Takhrij Al-Ma’tsurat (Bag. 4)

thaifDzikir Berjamaah

Terdapat banyak hadits yang mengisyaratkan disunahkannya dzikir berjamaah. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. bersabda, “Tidaklah suatu kaum duduk-duduk (untuk) berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali para malaikat mengitari mereka, rahmat memayungi mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan makhluk yang berada di sisi-Nya.”[1] Dan, anda menjumpai banyak hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. keluar dan bertemu sekelompok sahabat yang berdzikir pada Allah ‘Azza wa Jalla di masjid, maka beliau memberikan kabar gembira dan tidak melarang mereka (melakukan hal itu) .

Antara lain; Abu Said Al-Khudzri Radhiallahu ‘Anhu, meriwayatkan bahwa:

خَرَجَ مُعَاوِيَةُ عَلَى حَلْقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَمَا كَانَ أَحَدٌ بِمَنْزِلَتِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَلَّ عَنْهُ حَدِيثًا مِنِّي

وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ

Muawiyah  berjumpa sebuah halaqah di masjid. Maka ia bertanya, ‘Apa yang mebuat kalian duduk (disini)?’ Mereka menjawab, ‘Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah.’ Muawiyah berkata, ‘Demi Allah, apa hanya karena itu kalian duduk?’ Mereka menjawab, ‘Demi Allah, hanya untuk itu kami duduk.’ Muawiyah berkata, ‘Saya  meminta  kalian  bersumpah  bukan  karena  ragu pada kalian. Dan tidak ada seorang pun yang posisinya seperti aku di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun paling sedikit meriwayatkan hadits dari beliau. Sesungguhnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berjumpa dengan suatu halaqah dari para sahabat, maka beliau bertanya, ‘Apa yang menjadikan kalian duduk di sini’ Mereka menjawab, ‘Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah, memanjatkan puji dan syukur kepada-Nya, karena Dia telah memberikan hidayah dan memberi nikmat Islam kepada kami.’ Rasulullah bersabda, ‘Saya tidak meminta kalian untuk bersumpah karena ragu kepada kalian. Namun Jibril telah datang kepadaku seraya memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di depan malaikat.’” (HR. Muslim, At Tirmidzi, dan An Nasa’i)[2]

Berjamaah dalam ketaatan itu pada dasarnya dianjurkan, apalagi jika membuahkan banyak manfaat, seperti: keterpautan hati, kuatnya ikatan, menggunakan waktu untuk sesuatu yang bermanfaat, memberi pengajaran kepada orang awam yang belum belajar dengan baik, dan mempubli-kasikan syi’ar agama Allah ‘Azza wa Jalla.

Memang berjamaah dalam dzikir itu dilarang, jika menimbulkan hal-hal yang terlarang secara syar’i, seperti mengganggu orang shalat, senda gurau dan tertawa, menyelewengkan lafal, bacaan sebagian mengikuti bacaan yang lain, atau hal-hal lain yang diharamkan dalam syari’at. Dengan demikian, dzikir secara berjamaah dilarang  karena ada kerusakan-kerusakan tersebut, bukan karena berjamaah itu sendiri. Apalagi dzikir secara berjamaah itu dilakukan dengan lafal-lafal dzikir yang diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana dalam wazhifah (amalan) ini. [3]

Kami memohon semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengaruniakan sebaik-baik taufiq dan hidayah yang sempurna kepada kami dan mereka semuanya. Kami juga memohon semoga Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengharamkan kami dari do’a-do’a mereka yang baik di waktu sunyi maupun ramai. Dan, shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.

Catatan Farid Nu’man Hasan:

[1] Lengkapnya hadits  yang dikutip Al Imam Hasan Al Banna Rahimahullah adalah:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى  مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ أَبْطَأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barang siapa yang meringankan beban seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan ringankan bebannya di akhirat. Barang siapa yang memudahkan orang yang kesulitan maka Allah akan mudahkan dirinya di dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutup aib seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Barang siapa yang mengadakan perjalanan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan jalan baginya ke surga. Tidaklah sebuah kaum berkumpul di rumah di antara rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan mengkajinya, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan menaungi mereka,  dan malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka kepada makluk yang di sisiNya. Barang siapa yang tertunda karena amalnya, maka   tidaklah dia dipercepat oleh nasabnya.”   (HR. Muslim No. 2699. Abu Daud No. 1455, 4946. Ibnu Majah No. 225.  Ahmad No. 7427.  Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf,  8/729. Al Baghawi No. 130)

[2] Hadits tersebut diriwayatkan oleh: Muslim No. 2701. At Tirmidzi No. 3379. An Nasa’i dalam Al Mujtaba, 8/249. Ahmad No. 16835.  Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, 10/305. Ibnul Mubarak dalam Az Zuhd No.1120. Abu Ya’la No. 3787. Ibnu Hibban No. 813. Ibnu Abi ‘Ashim   dalam Al Aahad wal Matsani No. 529 Ath Thabarani dalam Al Kabir,  19/701. pen

[3] Para ulama telah berselisih pendapat tentang dzikir berjamaah ini, antara yang membid’ahkan, membolehkan, bahkan ada yang menyunnahkan.  Pihak yang membid’ahkan menilai bahwa hadits-hadits tentang berkumpul dalam majelis dzikir di atas, adalah hadits  mujmal (global) tentang keutamaan hadits di majelis dzikir, yang sama sekali tidak menentukan bentuk berdzikir seperti yang marak saat ini. Bagi mereka, yang disunnahkan dalam hadits tersebut adalah berkumpul untuk membaca Al Quran secara bergiliran, mempelajari tajwidnya, dan mengkaji  isinya. Juga mengkaji as sunnah, halal haram, ibadah dan muamalah. Inilah majelis dzikir menurut mereka yaitu majelis ilmu. Bukan majelis berkumpulnya manusia melafazkan berbagai lafaz dzikir secara koor (bersama dan seirama) yang dipandu oleh satu orang, dengan suara agak dikeraskan. Kalangan Ikhwan sendiri, ada yang menganggap dzikir berjamaah dengan suara dikeraskan adalah bid’ah idhafiyah, yaitu Syaikh Muhammad Al Ghazali dalam kitabnya Laisa Minal Islam.

Imam ‘Atha Rahimahullah berkata:

مجالس الذكر هي مجالس الحلال والحرام، كيف تشتري وتبيع وتصلي وتصوم وتنكح وتطلق وتحج، وأشباه هذا.

“Majelis-majelis dzikir adalah majelis tentang halal dan haram, tata cara membeli, menjual, shalat, puasa, nikah, thalaq, haji, dan yang semisalnya.” (Imam An Nawawi, Al Adzkar, Hal. 11. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abad Al Badr hafizhahullah menambahkan:

[ (ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله) ] بيوت الله هي المساجد، قيل: ويلحق بها دور العلم والأماكن التي تخصص للعلم ونشر العلم. قوله: [ (ويتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم) ] يعني: يقرءون كتاب الله، سواءٌ أكانت هذه القراءة بأن يقوم شخص ويقرأ ويفسر أو غيره يفسر، أم أنهم يجتمعون بحيث يقرأ واحد منهم مقداراً من القرآن ويستمع الباقون، ويكون هناك شخص يصوب قراءته ويبين ما عليه من ملاحظات، كل ذلك يدخل تحت التدارس

(Tidaklah sebuah kaum berkumpul di rumah di antara rumah-rumah Allah) yaitu masjid-masjid. Dikatakan: dikaitkan dengannya sebagai tempat ilmu dan tempat-tempat khusus untuk mencari ilmu dan menyebarkannya.   (mereka membaca Kitabullah dan mengkajinya) yakni mereka membaca Kitabullah, keadaanya sama saja apakah ada seorang yang membaca dan menafsirkan, atau orang lain yang menafsirkan, atau mereka berkumpul dengan satu orang di antara mereka membaca sejumlah ayat Al Quran dan yang lain mendengarkan, lalu ada orang yang mengoreksi bacaannya dan menjelaskan dengan berbagai keterangan. Semua ini termasuk makna tadarus. (Lihat Syarh Sunan Abi Daud [175])

Ada pun pihak yang membolehkan menilai bahwa hadits-hadits di atas sama sekali tidak menentukan tata caranya, artinya memang dibebaskan untuk membuat majelis tersebut dengan bentuk apa pun.  Mereka  yang membolehkan pun memberikan syarat-syarat; tidak mengganggu orang shalat, dengan lafaz yang jelas, tidak dicampuri dengan ucapan yang bukan dzikir, bergurau, dan perkara haram lainnya, dan hendaknya menggunakan dzikir-dzikir yang ma’tsur. Sedangkan makna dan definisi majelis dzikir, mereka memaknai tidak sesempit sekedar majelis ilmu, sebagaimana pemahaman pihak yang membid’ahkan. Sebab Al Quran dan As Sunnah menyebutkan bahwa dzikir dapat berbagai bentuk, bisa berdiri, duduk, dan berbaring. Ada dzikir lisan, dzikir hati, dan amal lahiriyah juga termasuk dzikir.

Oleh karena itu Al Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

الذكر يكون بالقلب، ويكون باللسان، والأفضل منه ما كان بالقلب واللسان جميعا، فإن اقتصر على أحدهما فالقلب أفضل، ثم لا ينبغي أن يترك الذكر باللسان مع القلب خوفا من أن يظن به الرياء، بل يذكر بهما جميعا ويقصد به وجه الله تعالى، وقد قدمنا عن الفضيل رحمه الله: أن ترك العمل لأجل الناس رياء

“Berdzikir bisa di hati dan di lisan, yang lebih utama adalah berdzikir dengan hati dan lisan secara bersamaan. Jika dihilangkan salah satunya, maka dzikir dengan hati adalah lebih utama. Lalu, hendaknya jangan meninggalkan dzikir lisan dengan hati lantaran takut ada orang yang menyangkanya riya’. Justru dia hendaknya berdzikir dengan keduanya dengan tujuan mencari wajah Allah Ta’ala. Kami telah sampaikan ucapan Al Fudhail bin ‘Iyadh: meninggalkan amal karena manusia adalah riya’.” (Al Adzkar, hal. 11)

Beliau menambahkan:

اعلم أن فضيلة الذكر غير منحصرة في التسبيح والتهليل والتحميد والتكبير ونحوها، بل كل عامل لله تعالى بطاعة فهو ذاكر لله تعالى، كذا قاله سعيد بن جبير رضي الله عنه وغيره من العلماء.

“Ketahuilah bahwa keutamaan dzikir tidaklah dibatasi hanya pada tasbih, tahmid, takbir, dan semisalnya. Tetapi semua amal ketaatan yang dilakukan untuk Allah Ta’ala juga merupakan  dzikrullah Ta’ala. Demikianlah yang dikatakan oleh Sa’id bin Jubeir Radhiallahu ‘Anhu dan ulama lainnya.” (Ibid)

Ada pun kelompok yang membolehkan, juga berdalil dengan hadits shahih yang cukup panjang diriwayatkan Imam Al Bukhari, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: (kami ringkas saja)

إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ مَا يَقُولُ عِبَادِي قَالُوا يَقُولُونَ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي قَالَ فَيَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ قَالَ فَيَقُولُ وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا……………….

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling di jalan-jalan untuk mencari orang-orang yang berdzikir. Jika mereka menemukan sekelompok kaum yang sedang berdzikir kepada Allah, maka para malaikat memanggil: marilah sambut hajat kalian. Lalu mereka ( kaum yang berdzikir) dinaungi dengan sayap-sayap mereka menuju langit dunia, lalu berkata: “mereka memohon kepada Tuhan mereka -dan Dia lebih tahu dibanding mereka. (Allah bertanya): “apa yang diucapkan hamba-hambaKu?” Para malaikat menjawab: “Mereka bertasbih (dengan subhanallah) kepadaMu, bertakbir (membesarkan dengan ‘Allahu Akbar), bertahmid (memuji dengan Alhamdulillah), dan bertamjid (memuliakan)Mu.”  Allah berfirman: “Apakah mereka melihat Aku?” Para malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah mereka tidak melihatMu.” Allah bertanya: “Bagaimana jika mereka melihat Aku?” Para malaikat menjawab: “Seandainya mereka melihatMu niscaya mereka akan lebih kuat lagi beribadah kepadaMu, dan lebih kuat bertamjid, tahmid, dan lebih banyak bertasbih kepadaMu …………”

Hadits ini menunjukkan bahwa mereka berkumpul dengan bertasbih, tahmid, takbir, dan  lainnya. Tentunya ini adalah berdzikir dengan mengucapkan kalimat-kalimat dzikir, bukan majelis ilmu semata. Oleh karena itu Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengomentari hadits ini:

  وهذا من فضائل مجالس الذكر تحضرها الملائكة بعد التماسهم لها والمراد بالذكر هو التسبيح والتحميد وتلاوة القرآن ونحو ذلك

“Ini merupakan keutamaan majelis-majelis dzikir yang malaikat hadir di dalamnya setelah mereka menemukannya. Dan yang dimaksud dengan dzikir adalah bertasbih, bertahmid, membaca Al Quran, dan yang semisalnya.” (Imam Muhammad bin Ismail Ash Shan’ani, Subulus Salam, 4/213)

Bahkan Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah  masih meragukan ‘majelis ilmu’ sebagai bagian majelis dzikrullah.  Beliau berkata:

الْمُرَاد بِمَجَالِس الذِّكْر وَأَنَّهَا الَّتِي تَشْتَمِل عَلَى ذِكْر اللَّه بِأَنْوَاعِ الذِّكْر الْوَارِدَة مِنْ تَسْبِيح وَتَكْبِير وَغَيْرهمَا وَعَلَى تِلَاوَة كِتَاب اللَّه سُبْحَانه وَتَعَالَى وَعَلَى الدُّعَاء بِخَيْرَيْ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة ، وَفِي دُخُول قِرَاءَة الْحَدِيث النَّبَوِيّ وَمُدَارَسَة الْعِلْم الشَّرْعِيّ وَمُذَاكَرَته وَالِاجْتِمَاع عَلَى صَلَاة النَّافِلَة فِي هَذِهِ الْمَجَالِس نَظَر ، وَالْأَشْبَه اِخْتِصَاص ذَلِكَ بِمَجَالِس التَّسْبِيح وَالتَّكْبِير وَنَحْوهمَا وَالتِّلَاوَة حَسْب ، وَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَة الْحَدِيث وَمُدَارَسَة الْعِلْم وَالْمُنَاظَرَة فِيهِ مِنْ جُمْلَة مَا يَدْخُل تَحْت مُسَمَّى ذِكْر اللَّه تَعَالَى .

“Maksud dari majelis dzikir adalah mencakup berdzikir kepada Allah dengan berbagai jenis kalimat dzikir yang warid  (datangnya dari sunnah) berupa tasbih, takbir, dan selain keduanya.  Dan, termasuk membaca Kitabullah, berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat. Ada pun  membaca hadits nabawi, mengkaji ilmu syar’i, dan mendiskusikannya,  berkumpul (berjamaah) untuk melakukan shalat sunah, maka memasukan majelis-majelis seperti ini (sebagai majelis dzikir, pen) masih perlu dipertimbangkan (nazhar). Serupa dengan ini adalah    mengkhususkan hal itu    dengan majelis tasbih, takbir, dan semisalnya, dan membaca Al Quran. Dan, jika sekedar  membaca hadits, mengkaji ilmu, dan mendebatkannya dalam artian secara umum,  maka tidaklah dia termasuk dari penamaan dzikrullah Ta’ala.” (Imam Abul Fadhl Ahmad bin Hajar, Fathul Bari, 11/212. Darul Fikr, dengan tahqiq; Syaikh Ibnu Baaz. Lihat juga Syaikh Abul ‘Ala bin Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 10/60. Cet. 2. 1963M-1383H. Al Maktabah As Salafiyah)

Demikianlah polemik tak berkesudahan tentang dzikir berjamaah. Semoga masalah ini tidak membuat keruhnya hati, tajamnya lisan, dan memancing perpecahan di tengah-tengah umat. Amin. – pen

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s