Salah Paham Terhadap Kekuasaan (Bag. 1)

kunci duniaOleh: Khozin Abu Faqih, Lc.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling shalih dan mendapatkan garansi penuh dari Allah. Meski begitu, beliau memohon dikaruniai kekuasaan dan berupaya menggapai permohonannya dengan kesungguhan. Orang yang membenci kekuasaan dan membiarkan penjahat berkuasa, hendak mencontoh siapa?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Menolak Kekuasaan?

Sebagian kaum muslimin membenci kekuasaan, atau minimal tidak berupaya meraih kekuasaan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menerima tawaran kekuasaan dari kaum Quraisy, pada masa awal-awal dakwah. Padahal menurut mereka andai kekuasaan itu baik untuk perjuangan, maka pasti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerimanya dan memanfaatkannya untuk menegakkan Islam.

Mereka lupa, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menolak tawaran kekuasaan pada awal-awal dakwah adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memohon kekuasaan kepada Allah Ta’ala saat melakukan perjalanan Hijrah.

“Dan, Katakanlah, ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku dengan cara yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong’.” (Al-Israa: 80)

Mereka juga lupa, bahwa yang ditolak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya kekuasaan, tetapi juga kekayaan. Karena itu, jika mereka tidak mau meraih kekuasaan dengan landasan kisah tersebut, seharusnya tidak perlu berupaya mencari kekayaan, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak tawaran kekayaan yang ditawarkan oleh kaum Quraisy di awal dakwah.

Di samping itu, terdapat beberapa alasan yang dapat kita ambil dari dalil dan sejarah, tentang penolakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, antara lain;

Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak tawaran harta dan kekuasaan karena kompensasinya sangat jelas, yaitu beliau harus berhenti berdakwah dan mengikuti keinginan mereka. Buktinya, mereka tidak bersedia mengucapkan kalimah “La ilaha illallah.” meski dijanjikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dengan kalimat itu mereka akan dapat menguasai Arab dan selain Arab. Jadi, kekuasaan yang ditawarkan adalah kekuasaan yang tidak mempunyai pengaruh pada perubahan, tetapi hanya formalitas untuk menghentikan dakwah Islam.

Apabila tawaran itu diterima, maka berarti kekalahan bagi dakwah, sebab kekuasaan dan kekayaan itu sarana untuk berdakwah, bukan sasaran dan tujuan dakwah. Allah Ta’ala mengingatkan Rasul-Nya dengan firman-Nya,

“Dan Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap kami; dan kalau sudah begitu tentu|ah mereka mengambil kamu Jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu Hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami.” (Al-Israa: 73-75)

Qatadah berkata, “Telah diriwayatkan kepada kami bahwa Quraisy menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, hingga shubuh untuk berbincang dengan beliau, memuji beliau, menjadikan beliau pemimpin, dan melakukan pendekatan kepada beliau. Mereka berkata, ‘Engkau membawa sesuatu yang tidak pernah dibawa oleh seorang manusia pun, padahal engkau adalah pemimpin kami, wahai pimpinan kami.’ Mereka selalu melobi beliau, hingga hampir saja beliau menuruti kemauan mereka. Kemudian Allah Ta’ala menjaga beliau dari bujukan mereka dan menurunkan ayat di atas.”

Karena itu, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima tawaran yang diajukan oleh kaum Quraisy, maka berarti kekalahan bagi dakwah dan kemenangan bagi para pejuang kebatilan. Jadi, penolakan itu bukan karena kekuasaan tidak penting.

Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak tawaran tersebut karena terkesan pelecehan terhadap dakwah. Sebab mereka menyangka bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah hanya untuk meraih kekuasaan dan kekayaan, karena itu beliau menolak, agar mereka mengetahui bahwa beliau berdakwah bukan untuk meraih kekuasaan dan kekayaan.

Akan tetapi, secara nyata beliau berusaha meraih kekuasaan dengan membangun pondasi-pondasinya, mengokohkan pilar-pilarnya, dan menyiapkan perangkat-perangkatnya. Bahkan beliau diperintahkan oleh Allah Ta’ala agar berdoa kepada-Nya untuk mendapatkan kekuasaan, sebagaimana yang diabadikan oleh Allah Ta’ala dalam Surat Al-Israa .

Beliau juga memberi pelajaran secara aplikatif kepada para shahabat dan kaum muslimin sepanjang masa, tentang pentingnya kekuasaan yang adil. Yaitu ketika beliau memerintahkan para shahabat untuk hijrah ke Habasyah, “Sesungguhnya di Habasyah ada Raja (Najasyi) yang tidak menzhalimi siapa pun yang hidup di wilayahnya.”

Hal ini membuktikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memahami pentingnya kekuasaan bagi keberlangsungan dakwah dan perlindungan terhadap para pengikutnya.

Ketiga, boleh jadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak tawaran tersebut karena belum mempunyai tenaga yang dapat mengelola kekuasaan, sehingga bisa jadi kekuasaan akan menjadi bumerang bagi dakwah.

Andai beliau menerima tawaran menjadi pemimpin di Makkah pada saat itu, maka beliau hanya menjadi pemimpin boneka. Di mana seluruh pelaksanaan kekuasaan akan dikerjakan oleh tokoh-tokoh Quraisy yang menentang dakwah. Kisah Habasyah adalah bukti yang sangat tepat untuk mengokohkan alasan ini. Di mana, meski raja Najasyi telah masuk Islam, tetapi tidak secara otomatis keislaman beliau diikuti oleh masyarakat, sebab para pengambil kebijakan, penerjemah kebijakan, dan pelaksana kebijakan tidak sejalan dengan keyakinan Najasyi.

Keempat, boleh jadi beliau tidak menerima tawaran kekuasaan pada saat itu, karena beliau akan diteladani oleh umatnya. Karena itu, jika beliau menerima tawaran tersebut dan tidak berupaya mengambilnya sendiri dengan perjuangan, maka umatnya tidak akan bergairah membangun kekuasaan dari awal. Mereka hanya menunggu datangnya tawaran kekuasaan dari musuh Islam.

Wallahu a’lam.

(Bersambung…Insya Allah)

gif-iklan-ebook-madah-tarbiyah

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s