Menyongsong Kemenangan Dakwah (Bag. 2)

al-fatihHindarilah maksiat!

Ikhwah fillah, berhati-hatilah! Petaka kemaksiatan seorang aktivis Islam atau sejumlah aktivis Islam dapat melebar mengenai gerakan dakwah, atau menimpakan kekalahan kepadanya, atau menyebabkannya mendapat ujian berat.

Allah ta’ala berfirman,

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Q.S. Al-Anfal: 25)

Jika kita kaji Perang Uhud, kita temukan sebab kekalahan kaum muslimin di dalamnya ialah karena indisipliner sebagian pasukan pemanah, yang jumlah mereka tidak mencapai 4% dari jumlah total pasukan kaum muslimin ketika itu. Apa akibatnya? Tujuh puluh sahabat terbunuh, perut mereka dibelah, hidung dan telinga mereka dipotong-potong, bahkan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam juga terluka, wajah beliau terluka, dan gigi antara gigi seri dengan gigi taring beliau tercabut.

Masalah ini juga terlihat dengan jelas di Perang Hunain. Di awal perang, kaum muslimin kalah akibat sebagian dari mereka bangga dengan jumlah pasukan dan senjata, serta lupa bahwa kemenangan itu semata-mata datangnya dari Allah ta’ala.

Sesungguhnya Allah telah menolong kalian di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian lari kebelakang dengan bercerai-berai. (Q.S. At-Taubah: 25) [1]

Oleh karena itu, Umar bin Khattab selalu berpesan kepada para prajuritnya yang akan bertempur agar memegang teguh ketakwaan. Dia selalu mengatakan, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan pada diri kalian adalah dosa-dosa. Karena, bagi pasukan tempur, dosa-dosa adalah lebih berbahaya daripada musuhnya itu sendiri.”

Abu Darda mengatakan, “Wahai manusia, lakukan amal sebelum berperang. Sebab kalian tidaklah berperang melainkan dengan (bekal) amal shalih kalian.”

Sedangkan Fudhail bin Iyadh mengatakan kepada para mujahidin yang akan bertempur, “Kalian harus bertaubat. Sebab taubat dapat melindungi kalian dari apa yang tidak dapat dicegah oleh pedang.” [2]

Dr. Najih Ibrahim berkata, “Gerakan dakwah yang ingin menegakkan agama di atas bumi itu harus lebih serius memberantas kemungkaran di internal mereka, daripada kemungkaran di eksternal mereka. Jika mereka sukses memperbaiki kondisi internal mereka, mereka akan lebih sukses membenahi kondisi eksternal mereka. Bahkan saya tegaskan, mereka tidak sukses memperbaiki kondisi eksternal sebelum mereka sukses membenahi kondisi internal mereka.”

Jihad, totalitas dalam berjuang!

Kemenangan akan kita raih, insya Allah, jika kita mau berjihad dengan sungguh-sungguh, yakni mampu mengerahkan seluruh potensi untuk perjuangan secara totalitas.

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. (Q.S. Al-Hajj: 78)

Ibnu Abbas ra berkata tentang pengertian jihad, “Jihad adalah menguras potensi dalam membela agama Allah, dan tidak takut cercaan orang yang mencerca dalam melaksanakan agama Allah.”

Muqatil berkata, makna jihad adalah “Bekerjalah untuk Allah dengan sebenar-benar kerja, dan beribadahlah dengan sebenar-benar ibadah.”

Ibnul Mubarak berkata,“Jihad adalah mujahadah terhadap jiwa dan hawa nafsu.”

Sa’id Ramadhan Al-Buthi berkata, “Jihad adalah mencurahkan potensi dalam rangka meninggikan kalimat Allah, dan membentuk masyarakat muslim. Sedangkan mencurahkan tenaga dengan melakukan perang adalah salah satu jenis dari jihad. Tujuan jihad adalah membentuk masyarakat yang islami, dan membentuk negara Islam yang benar.”

Ikhwah fillah, bukankah kita telah berjanji untuk turut beramal bersama dakwah dalam rangka membela syariat-Nya serta berdakwah kepada-Nya? Bukankah kita telah berjanji setia kepada Allah untuk mendengar dan taat dalam mentaati Allah, Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya dalam kondisi giat maupun malas dalam keadaan mudah maupun sulit dengan bergabung dalam gerakan dakwah? Bukankah kita telah berjanji kepada Allah untuk berpegang teguh kepada ajaran Islam dan berjihad di jalan-Nya, dan berjanji untuk mendengar dan taat kepada qiyadah dalam keadaan suka maupun tidak suka, dalam hal tidak maksiat, sekuat kemampuan yang ada?

Janji setia itu harus kita tunaikan. Caranya adalah mengerahkan seluruh potensi diri kita masing-masing untuk berjihad di jalan Allah ta’ala.

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.

Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.

Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?’ Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: ‘Kamilah penolong-penolong agama Allah’, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (Q.S. Ash-Shaf: 11 – 14)

Andalkanlah pertolongan dan dukungan Allah serta orang-orang beriman

Ikhwah fillah, penolong dan pembela kita yang hakiki tidak lain hanyalah Allah serta orang-orang mukmin sendiri. Barisan dan langkah kita akan semakin kuat dengan dukungan dari mukminin. Tidak layak bagi kita menggantungkan harapan kepada orang lain, selain kepada sesama mukmin dan tidak meminta pertolongan, selain mengharapkan pertolongan Allah semata-mata.

“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (Q.S. Al-Maidah: 56)

Kita diperbolehkan bersekutu dengan non muslim hanya dalam rangka menghindarkan kaum muslimin dari bahaya atau dalam rangka mewujudkan kemaslahatan.

Allah ta’ala berfirman,

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali Imran, 3: 28)

Tentang ayat di atas, Ahmad Musthafa Al-Maraghi berkata bahwa Allah ta’ala melarang kaum mukmin memihak orang-orang kafir, baik urusan keluarga, persahabatan jahiliyah, karena tetangga, dan sebagainya, yang sifatnya persahabatan atau teman sepergaulan……Tetapi jika ternyata memihak dan berteman dengan kaum kafir itu mengandung kemaslahatan bagi kaum mukmin, hal itu dibolehkan. Sebab Nabi Muhammad sendiri pernah bersekutu dengan Bani Khuza’ah, padahal mereka tetap dalam kemusyrikannya. Dibolehkan pula orang Islam mempercayai pemeluk agama lain, dan bermu’amalah dengan baik dalam masalah-masalah keduniaan.[3]

Selanjutnya Al-Maraghi menegaskan: “Sesungguhnya orang-orang mukmin meninggalkan orang-orang kafir dalam hal bersekutu adalah suatu keharusan, dalam kondisi bagaimana pun, kecuali jika merasa takut terhadap sesuatu yang mereka khawatirkan dari orang-orang kafir. Dalam keadaan seperti itu, diperbolehkan berjaga-jaga terhadap mereka sesuai dengan rasa kekhawatiranmu…sebab kaidah syariat mengatakan, bahwa menolak kerusakan (mafsadah) hendaklah didahulukan daripada menarik manfaat. Bila mengambil orang-orang kafir hanya sebagai teman, dibolehkan, demi menolak bahaya. Tentunya, dibolehkan dalam rangka mengambil kemanfaatan-kemanfaatan bagi kaum muslimin. Jika demikian tidak ada yang mencegah suatu negara Islam bersahabat dengan negara non muslim, selama dapat menarik keutamaan-keutamaan bagi kaum muslimin, yang terkadang untuk menolak bahaya atau menarik kemanfaatan…para ulama telah mengambil keputusan hukum dari ayat ini akan bolehnya taqiyyah. Yakni, hendaknya seseorang mengatakan atau melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kebenaran, dalam rangka mencegah bahaya yang datang dari musuh…” [4]

Khatimah

Ikhwah fillah, itulah diantaranya syarat dan faktor-faktor pembawa kemenangan. Kita akan menjadi orang-orang yang layak menyongsongnya jika syarat dan faktor-faktor pembawa kemenangan tersebut mampu kita tanamkan dalam jiwa dan diamalkan dalam seluruh gerak langkah perjuangan kita.

Semoga Allah ta’ala senantiasa membimbing dan mendukung perjuangan kita. Marilah kita selalu bertawakkal kepada-Nya.

Mari menyongsong kemenangan dakwah!

 

Daftar Bacaan

Taushiyah untuk Aktivis Islam, Dr. Najih Ibrahim, An-Nadwah Jakarta Timur

Tsawabit dalam Manhaj Gerakan Ikhwan, Jum’ah Amin Abdul Aziz, Asy Syamil Bandung

Tafsir Ibnu Katsir Juz 9 – 13, DR. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Pustaka Imam Syafi’i

Terjemah Tafsir Al-Maraghy Juz 3, 6, 10, Ahmad Musthafa Al-Maraghy, PT. Karya Toha Putra Semarang

Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid II dan IV, Kementerian Agama RI, Penerbit Lentera Abadi, Jakarta

 

Footnote:

[1] Ibid, hal. 131 – 133.

[2] Lihat: Tsawabit dalam Manhaj Gerakan Ikhwan, Jum’ah Amin Abdul Aziz, Asy Syamil Bandung, hal. 48 – 49.

[3] Terjemah Tafsir Al-Maraghy Jilid 3 hal. 244

[4] Terjemah Tafsir Al-Maraghy Jilid 3 hal. 244 – 245

gif-iklan-ebook-madah-tarbiyah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s