Takhrij Al-Ma’tsurat (Bag. 2): Muqadimah

ibadahMUQADIMAH  AL IMAM HASAN AL BANNA RAHIMAHULLAH

AL-MA’TSURAT

Awal Ramadlan 1355 H.

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah ‘Azza wa Jalla, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; sebaik-baik ahli dzikir, pemimpin orang-orang yang bersyukur, imam para rasul, penutup para nabi, dan panglima orang-orang yang kelak tangan dan kakinya bercahaya. Juga kepada keluarga, seluruh sahabat, dan orang-orang yang menapaki jalan mereka, hingga hari pembalasan.

Dzikir di Setiap Kesempatan

Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah menganugerahkan sebaik-baik taufiq kepada saya dan anda (  رَزَقَنِيَ اللهُ وَإِيَّاكَ حُسْنَ التَّوْفِيْقِ)  – bahwa setiap manusia itu mempunyai tujuan pokok dalam hidupnya. Di mana seluruh pemikiran diarahkan kesana, semua amal perbuatan tertuju kepadanya, dan semua cita-cita terpusat padanya. Tujuan asasi itu dikenal  l u a s   dengan   i s t i l a h   “ Idealisme “   (“اَلْمَثَلُ اْلأَعْلَى”). Apabila  tujuan  ini membumbung tinggi, maka akan menghasilkan amal-amal mulia, jiwa pemiliknya akan memiliki keindahan ruhani, dan selalu terdorong untuk mencapai kesempurnaan, hingga dapat meraih kemuliaan yang telah ditakdirkan untuknya.

Islam -yang datang untuk memperbaiki jiwa manusia, mensucikannya, dan membimbingnya menuju puncak kesempurnaan yang mungkin dapat diraih- telah menjelaskan tujuan tertinggi kepada seluruh manusia dan mendorong mereka menuju idealisme tertinggi. Idealisme tersebut adalah:

(قُدْسُ حَضْرَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلاَ)

“ke-Mahasucian Allah Jalla wa ‘Ala.”

Ayat Al-Qur’an menyatakan,

فَفِرُّوا إِلَى اللهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

“Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.”  (QS. Adz-Dzariyat: 50)

Apabila anda telah mengetahui hal ini wahai saudaraku, maka jangan heran jika seorang muslim selalu berdzikir kepada Allah dalam semua kondisi dan berusaha mewarisi dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam –             وَهُوَ أَعْرَفُ الْخَلْقِ بِرَبِّهِ (dan beliau adalah yang paling mengenal Rabb-nya)-  beberapa kalimat  indah dan mendalam dari dzikir, do’a, syukur, tasbih, dan pujian dalam setiap kesempatan, baik kesempatan kecil maupun besar, serta kesempatan berharga atau remeh. Sebab Nabi  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu berdzikir dalam semua kesempatan.  

Catatan Penulis (Farid Nu’man Hasan):

Hadits tersebut adalah: dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

“Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdzikir kepada Allah pada setiap keadaannya.” (HR. Muslim No. 737. Abu Daud No. 18. At Tirmidzi dalam Sunannya No. 3384, juga dalam Al ‘Ilal Al Kabir, 2/904. Ibnu Majah No. 302. Ahmad No. 24410. Abu Ya’la No. 4688. Ibnu Khuzaimah No. 207. Ibnu Hibban No. 801, 802. Al Baihaqi dalam Sunannya, 1/90. Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 274. Ath Thahawi dalam Syarh Ma’anil Atsar, 1/88)

******

Selanjutnya Penulis Al-Ma’tsurat (Syaikh Hasan Al-Banna) menyatakan:

Juga jangan heran jika kami menuntut Ikhwanul Muslimin agar mengikuti sunah Nabi  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan meneladaninya, dengan cara menghafal dzikir-dzikir ini dan dengannya mendekatkan diri kepada Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيراً

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab (33): 21)

Keutamaan Dzikir dan Orang-orang yang Melakukannya

Perintah dzikir, anjuran memperbanyak dzikir, serta penjelasan tentang keutamaan dzikir dan orang-orang yang melakukannya terdapat dalam banyak ayat dan hadits Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Cukuplah bagi anda bahwa dzikir menjadi penutup sifat utama yang disebut dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla berikut:

﴿إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيراً وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab (33): 35)

Allah ‘Azza wa Jalla telah memerintahkan kaum mukminin untuk banyak berdzikir dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْراً كَثِيراً, وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)

Terdapat banyak hadits tentang keutamaan dzikir. Antara lain:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِيهِ عَنْ رَبِّهِ (أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍَ ذَكَرْتُهُ فِي مَـلأٍ خَـيْـرٍ مِنْهُمْ(مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ مِنْ حَدِيْثِ أَبِي هُرَيْرَةَ).

Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meriwayatkan bahwa Allah  ‘Azza wa Jalla berfirman, “Aku terserah kepada persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Apabila  ia  mengingat—Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan, apabila ia menyebut-Ku di dalam keramaian, maka Aku akan menyebutnya di dalam keramaian yang lebih baik dari mereka.” (Muttafaqun ‘Alaihi dari Hadits Abu Hurairah)

Catatan Penulis (Farid Nu’man Hasan):

Hadits tersebut diriwayatkan oleh: Al Bukhari No. 7405. Muslim No. 2675. At Tirmidzi No. 3603. Ibnu Majah No. 3822. An Nasa’i dalam Al Kubra No. 7730. Ahmad No. 9351. Ibnu Khuzaimah dalam At Tauhid, 1/15-16. Al Baihaqi dalam Al Asma wash Shifat No. 284. Al Baghawi No. 1251-1252. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 9/26-27. Al Khathib dalam Tarikh Baghdad, 7/109. Abu Ya’la No. 6601.

Al Imam An Nawawi menjelaskan makna وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيdan Aku bersamanya jika ia mengingatKu:

 أَيْ مَعَهُ بِالرَّحْمَةِ وَالتَّوْفِيق وَالْهِدَايَة وَالرِّعَايَة . وَأَمَّا قَوْله تَعَالَى : { وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ } فَمَعْنَاهُ بِالْعِلْمِ وَالْإِحَاطَة

“Yaitu Dia bersamanya dengan rahmat, hidayah, dan  penjagaan. Ada pun firmanNya: (Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada) maknanya adalah  bersama dengan Ilmu  dan pengetahuanNya. (Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarf An Nawawi, Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 9/35. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Selanjutnya Penulis Al-Ma’tsurat (Syaikh Hasan Al-Banna) menyatakan:

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بِسْرٍ  رَضَيِ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ: إِنَّ شَرَائِعَ اْلإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ، قَالَ: (لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ). رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ.

Dari Abdullah bin Bisr Radhiallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam telah banyak buatku, maka kabarkan kepadaku sesuatu yang aku pegang teguh.” Rasulullah bersabda, “Hendaklah lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. At Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Catatan Penulis (Farid Nu’man Hasan):

Hadits tersebut diriwayatkan oleh: At Tirmidzi No. 3375. Ibnu Majah No. 3793. Ahmad No. 17680. At Thabarani dalam Musnad Asy Syamiyin No. 1008. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 9078. Adz Dzahabi dalam Al Mizan, 1/335 (dalam biografi Baqiyyah bin Al Walid) . Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqi, Hal. 448 (dalam biografi Abdullah bin Bisr). Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. (Lihat Al Kalim Ath Thayyib No. 3, juga Shahih At Targhib wat Tarhib No. 1491). Sementara Syaikh Syu’aib Al Arnauth menghasankan. (Lihat tahqiqnya terhadap Musnad Ahmad No. 17680. Muasasah Ar Risalah).

(Bersambung)

gif-iklan-ebook-madah-tarbiyah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s