Takhrij Al-Ma’tsurat (Bag. 5)

cropped-universe.jpgAl Qismul Awwal: Al Wazhifah

(Bagian Pertama:  Amalan)

Membaca: “A’udzu billahis samii’il ‘alimi minasy syaithanirrajim.”

أَعُــوذُ بِالله السَّـمِيعِ الـعَلِــيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari syetan yang terkutuk.”

          * * *

Inilah bacaan pertama pada wazhifah Al Ma’tsurat. Tentang anjuran membaca kalimat  isti’adzah seperti di atas pada pagi dan sore terdapat beberapa riwayat, namun semuanya dhaif (lemah).

Pertama. Dari Ma’qil bin Yasar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَقَرَأَ ثَلَاثَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ وَكَّلَ اللَّهُ بِهِ سَبْعِينَ أَلْفَ مَلَكٍ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ مَاتَ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ مَاتَ شَهِيدًا وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي كَانَ بِتِلْكَ الْمَنْزِلَةِ

“Barang siapa yang mengucapkan pada pagi hari: A’udzu billahis samii’il ‘alimi minasy syaithanirrajim, dan tiga ayat dari akhir surat Al Hasyr, maka dengannya Allah Ta’ala akan mewakilkannya  dengan 70 ribu malaikat yang akan  mendoakannya sampai sore hari, dan jika dia mati pada hari itu maka dia mati syahid. Jika dia membacanya ketika sore hari maka kedudukannya nya sama dengan itu. ” (HR. At Tirmidzi No. 2922, Ahmad No. 20306, Ad Darimi No. 3425, Ath Thabarani dalam Al Kabir, 20/537, juga dalam Ad Du’a No. 308, Ibnu Sunni dalam   ‘Amal Al Yaum wal Lailah No. 80, Al Baghawi dalam tafsirnya, 7/309)

Imam Abu Isa At Tirmdzi mengatakan: “Hadits ini gharib (menyendiri/asing) kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini.” (Lihat Sunan At Tirmidzi No. 2922)

Syaikh Al Albani menyatakan dhaif. (Dhaiful Jami’ No. 5732), dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth juga mendhaifkannya. (Lihat Musnad Ahmad No. 20306, dnegan tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Syaikh ‘Adil Mursyid,  et.al. )

Imam Adz Dzahabi berkata: “At Tirmidzi tidak menghasankannya, dan hadits ini sangat gharib.” (Mizanul I’tidal, 1/632)

Kelemahan hadits ini lantaran semua jalurnya terdapat seorang rawi bernama Khalid bin Thahman.

Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar memaparkan bahwa  Imam Yahya bin Ma’in mengatakan tentangnya: “Dhaif, dia mengalami kekacauan hapalan saat sepuluh tahun sebelum kematiannya, sebelumnya dia adalah tsiqah.” Abu Hatim mengatakan: “Dhaif,  dia seorang tokoh syi’ah yang jujur.” Abu Ubaidah mengatakan bahwa Abu Daud tidak pernah menyebutnya kecuali yang baik-baik. Ibnu Hibban mengatakan tentangnya dalam Ats Tsiqat: “Dia melakukan kesalahan dan keraguan.” Ibnu Jarud mengatakan: dhaif. Ibnu ‘Adi mengatakan: “Saya belum pernah melihatnya memiliki sejumlah hadits yang munkar.” (Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 3/99. Lihat juga Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, 1/632)

Kedua.  Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من قال : حين يصبح : أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم أجير من الشيطان حتى يمسي

“Barangsiapa yang mengucapkan pada pagi hari:  A’udzu billahis samii’il ‘alimi minasy syaithanirrajim, dia kan dijauhi dari syetan sampai sore hari.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah No. 48.  Hadits ini dhaif, lantaran dalam sanadnya terdapat Yazid Ar Ruqasyi dan Daud bin Salik. Berkata Syaikh Al Albani:

قلت : وهذا اسناد ضعيف يزيد الرقاشي ضعيف وداود بن سليك لم يوثقه غير ابن حبان وفي ( التقريب ) : ( مقبول ) . أي عند المتابعة

“Saya katakan: Isnad hadits ini dhaif. Yazid Ar Ruqasyi seorang yang dhaif. Daud bin Salik tidak ada yang mentsiqahkannya selain Ibnu Hibban. Disebutkan dalam At Taqrib: dia maqbul (bisa diterima), yaitu sebagai mutaba’ah/penguat saja.” (Irwa’ul Ghalil, 2/59)

Demikian, secara khusus membaca kalimat ini pada pagi dan sore adalah tidak shahih. Wallahu A’lam

Namun demikian banyak riwayat yang memaparkan bacaan ta’awudz dengan redaksi seperti ini dalam konteks dan kesempatan yang lain, di antaranya dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu:

أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari godaan syetan yang terkutuk.”

Diriwayatkan oleh:

  • Imam At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab Ash Shalah Bab Maa Yaquulu ‘Inda Iftitah Ash Shalah, 242. Telah berkata kepadaku Muhammad bin Musa Al Bashri, telah berkata kepadaku Ja’far bin Sulaiman Adh Dhuba’i, dari Ali bin Ali Ar Rifa’i, dari Abi Al Mutawakkil,  dari Abu Said Al Khudri, katanya: Jika rasulullah mendirikan shalat malam, maka dia bertakbir lalu membaca: Subhanakallahumma wa bihamdika wa Tabarakasmuka wa Jadduka wa laa Ilaha Ghairuka, kemudian membaca Allahu akbar kabira, lalu membaca: A’dzubillahis Sami’il ‘Alimi minasy Syaithanir Rajim min  hamzihi wa nafkhihi wa naftsih.
  • Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Ash Shalah Bab Man Ra’a Al Istiftah Bi Subahanakallahumma wa bihamdika, 775. Telah berkata kepadaku Abdussalam bin Math-har, dari Ja’far, dari Ali bin Ali Ar Rifa’i, dari Abi Al Mutawakkil, dari jalur Abu Said Al Khudri: lalu disebut riwayat sama dengan di atas. Berkata Imam Abu Daud: hadits ini, mereka mengatakan, dari Ali bin Ali dari Al Hasan secara mursal, keraguan ada pada Ja’far.
  • Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 11473, berkata kepadaku Muhammad bin Hasan bin Atsyin, berkata kepadaku Ja’far yakni Ibnu Sulaiman, dari Ali bin Ali Al Yasykuri, dari Abi Al Mutawakkil, dari Abu Said Al Khudri: (lalu disebut hadits seperti di atas).
  • Imam Al Baihaqi, Syu’abul Iman, Kitab Takhshish Suwar minha bidzkri Bab A’udzu billah .. , No. 2400, dari jalur sahabat Ma’qil bin Yasar.

Juga Al Baihaqi dalam As Sunan-nya, No. 2179, dengan sanad: dari Umar bin Abdil Aziz bin Umar bin Qatadah, telah mengabarkan Abu Ali Hamid bin Muhammad Ar Rifa’, telah menceritakan kepada kami  Zakaria bin ‘Adi, dari Ja’far bin Sulaiman, dari Ali bin Ali, dari Abu Al Mutawakkil, dari Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata: ….

Juga Al Baihaqi dan Al Ma’rifah No. 3005, dari jalan Abdussalam bin Math-har.  

  • Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, Syarh Ma’anil Atsar, 1/197-198
  • Imam Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf 2554
  • Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya No. 467, dengan sanad: telah mengabarkan kepada kami Abu Thahir, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Musa Al Harasyi, telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin Sulaiman Adh Dhuba’i, telah mengabarkan kepada kami Ali bin Ali Ar Rifa’i, dari Abu  Al Muatawakkil, dari Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata : …
  • Imam Ad Darimi dalam As Sunan-nya, No. 1239, dari jalan Zakaria bin ‘Adi, telah berkata kepada kami Ja’far bin Sulaiman, dari Ali bin Ali, dari Abu Al Mutawakkil, dari Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata: …
  • Dan lain-lain

Telah terjadi perbedaan para pakar hadits tentang keshahihan hadits ini. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari  dalam tahqiqnya terhadap Musnad Ahmad, katanya: isnaduhu dhaif (isnadnya dhaif). Ada dua sebab:

  1. Perawi yang bernama Ja’far bin Sulaiman. Dia menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini. Dan, para ulama telah membincangkan  kualitas orang ini. Yahya bin Ma’in menyatakan: tsiqah (terpercaya). Ahmad bin Hambal mengatakan: laa ba’sa bihi (tidak apa-apa). Ibnu Sa’ad mengatakan:  “Dahulu dia terpercaya, dan padanya terdapat kelemahan, dan dia terpangaruh syi’ah.”  Ibnu ‘Adi mengatakan:  “Saya berharap dia tidak apa-apa, dan hadits-haditsnya bukan termasuk hadits munkar, bagi saya dia termasuk orang yang haditsnya bisa diterima.”

Ada pun Yahya bin Sa’id Al Qaththan telah mendhaifkan Ja’far bin Sulaiman ini dan dia tidak menulis hadits darinya. Al Bukhari mengatakan: “Telah terjadi kesimpangsiuran pada sebagian haditsnya.” Ibnu Al Madini mengatakan: “Dia lebih banyak meriwayatkan hadits dari Tsabit Al Banani, dan dia menuliskan darinya riwayat-riwayat yang mursal, dan di dalamnya terdapat hadits-hadits munkar.”

  1. Perawi yang juga dianggap bermasalah adalah Ali bin Ali Al Yasykuri Ar Rifa’i. Terhadap orang ini juga terjadi perbedaan pendapat para ulama. Yahya bin Ma’in dan Muhammad bin Abdullah bin ‘Ammar mengatakan: tsiqah. Ahmad bin Hambal mengatakan: dia tidak apa-apa  hanya saja dia menganggap marfu’ terhadap banyak hadits.

Ibnu Hibban mengatakan dalam Al Majruhin: “Dia termasuk yang banyak melakukan kesalahan  terhadap riwayatnya yang sedikit, dan dia meriwayatkan dari orang-orang yang  kuat (Al Atsbaat) secara menyendiri terhadap hadits-hadits yang tidak serupa dengan hadits-hadits dari orang yang terpercaya (Ats Tsiqaat). Maka tidak mengherankan saya   jika berhujjah dengannya walau pun dia menyendiri.”   Saya (Syaikh Syu’aib Al Arnauth) mengatakan: “Dan dia menyendiri  dalam meriwayatkan hadits ini.” Abu Al Mutawakkil An Naaji adalah Ali bin Daud. Ada yang mengatakan Ali bin Da’ud. Dan, hadits ini telah dinyatakan cacat oleh para imam hadits. (Lihat dalam tahqiqnya terhadap Musnad Ahmad No. 11473)

                Imam Abu Daud berkata tentang hadits ini:

وهذا الحديث يقولون هو عن علي بن علي عن الحسن مرسلاً، الوهم من جعفر.

“Hadits  ini, mereka mengatakan berasal dari Ali bin Ali dari Al Hasan secara mursal (terputus sanadnya pada sahabat), dan ada hal yang meragukan dari Ja’far.” (Lihat Sunan Abi Daud No. 775)

Imam At Tirmidzi mengatakan:

والعمل على هذا عند أكثر أهل العلم من التابعين وغيرهم. وقد تكلم في إسناد حديث أبي سعيد، كان يحيى بن سعيد يتكلم في علي بن علي. وقال أحمد: لا يصح هذا الحديث

“Kebanyakan ulama dari tabi’in dan selain mereka telah mengamalkan hadits ini. Namun isnad pada hadits Abu Sa’id ini telah diperbincangkan, Yahya bin Sa’id telah membincangkan Ali bin Ali. Imam Ahmad mengatakan: “Hadits ini tidak shahih.” (Lihat Sunan At Tirmidzi No. 242)

Imam An Nawawi telah mendhaifkan hadits ini. (Al Majmu’ Syarh Al Muhazdzab, 3/278)

Tetapi berkata Imam Al Haitsami: “Rijaluhu  tsiqat (para perawinya  terpercaya).” (Majma’ Az Zawaid, 2/265. Darul Kutub Al‘Ilmiyah)

Sedangkan Syaikh Al Albani menyatakan bahwa riwayat ini shahih. (Shahih wa Dha’if Sunan At Tirmidzi No. 242.  Shahih wa Dha’if Sunan Abi Daud No. 775)

Tetapi dalam kitabnya yang lain, Syaikh Al Albani Rahimahullah hanya menghasankannya. Yakni ketika Beliau  mengomentari ucapan Imam Ahmad: “hadits ini tidak shahih”  :

قلت : ولعل هذا لا ينفي أن يكون حسنا فإن رجاله كلهم ثقات وعلى هذا وإن تكلم فيه يحيى بن سعيد فقد وثقه يحيى بن معين ووكيع وابو زرعة وقال شعبة : اذهبوا بنا إلى سيدنا وابن سيدنا علي بن علي الرفاعي . وقال أحمد : لم يكن به بأس إلا أنه رفع أحاديث قلت : وهذا لا يوجب إهدار حديثه بل يحتج به حتى يظهر خطأه وهنا ما روى شيئا منكرا بل توبع عليه كما سبق

“Saya katakan: ucapan ini tidaklah mengingkari kehasan-an hadits ini, sebab semua perawinya adalah terpercaya. Dalam hal ini, yang membincangkan Ali bin Ali adalah Yahya bin Sa’id saja, sedangkan Yahya bin Ma’in, Waki’, dan Abu Zur’ah telah mentsiqahkannya. Syu’bah berkata: “Pergilah kalian bersama kami untuk  bertemu tuan kami dan anak dari tuan kami, Ali bin Ali Ar Rifa’i.” Berkata Ahmad: “Dia tidak apa-apa  hanya saja dia menganggap marfu’ terhadap banyak hadits.” Saya berkata: “Ucapan ini tidaklah membuat sia-sia haditsnya (Ali bin Ali), bahkan mestilah berhujjah dengannya sampai jelas kesalahannya. Dan, di sini tidaklah dia meriwayatkan sedikitpun hal yang munkar bahkan haditsnya telah dipakai sebagaimana penjelasan sebelumnya. (Irwa’ul Ghalil, 2/51-52)

Dengan demikian tambahan As Samii’ul ‘Aliim pada bacaan ta’awudz adalah shahih, sebagaimana hadits dari Abu Said Al Khudri yang telah kami bahas sebelumnya.

Telah shahih secara mauquf, dari Ibnu Juraij, dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar   Radhiallahu ‘Anhuma:

كان يتعوذ يقول أعوذ بالله من الشيطان الرجيم أو أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم.

“Bahwa dia berta’awudz dengan mengatakan: A’udzubillahi minasy syaithanir rajim, atau A’udzubilllahis Sami’il ‘Aliimi minasy syaithanir rajim.” (Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 1/268)

Berkata Syaikh Al Albani:

واسناده صحيح رجاله ثقات رجال الشيخين لولا أن ابن جريج مدلس وقد عنعنه

“Isnadnya shahih, dan perawinya terpercaya yang merupakan perawi shaikhain (Bukhari-Muslim),  seandainya Ibnu Juraij bukan seorang mudallis dan dia meriwayatkannya secara ‘an ‘anah.” (Al Irwa’, 2/59)

                Perlu di ketahui, riwayat ini termasuk hadits mu’an’an, yaitu hadits yang rawinya   meriwayatkan  dengan menyebut ‘an fulan (dari si fulan).  Rawi yang meriwayatkan secara ‘an disebut mu’an’in. Hadits mu’an’an pada dasarnya dihukumi bukan hadits muttashil (bersambung) sanadnya. Tetapi, dia dapat disebut muttashil jika memenuhi dua syarat – sebagaimana kata Imam Al Bukhari:

  1. Si mu’an’in bukan seorang rawi yang mudallis (yaitu orang yang suka menggelapkan sanad dan/atau matan hadits).
  2. Si mu’an’in harus pernah berjumpa dengan orang yang pernah memberinya hadits (istilahnya isytirathul liqa’).

Sementara Imam Muslim mengatakan hendaknya si mu’an’in   hidup sezaman dengan orang yang memberinya hadits (istilahnya isytitrathul mu’asharah). Ulama lain mengatakan si mu’an’in harus diketahui secara meyakinkan bahwa dia benar-benar menerima hadits tersebut dari gurunya.

Para ulama telah sepakat bahwa Ibnu Juraij adalah tsiqah, dan pada zamannya dia merupakan ahli fiqihnya kota Mekkah, tetapi dia seorang mudallis. (Mizanul I’tidal, 2557) Maka, tidak heran jika Syaikh Al Albani tidak memastikan keshahihan riwayat ini, lantaran diriwayatkan secara ‘an’anah dan mudallisnya Ibnu Juraij.

                Namun, kesimpulannya adalah tidak mengapa menambahkan kalimat As Sami’ul ‘Alim pada kalimat isti’adzah, karena hal itu telah diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Abu Said Al Khudri sebelumnya.

Syaikh Al Albani Rahimahullah menyebutkan:

فهذه طرق يدل مجموعها على ثبوت زيادة ( السميع العليم ) في الاستعاذة لاسيما وحديث أبي سعيد وحده حسن فكيف إذا انضم إليه الأحاديث الأخر ى ؟ ! وجملة القول إن الثابت عنه ( صلى الله عليه وسلم ) في الاستعاذة ضم هذه الزيادة إليها أو التي قبلها أوكليهما معا على حديث أبي سعيد . والله أعلم

“Maka, kumpulan berbagai jalur ini menunjukkan  shahihnya  tambahan As Sami’ul Alim dalam Isti’adzah, apalagi hadits At Tirmidzi sendiri adalah hasan, lalu bagaimana jika hadits lainnya juga memuatnya? Kesimpulannya, bahwa telah shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang Isti’adzah yang memuat tambahan ini atau yang meletakkan pada sebelumnya atau kedua-duanya secara bersamaan, berdasarkan hadits Abu Said. Wallahu A’lam.” (Al Irwa’ , 2/59)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s