Salah Paham Terhadap Kekuasaan (Bag. 2)

madinah_2Oleh: H. Khozin Abu Faqih, Lc.

Larangan Meminta Jabatan

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى اْلإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتْ الْفَاطِمَةُ

“Kalian akan berambisi pada kekuasaan. Padahal ia akan menjadi penyesalan pada hari kiamat. Maka sungguh nikmat yang menyusui dan sungguh buruk yang menyapih, kematian.” (HR. Bukhari).

Ibnu Hajar memberi penjelasan ujung Hadits tersebut dengan mengutip komentar para ulama. Ad-Dawudi berkata, “Sungguh nikmat yang menyusui maksudnya adalah dunia. Sungguh buruk yang menyapih maksudnya adalah hari setelah kematian, sebab pelakunya akan dihisab atas kepemimpinan yang diembannya. Maka ia ibarat anak yang disapih sebelum waktunya, sehingga dapat menjadi penyebab kebinasaannya.”

Ulama lain mengatakan, “Sungguh nikmat di dunia karena pemiliknya mendapatkan jabatan, kekayaan, kata-katanya didengar, dan mendapatkan kenikmatan indrawi serta keni’matan semu saat meraih kekuasaan. Sungguh buruk setelah kematian karena berpisah dengan kekuasaan dan adanya tanggung jawab di akhirat.

Di samping itu, ada beberapa dalil yang secara tegas melarang kaum muslimin untuk meminta jabatan, antara lain sebagai berikut.

Abdur Rahman Ibnu Samurah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَسْأَلْ اْلإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا

“Jangan meminta jabatan, sebab jika engkau diberi jabatan tanpa meminta, maka engkau akan dibantu (oleh Allah) untuk mengatasinya, tetapi jika engkau diberi karena memintanya, maka engkau akan diserahkan padanya (dibiarkan tanpa bantuan dari Allah).” (HR. Bukhari).

Abu Dzar ra. berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mempekerjakan aku (memberi jabatan kepadaku).” Maka beliau menepuk bahuku dengan tangannya, kemudian bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, sedangkan sesungguhnya jabatan itu amanah dan akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan benar dan menunaikan tanggung jawab yang ada padanya.” (HR. Muslim).

Dengan Hadits-Hadits seperti itu dan penjelasannya dari para ulama, maka sebagian kaum muslimin alergi dengan kekuasaan. Bahkan ada yang beranggapan bahwa kekuasaan itu dapat melunturkan keimanan dan mendorong manusia berbuat durhaka. Mereka beranggapan bahwa jalan untuk meraih kekuasaan dan kepemimpinan adalah jalan yang penuh dengan lumpur dosa dan debu maksiat.

Pemahaman keliru seperti ini telah benar-benar tertanam dalam pikiran sebagian kaum muslimin, sehingga mereka tidak berupaya meraih kekuasaan, bahkan menganggap orang-orang yang berupaya meraih kekuasaan, sebagai bentuk kesalahan. Akhirnya, kaum muslimin selalu dipimpin oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, menebar kerusakan, menimbulkan berbagai fitnah, bahkan menghalang-halangi manusia dari menerapkan keyakinannya dalam kehidupan nyata.

Seharusnya, Hadits-Hadits di atas dipahami sebagai peringatan agar seseorang tidak menyalahgunakan jabatan, berlaku sewenang-wenang saat memegang jabatan, menyombongkan diri saat memegang amanah, atau memperkaya diri dengan jabatannya. Atau dipahami sebagai larangan meminta jabatan karena ada hubungan kekerabatan, atau karena ada koneksi, tanpa memperhatikan kapasitas diri, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat Ibnul Mundzir,

مَنْ طَلَبَ الْقَضَاء وَاسْتَعَانَ عَلَيْهِ بِالشُّفَعَاءِ وُكِلَ إِلَى نَفْسه ، وَمَنْ أُكْرِهَ عَلَيْهِ أَنْزَلَ اللَّه عَلَيْهِ مَلَكًا يُسَدِّدهُ

“Barangsiapa meminta jabatan dan meminta bantuan para koneksi, maka ia akan diserahkan kepada dirinya sendiri (dibiarkan), dan barangsiapa dipaksa memegang jabatan, maka Allah akan menurunkan malaikat yang membantunya.” (Diriwayatkan juga oleh Turmudzi dan Abu Daud).

Sebab di samping larangan meminta jabatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan keutamaan orang yang memegang jabatan dengan benar dan menunaikan tanggung jawab dengan benar, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dzar ra.,

إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

“Kecuali orang yang mengambilnya dengan benar dan menunaikan tanggung jawab yang ada padanya.” (HR. Muslim).

Bahkan ada riwayat yang dengan tegas menyebutkan boleh meminta jabatan, jika memang ada kapasitas untuk itu, sementara jika orang lain yang memegangnya dikhawatirkan terjadi bencana,

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ طَلَبَ قَضَاء الْمُسْلِمِينَ حَتَّى يَنَالهُ ثُمَّ غَلَبَ عَدْله جَوْره فَلَهُ الْجَنَّة، وَمَنْ غَلَبَ جَوْره عَدْله فَلَهُ النَّار

“Barangsiapa mencari (jabatan) untuk memutuskan (perkara) kaum muslimin, hingga ia mendapatkannya, kemudian keadilannya mengalahkan kezhalimannya, maka baginya surga. Dan, barangsiapa yang kezhalimannya mengalahkan keadilannya, maka baginya neraka.” (HR. Abu Daud).

Juga bisa dipahami bahwa hadits-hadits yang melarang meminta jabatan tersebut berlaku dalam komunitas muslim, jamaah Islam, masyarakat Islami, atau Negara Islam. Sebab komunitas muslim adalah komunitas yang selalu beramal, berjihad, dan berkorban untuk menegakkan agama Allah swt. di muka bumi. Mereka tidak berhenti memperjuangkan Islam dalam daerah tertentu, pada komunitas tertentu, bahasa tertentu, dan warna kulit tertentu. Mereka membawa agama ini ke seluruh belahan bumi, untuk membebaskan seluruh manusia dari penghambaan kepada selain Allah swt. menuju penghambaan kepada Allah swt. semata.

Dalam aktivitas yang tidak kenal henti, semua anggota masyarakat dapat  melihat dan mengetahui kualitas ketaqwaan, kapasitas, potensi, bakat, dan kadar keshalihan masing-masing. Semua itu akan dinilai oleh realitas dan akan diungkap oleh aktivitas, dan masyarakat akan mengenal. Selanjutnya, masyarakat akan menimbang semuanya dengan timbangan keimanan, bukan berdasarkan kedekatan, kekerabatan, koneksi, atau ukuran-ukuran selera duniawi lainnya.

Masing-masing anggota masyarakat tidak akan mengurangi hak lainnya, tidak akan mengingkari keutamaan siapa pun, dan tidak akan pelit memberikan posisi kepada orang yang berhak mendapatkannya. Dalam kondisi seperti itu seseorang tidak perlu memberikan rekomendasi atas dirinya dan meminta suatu jabatan dengan landasan rekomendasi tersebut. Sebab masyarakat yang berjihad bersamanyalah yang akan memberikan rekomendasi dan mencalonkannya.

Mungkin ada yang berkata, “Jika masyarakat Islam semakin meluas, maka sebagian orang tidak mengenal sebagian yang lain. Sehingga orang-orang berbakat dan kapabel perlu mengumumkan diri, memberikan rekomendasi terhadap diri, bahkan mengkampanyekan diri agar mendapatkan jabatan yang sesuai dengan kapasitasnya.”

Perkataan ini didasarkan praduga yang dipengruhi oleh realitas masyarakat jahiliyah komtemporer. Sebab masyarakat muslim dalam satu daerah, pasti saling mengenal, saling berhubungan, dan saling membantu, sebagaimana tabi’at tarbiyah, pengarahan, pembinaan, serta komitmen dalam masyarakat Islam. Dengan begitu, penduduk dalam satu daerah memahami orang-orang yang mempunyai kapasitas, potensi, dan bakat, serta menimbang kapasitas, potensi dan bakat itu dengan timbangan dan nilai-nilai keimanan. Maka mereka tidak akan berkeberatan mengutus orang-orang berbakat dan bertaqwa di antara mereka ke majlis syura, atau untuk kepemimpinan di daerah mereka. Ada pun kepemimpinan umum, maka akan dipilih oleh umat melalui majlis syura atau ahlul halli wal aqdi.

Sesungguhnya manusia dalam masyarakat Islam tidak perlu memamerkan keistimewaan dan kelayakannya. Di samping itu jabatan dalam masyarakat Islam adalah beban berat yang tidak menarik minat seorang pun, kecuali orang yang benar-benar ingin mendapatkan pahala besar dari pelaksanaan kewajiban dan pelayanan berat untuk mendapatkan ridla Allah swt. Karena itu tidak ada yang meminta jabatan, kecuali orang-orang yang ambisius karena ada kepentingan pribadi. [1]) Sedangkan, institusi keislaman seharusnya tidak memberikan jabatan kepada orang tersebut. Sebab biasanya orang yang meminta jabatan adalah orang yang tidak mempunyai kapasitas, atau tidak yakin dengan kapasitas dirinya. Apalagi orang yang menyuap dan mencari koneksi untuk mendapatkan suatu jabatan dalam institusi keislaman. Sebagaimana riwayat Abu Musa ra.

لاَ نُوَلِّي عَمَلنَا مَنْ طَلَبَهُ أَوْ حَرَصَ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya kami tidak memberi jabatan kepada orang yang berambisi.” (HR. Ibnul Mundzir).

Apabila Hadits-Hadits tentang larangan meminta jabatan dan memberi rekomendasi pada diri itu diterapkan di masa sekarang, di mana manusia tidak saling mengenal, timbangan yang digunakan bukan lagi timbangan keimanan, obyektifitas, amanah dan kaidah-kaidah yang dipakai bukan lagi kaidah Islam, maka apa yang akan terjadi? Tentu, yang akan memimpin Negara dan memegang jabatan adalah orang-orang tamak, orang-orang yang tidak merasa berdosa saat berbohong, orang-orang yang tidak beriman dengan hari kebangkitan, dan orang-orang yang tidak merasa diawasi oleh Allah. Selanjutnya, mereka akan mengangkat pegawai dan stafnya dengan landasan siapa yang loyal kepadanya, bukan siapa yang setia kepada kebenaran dan keadilan. Akhirnya kekuasaan dan jabatan dipegang oleh orang-orang yang tidak amanah dan tidak kapabel. Jika semua ini terjadi maka, bencana bagi dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

“Apabila amanah ditelantarkan, maka tunggulah kiamat.” Seseorang bertanya, “Bagaimana amanah ditelantarkan?” Beliau bersabda, “Apabila urusan diserahkan kepada selain ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah ra.)

Apabila di dalam masyarakat terdapat kelompok khairul bariyah dan syarrul bariyah, maka seharusnya sebuah Jamaah muslimah, memilih beberapa kadernya untuk merebut jabatan publik, sehingga suara dakwah semakin menggema dan fikrah Islam tersebar luas. Saat itu, kader yang mengkampanyekan diri di tengah masyarakat, bukan orang yang meminta jabatan, tetapi sedang mengemban amanah jamaah untuk memperjuangkan Islam.

Di samping itu, Allah swt. mengajarkan agar setiap mukmin berdoa kepada-Nya untuk menjadi pemimpin,

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan, jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan: 74).

Tentunya, doa adalah semangat hidup dan ambisi pribadi. Sebab jika seseorang berdoa tetapi tidak berkeinginan meraihnya, maka ia telah mendustai dirinya dan mendustai Tuhannya. Oleh Karena itu setiap muslim harus meningkatkan kapasitas diri, agar jamaah menganggapnya layak menjadi pemimpin, tanpa memintanya.

Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Aku mempunyai jiwa yang ambisius, ia berambisi kepada khilafah. Ketika telah sampai pada kekhalifahan, ia berambisi ke surga.”

Mukmin pada umumnya, dan Umar bin Abdul Aziz khususnya, berambisi mendapatkan kekuasaan atau kepemimpinan, tentu bukan untuk kepuasan nafsu dan kesenangan sementara. Akan tetapi, karena dalam kekuasaan terdapat peluang besar untuk memberikan kontribusi positif, sehingga dapat meraih pahala yang berlipat ganda.

Secara logis, kita yakini bahwa semakin banyak keuntungan yang akan diraih, maka semakin besar pula resiko yang akan dihadapi. Pedagang kecil, akan memiliki resiko kerugian kecil, tetapi keuntungan yang akan diraih pun kecil. Pedagang besar memiliki resiko yang amat besar, tapi keuntungan yang akan diraih juga besar. Biasanya pedagang besar telah mempunyai kesiapan menghadapi resiko tersebut, sehingga kerugian dapat di tekan dan diantisipasi. Karenanya, kebanyakan orang yang kaya raya adalah pedagang besar.

Dalam kontek inilah seharusnya hadits-hadits larangan meminta jabatan dipahami, yakni dalam kontek agar para pemimpin berhati-hati dan waspada, agar tidak terfitnah oleh kekuasaan. Sedang hadits-hadits yang menganjurkan memegang jabatan, kita pahami dalam konteks peluang untuk memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Wallahu a’lam bish shawab.

Salah Memahami Realita

Terkadang kesalahpahaman itu dikuatkan dengan suatu realita, di mana ada beberapa orang yang pada awalnya shalih, tetapi setelah mempunyai jabatan atau menjadi pemimpin, ia lupa diri dan terlena, sehingga bukannya untuk membimbing manusia kepada Allah swt., tetapi malah berupaya memenuhi nafsunya, memeras masyarakat, menyombongkan diri dan menentang ajaran Allah swt. Kejadian itu membuat sebagian kaum muslimin lebih alergi dengan kekuasaan dan kepemimpinan.

Ada juga yang berargumen bahwa kebanyakan penyimpangan dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai jabatan, atau banyak orang yang ingin meraih jabatan dengan cara-cara yang kotor dan jahat, sehingga membuat orang alergi dengan kekuasaan. Sejarah pun membuktikan bahwa para penentang nabi dan rasul adalah para pejabat dan penguasa yang takut tergeser kekuasaannya, [2])

Kalau mau obyektif, harusnya dibedakan antara realita dan konsep. Sebab banyak realita yang tidak sejalan dengan konsep. Tentu kita tidak akan membenci kekayaan, hanya karena banyak orang kaya yang jahat dan menyimpang. Kita membenci Islam, karena ada sebagian kaum muslimin yang kumuh, tidak disiplin, curang, dan tindakan-tindakan buruk lainnya.

Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah menjelaskan hal ini dalam Siyasah Syar’iyah-nya, “Akan tetapi, ketika kebanyakan orang yang memegang kekuasaan hanya memburu harta dan penghormatan, hingga kekuasaannya jauh dari hakikat keimanan, maka sebagian besar manusia menganggap kekuasaan bertolak belakang dengan keimanan dan kesempurnaan agama.

Sebagian mereka mementingkan agama dan berpaling dari kekuasaan yang agama tidak sempurna kecuali dengannya. Sebaliknya, sebagian orang yang membutuhkan kekuasaan berpaling dari agama, sebab meyakini bahwa agama itu membenci kekuasaan. Maka ia memposisikan agama dalam kasih sayang dan kehinaan, bukan pada posisi ketinggian dan kemuliaan. Bahkan ada juga dari kalangan ahli agama terdahulu yang merasa tidak berdaya menyempurnakan agama dan berkeluh kesah karena mendapat ujian berat saat menegakkan agama, maka ia menganggap jalan yang ditempuhnya lemah serta menganggap kekusaan tidak membawa maslahat bagi agama dan lainnya.

Dua cara pandang ini benar-benar rusak. Jalan pertama, adalah jalan orang yang berafiliasi kepada agama, namun tidak menyempurnakannya dengan kekuasaan, jihad dan harta yang dibutuhkannya. Kedua, adalah jalan orang yang menginginkan kekuasaan, kekayaan dan perang, namun tidak dimaksudkan untuk menegakkan agama.

Kedua jalan di atas dimurkai dan sesat. Yang pertama adalah kesesatan kaum Nashrani dan yang kedua adalah dimurkainya kaum Yahudi. Sedangkan jalan yang lurus adalah jalannya orang-orang yang diberi nikmat, dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih. Inilah jalan yang ditempuh nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, para khalifahnya, para shahabatnya, dan orang-orang yang menempuh jalan mereka. Allah swt. berfirman tentang mereka, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100).

Oleh karena itu, setiap muslim wajib berupaya semaksimal mungkin menempuh jalan yang lurus tersebut. Sebab barangsiapa memegang kekuasaan untuk taat kepada Allah swt., menegakkan agama sebatas kemampuan, memelihara kemaslahatan kaum muslimin, melaksanakan kewajiban-kewajiban semaksimal mungkin, dan menjauhi hal-hal yang haram semampunya, maka ia tidak diberi sangsi karena ketidakmampuannya. Sesungguhnya kekuasaan yang dipegang orang-orang baik lebih utama bagi umat daripada kekuasaan yang dipegang oleh orang-orang yang durhaka.

Barangsiapa yang tidak mampu menegakkan agama dengan kekuasaan dan jihad, maka hendaklah berbuat semampunya, baik nasihat dengan hati, do’a untuk umat, mencintai kebaikan, dan melakukan kebaikan semampunya. Sebab ia tidak diberi beban yang tidak ia mampui. Sebab pilar agama adalah Kitab yang memberi petunjuk dan besi (kekuasaan) yang menolong. Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah swt. dalam firman-Nya.”

Wallahu A’lam.

 

Footnote:

[1]  Disarikan dari tafsir fi zhilalil qur’an, Sayyid Quthb, Surat Yusuf: 55

[2] Lihat, Al-A’raf: 60, 66, 75, 88, 90, 109, 127, Huud: 27, Yusuf: 43, Al-Mukminun: 24, 33,  An-Naml: 29, 32, 38, Al-Qashash: 20, 38, Shaad: 6

iklan-keagenan-jadi

gif-iklan-ebook-madah-tarbiyah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s