaknya memanjangkan jilbabnya hingga menutup dadanya. Tak satu pun kata yang menyebut perintah menutup wajah. Ditambah lagi, sebelumnya Allah Ta’ala memerintahkan kaum laki-laki untuk menundukkan pandangannya. Maka, perintah tersebut menjadi tidak relevan jika wajah wanita ditutup, mau nunduk dari apa, sementara tidak nunduk saja sudah tidak terlihat apa-apa?

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah tentang surat An nuur ayat 31 di atas:

بدن المرأة كله عورة يجب عليها ستره، ما عدا الوجه والكفين قال الله تعالى (ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها)، أي ولا يظهرن مواضع الزينة، إلا الوجه والكفين، كما جاء ذلك صحيحا عن ابن عباس وابن عمر وعائشة

“Seluruh tubuh wanita adalah aurat, wajib atasnya untuk menutupnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah para wanita menampakkan  perhiasannya kecuali yang biasa nampak darinya.”, yaitu jangan menampakkan tempat-tempat perhiasannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan, sebagaimana yang diriwayatkan hal itu secara shahih dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan Aisyah.” [1]

Mayoritas para ulama mengatakan wajah dan kedua telapak tangan bukan aurat. Sebagaimana tertera dalam tafsir Ibnu katsir berikut, ketika menafsirkan makna “Kecuali yang biasa nampak darinya”:

 ويحتمل أن ابن عباس ومن تابعه أرادوا تفسير ما ظهر منها بالوجه والكفين، وهذا هو المشهور عند الجمهور

“Ibnu Abbas dan orang-orang yang mengikutinya memaknai maksud “Maa zhahara minha (apa-apa yang biasa nampak darinya)” adalah wajah dan kedua telapak tangan, inilah yang masyhur menurut mayoritas ulama. “ [2] Ini juga pendapat Ibnu Umar, Atha’, Ikrimah, Adh Dhahak, Abu Sya’tsa’, Said bin Jubeir, dan lain-lain. Sementara Az Zuhri mengatakan: cincin dan gelang kaki.[3]

Sementara Abdullah bin Mas’ud, Ibrahim An Nakha’iHasan Al Bashri, Ibnu Sirrin, Abu Al Jauzaa, dan lain-lain, mereka menafsirkan makna “Kecuali yang biasa nampak darinya” adalah pakaian dan selendang.[4] Dengan kata lain menurut mereka, wajah wanita adalah aurat. Namun, dalam riwayat  lain dari Hasan Al Bashri, beliau menafsirkan: wajah dan pakaian.

Abdullah bin Abbas mengatakan maksud kalimat itu adalah celak, pewarna tangan, dan cincin. Sementara Said bin Jubeir dan Atha’ mengatakan: wajah dan kedua telapak tangan. Qatadah mengatakan: celak, gelang, dan cincin. Al Miswar bin Mukhramah mengatakan: cincin, celak, dan gelang. Mujahid berkata: cincin, pewarna tangan, dan celak mata. Ibnu Zaid mengatakan: celak mata, pewarna tangan, dan cincin, mereka mengatakan demikianlah yang dilihat oleh manusia. Al Auza’i mengatakan: wajah dan dua telapak tangan. Adh Dhahak berkata: wajah dan dua telapak tangan. Sementara  Hasan Al Bashri mengatakan: wajah dan pakaian.   Sedangkan Imam Ibnu Jarir, setelah dia memaparkan berbagai tafsir ini, beliau mengatakan:

وأولى الأقوال في ذلك بالصواب: قول من قال: عنى بذلك: الوجه والكفان، يدخل في ذلك إذا كان كذلك: الكحل، والخاتم، والسوار، والخضاب.

“Pendapat yang paling unggul dan benar adalah pendapat yang mengartikannya dengan wajah dan dua telapak tangan, dan jika demikian maka celak, cincin, gelang, dan pewarna tangan termasuk di dalamnya.”[5]

Imam Al Muzani Rahimahullah juga mengatakan makna “Kecuali yang biasa nampak darinya” adalah wajah dan dua telapak tangan.[6]

Demikianlah pendapat pilihan mayoritas ulama salaf (terdahulu) dan khalaf (belakangan).

Ayat lainnya:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Benarkah  surat Al Ahzab ayat 59 ini tentang wajibnya cadar (menutup wajah)? Imam Ibnu Katsir berkata:

وروي عن سفيان الثوري أنه قال: لا بأس بالنظر إلى زينة نساء أهل الذمة، إنما ينهى عن ذلك لخوف الفتنة؛ لا لحرمتهن، واستدل بقوله تعالى: { وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ } .

“Diriwayatkan dari Sufyan Ats Tsauri, bahwa dia berkata: “Tidak apa-apa memandang perhiasan wanita ahlu dzimmah (orang kafir yang berada dalam perlindungan penguasa Islam). sesungguhnya larangan tersebut lantaran ditakutkan lahirnya fitnah, bukan karena haramnya mereka,” dia berdalil dengan firmanNya: dan wanita-wanita beriman ..”[7]

Imam Ibnu Hazm Rahimahullah berkata dalam kitabnya, Al Muhalla:

فأمرهن الله تعالى بالضرب بالخمار على الجيوب، وهذا نص على ستر العورة والعنق والصدر، وفيه نص على إباحة كشف الوجه، لا يمكن غير ذلك أصلا

                “Maka Allah Ta’ala memerintahkan mereka (kaum wanita) menjulurkan kerudung mereka hingga ke dada. Ini adalah nash (dalil) tentang wajibnya menutup aurat, leher, dan dada. Dan di dalamnya juga terdapat nash kebolehan membuka wajah, sama sekali tidak mungkin memaknai selain itu.” [8]  Ya, sama sekali tidak menyebutkan menutup wajah.

Imam Ibnu Jarir dalam tafsir Jami’ul Bayan-nya menyebutkan bahwa Ibnu Abbas dan ‘Ubaidah As Salmani mengatakan hendaknya kaum wanita merdeka jika keluar rumah mereka menutup kepala, dan wajah mereka, dan menampakkan satu mata saja. Sementara yang lain menafsirkan agar kaum wanita mengikat jilbabnya pada jidatnya, dan melabuhkan hingga ke hidungnya.[9]

Imam Asy Syaukani, dalam Fathul Qadir mengatakan bahwa para Ahli Tafsir menafsirkan kalimat: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”, hendaknya kaum wanita menutup kepala dan wajahnya kecuali satu mata, agar mereka sebagai wanita merdeka bisa dibedakan dengan para budak dan mereka pun tidak disakiti. Al Hasan mengatakan hendaknya menutup setengah wajahnya. Sementara Qatadah mengatakan melilitkan pada jidatnya dan mengikatnya lalu menjulurkan hingga hidung, meskipun nampak kedua matanya, ia menutup sebagian besar wajahnya dan dadanya. [10]

Imam Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masir  mengutip dari Ibnu Qutaibah, maksud kalimat itu adalah: menjulurkan selendang. Sementara yang lain: menutup kepala dan wajah, agar dikenal sebagai wanita merdeka.[11]

Imam Abul Hasan Ali bin Ahmad Al Wahidi An Naisaburi dalam tafsir Al Wajiz-nya berkata: hendaknya mereka menjulurkan selendang dan selimut mereka agar mereka diketahui bahwa mereka adalah wanita merdeka.[12]

Imam Ibnu Hayyan dalam tafsir Al Bahrul Muhith meyebutkan, bahwa  jilbab lebih lebar dari khimar (kerudung). Sementara ‘Ubaidah As Salmani mengatakan, hendaknya wanita meletakkan selendangnya diatas hijabnya, lalu dililitkan, hingga mejulur ke hidungnya. As Sudi berkata, menutup salah  satu matanya,  jidatnya, dan bagian lain kecuali mata. Sedangkan Al Kisa’i berkata, hendaknya wanita menutupi  dengan selendang yang meliputi mereka. Yang dimaksud dengan ‘meliputi’ di sini adalah idna’ (menjulurkan).[13]

Dari penjelasan para mufassir di atas, kita bisa dapati bahwa maksud menjulurkan jilbab ke seluruh tubuh adalah pertama, menutup kepala dan wajah dengan menampakkan satu mata, sebagaimana kata Ibnu Abbas, Ubaidah As Salmani, dan As Sudi. Ini amat menyulitkan bagi wanita, sebab dia harus memegangi terus jilbabnya agar tetap terlihat satu mata, padahal tangannya dibutuhkan untuk aktifitas lain seperti menggendong anak, belanja, mencuci, shalat, dan lain-lain. Ada pun pihak yang mewajibkan cadar, tidak bisa berdalil dengan tafsiran ini sebab cadar masih menampakkan dua mata, bukan satu mata. Kedua, mengikat jilbab pada jidat dan melabuhkan hingga hidung, sebagaimana kata Qatadah. Ketiga, menutup wajah dan menampakkan kedua matanya, sebagian besar wajah dan dadanya, sebagaimana kata Qatadah pula. Keempat, menutup sebagian wajah saja, sebagaimana kata Hasan Al Bashri. Kelima,  menjulurkan selendang dan selimutnya, sebagaimana kata Ibnu Qutaibah dan  Al Kisa’i.

Maka, Klaim bahwa ayat tersebut hanya bermakna adalah tentang wajibnya   menutup wajah atau cadar adalah keliru, sebab para imam kaum muslimin, berbeda dalam menafsirkannya. Jika dikatakan bahwa menutup wajah merupakan salah satu kebiasaan sebagian wanita saat itu, bisa jadi benar. Yang jelas, tak ada satu keutamaan pendapat manusia  di atas manusia  lainnya, sebab ucapan manusia selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bisa diterima atau ditolak.

Anggaplah benar bahwa makna ayat ini adalah menutup wajah, tetapi apakah perintah ini menunjukkan wajib atau anjuran semata? Imam Ibnu Rusyd telah menjawab demikian:

اختلافهم في الامر والنهي الوارد لعلة معقولة المعنى، هل تلك العلة المفهومة من ذلك الامر، أو النهي قرينة تنقل الامر من الوجوب إلى الندب، والنهي من الحظر إلى الكراهة؟ أم ليست قرينة؟ وأنه لا فرق في ذلك بين العبادة المعقولة وغير المعقولة؟ وإنما صار من صار إلى الفرقفي ذلك، لان الاحكام المعقولة المعاني في الشرع أكثرها هي من باب محاسن الاخلاق، أو من باب المصالح وهذه في الاكثر هي مندوب إليه

                “Mereka berbeda pendapat tentang perintah dan larangan yang maknanya bisa difahami dengan ‘illat (alasan) yang rasional, apakah alasan yang bisa difahami itu baik dalam hal perintah atau larangan, memiliki qarinah (indikasi) berubahnya hukum perintah dari wajib menjadi sunah, atau hukum larangan dari haram menjadi makhruh? Ataukah alasan tersebut bukanlah indikasi perubahan hukum? bahwa dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara ibadah yang bisa difahami dan tidak bisa difahami ? Sesungguhnya hukum-hukum yang bisa difahami maknanya dalam syariat sebagian besar masuk dalam Bab Mahasinul Akhlak (Keindahan Akhlak), atau Bab kemaslahatan, dan yang seperti ini kebanyakan menunjukkan mandub (anjuran) saja.”[14]

Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari, imamnya para ahli tafsir, telah mengunggulkan bahwa pendapat yang benar adalah wajah dan dua telapak angan bukanlah aurat. Beliau telah menyimpulkan dari semua penafsiran, dan memberikan tarjih (mengunggulkan yang paling benar) dengan berkata:

وأولى الأقوال في ذلك بالصواب: قول من قال: عنى بذلك: الوجه والكفان، يدخل في ذلك إذا كان كذلك: الكحل، والخاتم، والسوار، والخضاب.

وإنما قلنا ذلك أولى الأقوال في ذلك بالتأويل؛ لإجماع الجميع على أن على كلّ مصل أن يستر عورته في صلاته، وأن للمرأة أن تكشف وجهها وكفيها في صلاتها، وأن عليها أن تستر ما عدا ذلك من بدنها، إلا ما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه أباح لها أن تبديه من ذراعها إلى قدر النصف. فإذا كان ذلك من جميعهم إجماعا، كان معلوما بذلك أن لها أن تبدي من بدنهاما لم يكن عورة، كما ذلك للرجال; لأن ما لم يكن عورة فغير حرام إظهاره

“Pendapat yang paling unggul dan benar adalah pendapat yang mengartikannya dengan wajah dan dua telapak tangan, dan jika demikian maka celak, cincin, gelang, dan pewarna tangan termasuk di dalamnya.”

Kami katakan bahwa yang demikian mendekati kebenaran adalah dengan mentakwilkan terhadap ijma’ semua orang bahwa manusia   harus menutup auratnya dalam shalat, dan bahwa bagi wanita boleh membuka wajah dan dua telapak tangannya dalam shalat dan harus menutup bagian badan yang  lain. Kecuali yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dibolehkannya bagi wanita menampakkan setengah hastanya. Jika yang demikian sudah ijma’ semua manusia, maka bisa dimaklumi bahwa wanita dibolehkan menampakkan badannya yang bukan aurat, sebagaimana yang berlaku bagi laki-laki, sebab yang bukan aurat tidak haram untuk menampakkannya.”  [15]

Ayat lainnya:

“Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan- perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. dan adalah Allah Maha mengawasi segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab (33):52)

Lihatlah ayat ini baik-baik, khususnya kalimat, “meskipun kecantikannya menarik hatimu.” Dari manakah kita mengetahui bahwa wanita itu cantik? Apakah wanita yang tertutup wajahnya bisa diketahui kecantikannya? Nah, ayat ini menunjukkan bahwa wajah wanita pada saat itu terbuka, sehingga bisa diketahui kecantikan mereka.

Oleh karena itu Imam Al Jashash mengomentari ayat tersebut:

وَلَا يُعْجِبُهُ حُسْنُهُنَّ إلَّا بَعْدَ رُؤْيَةِ وُجُوهِهِنَّ

“Tidaklah dia kagum dengan kecantikan mereka melainkan setelah melihat pada wajah-wajah mereka.”[16]

Maka tidak ragu lagi bahwa, wajah dan dua telapak tangan wanita bukanlah aurat. Wallahu A’lam

 

Footnote:

[1] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 127. Darul Kutub al Araby, Beirut Libanon.

[2] Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Juz. 6, Hal. 45 Daru Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’,  1999M/1420H.

[3] Ibid

[4] Imam Ibnu Katsir, Ibid. Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari, Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran, Juz. 19, Hal. 156.

[5]  Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari, Ibid, Juz. 19, Hal. 156-158.

[6] Imam Al Muzani, Mukhtashar, Hal. 163. Darul Ma’rifah.

[7] Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz. 6, Hal. 482.

[8] Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, Juz. 3, Hal. 216. Darul Fikr.

[9] Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari, Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran, Juz. 20, Hal. 324-325.

[10] Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, Juz. 6, Hal. 79.  Mawqi’ Ruh Al Islam

[11] Imam Ibnul Jauzi, Zaadul Masir, Juz. 5, Hal. 150.  Mawqi’ At Tafasir

[12] Imam Abul Hasan Ali bin Ahmad Al Wahidi, Al Wajiz fi Tafsiril Quran, Juz. 1, Hal. 738.

[13] Imam Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf bin Ali  bin Hayyan, Al Bahrul Muhith, Juz. 9, Hal. 174.

[14] Imam Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Juz. 1, Hal. 65.

[15]  Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari, Ibid, Juz. 19, Hal. 158-159. Muasasah Ar risalah.

[16] Imam Al Jashash, Ahkamul Quran, Juz. 8, Hal. 166.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s